Daftar IsiTampilkan


Dulu, investor saham Indonesia mengenal istilah "saham gocap": saham-saham yang harganya mentok di Rp50, batas bawah yang ditetapkan bursa, dan praktis tak bisa turun lagi — tempat harga "tidur" bertahun-tahun. Era itu sudah berakhir. 

Ringkasan
  • Ada 68 saham berharga di bawah Rp50 di BEI per 22 Juli 2026 — termasuk tiga yang menyentuh dasar absolut bursa, Rp1 per lembar: MKNT, SBAT, dan TOPS.
  • Hampir separuhnya (30 dari 68) tidak mencatat satu transaksi pun pada hari itu — entah karena disuspensi bursa atau tak ada pembeli-penjual yang bertemu di lelang.
  • Total nilai transaksi 38 saham yang aktif hanya sekitar Rp22 miliar sehari, lebih kecil dari transaksi harian satu saham lapis dua yang ramai.

Sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan papan pemantauan khusus dengan mekanisme lelang berkala penuh (full call auction) pada Maret 2024, saham-saham bermasalah bisa diperdagangkan hingga batas bawah baru: Rp1 per lembar.

Hasilnya bisa dilihat hari ini. Per penutupan 22 Juli 2026, ada 68 saham di BEI yang harganya di bawah Rp50 — dan tiga di antaranya benar-benar duduk di harga Rp1, serendah-rendahnya harga yang dimungkinkan sistem. Artikel ini menyajikan daftar lengkapnya, cara kerja aturannya, dan — yang paling penting — apa yang perlu kamu pahami sebelum tergoda membeli saham seharga permen.


Aturan Mainnya: Papan Pemantauan Khusus dan Full Call Auction

Hampir semua penghuni daftar ini menyandang notasi X — penanda saham di papan pemantauan khusus. Sebuah saham masuk papan ini bila memenuhi kriteria bermasalah dalam Peraturan BEI No. I-X, antara lain: harga rata-rata enam bulan terakhir di bawah Rp51, laporan keuangan mendapat opini disclaimer, tidak membukukan pendapatan, ekuitas negatif, likuiditas sangat rendah, atau terancam tidak memenuhi syarat pencatatan.

Perdagangannya pun berbeda dari saham biasa. Alih-alih transaksi menerus (continuous) yang harganya bergerak real-time, saham papan pemantauan khusus diperdagangkan lewat lelang berkala lima sesi sehari: order beli dan jual dikumpulkan, lalu dipertemukan serentak pada jam tertentu dengan harga yang menghasilkan volume terbesar. Batas pergerakan hariannya (auto rejection) Rp1 untuk saham berharga Rp1–10, dan 10% untuk yang di atas Rp10.

Aturan ini pun masih bergerak: per Juli 2026, BEI tengah menggodok revisinya — termasuk usulan melonggarkan batas auto rejection menjadi bertingkat hingga 35% untuk saham Rp10–200 dan menghapus beberapa kriteria — yang bila berlaku akan membuat zona ini makin bergejolak. Artinya, memahami mekanisme di sini bukan pengetahuan opsional; ia menentukan bisa-tidaknya kamu keluar dari posisi.


Tabel 1: 38 Saham di Bawah Rp50 yang Aktif Diperdagangkan (22 Juli 2026)

Diurutkan dari harga penutupan terendah:

KodePenutupan (Rp)Volume (lembar)Nilai (Rp)Frekuensi
BTEK1280.230.100962,8 juta1.071
TAXI1262.271.400758,9 juta470
BAPI1430.252.200428,2 juta514
KREN1416.448.700223,5 juta354
PPRO1713.228.100229,0 juta425
ANDI193.726.90067,2 juta246
ASMI1916.952.600312,6 juta341
HADE19357.2006,5 juta78
TAMU203.739.90074,8 juta236
WINR2017.519.600350,4 juta430
IKAI215.033.700104,4 juta293
BEKS223.317.10073,0 juta156
COAL2226.514.400575,8 juta1.043
WMPP22314.632.5006,92 miliar570
MIRA237.618.300175,2 juta714
ISAP2517.409.200444,2 juta479
BHIT275.006.600138,8 juta178
BAUT281.835.50053,0 juta86
PBRX289.955.500275,5 juta272
ELTY29160.011.4004,64 miliar2.090
WIDI2917.429.200499,0 juta732
NANO3021.412.900644,4 juta1.648
NASA30388.80011,5 juta54
TARA303.203.20096,1 juta85
PURA311.648.30050,4 juta115
BMBL325.210.400162,0 juta454
IPTV325.148.500164,8 juta91
SAGE341.464.00050,8 juta140
BLTA356.843.200233,8 juta305
RELF372.310.70084,2 juta220
VIVA3826.826.300998,3 juta676
PCAR39165.0006,3 juta38
PLAN392.905.900112,4 juta257
MANG4110.317.700416,5 juta416
KBAG446.370.400269,6 juta188
AEGS459.034.500406,5 juta669
HRME463.657.300157,6 juta167
MPPA4712.797.900599,0 juta200

Sumber: data perdagangan BEI, 22 Juli 2026.


Tabel 2: 30 Saham di Bawah Rp50 Tanpa Transaksi Sama Sekali

Harga (Rp)Kode Saham
1MKNT, SBAT, TOPS
2ARTI
5BEBS
6DEAL
8TOYS
9TELE
13MTFN
14IPPE, WSBP
16HILL, SWAT
18ALTO, GAMA, KAYU
21KIAS
22ARKA
23MARI
26MDRN
27TGRA
29DIGI
30ABBA, ZINC
32POLY
36RAFI
37CNKO
38AKKU
41MYTX

Volume, nilai, dan frekuensi seluruhnya nol pada 22 Juli 2026 — karena suspensi perdagangan oleh bursa atau karena tidak ada order beli dan jual yang bertemu di lelang. Harga yang tertera adalah penutupan terakhir yang tercatat.


Yang Menarik dari Angka-Angka Ini

Tiga saham di dasar jurang. MKNT, SBAT, dan TOPS diam di Rp1 — harga terendah yang dimungkinkan sistem bursa, tanpa satu pun transaksi. Di harga ini, "nilai" sebuah perusahaan tercatat praktis tinggal formalitas administratif; bagi pemegang sahamnya, uang yang tertanam nyaris mustahil diselamatkan.

Kuburan nama-nama besar. Daftar ini dihuni perusahaan yang pernah jadi buah bibir: Waskita Beton Precast (WSBP), anak BUMN karya yang sahamnya kini Rp14 tanpa transaksi; PP Properti (PPRO) di Rp17; Matahari Putra Prima (MPPA), operator Hypermart, di Rp47; taksi Express (TAXI) di Rp12; Bakrieland (ELTY) di Rp29; Berlian Laju Tanker (BLTA), Bank Banten (BEKS), Tiphone (TELE), hingga Pan Brothers (PBRX), yang pernah jadi raksasa tekstil ekspor. Pelajarannya konsisten: sebagian besar sampai di sini bukan karena "belum ditemukan pasar", melainkan karena masalah nyata — gagal bayar, ekuitas negatif, atau bisnis yang runtuh.

Tapi zona ini tidak sepenuhnya mati. WMPP memutar 314,6 juta lembar senilai Rp6,92 miliar dalam sehari; ELTY ditransaksikan 2.090 kali — frekuensi tertinggi di daftar — senilai Rp4,64 miliar; NANO dan COAL juga ramai dengan lebih dari seribu transaksi. Ada komunitas trader yang aktif berburu di sini, tertarik oleh matematika sederhana: pada saham Rp22, pergerakan Rp2 saja berarti 9%. Pedang yang sama tajamnya ke dua arah.

Skala sesungguhnya kecil sekali. Gabungan nilai transaksi seluruh 38 saham aktif hanya sekitar Rp22 miliar sehari — recehan dibanding perputaran harian bursa. Likuiditas setipis ini berarti masuk mudah, keluar belum tentu.


Sebelum Tergoda "Saham Seharga Permen"

Godaan psikologisnya nyata: dengan Rp100 ribu kamu bisa memiliki 100.000 lembar saham Rp1, dan "kalau naik ke Rp2 saja, untung 100%". Sebelum terjerat logika itu, pahami lima hal:

  1. Harga murah ada sebabnya. Kriteria masuk papan pemantauan khusus adalah daftar masalah korporasi: disclaimer auditor, ekuitas negatif, tak ada pendapatan. Kamu tidak membeli perusahaan murah; kamu membeli perusahaan bermasalah.
  2. Mekanisme lelang mengubah cara keluar-masuk. Tidak ada jual-beli real-time; order menunggu sesi lelang dan hanya cocok bila ada lawan transaksi. Pada 30 saham di Tabel 2, hari itu lawan transaksi tidak ada sama sekali.
  3. Risiko terburuknya bukan harga turun, tapi delisting. Saham yang disuspensi berkepanjangan bisa dihapus dari pencatatan bursa — dan pemegang saham publik kerap berakhir memegang kertas yang tak bisa dijual di mana pun.
  4. Pergerakan besar menarik spekulan, bukan investor. Aktivitas ramai di segelintir saham zona ini adalah arena trading jangka pendek dengan informasi yang sangat asimetris. Pemodal ritel hampir selalu jadi pihak yang paling belakangan tahu.
  5. Kalau tetap ingin mencoba, perlakukan sebagai lotere. Hanya dengan uang yang benar-benar siap hilang seluruhnya, dalam jumlah yang tidak mengganggu keuanganmu, dan tanpa ilusi bahwa ini "investasi".

Per 22 Juli 2026, ada 68 saham di bawah Rp50 di Bursa Efek Indonesia — pemandangan yang mustahil ada di era batas bawah gocap, dan kini menjadi etalase paling jujur dari sisi gelap pasar modal: perusahaan-perusahaan yang kehilangan kepercayaan pasar, sebagian tanpa satu pun transaksi, tiga di antaranya terkapar di Rp1. 

Bagi investor receh, daftar ini paling berguna bukan sebagai daftar belanja, melainkan sebagai pelajaran: di bursa, harga paling murah sering kali adalah barang paling mahal — karena yang kamu bayar bukan cuma rupiahnya, tapi juga risikonya.