Daftar IsiTampilkan


Receh.in, JAKARTA – Bisnis berbasis logam mulia di dalam negeri tengah menghadapi babak baru yang penuh anomali. Setelah mencatatkan lonjakan spektakuler hingga 61,34% sepanjang tahun lalu, harga emas dunia justru tampak kehabisan tenaga memasuki paruh kedua 2026.

Data Trading Economics mencatat harga emas spot global telah merosot sekitar 9,33% secara year to date, bergerak dari level US$4.446 pada awal tahun menuju kisaran US$4.031,4 per troy ounce. Sentimen penguatan dolar AS yang perkasa ditambah arus migrasi dana besar-besaran investor ke sektor teknologi, khususnya komoditas pertumbuhan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menjadi pemicu utama ambruknya harga safe haven ini.

Kendati pasar global sedang dilanda aksi ambil untung massal, kondisi fundamental emiten emas di Bursa Efek Indonesia seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) justru memperlihatkan daya tahan yang mengejutkan. Pemicunya tidak lain adalah fenomena pelemahan nilai tukar rupiah yang bertindak sebagai berkah tersembunyi.

Saat harga emas dunia mengalami normalisasi, nilai tukar rupiah terpantau merosot hingga menyentuh level Rp17.978 per dolar AS berdasarkan data pasar per Juli 2026. Depresiasi mata uang Garuda ini secara otomatis mengompensasi penurunan harga internasional ketika dikonversi ke dalam rupiah. Di pasar ritel domestik, harga emas batangan produksi Antam bahkan tetap bertengger kokoh di level Rp2,651 juta per gram, ditopang oleh tingginya minat beli masyarakat lokal yang mencari perlindungan aset dari inflasi.

Kondisi makro ini membuat margin keuntungan operasional para emiten tambang domestik diprediksi tetap tebal di paruh kedua 2026. Laba bersih secara kumulatif tahun penuh memang diperkirakan tumbuh lebih moderat dibanding lonjakan historis tahun lalu, namun posisinya dinilai masih sangat sehat karena harga jual rata-rata komoditas (average selling price) masih jauh berada di atas biaya produksi riil (cash cost).

Kunci ketahanan emiten emas di sisa tahun ini akan sangat bergantung pada konsistensi mereka dalam menjaga ekskusi operasional dan mendongkrak volume produksi fisik. Emiten dengan kapasitas peningkatan volume yang stabil dinilai paling resilient karena mampu melakukan offset atas fluktuasi harga global.

PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), misalnya, memiliki katalis kuat lewat agenda full ramp-up di Tambang Pani yang diproyeksikan mendongkrak volume produksi secara signifikan. Selain itu, diversifikasi MDKA dan ANTM ke sektor nikel memberikan bantalan pendapatan berlapis yang mampu meredam risiko volatilitas satu jenis komoditas.

Tantangan nyata bagi industri ini di paruh kedua bukanlah penurunan minat terhadap emas fisik, melainkan faktor internal seperti kenaikan biaya energi global yang berisiko mengikis margin operasional, potensi revisi tarif royalti, serta kewajiban hilirisasi domestik. Di sisi lain, bayang-bayang kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS yang tetap hawkish akan terus menguji selera pasar terhadap aset tanpa imbal hasil ini dalam jangka pendek. Namun dengan dukungan konsisten dari aksi beli bank sentral dunia serta kokohnya pasar ritel dalam negeri, sektor ini diprediksi tetap berjalan di jalur pertumbuhan yang aman dan terukur.