Daftar IsiTampilkan


Pasar saham Asia dibuka dengan tekanan besar pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terseret gelombang aksi jual global hingga merosot lebih dari 2% pada satu jam pertama perdagangan.

IHSG sempat menyentuh level 6.166, atau turun sekitar 2,36% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan tersebut menjadikan pasar saham Indonesia bergerak searah dengan mayoritas bursa utama di Asia yang sama-sama berada di zona merah.

Tekanan tidak hanya datang dari faktor domestik, tetapi juga dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas.


Bursa Asia Kompak Berada di Zona Merah

Aksi jual terjadi hampir di seluruh kawasan Asia.

Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang mengalami tekanan paling dalam dengan penurunan sekitar 5,91%, disusul KOSDAQ yang melemah 5,06%.

Sementara itu, indeks utama lainnya juga bergerak negatif, antara lain:

IndeksPerubahan
KOSPI-5,91%
KOSDAQ-5,06%
Nikkei 225-2,79%
TAIEX-2,51%
Shenzhen Composite-1,81%
Hang Seng-1,41%
PSEI-1,22%
Ho Chi Minh Index-1,13%
TOPIX-1,08%
Shanghai Composite-1,02%
CSI 300-1,01%
KLCI-0,58%
Straits Times-0,51%
Sensex-0,47%

Koreksi serentak tersebut menunjukkan bahwa investor sedang melakukan pengurangan aset berisiko (risk-off) di tengah meningkatnya ketidakpastian global.


Aktivitas Perdagangan IHSG Meningkat

Meski indeks melemah tajam, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap tinggi.

Dalam sekitar satu jam pertama perdagangan, volume transaksi mencapai 20,32 miliar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp8,66 triliun.

Frekuensi transaksi tercatat mencapai sekitar 1,17 juta kali, menunjukkan tingginya aktivitas jual beli ketika pasar bergerak volatil.

Volume transaksi yang meningkat pada saat indeks turun umumnya mencerminkan aksi distribusi atau perpindahan kepemilikan saham dalam jumlah besar.


Hampir Semua Sektor Saham Tertekan

Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor.

Sektor konsumen non-primer menjadi yang mengalami pelemahan paling besar dengan penurunan sekitar 2,84%.

Selanjutnya disusul oleh:

  • sektor barang baku (-2,44%);
  • sektor infrastruktur (-2,18%).

Pelemahan yang merata menunjukkan sentimen negatif tidak hanya menyasar saham tertentu, tetapi hampir seluruh kelompok industri.

Kondisi seperti ini biasanya terjadi ketika investor lebih memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dibanding melakukan rotasi sektor.


Wall Street Lebih Dulu Memberikan Sinyal Negatif

Tekanan terhadap bursa Asia sudah terlihat sejak penutupan perdagangan di Amerika Serikat.

Semalam, tiga indeks utama Wall Street sama-sama berakhir di zona merah.

Indeks ASPerubahan
Nasdaq Composite-2,15%
S&P 500-1,21%
Dow Jones-0,97%

Pelemahan Wall Street menjadi sentimen awal yang kemudian menular ke perdagangan Asia pada Jumat pagi.


Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Pemicu utama kepanikan pasar berasal dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan serangan militer yang lebih besar terhadap Iran.

Trump juga menyatakan bahwa pemerintahannya akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan lanjutan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat memasuki fase yang lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Bagi pasar keuangan, risiko geopolitik seperti ini sering kali memicu perpindahan dana dari aset berisiko menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah, dolar AS, atau emas.


Harga Minyak Brent Tembus US$100

Salah satu dampak paling nyata dari meningkatnya ketegangan geopolitik adalah lonjakan harga minyak mentah dunia.

Harga Brent melonjak menembus US$101 per barel, level tertinggi sejak Mei.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik hingga US$92,12 per barel, dengan kenaikan mingguan sekitar 12,66%.

Lonjakan tersebut terjadi karena investor khawatir konflik akan mengganggu pasokan minyak global, terutama apabila jalur pelayaran strategis di Laut Merah atau infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah terdampak.


Mengapa Harga Minyak Bisa Menekan Bursa Saham?

Kenaikan harga minyak bukan hanya berdampak pada perusahaan energi.

Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, logistik, hingga produksi berbagai industri.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, inflasi berpotensi kembali meningkat.

Bagi bank sentral, inflasi yang tinggi membuat ruang untuk memangkas suku bunga menjadi semakin sempit.

Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Inilah yang membuat investor bereaksi negatif terhadap lonjakan harga minyak.


Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat

Menjelang rapat Federal Reserve, ekspektasi pasar ikut berubah.

Data pasar uang menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat menjadi sekitar 35%, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 10% pada pekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi.

Jika suku bunga bertahan tinggi lebih lama, valuasi saham, khususnya saham teknologi dan saham bertumbuh, biasanya akan mendapat tekanan lebih besar.


Apa Dampaknya bagi IHSG?

Bagi pasar saham Indonesia, kombinasi beberapa faktor global menjadi sentimen negatif secara bersamaan.

Di antaranya adalah:

  • pelemahan Wall Street;
  • lonjakan harga minyak dunia;
  • meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah;
  • naiknya ekspektasi suku bunga The Fed;
  • aksi jual investor terhadap aset berisiko.

Meski demikian, arah IHSG dalam beberapa hari ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, arus dana asing, serta respons bank sentral global terhadap perubahan prospek inflasi.

Investor juga akan mencermati apakah tekanan jual yang terjadi hari ini merupakan kepanikan jangka pendek atau awal dari koreksi yang lebih dalam.