JAKARTA — Pasar modal kembali disuguhi aksi korporasi megah yang mempertemukan dua kekuatan besar grup konglomerasi. PT Singaraja Putra Tbk. (SINI), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, resmi mengeksekusi langkah strategis dengan mencaplok PT Kemilau Mulia Sakti (KMS).
- PT Singaraja Putra Tbk. (SINI), emiten terafiliasi Happy Hapsoro, mengucurkan dana Rp1,73 triliun untuk menguasai PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), entitas anak PT Petrosea Tbk. (PTRO) di bawah grup Prajogo Pangestu.
- Pasca-akuisisi, SINI membidik peningkatan kapasitas produksi batu bara hingga 5 juta ton per tahun secara bertahap, melonjak drastis dari realisasi 2025 yang tercatat sekitar 203.057 metrik ton.
- KMS diproyeksikan mengantongi pendapatan sebesar US$52 juta pada 2026 dan melonjak jadi US$158,97 juta pada 2027, menyumbang lebih dari 27% pendapatan konsolidasi perseroan.
KMS merupakan
anak usaha dari emiten kontraktor tambang ternama PT Petrosea Tbk. (PTRO) yang
berada di bawah naungan taipan Prajogo Pangestu via PT Petrindo Jaya Kreasi
Tbk. (CUAN).
Transaksi
pengambilalihan ini menelan investasi mencapai Rp1,73 triliun. Nilai
tersebut setara dengan 110,26% dari total aset SINI, sehingga tergolong sebagai
transaksi material yang bakal mengubah peta bisnis perseroan secara signifikan.
Menatap Permintaan Asia dan Listrik Nasional
Direktur Utama
SINI, Amir Antolis, menjelaskan bahwa pencaplokan KMS merupakan fondasi penting
untuk memperkuat portofolio tambang batu bara perseroan dalam jangka menengah.
"Permintaan
batu bara global diperkirakan masih terjaga, terutama dari negara-negara Asia
seperti China dan India. Selain itu, berdasarkan RUPTL 2025–2034, kebutuhan
tenaga listrik nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar 5,3% per tahun,"
ujar Amir dalam keterangannya kepada Bursa Efek Indonesia.
Langkah akuisisi
ini juga dirancang untuk menciptakan sinergi operasional antara KMS dan entitas
tambang SINI yang sudah ada, seperti PT Pasir Bara Prima (PBP) dan PT PKP.
Integrasi pada aspek produksi, logistik, dan pemasaran diyakini mampu menekan
biaya operasional serta meningkatkan daya tawar perseroan.
Adapun kontrak
jasa pertambangan jangka panjang antara PTRO dan PBP yang berlaku hingga 2032
ditegaskan tetap berdiri sendiri dan tidak menjadi syarat khusus dalam
transaksi KMS ini.
Melesat Hingga 5 Juta Ton, Pendapatan Tembus US$158 Juta
Akuisisi ini
menjadi jawaban atas ambisi SINI untuk keluar dari skala produksi kecil.
Manajemen menargetkan produksi dari konsesi KMS merambat naik dari 1 juta ton
pada tahap awal, meningkat ke 3,6 juta ton, hingga mencapai kapasitas optimal 5
juta ton per tahun dengan perkiraan umur tambang (life of mine)
hingga tahun 2038.
Lompatan produksi
ini menjadi sangat kontras jika dibandingkan dengan realisasi penjualan batu
bara konsolidasi SINI pada 2025 yang baru mencatatkan angka 203.057 metrik ton.
Dari sisi
pundi-pundi keuangan, kontribusi KMS diprediksi akan menjadi mesin pencetak
uang baru bagi SINI:
- Tahun 2026: Pendapatan KMS diproyeksikan mencapai US$52
juta (menyumbang 21,40% ke pendapatan konsolidasi SINI).
- Tahun 2027: Pendapatan KMS diperkirakan meroket ke US$158,97
juta (menyumbang 27,06% ke pendapatan konsolidasi).
Sinergi baru ini tak hanya menambah bobot aset dan memperluas cadangan tambang SINI, tetapi juga mempertegas arah konsolidasi industri pertambangan nasional yang makin efisien di tangan para pemain besar.
.jpg)
0 Komentar