Daftar IsiTampilkan

Paruh pertama 2026 adalah masa paling kelam bursa Jakarta dalam beberapa tahun: IHSG kehilangan sepertiga nilainya, dana asing kabur, dan dua kali perdagangan harus dihentikan paksa karena indeks jatuh menembus batas trading halt

Ringkasan
  • Urutkan reksa dana di aplikasi mana pun berdasarkan return, dan pemuncaknya kini hampir selalu berlabel "Reksadana Global": Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD mencetak 96 persen dalam tiga tahun dan 56 persen dalam setahun terakhir — pada periode yang sama ketika mayoritas reksa dana saham domestik, bahkan yang terbaik di kategorinya, mencatat return tiga tahun negatif.
  • Rahasianya bukan kesaktian manajer investasi, melainkan isi keranjangnya: TSMC, Samsung, NVIDIA, Alibaba. Porsi saham Indonesia di salah satu produk juara itu cuma 0,43 persen. Ketika bursa Jakarta dua kali menghentikan perdagangan pada semester pertama 2026, produk-produk ini justru mencetak bulan terbaik dalam sejarahnya.
  • Sebelum tergiur, kenali tiga pagarnya: tiket masuk umumnya 10.000 dolar AS, biaya yang bisa jauh lebih mahal dari kelihatannya, dan fakta bahwa "global" tidak otomatis untung — produk global bertema China masih minus dobel digit dalam lima tahun.

Tapi pada April 2026 — di tengah-tengah kejatuhan itu, di bulan ketika IHSG terperosok ke bawah 7.000 — Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS justru mencetak kinerja bulanan terbaik sepanjang sejarahnya: naik 18,7 persen dalam sebulan. Batavia Technology Sharia Equity USD melakukannya juga: 18,6 persen, tertinggi sejak produk itu lahir.

Dua kejadian itu bukan kebetulan yang lucu. Keduanya adalah dua sisi dari satu cerita yang sedang mengubah wajah industri reksa dana Indonesia: uang yang menyerah pada saham lokal, dan jendela kecil bernama reksa dana global yang tiba-tiba menjadi satu-satunya layar hijau di aplikasi.


Reksa Dana dengan Kinerja Terbaik 3 Tahun

Kami mengambil data dari layar Bibit per 30 Juli 2026, mengurutkan kinerja tiga tahun, lalu menyandingkan para juara global dengan produk saham domestik terbaik di layar yang sama. Hasilnya sulit diperdebatkan:

ProdukJenisReturn 1 ThReturn 3 ThReturn 5 Th
Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USDGlobal+55,6%+96,1%+43,7%
Batavia Technology Sharia Equity USDGlobal+14,2%+51,1%
Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar ASGlobal+41,3%+45,7%+24,1%
Schroder Global Sharia Equity Fund USDGlobal+13,7%+40,3%+30,9%
BNP Paribas Cakra Syariah USDGlobal+9,2%+35,7%+34,2%
Sucorinvest Maxi Fund (saham domestik terbaik)Saham+49,3%+30,0%+57,6%
Simas Danamas SahamSaham+2,1%+16,1%+39,6%
Sucorinvest Equity Fund Kelas ASaham+7,4%-4,1%+24,0%
Sucorinvest Sharia Equity FundSaham+10,8%-11,8%-7,7%

Sumber: layar Bibit per 30 Juli 2026, return kumulatif dalam mata uang masing-masing produk. Produk global berdenominasi dolar AS.

Perhatikan dua hal. Pertama, dari deretan produk saham domestik yang tampil di layar teratas pun, hanya segelintir yang return tiga tahunnya positif — temuan yang konsisten dengan penelusuran kami atas kemunduran panjang reksa dana saham. Kedua, angka-angka global itu tercetak dalam dolar AS. Bagi investor yang hidup dan belanja dalam rupiah, return riilnya bergantung pula pada arah kurs — pedang bermata dua yang akan kita bahas di bawah.


Apa Sebenarnya Isi Keranjang Mereka

Membuka fund fact sheet ketiga produk teratas terasa seperti membuka jendela ke pasar modal yang sama sekali lain.

Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD, sang juara bertahan, menempatkan sepertiga dananya di Taiwan dan sepertiga lagi di Korea Selatan. Posisi terbesarnya adalah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company — pabrik cip yang menopang hampir semua kecerdasan buatan dunia — dengan porsi 20,8 persen, disusul Samsung, SK Hynix, MediaTek, dan Alibaba. Porsi saham Indonesia di dalamnya: 0,43 persen. Bukan empat koma tiga. Nol koma empat tiga.

Batavia Technology Sharia Equity USD bahkan tidak berpura-pura menoleh ke Jakarta: NVIDIA 7,1 persen, Broadcom 6,4 persen, Micron 6,3 persen, TSMC 6,2 persen, plus Apple, Microsoft, Alphabet, dan ASML. Ini portofolio yang isinya adalah infrastruktur ledakan AI global. Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS separuh portofolionya diisi duo memori Korea — Samsung 16 persen dan SK Hynix 15,8 persen — dengan bobot sektor teknologi informasi 62,7 persen.

Dengan isi seperti itu, kinerja mereka tidak ada hubungannya dengan IHSG, dengan saham konglomerasi yang digoreng naik-turun, atau dengan berita dalam negeri apa pun. Dan justru di situlah letak daya tariknya.


Pasar yang Membuat Analisis Fundamental Terasa Sia-sia

Mengapa investor — juga manajer investasinya — kehilangan selera pada saham domestik bukanlah misteri. Sejak 2024, penggerak utama IHSG bukan lagi emiten dengan laba dan dividen yang bisa dianalisis, melainkan segelintir saham konglomerasi berkapitalisasi raksasa dengan porsi saham beredar sangat tipis, yang harganya bisa berlipat tanpa perubahan fundamental berarti. Di komunitas dan podcast pasar modal, keluhannya makin lantang: pendekatan fundamental — membedah laporan keuangan, menghitung valuasi wajar, membeli lalu sabar — terasa mati kutu di pasar yang naik-turunnya ditentukan oleh siapa yang menggerakkan barang, bukan berapa nilai perusahaannya. Reksa dana saham, yang secara filosofi adalah kendaraan analisis fundamental, menjadi korban paling telak — [tema yang kami bedah tuntas di tulisan tentang senjakala reksa dana saham].

Lalu datanglah vonis dari luar. Pada tinjauan Mei 2026, MSCI mengeluarkan 19 saham Indonesia sekaligus dari indeks globalnya — termasuk nama-nama konglomerasi seperti BREN, DSSA, CUAN, dan TPIA — setelah menghitung ulang porsi saham beredar memakai data kepemilikan KSEI. Lebih menyakitkan lagi, MSCI membekukan penambahan saham Indonesia baru ke indeksnya. Pasar yang integritas harganya diragukan penyedia indeks dunia praktis kehilangan tiket masuk ke radar dana global — dan dana asing menjawabnya dengan jual bersih puluhan triliun rupiah sepanjang semester pertama 2026.

Dengan latar itu, angka 96 persen versus minus 12 persen di layar aplikasi bukan sekadar perbandingan produk. Ia adalah rapor dua pasar yang berbeda nasib.


Kenapa Semua Reksa Dana Global Berlabel Syariah

Satu keanehan yang mungkin kamu perhatikan: hampir semua produk di etalase "Reksadana Global" menyandang kata syariah. Ini bukan strategi pemasaran, melainkan produk regulasi yang nyaris tak disengaja.

Aturan mainnya begini: reksa dana konvensional hanya boleh menempatkan maksimal 15 persen dananya di efek luar negeri. Tapi POJK 19/2015 membuka pintu khusus — reksa dana syariah berbasis efek syariah luar negeri boleh menempatkan 51 sampai 100 persen dananya di efek asing, selama efek itu masuk Daftar Efek Syariah yang diakui OJK. Aturan yang awalnya dimaksudkan memperluas pilihan instrumen syariah itu kini menjadi satu-satunya jalur legal bagi manajer investasi untuk meracik produk saham global sungguhan. Maka jadilah paradoks kecil yang menyenangkan: pintu paling lebar menuju NVIDIA dan TSMC di pasar modal Indonesia ternyata berlabel syariah.


Sebelum Tergiur, Cermati Ini Dulu

Sampai di sini, reksa dana global terdengar seperti jawaban atas semua kekecewaan. Justru karena itu bagian berikut ini penting.

Pagar pertama: tiket masuknya mahal. Ketiga produk yang kami bedah mematok minimum pembelian pertama 10.000 dolar AS — di atas seratus lima puluh juta rupiah dengan kurs berapa pun yang masuk akal — meski pembelian berikutnya cukup 100 dolar. Beberapa bahkan mematok minimum penjualan kembali yang tinggi: Manulife Asia Pasifik mensyaratkan minimal 10.000 dolar sekali jual. Ini produk yang secara desain memang menyasar nasabah premium dan institusi, bukan investor receh — ironis, karena justru investor kecil yang paling membutuhkan diversifikasi keluar dari pasar lokal yang sakit.

Pagar kedua: biayanya bisa menggigit. Biaya manajemen produk-produk ini boleh mencapai 3 persen per tahun, plus biaya pembelian sampai 3 persen per transaksi. Dan pada produk yang dananya kecil, beban tetap membuat rasio biaya melambung: Eastspring Asia Pacific — sang juara return itu — tercatat ber-expense ratio 6,77 persen di layar Bibit, salah satu yang tertinggi di seluruh industri, sebagian karena total dananya baru 7 juta dolar. Return 96 persen membuat biaya itu terasa ringan hari ini; di tahun ketika pasar global datar, biaya yang sama akan terasa seperti pajak tahunan yang kejam.

Pagar ketiga: global bukan mantra sakti. Di etalase yang sama bertengger BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD dengan return lima tahun minus 12,6 persen dan Eastspring Syariah Greater China minus 31 persen — oleh-oleh dari memilih kawasan yang salah di waktu yang salah. Dan bahkan para juara pun tidak semuanya mengalahkan tolok ukurnya: sejak diluncurkan, Batavia Technology mencatat 64 persen ketika indeks acuannya naik 125 persen. Membeli reksa dana global adalah memilih kawasan dan tema — keputusan yang tetap bisa keliru, dengan tambahan satu lapisan risiko lagi: kurs. Dolar yang menguat menambah cuan investor rupiah; dolar yang melemah bisa memakan return sahamnya.


Jadi, Buat Apa dan Buat Siapa

Membaca data ini, kesimpulan kami bukan "jual semua reksa dana lokal, borong yang global". Kesimpulannya lebih sederhana dan lebih membumi: untuk pertama kalinya, investor Indonesia punya pembanding yang membuat produk saham domestik harus bekerja keras membuktikan diri. Selama pasar lokal masih digerakkan oleh mesin di luar nalar fundamental dan dihukum penyedia indeks dunia, argumen untuk menaruh sebagian — sebagian, bukan semua — portofolio jangka panjang di luar negeri makin sulit dibantah.

Yang realistis bagi kebanyakan orang: pertama, kalau dana belum menyentuh ambang 10.000 dolar, jangan memaksakan diri — menabung sambil menunggu makin banyak produk global bertiket kecil masuk pasar adalah strategi yang sah, dan arah industrinya memang ke sana; dana kelolaan reksa dana syariah tumbuh 75 persen sepanjang 2025 dan bank-bank mulai berlomba mendistribusikan produk global dolar. Kedua, kalau sudah mampu masuk, perlakukan ia sebagai pelengkap diversifikasi, bukan kendaraan balas dendam atas kekecewaan di IHSG — dan bandingkan expense ratio antarproduk global sebelum memilih, karena rentangnya lebar sekali. Ketiga, ingat bahwa layar return tiga tahun hari ini adalah hasil dari ledakan AI global yang luar biasa; pohon tidak tumbuh sampai ke langit, dan produk yang sama pernah mencatat kuartal-kuartal merah yang dalam.

Industri reksa dana Indonesia sedang belajar satu pelajaran pahit: uang tidak punya nasionalisme. Ia pergi ke tempat yang memperlakukannya paling masuk akal. Hari ini tempat itu bernama Taiwan, Korea, dan segelintir pabrik cip di Amerika — sampai pasar di rumah sendiri memberi alasan untuk pulang.