Daftar IsiTampilkan


PT Express Transindo Utama Tbk. (IDX: TAXI) tengah mencari arah baru setelah mengakhiri kerja sama dengan Grup GoTo. Salah satu langkah yang kini ditempuh adalah menjajaki kolaborasi dengan perusahaan taksi listrik asal Vietnam, Xanh SM, yang beroperasi di Indonesia melalui merek Green and Smart Mobility (GSM).

Ringkasan
  • TAXI sedang menjajaki kerja sama dengan operator taksi listrik Vietnam, Xanh SM.
  • Berakhirnya kontrak dengan GoTo membuat jumlah armada operasional Express turun sekitar 30%.
  • Meski menghadapi tantangan, kinerja keuangan TAXI pada kuartal I/2026 menunjukkan perbaikan.

Meski masih berada pada tahap diskusi awal, kabar ini menarik perhatian pasar. Pasalnya, kerja sama dengan Xanh SM berpotensi menjadi salah satu strategi Express untuk memulihkan utilisasi armada setelah kehilangan salah satu mitra bisnis terbesarnya.


Kerja Sama Masih Tahap Penjajakan

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen TAXI menegaskan bahwa pembicaraan dengan Xanh SM masih bersifat eksploratif.

Perusahaan saat ini masih mempelajari model bisnis yang dijalankan oleh operator taksi listrik tersebut dan belum ada kesepakatan mengenai bentuk kerja sama yang akan dilakukan.

"Perseroan saat ini masih berada pada tahap pembahasan awal terkait potensi kerja sama dengan Xanh SM. Pembahasan yang berlangsung masih bersifat penjajakan untuk mempelajari model bisnis yang diterapkan," tulis manajemen.

Karena itu, belum ada informasi mengenai skema bisnis, nilai kerja sama, maupun dampak finansial yang dapat disampaikan kepada publik.

Manajemen juga memastikan akan mengumumkan perkembangan lebih lanjut apabila nantinya terdapat informasi material yang wajib disampaikan kepada investor.


Kehilangan GoTo, Armada Operasional Berkurang 30%

Langkah mencari mitra baru tidak lepas dari berakhirnya kerja sama Express dengan PT Rekan Anak Bangsa, entitas usaha Grup GoTo, pada 2 Juli 2026.

Berakhirnya kontrak tersebut berdampak cukup signifikan terhadap operasional perusahaan.

Menurut manajemen, jumlah unit operasional Express berkurang sekitar 30% setelah kerja sama berakhir.

Meski demikian, perusahaan menegaskan penghentian kerja sama bukan disebabkan oleh wanprestasi atau pelanggaran kontrak dari salah satu pihak.

Kontrak berakhir sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati kedua belah pihak.


Mengapa Xanh SM Menarik?

Masuknya nama Xanh SM dalam rencana kerja sama cukup menarik mengingat perusahaan tersebut sedang agresif berekspansi di Asia Tenggara.

Xanh SM merupakan operator transportasi berbasis kendaraan listrik yang berasal dari Vietnam dan dikenal sebagai bagian dari ekosistem bisnis VinGroup. Di Indonesia, perusahaan mulai beroperasi pada akhir 2024 dengan membawa konsep armada taksi yang seluruhnya menggunakan kendaraan listrik.

Apabila kerja sama dengan Express benar-benar terealisasi, kolaborasi tersebut berpotensi memberikan sejumlah manfaat, seperti:

  • meningkatkan utilisasi armada TAXI;
  • memperluas jangkauan operasional Xanh SM di Indonesia;
  • mempercepat adopsi kendaraan listrik pada layanan transportasi umum.

Namun, hingga saat ini seluruh potensi tersebut masih bersifat spekulatif karena belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan kedua perusahaan.


Tantangan Masih Membayangi

Meski tengah mencari peluang baru, Express masih menghadapi sejumlah tantangan bisnis.

Salah satunya adalah kewajiban pembayaran cicilan kendaraan kepada perusahaan pembiayaan (leasing).

Manajemen menjelaskan bahwa pengadaan armada dilakukan menggunakan fasilitas pembiayaan. Sementara pembayaran angsuran berasal dari setoran operasional yang diberikan para pengemudi sesuai skema kerja sama yang berlaku.

Artinya, tingkat utilisasi armada akan sangat menentukan kemampuan perusahaan menjaga arus kas operasional.

Semakin banyak kendaraan yang menganggur, semakin besar pula tekanan terhadap pendapatan perusahaan.


Kinerja Mulai Membaik

Di tengah tantangan tersebut, laporan keuangan menunjukkan adanya perbaikan kinerja dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada kuartal I/2026, Express membukukan:

  • Pendapatan Rp2,26 miliar, naik dari Rp668,09 juta pada periode yang sama tahun lalu.
  • Rugi bersih turun menjadi Rp322,59 juta, dibandingkan rugi Rp1,93 miliar pada kuartal I/2025.

Walaupun perusahaan masih mencatatkan kerugian, penurunan rugi bersih tersebut mengindikasikan adanya efisiensi operasional dan mulai pulihnya aktivitas bisnis.


Bukan Sekadar Cari Mitra Baru

Rencana penjajakan dengan Xanh SM sebenarnya mencerminkan tantangan yang lebih besar di industri transportasi.

Persaingan kini tidak lagi hanya soal jumlah armada atau tarif perjalanan, tetapi juga menyangkut transformasi menuju mobilitas berbasis listrik, efisiensi operasional, dan integrasi dengan platform digital.

Bagi Express, kerja sama dengan operator kendaraan listrik dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui model bisnis yang selama beberapa tahun terakhir tertekan oleh perubahan perilaku konsumen dan dominasi layanan ride-hailing.

Namun, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada bentuk kerja sama yang disepakati, kemampuan kedua perusahaan menciptakan sinergi, serta kecepatan Express dalam mengoptimalkan kembali armada yang terdampak setelah berakhirnya kontrak dengan GoTo.

Dengan kata lain, kabar penjajakan ini memang memberikan harapan baru, tetapi investor masih perlu menunggu kepastian realisasi kerja sama sebelum menilai dampaknya terhadap prospek jangka panjang saham TAXI.