Daftar IsiTampilkan


Pasar obligasi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan yang terjadi di pasar saham dan nilai tukar rupiah.

Ringkasan
  • Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,364%.
  • Volume transaksi obligasi pemerintah meningkat menjadi Rp69,65 triliun, jauh di atas rata-rata harian tahun ini.
  • Rupiah melemah ke Rp18.067 per dolar AS, sementara IHSG terkoreksi hampir 1%.

Laporan BRIDS Daily Economic & Fixed Income Update mencatat yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun tipis menjadi 7,364% pada perdagangan 28 Juli 2026, dibandingkan posisi sehari sebelumnya sebesar 7,372%. Pada saat yang sama, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun juga turun 4 basis poin menjadi 4,61%.

Penurunan yield umumnya mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi. Ketika investor membeli obligasi dalam jumlah lebih besar, harga obligasi naik sehingga yield bergerak turun.


Volume Perdagangan Obligasi Pemerintah Tembus Rp69 Triliun

Aktivitas perdagangan di pasar obligasi pemerintah justru semakin ramai.

Nilai transaksi mencapai Rp69,65 triliun, meningkat dibandingkan sesi sebelumnya sebesar Rp63,14 triliun. Angka tersebut juga jauh melampaui rata-rata transaksi harian sepanjang tahun (year to date/YTD) yang berada di kisaran Rp49,43 triliun.

Mayoritas transaksi masih terkonsentrasi pada obligasi tenor menengah, yakni jatuh tempo 5 hingga 15 tahun.

Berdasarkan data perdagangan, komposisinya meliputi:

  • Obligasi tenor kurang dari 5 tahun: Rp30,09 triliun
  • Obligasi tenor 5–15 tahun: Rp38,44 triliun
  • Obligasi tenor di atas 15 tahun: Rp1,12 triliun

Sementara itu, transaksi outright juga meningkat menjadi Rp22,50 triliun dari sebelumnya Rp16,33 triliun, menandakan aktivitas jual beli riil masih cukup tinggi.


Perdagangan Obligasi Korporasi Masih di Atas Rata-rata

Berbeda dengan obligasi pemerintah, aktivitas perdagangan obligasi korporasi sedikit melambat.

Total nilai transaksi turun menjadi Rp6,85 triliun dari sebelumnya Rp9,20 triliun.

Meski demikian, volumenya masih berada di atas rata-rata harian sepanjang tahun yang mencapai sekitar Rp3,31 triliun. Aktivitas perdagangan juga masih didominasi obligasi dengan tenor kurang dari lima tahun.

Hal ini menunjukkan minat investor terhadap surat utang korporasi masih relatif terjaga meskipun terjadi penurunan transaksi dibandingkan hari sebelumnya. (Berdasarkan bagian Highlights laporan BRIDS.)


Rupiah Melemah, IHSG Ikut Terkoreksi

Sementara pasar obligasi bergerak stabil, tekanan masih terlihat pada pasar keuangan domestik lainnya.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,34% menjadi Rp18.067 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.005 per dolar AS.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,89% dan berakhir di level 6.131.

Kombinasi pelemahan rupiah dan koreksi IHSG menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap perkembangan ekonomi global maupun domestik.


Harga Minyak Dunia Melanjutkan Penurunan

Sentimen eksternal juga datang dari pasar komoditas.

Harga minyak mentah Brent turun menjadi US$86,42 per barel dari sebelumnya US$88,36.

Sementara itu, WTI Cushing Crude Oil Spot melemah menjadi US$81,05 per barel, dibandingkan US$82,61 sehari sebelumnya.

Penurunan harga minyak dapat memberikan dampak berbeda bagi Indonesia.

Di satu sisi, biaya impor energi berpotensi lebih rendah. Namun di sisi lain, pelemahan harga minyak dapat memengaruhi prospek pendapatan perusahaan energi dan migas yang tercatat di bursa.


Obligasi Menengah Masih Menjadi Favorit Investor

Data perdagangan menunjukkan investor masih memusatkan perhatian pada obligasi pemerintah dengan tenor menengah.

Segmen jatuh tempo 5–15 tahun menjadi kontributor terbesar terhadap total transaksi harian. Karakteristik tenor tersebut dinilai mampu menawarkan keseimbangan antara tingkat imbal hasil dan risiko perubahan suku bunga.

Di sisi lain, obligasi tenor sangat panjang masih mencatat volume transaksi yang relatif kecil dibandingkan kelompok tenor lainnya.


Apa Arti Penurunan Yield bagi Investor?

Turunnya yield obligasi pemerintah umumnya mengindikasikan bahwa harga obligasi sedang naik akibat meningkatnya permintaan.

Bagi investor yang telah memiliki obligasi, kenaikan harga tersebut dapat memberikan keuntungan apabila surat utang dijual sebelum jatuh tempo.

Sebaliknya, bagi investor baru, penurunan yield berarti potensi imbal hasil yang diperoleh dari pembelian obligasi baru menjadi sedikit lebih rendah dibandingkan ketika yield masih lebih tinggi.

Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan arah suku bunga, inflasi, kondisi fiskal pemerintah, serta perkembangan pasar global.