Daftar IsiTampilkan


Lima saham yang menjadi koleksi investor kawakan Lo Kheng Hong mendapat tekanan baru dari sisi teknikal pasar.
FTSE Russell mengeluarkan PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (CFIN), PT Intiland Development Tbk. (DILD), PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN), PT Paninvest Tbk. (PNIN), dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) dari kelompok Micro Cap dalam review FTSE Global Equity Index Series September 2026.

Keputusan tersebut menarik karena terjadi ketika Lo Kheng Hong justru terlihat belum mundur dari sejumlah saham tersebut. Kepemilikannya di CFIN, DILD, dan RALS bertambah sepanjang 2026. Di DILD, misalnya, jumlah saham yang dimiliki meningkat dari sekitar 695,07 juta lembar pada akhir 2025 menjadi 775,44 juta lembar per 20 Agustus 2026.

Situasi ini memperlihatkan dua cara yang sangat berbeda dalam memandang saham. FTSE menilai saham berdasarkan persyaratan sebuah indeks global, sedangkan investor seperti Lo Kheng Hong membangun keputusan investasi berdasarkan nilai bisnis, aset, manajemen, harga saham, dan potensi keuntungan jangka panjang.

Karena itu, keluarnya lima saham tersebut dari FTSE tidak otomatis membatalkan tesis investasi Lo Kheng Hong. Namun investor juga tidak seharusnya mengabaikan keputusan FTSE begitu saja. Penghapusan dari indeks dapat memunculkan kebutuhan penyesuaian portofolio dari dana pasif, mengurangi visibilitas saham di mata investor global, dan dalam jangka pendek berpotensi menambah tekanan jual.

Ringkasan
  • Lima saham koleksi Lo Kheng Hong keluar dari FTSE Micro Cap: CFIN, DILD, MAIN, PNIN, dan RALS. Kelimanya termasuk dalam kelompok saham Indonesia yang terhapus dari FTSE GEIS pada review September 2026.
  • Lo Kheng Hong justru masih menambah beberapa posisi. Sejak akhir April hingga Juli, kepemilikan CFIN bertambah sekitar 9,06 juta saham dan RALS 7,06 juta saham. DILD bertambah sekitar 80,37 juta saham sejak akhir 2025 hingga 20 Agustus 2026.
  • Keluar FTSE lebih dulu menciptakan risiko teknikal, bukan otomatis kerusakan fundamental. Investor perlu memisahkan potensi arus jual akibat rebalancing dengan perubahan nilai bisnis masing-masing emiten.
5 Saham Koleksi Lo Kheng Hong Keluar FTSE
7,48% Kepemilikan LKH di DILD*
+80,37 Juta Tambahan Saham DILD 2026*
21 Sep Perubahan FTSE Efektif

*Berdasarkan data kepemilikan yang dicantumkan dalam bahan sampai 20 Agustus 2026.

Daftar 5 Saham Lo Kheng Hong yang Keluar dari FTSE

Kelima saham tersebut sebelumnya merupakan anggota FTSE Micro Cap Index. Dalam review September, seluruhnya masuk daftar exclusions.

Data kepemilikan KSEI per akhir Juli menunjukkan Lo Kheng Hong memiliki porsi terbesar di DILD, yakni sekitar 7,43%. Posisi tersebut kemudian bertambah lagi menjadi sekitar 7,48% per 20 Agustus.

Saham Kepemilikan Lo Kheng Hong Porsi Status FTSE
CFIN 84.650.700 saham 2,12% Keluar Micro Cap
DILD 770.637.500 saham* 7,43% Keluar Micro Cap
MAIN 27.656.600 saham 1,24% Keluar Micro Cap
PNIN 50.195.750 saham 1,23% Keluar Micro Cap
RALS 208.397.400 saham 2,94% Keluar Micro Cap

*Posisi DILD pada 31 Juli 2026. Data yang lebih baru per 20 Agustus dalam bahan menunjukkan kepemilikan meningkat lagi menjadi 775.435.700 saham atau sekitar 7,48%.

Yang lebih menarik bukan hanya besar posisi tersebut, melainkan arah transaksinya.

Di CFIN, Lo Kheng Hong memiliki 75.594.200 saham atau sekitar 1,90% pada akhir April 2026. Pada akhir Juli, posisinya menjadi 84.650.700 saham atau 2,12%.

Artinya, dalam sekitar tiga bulan dia menambah 9.056.500 saham CFIN, setara kenaikan sekitar 12% dari jumlah saham yang dimiliki pada April.

Di RALS, kepemilikan meningkat dari 201.342.400 saham pada akhir April menjadi 208.397.400 saham pada akhir Juli. Tambahannya mencapai 7.055.000 saham atau sekitar 3,5% dari posisi sebelumnya.

DILD bahkan lebih agresif.

Pada akhir 2025, Lo Kheng Hong tercatat memiliki 695.069.100 saham DILD atau 6,7%. Posisi tersebut meningkat menjadi 775.435.700 saham atau 7,48% per 20 Agustus 2026.

Dengan demikian, sepanjang periode tersebut dia menambah sekitar 80.366.600 saham DILD, atau sekitar 11,6% dari posisi awalnya.

Saham Posisi Awal Posisi Terbaru Tambahan* Kenaikan Jumlah Saham*
CFIN 75,59 juta 84,65 juta +9,06 juta ~+12,0%
DILD 695,07 juta 775,44 juta +80,37 juta ~+11,6%
RALS 201,34 juta 208,40 juta +7,06 juta ~+3,5%

*Perhitungan Receh.in. Periode pembanding CFIN dan RALS adalah akhir April hingga akhir Juli 2026, sedangkan DILD menggunakan akhir Desember 2025 sampai 20 Agustus 2026.

Data tersebut memperlihatkan bahwa sebelum hasil review FTSE keluar, setidaknya untuk tiga saham ini Lo Kheng Hong justru berada dalam posisi akumulasi, bukan distribusi.

Tetapi fakta tersebut juga tidak boleh ditafsirkan sebagai rekomendasi bagi investor lain untuk otomatis mengikuti. Harga pembelian, horizon investasi, ukuran portofolio, likuiditas, dan toleransi risiko setiap orang berbeda.

Keluar dari FTSE Bukan Berarti Fundamental CFIN, DILD atau RALS Tiba-tiba Rusak

FTSE Russell merupakan penyedia indeks di bawah London Stock Exchange Group. Indeksnya digunakan sebagai benchmark oleh berbagai pengelola investasi global.

Ketika sebuah saham keluar dari indeks, konsekuensi paling langsung berada di sisi portofolio.

Dana pasif atau ETF yang secara spesifik mereplikasi indeks terkait perlu menyesuaikan kepemilikannya. Jika saham sudah tidak menjadi konstituen, dana tersebut dapat mempunyai kebutuhan untuk menjual posisi agar portofolionya kembali sesuai dengan benchmark.

Itulah sebabnya penghapusan indeks dapat memunculkan tekanan harga dan volume besar di sekitar periode rebalancing.

Namun FTSE tidak sedang menilai apakah laba DILD bagus, apakah kas RALS cukup besar, atau apakah CFIN akan menghasilkan keuntungan lebih tinggi tahun depan. Metodologi indeks mempertimbangkan kelayakan investasi berdasarkan faktor seperti kapitalisasi pasar yang dapat diinvestasikan, free float, likuiditas, serta persyaratan indeks lainnya.

Dalam review September 2026, secara keseluruhan terdapat 29 saham Indonesia yang keluar sepenuhnya dari FTSE GEIS. Sebanyak 28 berasal dari Micro Cap, termasuk lima saham koleksi Lo Kheng Hong tersebut, sedangkan SILO keluar dari Small Cap tanpa masuk Micro Cap.

Selain itu, 10 saham lain hanya mengalami penurunan klasifikasi tetapi tetap berada dalam cakupan indeks. BSDE turun dari Mid Cap ke Micro Cap, sedangkan sembilan saham termasuk SMRA, LPKR, BTPS, dan SCMA berpindah dari Small Cap ke Micro Cap.

Kejadian Konsekuensi Apa yang Tidak Otomatis Terjadi?
Keluar FTSE Potensi penyesuaian dana pasif dan tekanan teknikal Laba perusahaan tidak langsung berubah
Turun kelas Bobot dan segmen indeks berubah Bisnis tidak otomatis memburuk
Free float/market cap turun Dapat memengaruhi kelayakan indeks Tidak sama dengan perusahaan bangkrut
Dana pasif menjual Dapat menekan harga sementara Tidak berarti seluruh investor asing menjual

Konteks Indonesia pada review kali ini juga tidak biasa.

FTSE Russell masih menerapkan pembatasan terhadap sejumlah perubahan positif untuk saham Indonesia hingga setidaknya review Desember 2026. Penambahan konstituen baru, termasuk IPO, kenaikan segmen, peningkatan free float tertentu, serta perubahan Weight Adjustment Factor dari nol menjadi positif masih ditahan sambil FTSE mengevaluasi reformasi pasar Indonesia.

Sementara itu, penghapusan akibat kegagalan memenuhi penyaringan kelayakan, likuiditas, ataupun batas kapitalisasi keluar tetap dapat dijalankan.

Dengan kata lain, perlakuannya saat ini bersifat asimetris: sebagian jalan menuju kenaikan bobot masih dibatasi, sedangkan mekanisme yang dapat mengurangi bobot atau menghapus saham tetap berjalan.

Apa artinya bagi lima saham Lo Kheng Hong?
Investor perlu memisahkan dua lapisan. FTSE deletion dapat menciptakan tekanan teknikal menjelang rebalancing. Tetapi setelah efek arus indeks selesai, harga akan kembali lebih banyak ditentukan oleh laba, arus kas, aset, utang, dividen, prospek bisnis, dan valuasi masing-masing emiten.

Hasil awal review masih dapat berubah sampai penutupan perdagangan 4 September 2026 dan dianggap final mulai 7 September. Rebalancing dilakukan berdasarkan penutupan 18 September, sedangkan komposisi baru berlaku efektif mulai perdagangan 21 September 2026.

Periode menuju tanggal tersebut menjadi saat yang perlu diperhatikan karena investor aktif dapat mencoba mengantisipasi kebutuhan transaksi dana pasif sebelum hari efektif.

Lo Kheng Hong Justru Membeli Saat Harga Turun, tapi Tesisnya Tetap Perlu Diuji

DILD menjadi contoh paling jelas mengenai perbedaan cara pandang antara indeks dan investor berbasis nilai.

Lo Kheng Hong mulai tercatat memiliki lebih dari 5% saham Intiland pada 2022. Dalam bahan, dia pernah menjelaskan membeli sekitar 453,1 juta saham pada harga rata-rata Rp147, dengan nilai sekitar Rp66,6 miliar.

Alih-alih mengurangi posisi ketika harga melemah, Lo Kheng Hong terus menambah saham. Seperti dikutip dari Bisnis, ia mengatakan penurunan harga justru memberinya kesempatan membeli pada harga lebih murah.

Tesis yang pernah dikemukakannya berangkat dari ketimpangan antara kapitalisasi pasar DILD dengan nilai aset properti yang dimiliki perseroan. Dia juga menekankan kualitas dan integritas manajemen sebagai salah satu pertimbangan sebelum berinvestasi.

Pendekatan tersebut khas investasi nilai: mencari perusahaan ketika harga pasar dianggap jauh lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi bisnisnya.

Namun investor lain perlu memahami satu hal. Nilai proyek Rp20 triliun tidak sama dengan nilai ekuitas Rp20 triliun. Aset properti perlu dikurangi utang dan kewajiban, membutuhkan biaya pembangunan, mempunyai kecepatan monetisasi berbeda, dan nilai pasarnya dapat berubah.

Karena itu, diskon terhadap nilai aset memang dapat menjadi tesis investasi, tetapi diskon tersebut tidak otomatis akan tertutup dalam waktu cepat.

RALS mempunyai karakter berbeda.

Lo Kheng Hong, seperti dikutip dari Bisnis, menyoroti neraca Ramayana yang menurut penilaiannya kuat, termasuk posisi kas besar serta tidak adanya utang yang menjadi perhatian dalam tesis investasinya. Ia bahkan menyatakan dividen yang diterima dari RALS kembali digunakan untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Dalam kasus RALS, yang perlu diuji investor bukan hanya berapa besar kasnya, tetapi apakah bisnis ritel mampu mempertahankan penjualan, margin, arus kas, dan dividen ketika pola konsumsi masyarakat berubah.

Hal yang sama berlaku untuk tiga saham lainnya. Setiap saham perlu dibaca berdasarkan mesin fundamental yang berbeda.

Saham Bisnis Angka yang Layak Dipantau Investor
CFIN Pembiayaan Pertumbuhan pembiayaan, NPL/NPF, biaya dana, margin, ROE dan dividen
DILD Properti Marketing sales, recurring income, utang, arus kas, monetisasi aset dan diskon terhadap NAV
MAIN Peternakan dan pakan Harga ayam, DOC, jagung/pakan, volume dan margin
PNIN Investasi/jasa keuangan Nilai aset, laba anak usaha, kas, likuiditas saham dan diskon holding
RALS Ritel Same-store sales, margin, kas bersih, arus kas bebas dan dividen

Di sinilah keputusan FTSE justru dapat menjadi tes menarik bagi tesis investor nilai.

Jika tekanan dari rebalancing membuat harga saham turun sementara fundamental tidak berubah, valuasi secara matematis menjadi lebih murah. Situasi seperti itu biasanya menarik bagi investor yang berorientasi jangka panjang.

Tetapi ada sisi lainnya. Harga yang terus turun tidak selalu berarti saham semakin menarik. Penurunan bisa juga mencerminkan laba yang memburuk, aset yang tidak cepat termonetisasi, likuiditas rendah, biaya modal meningkat, atau prospek bisnis yang berubah.

Karena itu, prinsip “harga turun berarti lebih murah” hanya benar jika nilai fundamental tidak turun lebih cepat daripada harga saham.

Investor juga tidak sebaiknya menganggap fakta Lo Kheng Hong terus membeli sebagai bukti bahwa harga saham pasti akan naik. Bahkan investor berpengalaman dapat mengalami periode kerugian yang panjang sebelum tesisnya terbukti—atau menghadapi situasi ketika asumsi awal akhirnya perlu direvisi.

Bottom Line:
Dikeluarkannya CFIN, DILD, MAIN, PNIN, dan RALS dari FTSE Micro Cap menciptakan risiko teknikal bagi lima saham koleksi Lo Kheng Hong menjelang rebalancing September 2026. Dana pasif yang mengikuti indeks dapat melakukan penyesuaian, sehingga tekanan jual jangka pendek mungkin meningkat. Namun keputusan FTSE dan keputusan Lo Kheng Hong berbicara tentang dua hal berbeda. FTSE mengukur kelayakan sebuah saham untuk indeks global; Lo Kheng Hong mencari selisih antara harga dengan nilai bisnis. Menariknya, sebelum pengumuman FTSE, ia justru menambah CFIN, DILD, dan RALS. DILD bertambah sekitar 80,37 juta saham sejak akhir 2025. Bagi investor, ini bukan alasan untuk otomatis mengikuti pembeliannya maupun buru-buru menjual karena FTSE. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah fundamental dan nilai intrinsik perusahaan berubah. Jika tidak, tekanan indeks bisa bersifat sementara. Jika fundamental ikut memburuk, harga murah bisa berubah menjadi value trap.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Apa saja saham Lo Kheng Hong yang keluar dari FTSE September 2026?
Lima saham tersebut adalah CFIN, DILD, MAIN, PNIN, dan RALS. Seluruhnya dikeluarkan dari FTSE Micro Cap dalam hasil review September 2026.
Berapa kepemilikan Lo Kheng Hong di DILD?
Dalam bahan, kepemilikan per 20 Agustus 2026 mencapai 775.435.700 saham atau sekitar 7,48%, naik dari 695.069.100 saham atau 6,7% pada akhir 2025.
Apakah Lo Kheng Hong masih membeli saham yang keluar FTSE?
Data menunjukkan kepemilikan CFIN, DILD, dan RALS meningkat pada 2026 sebelum pengumuman review FTSE. Namun hal tersebut tidak berarti ia pasti akan terus membeli setelah review.
Apa dampak saham keluar dari FTSE?
Saham dapat menghadapi penyesuaian dari dana pasif yang mengikuti indeks sehingga berpotensi memengaruhi harga, likuiditas, dan aliran dana dalam jangka pendek. Dampak fundamental terhadap bisnis perusahaan tidak terjadi secara otomatis.
Kapan rebalancing FTSE September 2026 efektif?
Hasil awal masih dapat direvisi hingga 4 September dan dianggap final mulai 7 September. Rebalancing dilakukan berdasarkan penutupan 18 September dan perubahan efektif pada 21 September 2026.
Apakah saham yang keluar FTSE otomatis harus dijual?
Tidak. Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan fundamental, valuasi, likuiditas, tujuan investasi, dan risiko. Keluar dari indeks adalah salah satu faktor teknikal, bukan rekomendasi jual.
Sumber: FTSE Russell/LSEG; data kepemilikan saham KSEI sebagaimana tercantum dalam bahan; keterbukaan dan publikasi emiten; serta keterangan Lo Kheng Hong sebagaimana dikutip dari Bisnis.

Perhitungan Receh.in: Kepemilikan CFIN meningkat sekitar 9,06 juta saham atau 12,0% dari posisi akhir April hingga akhir Juli 2026. RALS bertambah sekitar 7,06 juta saham atau 3,5%. DILD bertambah sekitar 80,37 juta saham atau 11,6% dari akhir 2025 hingga 20 Agustus 2026.

Catatan: FTSE September 2026 masih berada dalam periode perlakuan khusus bagi saham Indonesia, di mana sejumlah penambahan atau peningkatan bobot ditunda hingga setidaknya review Desember, sementara penghapusan yang memenuhi kriteria tetap dapat diterapkan. Hasil review September masih dapat direvisi hingga 4 September 2026.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual CFIN, DILD, MAIN, PNIN, RALS, maupun saham lainnya. Kepemilikan investor tertentu bukan jaminan keuntungan dan dapat berubah sewaktu-waktu.