Salah satu perdagangan paling populer di pasar global sedang menikmati periode terbaiknya dalam hampir dua dekade. Strategi carry trade pada mata uang negara berkembang atau emerging market telah menghasilkan return positif selama tujuh kuartal berturut-turut, rentetan terpanjang sejak 2008.
Berdasarkan indikator Bloomberg yang mencakup delapan mata uang utama emerging market, strategi carry trade yang didanai dolar AS menghasilkan return sekitar 22% sejak akhir 2024.
Kinerjanya mengungguli sejumlah instrumen obligasi global lain. Dalam periode perbandingan yang digunakan Bloomberg, US Treasury menghasilkan sekitar 5,9%, obligasi pemerintah negara berkembang dalam dolar AS sekitar 14%, sedangkan utang korporasi emerging market sekitar 10%.
Di balik angka tersebut terdapat formula yang relatif sederhana: investor mencari pendanaan dalam mata uang berbiaya lebih rendah, kemudian menempatkannya pada aset dalam mata uang yang menawarkan bunga lebih tinggi.
Tetapi keuntungan tidak hanya berasal dari bunga. Pergerakan nilai tukar justru dapat menjadi faktor yang menentukan apakah carry trade menghasilkan keuntungan besar atau berubah menjadi kerugian.
Itulah sebabnya pelemahan dolar AS, suku bunga yang masih tinggi di sejumlah negara berkembang, serta volatilitas mata uang yang relatif terkendali menciptakan kombinasi yang sangat menguntungkan bagi strategi tersebut sepanjang beberapa kuartal terakhir.
- Carry trade emerging market mencetak return sekitar 22% sejak akhir 2024 dan menghasilkan keuntungan selama tujuh kuartal berturut-turut, menurut indikator Bloomberg.
- Keuntungan datang dari dua sumber: selisih bunga dan mata uang. Negara dengan suku bunga tinggi makin menarik apabila mata uangnya stabil atau menguat terhadap mata uang pendanaan.
- Indonesia berpotensi menikmati sentimen serupa melalui rupiah dan SBN, tetapi bukan otomatis menjadi tujuan carry trade terbaik karena investor tetap membandingkan imbal hasil riil, risiko kurs, fiskal, likuiditas, dan kondisi global.
*Mengikuti indikator Bloomberg yang dikutip dalam bahan. Return dapat berbeda menurut mata uang, periode, biaya pendanaan, instrumen, dan strategi lindung nilai.
Mengapa Carry Trade Emerging Market Sedang Sangat Menguntungkan?
Secara sederhana, carry trade mengeksploitasi perbedaan suku bunga.
Misalnya seorang investor dapat memperoleh pendanaan dalam mata uang dengan tingkat bunga relatif rendah, kemudian menempatkannya pada obligasi atau instrumen pasar uang negara lain yang memberikan yield lebih tinggi.
Selisih hasil itulah yang disebut carry.
Namun perhitungannya tidak berhenti pada bunga.
Total return carry trade ≈ pendapatan bunga + perubahan nilai tukar − biaya pendanaan − biaya transaksi/lindung nilai.
Karena itu, aset dengan bunga 30% belum tentu memberikan return 30% bagi investor dolar. Jika mata uang lokal melemah 35% terhadap dolar selama periode investasi, keuntungan bunga bisa habis.
Sebaliknya, ketika mata uang lokal menguat, investor dapat menikmati keuntungan ganda: bunga tinggi sekaligus keuntungan kurs.
Kolombia merupakan contoh ekstrem yang disebut dalam laporan Bloomberg. Negara tersebut menawarkan yield obligasi sekitar 12% sementara mata uangnya mengalami apresiasi besar. Kombinasi keduanya membuat peso Kolombia menjadi salah satu aset carry dengan kinerja sangat tinggi.
Dalam 12 bulan terakhir, strategi berbasis dolar yang dikutip Bloomberg menghasilkan sekitar 48% pada peso Kolombia, 23% pada lira Turki, 21% pada real Brasil, 19% pada peso Meksiko, dan 18% pada rand Afrika Selatan.
| Mata Uang | Return Carry 12 Bulan* | Karakter Utama |
|---|---|---|
| Peso Kolombia | ~48% | Suku bunga tinggi + apresiasi mata uang |
| Lira Turki | ~23% | Carry sangat tinggi, kurs tetap volatile |
| Real Brasil | ~21% | Real yield relatif menarik |
| Peso Meksiko | ~19% | Likuiditas tinggi dan carry besar |
| Rand Afrika Selatan | ~18% | Carry tinggi dengan risiko volatilitas |
*Angka mengikuti data Bloomberg dalam bahan dan bukan return yang dijamin untuk periode berikutnya.
Bahkan Turki memperlihatkan bahwa mata uang tidak harus menguat untuk menghasilkan keuntungan.
Lira disebut melemah sekitar 26% terhadap dolar AS, tetapi yield obligasi lokal tenor 10 tahun berada di atas 32%. Bunga yang sangat tinggi masih mampu mengompensasi sebagian besar depresiasi kurs sehingga investor yang menjalankan strategi tertentu tetap memperoleh total return positif.
Cathy Hepworth dari PGIM, seperti dikutip dari Bloomberg, menggambarkan kondisi pasar saat ini dengan sederhana: terlalu banyak dana global sedang mencari yield.
Bank sentral di Amerika Latin dan Eropa Timur juga belum buru-buru memangkas bunga secara agresif karena inflasi masih menjadi perhatian. Selama suku bunga nominal dan terutama suku bunga riil tetap tinggi, daya tarik carry belum hilang.
Buyback Treasury Membantu, tetapi Ini Bukan QE
Ada satu katalis baru yang membuat carry trade semakin menarik: kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat terhadap pasar Treasury.
US Treasury pada 19 Agustus mengumumkan kenaikan ukuran pembelian kembali surat utang jangka panjang. Untuk surat utang tenor 10-30 tahun, ukuran buyback dinaikkan dari sekitar US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi selama periode yang diumumkan untuk September-November.
Tujuan utamanya adalah membantu likuiditas pasar obligasi setelah yield Treasury jangka panjang melonjak tajam.
Yield obligasi AS tenor 30 tahun sebelumnya sempat mencapai sekitar 5,34%, level tertinggi sejak 2007.
Ketika Treasury mengumumkan kenaikan buyback, yield sempat turun dan dolar melemah terhadap sejumlah mata uang utama.
Kombinasi seperti itu mendukung carry trade karena dua alasan.
Pertama, jika yield aset dolar turun relatif terhadap aset emerging market, selisih imbal hasil menjadi lebih menarik. Kedua, pelemahan dolar dapat mengurangi risiko kurs bagi investor yang membeli mata uang negara berkembang.
Buyback obligasi pemerintah AS bukan quantitative easing atau QE dari Federal Reserve. Treasury membeli kembali surat utangnya sebagai bagian dari pengelolaan utang dan likuiditas pasar. Skala operasi juga masih kecil dibandingkan pasar Treasury yang bernilai puluhan triliun dolar.
Reuters mencatat kenaikan buyback tersebut hanya menambah sedikitnya sekitar US$14 miliar selama kuartal berjalan, sangat kecil dibandingkan pasar Treasury sekitar US$32,2 triliun.
Dengan kata lain, kebijakan ini dapat memperbaiki likuiditas atau mengurangi tekanan teknis pada yield, tetapi tidak menyelesaikan persoalan fiskal AS yang menjadi salah satu penyebab yield jangka panjang tetap tinggi.
Daniel Von Ahlen dari TS Lombard, seperti dikutip Bloomberg, menilai toleransi pemerintahan AS terhadap lonjakan yield yang tampaknya rendah menjadi katalis tambahan bagi tren EM carry.
Namun justru di titik inilah terdapat risiko. Jika inflasi AS kembali naik atau pasar menyimpulkan Federal Reserve perlu menaikkan bunga lebih tinggi, yield dan dolar dapat kembali melonjak.
Carry trade biasanya bekerja sangat baik ketika volatilitas rendah. Masalah muncul ketika semua investor ingin keluar pada saat yang sama.
Apakah Indonesia Ikut Menjadi Tujuan Carry Trade?
Indonesia berada dalam ekosistem yang sama, meskipun karakter carry-nya tidak seekstrem Turki, Kolombia, atau Brasil.
Bank Indonesia pada rapat 18-19 Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.
BI secara eksplisit menyatakan kebijakan tersebut antara lain diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah volatilitas global serta meningkatkan aliran modal asing.
Bagi investor global, suku bunga Indonesia yang masih relatif tinggi dibandingkan sejumlah negara maju menciptakan carry positif.
Namun return investor asing pada Surat Berharga Negara tidak hanya ditentukan coupon atau yield SBN.
| Komponen | Pengaruh terhadap Investor Asing di Indonesia |
|---|---|
| Yield SBN | Semakin tinggi relatif terhadap funding cost, semakin menarik carry |
| Rupiah | Penguatan menambah return dolar; pelemahan mengurangi return |
| Inflasi | Menentukan daya tarik real yield |
| Kebijakan BI | Mempengaruhi bunga, likuiditas dan ekspektasi rupiah |
| Fiskal | Mempengaruhi supply SBN dan premi risiko |
| US Treasury | Menjadi benchmark alternatif bagi investor global |
Contoh sederhananya: jika investor asing memperoleh yield SBN 6%-7% tetapi rupiah melemah 10% terhadap dolar selama periode yang sama, hasil dalam dolar dapat berubah negatif.
Sebaliknya, jika yield tetap menarik dan rupiah menguat, total return bisa jauh lebih besar daripada coupon SBN itu sendiri.
Inilah mengapa stabilitas rupiah menjadi sangat penting dalam persaingan mendapatkan dana asing.
Kondisi global terbaru juga memperlihatkan bahwa investor tidak sekadar mengejar yield tertinggi. Mereka menilai kombinasi carry, stabilitas kurs, likuiditas pasar, kredibilitas kebijakan, dan risiko fiskal.
Indonesia mempunyai keunggulan berupa pasar obligasi pemerintah yang relatif besar dan likuid dibandingkan banyak frontier market. Di sisi lain, rupiah juga sensitif terhadap harga minyak, dolar, dan perubahan risk appetite global.
Karena Indonesia merupakan importir minyak bersih, kenaikan harga energi akibat ketegangan Timur Tengah dapat bekerja berlawanan arah: inflasi dan tekanan terhadap neraca eksternal dapat meningkat, sehingga sebagian manfaat carry berpotensi tergerus oleh risiko mata uang.
Jadi, fenomena EM carry trade positif bagi Indonesia, tetapi tidak berarti dana global otomatis mengalir ke rupiah hanya karena BI-Rate 5,75%.
Carry Trade Sedang Ramai, Justru Itu Risikonya
Keberhasilan strategi selama tujuh kuartal berturut-turut membawa satu risiko klasik: perdagangan ini menjadi terlalu populer.
Ketika banyak investor menjalankan posisi yang sama, valuasi mata uang dapat menjadi semakin mahal dan ruang keuntungan dari apresiasi kurs mengecil.
Lebih berbahaya lagi, jika terjadi satu katalis yang membuat investor menghindari risiko, posisi carry dapat dibongkar secara bersamaan.
Peristiwa seperti itu pernah terjadi berulang kali dalam sejarah pasar keuangan.
Mata uang yang sebelumnya stabil dapat turun cepat karena investor membeli kembali mata uang pendanaan untuk menutup posisi.
Karena itu, investor tidak boleh melihat return 48% pada peso Kolombia atau 23% pada lira Turki sebagai semacam bunga deposito.
Return tersebut mencerminkan kombinasi bunga, kurs, dan kondisi pasar tertentu yang dapat berubah dengan cepat.
| Risiko Carry Trade | Apa yang Bisa Terjadi? |
|---|---|
| Dolar tiba-tiba menguat | Keuntungan mata uang EM dapat hilang dengan cepat |
| The Fed kembali hawkish | Yield AS naik dan spread carry menyempit |
| Inflasi EM turun cepat | Bank sentral dapat memangkas bunga lebih agresif |
| Geopolitik memburuk | Investor mencari dolar dan aset aman |
| Trade terlalu crowded | Exit serentak memperbesar volatilitas |
Alejo Czerwonko dari UBS Global Wealth Management, seperti dikutip Bloomberg, masih memperkirakan mata uang negara berkembang menghasilkan total return positif dalam 12 bulan mendatang.
Namun sumber return kemungkinan berubah.
Setelah beberapa mata uang mengalami apresiasi besar, interest-rate carry kemungkinan menjadi komponen return yang lebih penting dibandingkan penguatan mata uang.
Artinya, investor berikutnya mungkin tidak memperoleh keuntungan kurs sebesar investor yang masuk satu atau dua tahun sebelumnya.
Kamakshya Trivedi dari Goldman Sachs juga menilai mata uang EM dengan suku bunga riil tinggi masih dapat menghasilkan total return positif selama lonjakan yield obligasi jangka panjang tidak berlangsung terlalu cepat.
Itu adalah syarat yang penting. Kenaikan yield Treasury secara perlahan masih dapat diserap pasar. Lonjakan yang cepat dapat memicu perpindahan dana secara mendadak dari aset berisiko menuju dolar.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini juga membantu menjelaskan mengapa pergerakan rupiah dan SBN harus dibaca bersama.
Ketika foreign inflow masuk ke obligasi, yield SBN dapat turun dan harga obligasi naik. Pada saat yang sama, kebutuhan investor membeli rupiah dapat membantu nilai tukar.
Tetapi efek tersebut bersifat dua arah. Saat carry trade dibongkar, investor dapat menjual SBN dan rupiah secara bersamaan.
Carry trade emerging market sedang berada dalam periode sangat menguntungkan: indikator Bloomberg menghasilkan sekitar 22% sejak akhir 2024 dan mencatat return positif selama tujuh kuartal berturut-turut. Formula pendukungnya hampir ideal—suku bunga EM masih tinggi, dolar melemah, dan volatilitas mata uang relatif terkendali. Buyback Treasury AS memberi katalis tambahan dengan membantu menekan tekanan pada yield dolar, meski kebijakan itu bukan QE dan skalanya kecil dibandingkan pasar Treasury. Indonesia dapat ikut memperoleh manfaat karena BI-Rate masih 5,75% dan SBN menawarkan carry dibandingkan aset negara maju. Namun yang dicari investor bukan bunga tertinggi semata. Rupiah, inflasi, fiskal, harga minyak, dan stabilitas kebijakan menentukan return sesungguhnya. Dan setelah tujuh kuartal keuntungan, risiko terbesar justru mulai muncul dari keberhasilan strategi itu sendiri: semakin ramai posisi carry, semakin besar potensi pembalikan jika dolar dan yield AS kembali melonjak.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu carry trade?
Berapa return carry trade emerging market saat ini?
Mengapa carry trade sedang menguntungkan?
Apakah buyback Treasury AS sama dengan QE?
Apakah Indonesia menarik untuk carry trade?
Apa risiko terbesar carry trade?
Perhitungan Receh.in: Artikel membedakan pendapatan bunga atau carry dengan total return. Total return investor asing dapat berubah signifikan setelah memperhitungkan perubahan nilai tukar, biaya pendanaan, lindung nilai, dan perubahan harga obligasi.
Catatan: Return sekitar 22%, 48% pada peso Kolombia, 23% lira Turki, 21% real Brasil, 19% peso Meksiko, dan 18% rand Afrika Selatan berasal dari indikator/perhitungan Bloomberg dalam bahan dan tidak diverifikasi ulang sebagai return instrumen investasi tunggal. Pembelian kembali Treasury AS bukan quantitative easing Federal Reserve dan tidak otomatis menurunkan yield secara permanen.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli mata uang, SBN, obligasi emerging market, maupun melakukan carry trade. Strategi leverage dan valuta asing mempunyai risiko kerugian tinggi apabila kurs atau suku bunga bergerak berlawanan.
0 Komentar