Saham PT Chemstar Indonesia Tbk. (CHEM) mulai kembali menarik perhatian setelah bangkit dari area Rp50-an menuju Rp71. Dalam satu bulan terakhir, harga saham emiten bahan kimia tersebut sudah naik sekitar 12,7%. Namun di balik pemulihan harga itu, aliran transaksi justru belum memberikan sinyal yang sepenuhnya nyaman.
Data analisis Indo Premier menunjukkan smart money masih berada dalam posisi distribusi, baik dalam horizon harian, mingguan, bulanan, maupun sejak awal tahun. Pada saat yang sama, data kepemilikan KSEI yang ditampilkan melalui fitur Insider Stockbit memperlihatkan episode transaksi agresif investor dan influencer saham Belvin Tannadi pada April 2026.
Belvin sempat membangun kepemilikan CHEM dari nol hingga mencapai sekitar 222,10 juta saham atau 13,06% hanya dalam waktu singkat. Namun posisi itu kemudian berbalik turun drastis hingga sekitar 125,84 juta saham atau 7,40% pada 8 April 2026.
Masalahnya, fundamental CHEM belum mengikuti pemulihan harga saham. Pendapatan memang tumbuh, tetapi profitabilitas tertekan. CHEM mencatat rugi secara TTM, arus kas operasi masih negatif, sementara valuasi terhadap EBITDA juga tidak bisa disebut murah.
- Belvin Tannadi pernah menaikkan kepemilikan CHEM hingga 13,06% pada 7 April 2026, sebelum memangkasnya menjadi sekitar 7,40% pada 8 April.
- Harga CHEM pulih ke Rp71 dan naik 12,7% dalam sebulan, tetapi data IPOT masih menunjukkan distribusi smart money pada horizon 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, dan YTD.
- Fundamental belum memberi konfirmasi kuat. Revenue TTM sekitar Rp211 miliar, tetapi laba bersih TTM masih negatif sekitar Rp2 miliar dan arus kas operasi juga negatif.
Belvin Tannadi Pernah Masuk Agresif ke CHEM
Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan CHEM tahun ini adalah perubahan kepemilikan Belvin Tannadi pada awal April.
Data KSEI melalui fitur Insider Stockbit menunjukkan Belvin mulai muncul pada 6 April 2026. Kepemilikannya bergerak dari nol menjadi 17,43 juta saham atau 1,03%, kemudian bertambah menjadi 77,43 juta saham atau 4,55% dan kembali meningkat menjadi 138,68 juta saham atau 8,16%.
Akumulasi berlanjut pada 7 April. Posisi Belvin bertambah bertahap menjadi 139,79 juta saham, 141,97 juta saham, lalu melonjak menjadi 207,97 juta saham dan akhirnya mencapai 222,10 juta saham atau 13,06%.
| Tanggal | Perubahan Penting | Kepemilikan | Porsi |
|---|---|---|---|
| 6 Apr 2026 | Mulai muncul | 17,43 juta | 1,03% |
| 6 Apr 2026 | Akumulasi | 138,68 juta | 8,16% |
| 7 Apr 2026 | Puncak posisi | 222,10 juta | 13,06% |
| 8 Apr 2026 | Setelah serangkaian jual-beli | 125,84 juta | 7,40% |
Namun pola tersebut tidak berlanjut satu arah. Pada 7–8 April, transaksi berubah menjadi kombinasi beli dan jual dalam jumlah besar.
Dari posisi puncak 222,10 juta saham, jumlah kepemilikan akhirnya turun menjadi sekitar 125,84 juta saham. Artinya, sekitar 96,26 juta saham atau 43,3% dari posisi puncak sudah berkurang dalam rangkaian transaksi tersebut.
222,10 juta − 125,84 juta = sekitar 96,26 juta saham.
Pengurangan terhadap posisi puncak = sekitar 43,3%.
Jika seluruh transaksi pada screenshot dijumlahkan secara bruto, Belvin sempat melakukan pembelian sekitar 241,7 juta saham dan penjualan sekitar 115,9 juta saham dalam periode tersebut, meninggalkan posisi bersih sekitar 125,8 juta saham.
Ini memperlihatkan bahwa episode April bukan sekadar pola “beli lalu diam”. Ada perputaran posisi yang sangat cepat.
Data ini menggambarkan perubahan kepemilikan pada April 2026. Screenshot yang tersedia tidak membuktikan berapa posisi Belvin di CHEM saat ini. Karena itu, kepemilikan 7,40% tidak boleh otomatis dianggap sebagai posisi terbarunya pada Agustus.
Harga Naik, tapi Smart Money Belum Ikut
Empat bulan setelah episode Belvin tersebut, harga CHEM mulai menunjukkan perbaikan.
Dari grafik Stockbit, saham sempat jatuh dari area sekitar Rp100 pada awal periode menuju kisaran Rp50-an pada Juni. Setelah itu harga berangsur pulih dan kini berada di sekitar Rp71.
Dalam satu bulan, kenaikannya mencapai 12,7%. Dalam tiga bulan saham naik sekitar 2,9%. Namun secara enam bulan dan sejak awal tahun, kinerjanya masih negatif sekitar 28,3% dan 25,3%.
| Periode | Kinerja Harga CHEM |
|---|---|
| 1 Bulan | +12,70% |
| 3 Bulan | +2,90% |
| 6 Bulan | -28,28% |
| YTD | -25,26% |
| 3 Tahun | -38,79% |
Masalahnya, pemulihan harga belum diikuti pembalikan aliran dana berdasarkan indikator IPOT.
Dalam satu hari terakhir, tercatat net distribution sekitar Rp229 juta. Aktivitas yang dikategorikan akumulasi hanya 38,19% dibandingkan distribusi 61,81%. Smart-money berada pada 42,96% akumulasi berbanding 57,04% distribusi.
Horizon satu minggu menunjukkan pola lebih kuat: net distribution mencapai Rp1,04 miliar dengan 62,86% aktivitas berada di sisi distribusi.
Pada satu bulan, net distribution mencapai Rp2,03 miliar. Retail menurut klasifikasi IPOT justru berada pada sisi akumulasi 55,53%, sedangkan smart-money mencatat 48,5% akumulasi dan 51,5% distribusi.
| Periode | Net Flow | Akumulasi | Distribusi | Bias |
|---|---|---|---|---|
| 1 Hari | -Rp229 juta | 38,19% | 61,81% | Distribusi |
| 1 Minggu | -Rp1,04 miliar | 37,14% | 62,86% | Distribusi kuat |
| 1 Bulan | -Rp2,03 miliar | 45,49% | 54,51% | Distribusi |
| YTD | -Rp142 miliar | 42,82% | 57,18% | Distribusi dominan |
Indikator kualitas order juga mengarah ke sisi yang sama. Dalam satu minggu, sell-side quality mencapai 61,71, jauh di atas buy-side quality 36,46. Secara YTD, kualitas jual 56,07 juga masih mengungguli kualitas beli 41,99.
Artinya, reli dari area Rp50 menuju Rp71 belum bisa disebut sebagai reli yang jelas-jelas dipimpin aliran dana besar berdasarkan metodologi IPOT.
Smart money, retail, accumulation pressure, ataupun bandar value merupakan label dan hasil pengolahan metodologi aplikasi. Data itu tidak mengidentifikasi siapa pembeli atau penjual sebenarnya. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Belvin, institusi tertentu, bandar tertentu, atau pemegang saham tertentu sedang menjual berdasarkan indikator tersebut.
Pendapatan Tumbuh, Tapi Laba dan Cash Flow Masih Lemah
Dari sisi bisnis, Chemstar bukan perusahaan tanpa aktivitas operasi. Perseroan berdiri sejak 2004 dan bergerak di manufaktur serta distribusi bahan kimia, terutama untuk industri tekstil.
Chemstar memproduksi bahan kimia untuk proses tekstil mulai dari pre-treatment, dyeing, printing, finishing hingga coating. Perusahaan juga memperluas bisnis ke sektor energi dan agrochemical.
Pada 2025, pendapatan CHEM sebenarnya tumbuh cukup kuat sebesar 25,5%, dari Rp174,34 miliar menjadi Rp218,77 miliar.
Masalahnya terdapat pada kualitas pertumbuhan tersebut. Laba bersih justru turun dari Rp4,23 miliar menjadi Rp1,86 miliar atau lebih dari 55%.
Kondisi kemudian kembali melemah pada 2026. Berdasarkan data Stockbit, pendapatan TTM per kuartal II/2026 sekitar Rp211 miliar, gross profit Rp37 miliar, EBITDA sekitar Rp4 miliar, sementara laba bersih TTM berada pada posisi rugi sekitar Rp2 miliar.
| Fundamental CHEM | Data Terkini |
|---|---|
| Revenue TTM | ~Rp211 miliar |
| Gross Profit TTM | ~Rp37 miliar |
| EBITDA TTM | ~Rp4 miliar |
| Net Income TTM | ~-Rp2 miliar |
| Cash from Operations TTM | ~-Rp1 miliar |
| Free Cash Flow TTM | ~-Rp2 miliar |
Secara kuartalan, sebenarnya ada perbaikan dari kerugian sekitar Rp3 miliar pada kuartal I menjadi laba sekitar Rp518 juta pada kuartal II.
Pendapatan kuartal II tumbuh sekitar 22,9% YoY. Tetapi laba bersih kuartal tersebut justru turun sekitar 66,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ini memberi gambaran yang cukup jelas: CHEM belum kekurangan penjualan, tetapi masih mempunyai masalah konversi penjualan menjadi laba.
Gross margin kuartalan sekitar 18,97% dan operating margin sekitar 3,34%. Net profit margin kuartal II hanya sekitar 0,94%.
Dengan margin tipis seperti itu, kenaikan biaya bahan baku, beban bunga, kurs, ataupun perubahan bauran produk dapat dengan cepat mengikis laba.
PBV Cuma 1,07 Kali, Tapi Belum Tentu Murah
Pada harga Rp71, kapitalisasi pasar CHEM sekitar Rp121 miliar dengan jumlah saham beredar sekitar 1,70 miliar lembar.
Secara aset, valuasinya tidak terlihat ekstrem. Price to book value berada sekitar 1,07 kali. Book value per share sekitar Rp66,65.
Artinya, harga pasar Rp71 hanya sekitar 6,5% di atas nilai buku per saham.
Rp71 ÷ Rp66,65 ≈ 1,07 kali PBV.
Price to sales juga hanya sekitar 0,57 kali.
Tetapi saham tidak otomatis murah hanya karena PBV mendekati 1 kali. Return on equity TTM justru berada di sekitar -2,02%, sementara return on assets sekitar -1,27%.
Jika perusahaan belum mampu menghasilkan return positif dari ekuitasnya, diskon atau valuasi rendah terhadap book value bisa bertahan lama.
PER juga tidak berguna sebagai ukuran murah saat laba negatif. Stockbit mencatat PER TTM sekitar -52,85 kali dan EPS TTM minus Rp1,34. Tanda negatif tersebut bukan berarti CHEM “lebih murah” daripada perusahaan dengan PER positif—melainkan laba trailing sedang negatif.
EV/EBITDA bahkan berada sekitar 33,5 kali. Dengan EBITDA hanya sekitar Rp4 miliar, valuasi terhadap kemampuan menghasilkan laba operasi sebelum depresiasi masih tergolong tinggi.
| Valuasi & Neraca | CHEM | Cara Membaca |
|---|---|---|
| PBV | 1,07x | Dekat nilai buku |
| P/S | 0,57x | Revenue relatif besar vs market cap |
| PER TTM | -52,85x | Laba TTM negatif |
| EV/EBITDA | 33,52x | Relatif tinggi |
| Debt/Equity | 0,33x | Leverage belum ekstrem |
| Current Ratio | 2,36x | Likuiditas jangka pendek cukup |
Neraca CHEM sendiri belum menunjukkan tekanan utang ekstrem. Total aset sekitar Rp180 miliar, ekuitas Rp113 miliar, kas Rp9 miliar dan total utang sekitar Rp38 miliar. Net debt berada sekitar Rp29 miliar.
Current ratio 2,36 kali dan quick ratio 1,59 kali menunjukkan aset lancar masih cukup untuk menutup kewajiban jangka pendek.
Jadi persoalan utama CHEM saat ini lebih banyak berada pada profitabilitas dan cash conversion ketimbang solvabilitas langsung.
CHEM sedang berada dalam fase yang menarik tetapi belum memberikan konfirmasi lengkap. Harga telah pulih dari area Rp50 menuju Rp71 dan naik sekitar 12,7% dalam sebulan. Di sisi lain, indikator IPOT masih menunjukkan net distribution Rp229 juta dalam sehari, Rp1,04 miliar dalam sepekan, Rp2,03 miliar dalam sebulan, dan sekitar Rp142 miliar secara YTD. Episode Belvin Tannadi pada April juga memperlihatkan betapa cepatnya posisi besar dapat dibangun lalu dikurangi: kepemilikannya sempat mencapai 13,06% sebelum turun menjadi 7,40% dalam data yang terlihat. Fundamental memberi gambaran campuran. Pendapatan bertumbuh, neraca masih cukup sehat, dan PBV hanya sekitar 1,07 kali, tetapi laba TTM serta arus kas masih negatif. Karena itu, titik balik yang lebih kuat baru terlihat jika kenaikan harga diikuti perbaikan laba, arus kas operasi, dan perubahan pola distribusi menjadi akumulasi yang lebih konsisten.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa harga saham CHEM saat ini?
Apakah Belvin Tannadi pernah memiliki saham CHEM?
Apakah Belvin masih memiliki 7,40% CHEM sekarang?
Apakah smart money sedang membeli CHEM?
Apakah CHEM murah pada harga Rp71?
Apa katalis yang perlu dipantau di CHEM?
Perhitungan Receh.in: Kepemilikan Belvin mencapai puncak sekitar 222,10 juta saham atau 13,06% sebelum turun menjadi 125,84 juta saham atau 7,40%, setara pengurangan sekitar 96,26 juta saham atau 43,3% dari posisi puncak.
Catatan: Label smart money, retail, accumulation pressure, bandar value, buy quality dan sell quality merupakan hasil klasifikasi/metodologi aplikasi perdagangan. Indikator tersebut tidak mengidentifikasi pihak tertentu atau membuktikan motif transaksi. Data kepemilikan Belvin pada screenshot merupakan data April 2026 dan tidak dianggap sebagai posisi terkini tanpa data KSEI terbaru.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham CHEM.

0 Komentar