Emiten properti dan kawasan industri yang terafiliasi dengan Grup Djarum, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), membukukan lonjakan pendapatan dan laba bersih pada semester I/2026. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh pengakuan akuntansi penjualan lahan industri di kawasan Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang.
- Emiten properti terafiliasi Grup Djarum, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), membukukan pendapatan Rp3,35 triliun pada semester I/2026, melonjak 58,4% YoY, ditopang pengakuan penjualan lahan industri.
- Laba bersih SSIA naik menjadi Rp262,6 miliar, dengan segmen properti mencatat lonjakan laba hampir 10 kali lipat menjadi Rp459,3 miliar.
- Meski marketing sales lahan industri melambat akibat ketidakpastian geopolitik global, pengakuan penjualan sebelumnya membuat kinerja keuangan tetap tumbuh signifikan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, SSIA membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp3,35 triliun, meningkat 58,4% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Rp2,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan terbesar berasal dari segmen properti yang mencatatkan pendapatan Rp1,27 triliun, melonjak 274,1% YoY. Perseroan menjelaskan kenaikan tersebut didorong oleh pengakuan penjualan lahan industri yang telah dibukukan pada periode sebelumnya.
VP Investor Relations & Corporate Communication SSIA, Erlin Budiman, menjelaskan pertumbuhan kinerja terutama berasal dari kuatnya accounting sales recognition pada bisnis kawasan industri.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, SSIA membukukan laba bersih sebesar Rp262,6 miliar pada semester I/2026.
Segmen properti kembali menjadi penyumbang laba terbesar dengan laba bersih mencapai Rp459,3 miliar, melonjak tajam dibandingkan Rp44,9 miliar pada semester I/2025.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA konsolidasian meningkat menjadi Rp692,5 miliar dengan margin EBITDA 20,7%, jauh lebih tinggi dibandingkan EBITDA Rp106 miliar dengan margin 5% pada periode yang sama tahun lalu.
Margin EBITDA segmen properti bahkan meningkat menjadi 42,9%, dari sebelumnya 14,5%.
Marketing Sales Melambat
Di balik lonjakan kinerja keuangan tersebut, penjualan lahan industri baru justru mengalami perlambatan.
Sepanjang semester I/2026, PT Suryacipta Swadaya (SCS), anak usaha SSIA yang mengelola kawasan industri, membukukan marketing sales seluas 9,4 hektare dengan nilai Rp195,9 miliar.
Perseroan menilai perlambatan tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat sejumlah perusahaan global menunda keputusan investasi langsung atau foreign direct investment (FDI).
Meski demikian, pengakuan pendapatan tetap tinggi karena berasal dari transaksi yang telah disepakati sebelumnya. Selama enam bulan pertama 2026, SSIA mengakui penjualan lahan industri seluas 64,7 hektare dengan nilai Rp1,08 triliun, terutama dari proyek Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang.
Hingga akhir Juni 2026, backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp84,3 miliar atau setara penjualan lahan seluas 4,1 hektare.
Hotel Mulai Pulih, Konstruksi Stabil
Di luar bisnis kawasan industri, segmen konstruksi melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA) mencatatkan pendapatan Rp1,70 triliun, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Segmen konstruksi juga membukukan laba bersih Rp93,2 miliar, naik 21,1% YoY.
Sementara itu, bisnis perhotelan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pendapatan hotel meningkat 113,3% YoY menjadi Rp471,1 miliar.
Walaupun masih membukukan rugi bersih Rp83,8 miliar, kerugian tersebut telah menyusut sekitar 20,3% dibandingkan semester I/2025 yang mencapai Rp105,1 miliar.
Struktur Keuangan Membaik
Dari sisi neraca, posisi kas SSIA pada akhir Juni 2026 tercatat Rp1,09 triliun, turun tipis 4,2% dibandingkan posisi kuartal I/2026 sebesar Rp1,14 triliun. Penurunan kas terutama digunakan untuk pembayaran bunga renovasi Paradisus by Meliá Bali dan belanja pengembangan lahan.
Di sisi lain, utang berbunga perseroan turun 3,5% menjadi Rp2,27 triliun dari sebelumnya Rp2,35 triliun.
Perbaikan tersebut membuat rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) membaik menjadi 26,8%, mencerminkan struktur permodalan yang semakin sehat di tengah ekspansi kawasan industri dan bisnis properti.
0 Komentar