Daftar IsiTampilkan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026 dengan koreksi tajam 1,48% ke level 6.405,69. Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi indeks menjadi dua hari beruntun dan terjadi sehari menjelang aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 27 Agustus.

Tekanan jual meluas hampir ke seluruh pasar. Sebanyak 599 saham berakhir melemah, hanya 136 saham menguat dan 228 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral juga ditutup di zona merah, dengan sektor transportasi, properti dan energi mengalami tekanan paling dalam.

Yang membuat pergerakan kali ini menarik, IHSG justru melemah ketika mayoritas bursa Asia bergerak positif. Harga minyak dunia juga turun lebih dari 2,5% dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat mereda. Artinya, tekanan di pasar saham Indonesia pada hari ini tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh sentimen global.

Pasar sempat memberi sinyal berbeda pada pagi hari. IHSG dibuka di zona hijau dan sempat mencapai sekitar 6.532, tetapi tekanan jual meningkat menjelang penutupan hingga indeks berakhir dekat titik terendah hariannya.

Ringkasan
  • IHSG turun 1,48% menjadi 6.405,69, dengan 599 saham melemah dan hanya 136 saham menguat pada perdagangan 26 Agustus 2026.
  • Seluruh sektor berakhir merah. Transportasi anjlok 4,15%, properti turun 2,71% dan energi terkoreksi 2,61%.
  • Tekanan bersifat domestik sekaligus risk-off. Bursa Asia justru mayoritas menguat, sementara menjelang penutupan investor menghadapi ketidakpastian menjelang demonstrasi 27 Agustus.
-1,48% IHSG 26 Agustus
6.405,69 Level Penutupan
599 Saham Melemah
Rp18 T Nilai Transaksi*

*Sumber pasar mencatat nilai transaksi sekitar Rp17,98 triliun hingga Rp18,04 triliun, bergantung pada pembaruan data perdagangan yang digunakan.

Dari Zona Hijau ke 6.405, Tekanan Membesar di Sesi Kedua

Pergerakan IHSG pada Rabu memperlihatkan perubahan sentimen yang cukup tajam dalam satu sesi perdagangan.

Pada sesi pertama, indeks hanya turun sekitar 0,07% ke 6.496,89. Bahkan IHSG sempat bergerak hingga area 6.532 setelah membuka perdagangan di sekitar 6.507.

Tekanan membesar pada sesi kedua. Indeks akhirnya kehilangan sekitar 96 poin dibandingkan penutupan sebelumnya dan berakhir di 6.405,69.

Perhitungan Receh.in:
Jika penurunan 96 poin setara 1,48%, maka posisi penutupan sebelumnya berada di sekitar 6.501–6.502.

Dari level tertinggi sekitar 6.532 ke penutupan 6.405, IHSG kehilangan sekitar 127 poin atau hampir 1,95% dari puncak intraday.

Lebarnya tekanan juga terlihat dari market breadth.

Jumlah saham yang turun mencapai 599 atau sekitar 4,4 kali jumlah saham yang naik sebanyak 136.

Statistik IHSG 26 Agustus 2026
Penutupan 6.405,69
Perubahan -1,48%
Saham naik 136
Saham turun 599
Stagnan 228
Nilai transaksi ~Rp18 triliun
Volume ~39,7–41,2 miliar saham

Pola tersebut menunjukkan koreksi tidak hanya digerakkan satu atau dua saham berkapitalisasi besar. Tekanan sudah meluas hingga berbagai sektor dan saham lapis kedua.

Transportasi Jatuh 4,15%, Semua Sektor Berakhir Merah

Tekanan paling dalam terjadi pada sektor transportasi dan logistik yang anjlok 4,15%.

Saham Garuda Indonesia (GIAA) turun sekitar 8,7% menjadi Rp63, sedangkan Temas (TMAS) melemah sekitar 4,9% menjadi Rp135.

Sektor properti berada di posisi berikutnya dengan penurunan 2,71%. Sejumlah saham pengembang seperti PANI, KIJA, SMRA, CTRA, PWON, BSDE dan DILD ikut berada di zona merah.

Energi terkoreksi 2,61%. Tekanan pada sektor ini terjadi di saat harga minyak dunia justru turun setelah pasar melihat peluang membaiknya arus pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sektor Perubahan Catatan
Transportasi -4,15% Terlemah
Properti -2,71% KIJA, PANI dan pengembang besar tertekan
Energi -2,61% HUMI termasuk yang terkoreksi tajam
Kesehatan -0,73% Pelemahan paling ringan

Fakta bahwa semua sektor berakhir negatif mengindikasikan investor sedang melakukan pengurangan risiko secara luas, bukan sekadar berpindah dari satu sektor ke sektor lainnya.

Indeks saham unggulan juga ikut tertekan. LQ45 turun 1,46%, IDX30 melemah 1,28%, JII turun 1,66% dan ISSI melemah 1,50%.

TMPO Melonjak, BUMI dan TPIA Paling Ramai Diperdagangkan

Di tengah tekanan indeks, beberapa saham tetap bergerak ekstrem.

Tempo Intimedia (TMPO) menjadi salah satu top gainers setelah melonjak 34,76% menjadi Rp252. NICE naik 25% menjadi Rp340, sedangkan Steady Safe (SAFE) juga ditutup menguat 25% menjadi Rp615 berdasarkan data penutupan yang dikutip sumber perdagangan.

Top Gainers Harga Perubahan
TMPO Rp252 +34,76%
SAFE Rp615 +25,00%
NICE Rp340 +25,00%

Aktivitas perdagangan paling ramai tidak selalu datang dari saham yang naik.

BUMI menjadi salah satu saham dengan volume terbesar, sekitar 3 miliar saham dengan nilai transaksi Rp517 miliar. RGAS dan BNBR masing-masing juga membukukan volume transaksi sekitar 2 miliar saham.

Dari sisi frekuensi, TPIA diperdagangkan sekitar 75.000 kali, BUMI sekitar 61.000 kali dan DSSA sekitar 49.000 kali.

Sementara transaksi bernilai besar terlihat pada DSSA sekitar Rp682 miliar, TPIA sekitar Rp668 miliar dan BMRI sekitar Rp651 miliar.

Volume besar bukan berarti akumulasi.
Nilai transaksi, volume dan frekuensi hanya menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan. Tanpa melihat posisi beli-jual bersih dan metodologi aliran dana, data tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa investor tertentu sedang mengakumulasi atau mendistribusikan saham.

Ada satu masalah pada bahan sumber yang perlu dikoreksi: SAFE tercantum sekaligus sebagai top gainer di Rp615 dan top loser di Rp220. Kedua posisi itu tidak mungkin terjadi pada saham yang sama dalam satu penutupan perdagangan. Karena data sesi I dan sumber penutupan mengonfirmasi SAFE menguat ke Rp615, artikel ini tidak menggunakan SAFE sebagai top loser.

Bahan sumber juga menuliskan tanggal “26/7”. Berdasarkan tanggal publikasi, rangkaian perdagangan dan data pasar, yang benar adalah Rabu, 26 Agustus 2026.

Kenapa IHSG Jatuh Saat Bursa Asia Justru Menguat?

Pergerakan Rabu menarik karena sentimen eksternal tidak semuanya negatif.

Mayoritas pasar saham Asia justru menguat. Harga minyak turun lebih dari 2,5%, sementara imbal hasil Treasury Amerika Serikat ikut melandai. Secara teori, kombinasi minyak lebih rendah dan yield yang lebih tenang biasanya dapat membantu aset berisiko di negara berkembang.

Namun IHSG bergerak berlawanan.

Salah satu konteks domestik yang muncul adalah meningkatnya kehati-hatian investor menjelang aksi demonstrasi pada Kamis, 27 Agustus.

Meski demikian, terlalu jauh jika seluruh penurunan 1,48% disebut disebabkan oleh demonstrasi.

Pasar saham bergerak berdasarkan banyak faktor: posisi investor setelah reli sebelumnya, arus dana asing, valuasi, sentimen emiten, harga komoditas, hingga kebutuhan investor mengurangi risiko menjelang suatu peristiwa.

Pada sesi pertama bahkan investor asing masih membukukan net buy sekitar Rp216,9 miliar. BMRI menjadi saham yang paling banyak dibeli asing sekitar Rp205,8 miliar, disusul BBCA Rp63,6 miliar, MDKA Rp49,6 miliar, DSSA Rp35 miliar dan ANTM Rp27,7 miliar.

Di sisi lain, asing melepas GOTO sekitar Rp125,4 miliar, TPIA Rp60,4 miliar dan ISAT Rp51,2 miliar.

Foreign Flow Sesi I* Nilai Bersih
BMRI +Rp205,8 M
BBCA +Rp63,6 M
MDKA +Rp49,6 M
GOTO -Rp125,4 M
TPIA -Rp60,4 M
ISAT -Rp51,2 M

*Data sesi pertama, bukan posisi foreign flow penutupan. Karena itu tidak digunakan untuk menyimpulkan posisi asing sepanjang hari.

Fakta bahwa asing masih net buy pada sesi pertama tetapi IHSG akhirnya jatuh jauh lebih dalam menunjukkan tekanan pasar tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu indikator foreign flow.

Intinya:
IHSG jatuh 1,48% ke 6.405,69 pada 26 Agustus 2026 dengan tekanan yang sangat luas: 599 saham turun dan seluruh sektor berakhir negatif. Transportasi menjadi sektor terlemah dengan koreksi 4,15%, disusul properti 2,71% dan energi 2,61%. Indeks bahkan turun ketika mayoritas bursa Asia bergerak positif, sehingga faktor domestik dan pengurangan risiko menjelang demonstrasi 27 Agustus menjadi bagian dari sentimen yang perlu diperhatikan. Namun belum tepat menyebut demonstrasi sebagai penyebab tunggal. Bagi investor, indikator penting berikutnya adalah apakah area 6.400 mampu bertahan, bagaimana foreign flow pada sesi berikutnya, serta apakah tekanan hari ini berlanjut setelah ketidakpastian jangka pendek mereda.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa level IHSG pada 26 Agustus 2026?
IHSG ditutup di level 6.405,69 atau turun sekitar 1,48% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Berapa saham yang turun pada perdagangan 26 Agustus?
Sebanyak 599 saham melemah, 136 saham menguat dan 228 saham stagnan.
Sektor apa yang turun paling dalam?
Sektor transportasi dan logistik turun paling dalam sekitar 4,15%, kemudian properti 2,71% dan energi 2,61%.
Apa saham top gainer hari ini?
TMPO menjadi salah satu top gainers dengan kenaikan 34,76% ke Rp252. SAFE dan NICE masing-masing naik sekitar 25%.
Apakah IHSG turun karena demo 27 Agustus?
Demonstrasi dapat menjadi salah satu faktor sentimen dan mendorong investor mengurangi risiko, tetapi tidak ada dasar yang cukup untuk menyebutnya sebagai satu-satunya penyebab penurunan IHSG.
Apakah investor asing juga menjual besar-besaran?
Pada sesi pertama, asing justru masih membukukan net buy sekitar Rp216,9 miliar. Data tersebut belum merupakan posisi penutupan sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan foreign flow sepanjang hari.
Sumber: Data perdagangan Bursa Efek Indonesia sebagaimana dipublikasikan melalui Indo Premier/IPOT dan IDX Channel pada 26 Agustus 2026; serta data foreign activity sesi pertama dari IPOT.

Perhitungan Receh.in: Rasio saham turun terhadap saham naik sekitar 4,4 kali. Dari level tertinggi sekitar 6.532 menuju penutupan 6.405, indeks kehilangan hampir 1,95%.

Catatan: Bahan awal mengandung dua inkonsistensi. Tanggal ditulis 26 Juli, sedangkan data terverifikasi menunjukkan 26 Agustus 2026. SAFE juga tercantum sekaligus sebagai top gainer dan top loser; data penutupan yang terverifikasi menunjukkan SAFE berada di jajaran top gainer pada Rp615. Karena itu data SAFE sebagai top loser tidak digunakan.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Pergerakan indeks dipengaruhi banyak faktor dan kinerja satu hari tidak menjamin arah pasar berikutnya.