Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,81% pada Kamis, 27 Agustus 2026, tetapi investor asing justru tidak ikut menjadi pembeli bersih. Di seluruh pasar Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net foreign sell sekitar Rp262,1 miliar.
Kontras tersebut menarik. IHSG naik 116 poin ke level 6.521 ketika asing melepas saham lebih banyak daripada membeli. Di pasar reguler saja, pembelian asing mencapai Rp3,37 triliun dan penjualan Rp3,484 triliun, menghasilkan penjualan bersih Rp113,4 miliar.
Aliran dana asing juga tidak bergerak seragam. Saham komoditas seperti BUMI dan BRMS justru memperoleh arus masuk, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada BBRI. Di pasar negosiasi, GOTO menjadi sumber arus keluar terbesar dengan transaksi bersih sekitar Rp108,4 miliar pada harga rata-rata Rp23,9 per saham.
Pola hari itu memberi satu pesan penting: kenaikan IHSG tidak selalu identik dengan masuknya dana asing. Investor domestik, pergerakan saham berkapitalisasi besar, rotasi sektor, dan transaksi individual tetap dapat mendorong indeks sekalipun foreign flow harian berada di zona negatif.
- Asing mencatat net sell Rp262,1 miliar di seluruh pasar pada 27 Agustus 2026, terdiri atas Rp113,4 miliar di reguler dan sekitar Rp148,6 miliar di negosiasi.
- BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing, Rp274,4 miliar, sedangkan BUMI memperoleh net buy terbesar Rp70,2 miliar.
- IHSG tetap naik 1,81% ke 6.521. Artinya, foreign sell harian tidak cukup besar untuk menggagalkan rebound pasar yang berlangsung luas di seluruh sektor.
IHSG Naik, Asing Justru Jual Bersih
Berdasarkan data perdagangan IPOT, investor asing melakukan pembelian sekitar Rp3,37 triliun dan penjualan Rp3,484 triliun di pasar reguler. Selisihnya menghasilkan net foreign sell Rp113,4 miliar.
Di pasar negosiasi, pembelian asing sekitar Rp321,4 miliar berhadapan dengan penjualan Rp470,1 miliar. Dengan demikian, penjualan bersih asing di pasar tersebut mencapai sekitar Rp148,6 miliar.
| Pasar | Foreign Buy | Foreign Sell | Net Foreign Flow |
|---|---|---|---|
| Reguler | Rp3,37 T | Rp3,484 T | -Rp113,4 M |
| Negosiasi | Rp321,4 M | Rp470,1 M | -Rp148,6 M |
| Seluruh pasar | ~Rp3,69 T | ~Rp3,95 T | -Rp262,1 M |
Rp113,4 miliar + Rp148,6 miliar = sekitar Rp262,0 miliar. Perbedaan sekitar Rp0,1 miliar dibandingkan data all-market Rp262,1 miliar dapat berasal dari pembulatan angka pada masing-masing kategori.
Besarnya penjualan bersih tersebut sebenarnya relatif moderat dibandingkan keseluruhan aktivitas perdagangan hari itu. IHSG bahkan berhasil menutup perdagangan di titik tinggi sekitar 6.521 setelah sempat bergerak ke area 6.376.
Lebih jauh, penguatan indeks juga mempunyai breadth yang sangat lebar. Sebelas indeks sektoral BEI berakhir positif. Sektor industri naik 3,95%, siklikal 3,79%, kesehatan 3,76%, dan energi 3,20%.
Karena itu, data Kamis justru menjadi contoh mengapa foreign flow sebaiknya tidak digunakan sendirian untuk menentukan apakah pasar sedang kuat atau lemah.
Ketika asing net sell tetapi hampir seluruh pasar naik, berarti terdapat permintaan dari kelompok investor lain yang cukup besar untuk menyerap penjualan tersebut.
BUMI dan BRMS Diborong, BBRI Paling Banyak Dilepas
Di antara seluruh transaksi, aliran asing paling positif mengarah ke kelompok komoditas.
BUMI mencatat net foreign buy Rp70,2 miliar, terbesar pada perdagangan hari itu. Posisi kedua ditempati BRMS dengan Rp45,1 miliar, diikuti TPIA sekitar Rp41,6 miliar.
Data ringkasan pasar IPOT juga menempatkan INET dan BMRI dalam kelompok lima saham dengan foreign inflow terbesar, masing-masing sekitar Rp39,7 miliar dan Rp35,4 miliar.
| Foreign Inflow | Net Buy | Tema Saham |
|---|---|---|
| BUMI | Rp70,2 M | Batu bara |
| BRMS | Rp45,1 M | Tambang emas |
| TPIA | Rp41,6 M | Petrokimia & infrastruktur |
| INET | ~Rp39,7 M | Konektivitas digital |
| BMRI | ~Rp35,4 M | Perbankan |
Di sisi berlawanan, BBRI menjadi saham dengan foreign outflow paling besar, mencapai Rp274,4 miliar. Jumlah tersebut bahkan lebih besar daripada net sell seluruh pasar karena arus keluar BBRI dikompensasi oleh pembelian asing pada saham lain.
GOTO berada di urutan berikutnya dengan Rp108,4 miliar, disusul BBNI sekitar Rp88,9 miliar dan TLKM sekitar Rp87,3 miliar. ISAT juga masuk kelompok saham dengan penjualan asing terbesar sekitar Rp38,8 miliar.
| Foreign Outflow | Net Sell All Market |
|---|---|
| BBRI | Rp274,4 M |
| GOTO | Rp108,4 M |
| BBNI | ~Rp88,9 M |
| TLKM | ~Rp87,3 M |
| ISAT | ~Rp38,8 M |
Ada pola yang menarik di sini. Asing menjual cukup besar beberapa saham institusional klasik seperti BBRI, BBNI dan TLKM, tetapi pada saat bersamaan masuk ke BUMI, BRMS dan TPIA.
Namun data satu hari belum cukup untuk menyimpulkan investor global sedang melakukan rotasi permanen dari bank ke komoditas. Untuk menyebutnya sebagai tren, perlu dilihat konsistensi aliran beberapa hari atau minggu, bukan hanya satu sesi.
pada 27 Agustus, foreign flow memang lebih kuat pada BUMI, BRMS, dan TPIA, sedangkan BBRI menjadi sumber outflow terbesar. Yang belum bisa disimpulkan adalah identitas investor, alasan transaksi, ataupun bahwa asing telah mengubah strategi sektor secara permanen.
GOTO Dijual 4,54 Miliar Saham di Pasar Nego pada Harga Rp23,9
Transaksi GOTO memerlukan pembacaan tersendiri karena hampir seluruh foreign sell yang disebutkan terjadi di pasar negosiasi.
Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar 4.537.598.900 saham GOTO dengan harga rata-rata sekitar Rp23,9 per lembar. Nilainya sekitar Rp108,4 miliar.
4.537.598.900 × Rp23,9 ≈ Rp108,45 miliar, konsisten dengan foreign net sell sekitar Rp108,4 miliar yang dilaporkan.
Harga tersebut jauh di bawah harga GOTO di pasar reguler yang masih tertahan pada Rp50 per saham. Tetapi perbandingan Rp23,9 versus Rp50 tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai transaksi saham dengan diskon sekitar 52%.
Pasar negosiasi mempunyai mekanisme yang berbeda dari pasar reguler. Harga dan jumlah saham ditentukan melalui kesepakatan para pihak dan dapat terkait dengan transaksi institusional, pemindahan posisi, pembiayaan, repo, atau struktur lainnya.
Dalam beberapa hari sebelumnya memang terdapat transaksi tidak langsung GOTO pada kisaran Rp23 yang terkait skema repurchase agreement. Namun data foreign flow 27 Agustus sendiri tidak cukup untuk memastikan bahwa transaksi Rp23,9 tersebut merupakan transaksi yang sama, siapa pihak yang bertransaksi, ataupun tujuan ekonominya.
Karena itu, yang dapat dikatakan hanya bahwa terjadi net sell asing dalam jumlah besar di pasar negosiasi. Transaksi tersebut tidak sama dengan tekanan jual 4,54 miliar saham yang dilepas melalui antrean pasar reguler pada Rp50.
| GOTO 27 Agustus | Data |
|---|---|
| Foreign net sell pasar nego | Rp108,4 miliar |
| Net volume | 4,538 miliar saham |
| Harga rata-rata | Rp23,9 |
| Harga pasar reguler | Rp50 |
Pemisahan pasar reguler dan negosiasi menjadi penting karena foreign flow all-market bisa terlihat besar hanya akibat transaksi blok tertentu yang tidak mempunyai dampak langsung pada pembentukan harga di order book reguler.
Fenomena sebaliknya bahkan terlihat sehari sebelumnya. Pada 26 Agustus, foreign flow seluruh pasar sempat tercatat net buy besar karena transaksi negosiasi DSSA, meskipun di pasar reguler asing sebenarnya masih membukukan penjualan bersih.
Kenapa IHSG Bisa Naik Saat Asing Jual?
Ada anggapan lama bahwa IHSG hanya bisa menguat kuat jika asing membeli. Data 27 Agustus menunjukkan hubungan tersebut tidak sesederhana itu.
Pertama, investor domestik kini mempunyai peranan besar dalam perdagangan BEI. Ketika permintaan domestik melampaui supply yang dilepas asing, harga tetap dapat naik.
Kedua, foreign sell Rp262 miliar tersebar tidak merata. BBRI memang mengalami outflow besar, tetapi banyak saham lain justru mendapat pembelian asing.
Ketiga, indeks bergerak berdasarkan kapitalisasi dan bobot saham, bukan nilai foreign flow secara sederhana. Kombinasi kenaikan banyak saham dapat membawa IHSG lebih tinggi meski arus asing agregat negatif.
Keempat, pada 27 Agustus breadth pasar sangat kuat. Seluruh 11 sektor BEI ditutup hijau. IDXINDUST naik 3,95%, IDXCYCLIC 3,79%, IDXHEALTH 3,76%, IDXENERGY 3,20%, dan IDXPROPERT 2,86%.
Dengan demikian, rebound berlangsung jauh lebih luas daripada sekadar satu atau dua saham.
Net foreign sell harian sebaiknya diperlakukan sebagai salah satu indikator, bukan sinyal beli atau jual yang berdiri sendiri. Yang lebih informatif adalah kombinasi foreign flow beberapa hari, breadth pasar, volume, sektor tujuan arus dana, pergerakan rupiah, dan fundamental emiten.
Foreign flow juga dapat berubah sangat cepat. Pada perdagangan Rabu, 26 Agustus, transaksi besar di pasar negosiasi bahkan membuat keseluruhan foreign flow berbeda jauh dari gambaran pasar reguler.
Karena itu, ketika investor membaca kalimat “asing net buy” atau “asing net sell”, pertanyaan berikutnya seharusnya adalah: di pasar mana, saham apa, dan apakah arus tersebut merupakan transaksi reguler atau blok di pasar negosiasi?
IHSG pada 27 Agustus 2026 membuktikan bahwa aksi jual asing tidak otomatis membuat pasar turun. Investor asing membukukan net sell Rp113,4 miliar di reguler dan Rp148,6 miliar di negosiasi sehingga all-market outflow mencapai Rp262,1 miliar, tetapi IHSG justru melonjak 1,81% ke 6.521. BBRI menjadi sasaran penjualan terbesar Rp274,4 miliar, sementara BUMI dan BRMS menerima inflow masing-masing Rp70,2 miliar dan Rp45,1 miliar. Transaksi GOTO Rp108,4 miliar juga perlu dipisahkan karena terjadi di pasar negosiasi pada harga rata-rata Rp23,9, bukan tekanan jual biasa melalui order book reguler. Bagi investor, pesan terpentingnya bukan “asing keluar dari Indonesia”, melainkan bahwa aliran asing hari itu sangat selektif dan masih bisa diserap oleh kekuatan permintaan pasar yang lebih luas.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa net foreign sell pada 27 Agustus 2026?
Saham apa yang paling banyak dibeli asing?
Saham apa yang paling banyak dijual asing?
Mengapa GOTO dijual di harga Rp23,9 padahal harga bursa Rp50?
Kenapa IHSG naik meski asing net sell?
Apakah net foreign sell berarti asing meninggalkan pasar Indonesia?
Perhitungan Receh.in: Net foreign sell reguler Rp113,4 miliar ditambah pasar negosiasi sekitar Rp148,6 miliar menghasilkan sekitar Rp262 miliar. Penjualan bersih 4,5376 miliar saham GOTO pada harga rata-rata Rp23,9 setara sekitar Rp108,45 miliar.
Catatan: Foreign flow menunjukkan perbedaan nilai transaksi beli dan jual berdasarkan klasifikasi investor. Data tersebut tidak mengidentifikasi motif, strategi, atau pihak spesifik di balik transaksi. Harga GOTO Rp23,9 berasal dari pasar negosiasi sehingga tidak disamakan dengan harga pasar reguler atau nilai wajarnya.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual BUMI, BRMS, TPIA, BBRI, GOTO maupun saham lainnya.

0 Komentar