Daftar IsiTampilkan


Nama Anthoni Salim selama ini identik dengan Indofood. Namun jika melihat kepemilikan saham pribadinya di Bursa Efek Indonesia, portofolio bos Grup Salim itu justru memperlihatkan eksposur besar ke bisnis yang jauh dari mi instan: data center, ritel modern, infrastruktur digital, media, teknologi, hingga perbankan.

Data kepemilikan efek di atas 5% per 26 Agustus 2026 menunjukkan Anthoni mempunyai tiga posisi besar atas nama pribadi: 25,30% saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET), 11,12% PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan 8,97% PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK).

Ketiganya bukan posisi kecil. Menggunakan harga pasar 27 Agustus 2026, nilai indikatif saham DNET, DCII, dan EMTK yang tercatat atas namanya mencapai sekitar Rp91,96 triliun. Bila ditambah kepemilikan sekitar 1,15% di Bank Central Asia (BBCA), nilai empat posisi publik tersebut menembus kisaran Rp100 triliun.

Angka fantastis itu perlu dibaca hati-hati. Nilai pasar bukan harga perolehan saham, bukan keuntungan investasi, dan tentu bukan estimasi kekayaan bersih Anthoni Salim. Namun data tersebut menunjukkan skala kepentingan ekonominya di perusahaan publik jauh melampaui kelompok bisnis konsumer yang selama ini paling melekat dengan namanya.

Ringkasan
  • Anthoni Salim memiliki tiga saham dengan kepemilikan pribadi di atas 5%: DNET 25,30%, DCII 11,12%, dan EMTK 8,97% per 26 Agustus 2026.
  • DCII menjadi posisi terbesar berdasarkan nilai pasar, sekitar Rp54 triliun, meskipun persentase kepemilikannya lebih kecil daripada DNET.
  • Di luar daftar di atas 5%, Anthoni juga tercatat memiliki sekitar 1,15% BBCA. Jika empat posisi dihitung berdasarkan harga pasar terbaru, nilainya berada di kisaran Rp100 triliun.
25,30% Kepemilikan DNET
11,12% Kepemilikan DCII
8,97% Kepemilikan EMTK
~Rp92 T Nilai 3 Posisi >5%*

*Nilai pasar indikatif berdasarkan jumlah saham dan harga 27 Agustus 2026. Bukan harga perolehan atau keuntungan investasi.

DNET, DCII, EMTK: Tiga Posisi Besar Anthoni Salim

Dari snapshot kepemilikan 26 Agustus, saham dengan persentase terbesar adalah DNET. Anthoni Salim menggenggam 3.588.278.023 saham Indoritel atau 25,30% dari modal ditempatkan perusahaan.

Jumlah itu tersebar di sejumlah rekening efek dan kustodian. Kepemilikannya antara lain tercatat melalui Maybank, Deutsche Bank, BCA, DBS, Mandiri Sekuritas, Standard Chartered, OCBC Sekuritas, dan beberapa rekening di NET Sekuritas.

Posisi berikutnya adalah DCII sebanyak 265.033.461 saham atau 11,12%. Saham tersebut juga tersebar melalui beberapa rekening, termasuk CGS International Sekuritas Indonesia, BCA, HSBC, DBS, Maybank, OCBC, NET Sekuritas, dan Buana Capital Sekuritas.

Di EMTK, Anthoni memiliki 5.510.302.220 saham atau 8,97%. Jumlahnya tidak berubah antara snapshot 24 dan 26 Agustus 2026.

Saham Bisnis Jumlah Saham Porsi Perubahan 24–26 Agustus
DNET Investasi, ritel & infrastruktur digital 3.588.278.023 25,30% Tidak berubah
DCII Data center 265.033.461 11,12% Tidak berubah
EMTK Media, teknologi & kesehatan 5.510.302.220 8,97% Tidak berubah

Data ini sekaligus mengoreksi kesan bahwa portofolio publik pribadi Anthoni hanya berisi DCII dan EMTK. DNET justru merupakan posisi terbesarnya dari sisi persentase kepemilikan.

Struktur DNET juga sangat menarik. Selain Anthoni, pemegang saham besar lainnya adalah Hannawell Group Limited sekitar 39,35% dan PT Megah Eraraharja sekitar 20,13%. Free float efektifnya relatif terbatas dibandingkan jumlah saham beredar.

Yang perlu dibedakan:
Besarnya kepemilikan Anthoni di DNET bukan berarti seluruh aset dan investasi yang dimiliki DNET dapat dianggap sebagai aset pribadinya. Pemegang saham memperoleh eksposur ekonomi sesuai porsi saham dan struktur perusahaan, bukan kepemilikan langsung atas setiap aset anak usaha maupun perusahaan asosiasi.

DCII Justru Menjadi Aset Saham Termahal

Persentase terbesar memang berada di DNET, tetapi cerita berubah drastis jika saham dihitung berdasarkan nilai pasar.

DCII ditutup sekitar Rp203.700 pada 27 Agustus 2026. Dengan kepemilikan 265,03 juta saham, nilai posisi Anthoni secara matematis mencapai hampir Rp54 triliun.

DNET di harga sekitar Rp9.800 memberikan nilai pasar sekitar Rp35,17 triliun, sedangkan EMTK pada Rp510 bernilai sekitar Rp2,81 triliun.

Saham Jumlah Saham Harga 27 Agustus 2026 Nilai Pasar Indikatif
DCII 265,03 juta Rp203.700 ~Rp53,99 T
DNET 3,588 miliar Rp9.800 ~Rp35,17 T
EMTK 5,510 miliar Rp510 ~Rp2,81 T
Total - - ~Rp91,96 T
Perhitungan Receh.in:
DCII ≈ 265.033.461 × Rp203.700 = Rp53,99 triliun.

DNET ≈ 3.588.278.023 × Rp9.800 = Rp35,17 triliun.

EMTK ≈ 5.510.302.220 × Rp510 = Rp2,81 triliun.

Total tiga saham ≈ Rp91,96 triliun.

Perhitungan tersebut sekaligus memperlihatkan karakter ekstrem DCII. Nilai pasar posisi Anthoni pada satu saham ini lebih besar daripada gabungan DNET dan EMTK.

Namun ada risiko penting di balik angka tersebut: harga pasar dikalikan jumlah saham tidak sama dengan nilai likuidasi yang dapat direalisasikan. Likuiditas perdagangan DCII sangat tipis. Menjual ratusan juta saham pada harga layar Rp203.700 hampir pasti tidak dapat dilakukan tanpa memengaruhi harga secara material.

Artinya, Rp54 triliun merupakan nilai mark-to-market secara matematis, bukan jaminan bahwa seluruh posisi bisa diuangkan pada valuasi tersebut.

DNET, DCII dan EMTK Punya Cerita Fundamental yang Sangat Berbeda

Yang menarik dari portofolio Anthoni adalah ketiga saham besar tersebut tidak berada pada tahap bisnis yang sama.

DCII mempunyai pertumbuhan operasional yang paling jelas. Pada semester I/2026, pendapatan mencapai sekitar Rp1,78 triliun dan laba bersih sekitar Rp732,5 miliar.

Margin bersihnya berada di atas 40%. EBITDA mencapai sekitar Rp1,04 triliun. Pertumbuhan data center, cloud dan kebutuhan komputasi AI menjadi tema struktural yang mendukung permintaan.

Namun valuasi DCII menjadi sisi lain dari cerita tersebut. Dengan kapitalisasi pasar ratusan triliun rupiah dibandingkan laba semester pertama kurang dari Rp1 triliun, investor membayar ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi.

Karena itu, kenaikan kapasitas megawatt tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan laba dengan kecepatan yang sama. Utilisasi, kontrak pelanggan, biaya listrik, pendanaan ekspansi, dan waktu penyelesaian data center akan menentukan monetisasinya.

DNET mempunyai model yang berbeda. Indoritel merupakan perusahaan investasi yang memberi eksposur terhadap bisnis ritel dan infrastruktur, sehingga laba konsolidasi tidak dapat dibaca seperti perusahaan perdagangan biasa.

Pada semester I/2026, DNET mencatat pendapatan sekitar Rp871,8 miliar, naik 8,8%, tetapi laba bersih turun 26,3% menjadi sekitar Rp398,6 miliar.

Dengan harga sekitar Rp9.800, kapitalisasi pasarnya berada di sekitar Rp139 triliun. Karena itu, investor DNET pada dasarnya membayar bukan hanya laba periodik induk, tetapi juga nilai kepemilikan dan prospek aset investasinya.

EMTK bahkan lebih kompleks. Pendapatan semester I/2026 tumbuh 22,7% menjadi Rp10,81 triliun, sementara EBITDA melonjak menjadi sekitar Rp2,32 triliun.

Namun perseroan membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk sekitar Rp320,6 miliar, berbalik dari laba besar pada tahun sebelumnya. Perbandingan bottom line perlu dibaca hati-hati karena Grup Emtek memiliki investasi dan transaksi nonoperasional yang dapat membuat laba bersih bergerak jauh lebih tajam dibandingkan pendapatannya.

Emiten Pendapatan H1 2026 Perubahan Laba Bersih H1 2026 Gambaran
DCII Rp1,78 T +33,2% Rp732,5 M Pertumbuhan data center kuat
DNET Rp871,8 M +8,8% Rp398,6 M Laba turun 26,3%
EMTK Rp10,81 T +22,7% -Rp320,6 M Operasional tumbuh, bottom line volatil

Portofolio ini karena itu tidak menunjukkan satu pendekatan sederhana seperti membeli saham dengan PER murah atau dividend yield tinggi.

Yang lebih terlihat adalah eksposur terhadap platform strategis: DNET terhadap jaringan bisnis ritel dan infrastruktur, DCII terhadap data center, dan EMTK terhadap media-digital-kesehatan.

Masih Ada BBCA 1,15%, Jejak Lama Keluarga Salim

Ada satu saham lain yang menarik meski tidak muncul dalam dataset kepemilikan di atas 5%: Bank Central Asia.

Data kepemilikan saham di atas 1% pada 2026 menunjukkan Anthoni Salim masih memiliki sekitar 1,15% BBCA, setara kurang lebih 1,41–1,42 miliar saham.

Posisi tersebut mempunyai konteks historis yang unik. BCA dahulu dibangun dan dikendalikan Grup Salim sebelum krisis keuangan Asia. Struktur pengendali bank kemudian berubah dan saat ini mayoritas saham berada di bawah kelompok Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan.

Namun puluhan tahun kemudian, nama Anthoni masih tercatat sebagai pemegang lebih dari 1% saham BCA.

Pada harga BBCA Rp6.425 per saham per 27 Agustus 2026, posisi sekitar 1,42 miliar saham tersebut bernilai kira-kira Rp9,1 triliun.

Jika BBCA dimasukkan:
nilai indikatif DNET + DCII + EMTK ≈ Rp91,96 triliun.

Ditambah BBCA sekitar Rp9,1 triliun, total posisi publik yang dapat diidentifikasi berada di kisaran Rp101 triliun.

Namun angka tersebut tetap belum menggambarkan keseluruhan eksposur bisnis Anthoni.

Ia merupakan Direktur Utama dan CEO Indofood sejak 2004, Direktur Utama Indofood CBP sejak 2009, serta Chairman First Pacific Company Limited. Kepentingan ekonomi keluarga Salim atas INDF dan ICBP terutama berada melalui struktur perusahaan dan pemegang saham pengendali, sehingga berbeda dengan saham yang secara langsung tercatat atas nama Anthoni dalam data KSEI.

Karena itu, menyebut DNET, DCII, EMTK dan BBCA sebagai “seluruh portofolio Anthoni Salim” akan terlalu menyederhanakan struktur kekayaannya. Yang tepat adalah menyebutnya sebagai kepemilikan saham publik atas nama pribadi yang dapat diidentifikasi dari data pasar.

Intinya:
Portofolio pribadi Anthoni Salim yang terlihat di pasar modal menunjukkan sesuatu yang menarik: eksposurnya bukan hanya pada bisnis konsumer Grup Salim. Dalam data 26 Agustus 2026, ia memiliki 25,30% DNET, 11,12% DCII dan 8,97% EMTK. Nilai ketiga posisi tersebut secara matematis mencapai sekitar Rp92 triliun, dengan DCII sendiri hampir Rp54 triliun. Di luar ambang 5%, Anthoni juga masih memiliki sekitar 1,15% BBCA yang bernilai lebih dari Rp9 triliun pada harga pasar terkini. Namun angka mark-to-market—terutama DCII yang likuiditasnya sangat tipis—tidak boleh disamakan dengan uang tunai yang dapat direalisasikan. Bagi investor ritel, yang menarik bukan sekadar meniru saham konglomerat, tetapi memahami mengapa aset strategis seperti data center, jaringan ritel, media-digital, dan bank mendapat tempat dalam portofolio jangka panjangnya.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Apa saja saham Anthoni Salim dengan kepemilikan di atas 5%?
Berdasarkan data kepemilikan efek per 26 Agustus 2026, Anthoni Salim tercatat memiliki 25,30% DNET, 11,12% DCII, dan 8,97% EMTK.
Berapa saham DCII yang dimiliki Anthoni Salim?
Anthoni Salim memiliki 265.033.461 saham DCI Indonesia atau sekitar 11,12% saham perusahaan.
Berapa saham DNET milik Anthoni Salim?
Data per 26 Agustus 2026 menunjukkan kepemilikan sebanyak 3.588.278.023 saham DNET atau sekitar 25,30%.
Apakah Anthoni Salim masih memiliki saham BBCA?
Ya. Data kepemilikan di atas 1% pada 2026 menunjukkan Anthoni masih memegang sekitar 1,15% saham BBCA, meskipun posisi tersebut tidak muncul dalam dataset khusus kepemilikan di atas 5%.
Berapa nilai saham publik Anthoni Salim?
Menggunakan harga pasar 27 Agustus 2026, DNET, DCII, dan EMTK bernilai indikatif sekitar Rp91,96 triliun. Jika kepemilikan BBCA sekitar 1,15% ikut dihitung, totalnya berada di kisaran Rp101 triliun. Angka ini bukan kekayaan bersih atau harga perolehan.
Apakah saham milik Anthoni Salim otomatis menarik untuk dibeli?
Tidak. Kepemilikan konglomerat bukan rekomendasi investasi. Investor tetap perlu menilai valuasi, pertumbuhan laba, arus kas, likuiditas, tata kelola, struktur kepemilikan dan risiko bisnis setiap emiten.
Sumber: Data kepemilikan efek di atas 5% per 26 Agustus 2026 yang diberikan kepada Receh.in; DCI Indonesia; Elang Mahkota Teknologi; Indoritel Makmur Internasional; Indofood; laporan registrasi pemegang saham; serta data kepemilikan BBCA di atas 1%.

Perhitungan Receh.in: Dengan harga 27 Agustus 2026, kepemilikan DCII bernilai indikatif sekitar Rp53,99 triliun, DNET Rp35,17 triliun, dan EMTK Rp2,81 triliun. Total tiga saham sekitar Rp91,96 triliun. BBCA menambah sekitar Rp9,1 triliun jika posisi 1,15% ikut diperhitungkan.

Catatan: Nilai pasar bukan harga pembelian, laba investasi atau kekayaan bersih. Nilai mark-to-market DCII khususnya harus dibaca bersama likuiditas perdagangan yang sangat rendah. Kepemilikan Indofood dan perusahaan Grup Salim melalui entitas pengendali tidak disamakan dengan kepemilikan saham langsung atas nama Anthoni Salim.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual DNET, DCII, EMTK, BBCA maupun saham lainnya.