Daftar IsiTampilkan


Lo Kheng Hong masih menempatkan dana dalam jumlah besar pada segelintir saham Bursa Efek Indonesia.
Di antara portofolionya yang kini tersebar pada lebih dari sepuluh emiten, setidaknya lima saham memiliki jejak kepemilikan publik terbaru di atas 5%: PT Intiland Development Tbk. (DILD), PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL), PT Global Mediacom Tbk. (BMTR), PT ABM Investama Tbk. (ABMM), dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP).

Portofolio itu menarik karena tidak berkumpul dalam satu industri. Ada properti, ban otomotif, media, pertambangan batu bara, hingga perkebunan sawit. Namun di balik perbedaan bisnis tersebut terlihat pola yang cukup konsisten dengan reputasi Lo sebagai value investor: banyak saham pilihannya berasal dari perusahaan mapan yang diperdagangkan pada valuasi rendah, memiliki aset besar, atau sedang berada dalam fase yang kurang disukai pasar.

Data kepemilikan terbaru juga menunjukkan Lo tidak sekadar mempertahankan posisi lama. Sepanjang 2026, ia aktif menambah sejumlah saham seperti DILD, GJTL, ABMM, dan SIMP ketika harga atau sentimen sektornya sedang tertekan.

Tetapi ada satu hal yang harus dibedakan: kepemilikan besar Lo bukan rekomendasi beli. Investor lain tidak mengetahui secara penuh harga rata-rata akumulasinya, ukuran portofolio keseluruhan, horizon investasi, maupun batas risiko yang ia gunakan.

Ringkasan
  • Lima saham dengan posisi publik terbaru Lo Kheng Hong di atas 5% adalah DILD, GJTL, BMTR, ABMM, dan SIMP.
  • DILD menjadi posisi dengan persentase terbesar, sekitar 7,50%, disusul GJTL sekitar 7,05% dan BMTR 6,44%.
  • Benang merahnya bukan sektornya, melainkan valuasi dan potensi pemulihan laba/aset. Namun kinerja kelima emiten tidak seragam: GJTL dan ABMM sedang mencetak pertumbuhan laba kuat, sedangkan DILD dan BMTR masih menghadapi tekanan.
7,50% DILD
7,05% GJTL*
6,44% BMTR
5 Saham Kepemilikan Publik >5%

*Posisi GJTL dan SIMP menggunakan keterbukaan/laporan registrasi publik terbaru yang tersedia. Tanggal pencatatan masing-masing emiten tidak seluruhnya sama.

Lima Saham Lo Kheng Hong dengan Kepemilikan di Atas 5%

Berdasarkan data SID publik per 26 Agustus 2026 yang menjadi basis Receh.in, Lo tercatat memiliki 155.929.500 saham ABMM atau 5,66%, sekitar 1,067 miliar saham BMTR atau 6,44%, serta 777.135.700 saham DILD atau 7,50%.

Untuk GJTL dan SIMP, laporan registrasi dan keterbukaan terbaru sebelumnya masih menunjukkan posisi Lo berada di atas ambang 5%.

Di GJTL, kepemilikannya mencapai sekitar 245,57 juta saham atau 7,05% setelah pembelian pada akhir Juli. Sementara pada SIMP, laporan registrasi Juli mencatat Lo menggenggam sekitar 814,95 juta saham atau 5,26%.

Saham Bisnis Saham Lo Kheng Hong Porsi Posisi Data
DILD Properti 777,14 juta 7,50% 26 Agu 2026
GJTL Ban / otomotif 245,57 juta 7,05% Akhir Jul 2026
BMTR Media & investasi 1,068 miliar 6,44% 26 Agu 2026
ABMM Tambang & jasa pertambangan 155,93 juta 5,66% 26 Agu 2026
SIMP Sawit & minyak nabati 814,95 juta 5,26% Jul 2026

Kelima posisi tersebut juga memperlihatkan bahwa membaca portofolio investor besar membutuhkan perhatian terhadap tanggal data. Kepemilikan dapat berubah dari hari ke hari, sedangkan laporan registrasi bulanan biasanya mempunyai jeda publikasi.

Contohnya terlihat pada DILD. Pada data 24 Agustus, jumlah saham Lo masih 776.035.700 lembar atau 7,49%. Dua hari kemudian, jumlahnya menjadi 777.135.700 saham atau 7,50%.

Perhitungan Receh.in:
Tambahan DILD antara 24–26 Agustus = 777.135.700 − 776.035.700 = 1,10 juta saham.

Artinya, di tengah koreksi sektor properti, Lo justru masih menambah eksposurnya.

DILD dan GJTL: Dua Saham yang Paling Agresif Ditambah pada 2026

DILD mungkin menjadi contoh paling jelas bagaimana Lo menjalankan strategi kontrarian.

Pada akhir 2025, kepemilikannya masih sekitar 695,07 juta saham atau sekitar 6,7%. Sepanjang 2026, pembelian dilakukan berkali-kali hingga posisinya menembus 777 juta saham pada akhir Agustus.

Perhitungan Receh.in:
777,14 juta − 695,07 juta = sekitar 82,07 juta saham DILD tambahan dibandingkan akhir 2025.

Jumlah saham yang dimiliki meningkat sekitar 11,8%.

Yang menarik, pembelian tersebut berlangsung ketika fundamental jangka pendek Intiland belum terlalu menggembirakan.

Pada semester I/2026, pendapatan DILD turun 11,2% menjadi sekitar Rp1,08 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk turun 26,8% menjadi Rp9,2 miliar.

Marketing sales juga hanya sekitar Rp399,9 miliar, masih jauh dari target setahun Rp1,95 triliun.

Namun neraca Intiland menyimpan nilai aset yang besar. Ekuitasnya sekitar Rp6,78 triliun, sementara kapitalisasi pasar perusahaan jauh di bawah nilai buku tersebut. Inilah konteks yang sering membuat DILD dikaitkan dengan pendekatan deep value: harga pasar rendah dibandingkan nilai akuntansi aset.

Tetapi PBV murah tidak otomatis berarti saham akan naik. Properti dapat diperdagangkan lama di bawah nilai buku apabila monetisasi aset lambat, return on equity rendah, atau pasar meragukan kemampuan perusahaan mengubah land bank menjadi arus kas.

GJTL menawarkan cerita berbeda.

Lo memasuki 2026 dengan sekitar 205,72 juta saham GJTL atau 5,90%. Pada akhir Juli jumlahnya sudah mencapai sekitar 245,57 juta saham atau 7,05%.

Perhitungan Receh.in:
Penambahan GJTL sepanjang 2026 hingga akhir Juli mencapai sekitar 39,85 juta saham, atau hampir 19,4% dibandingkan jumlah saham yang dimiliki pada awal tahun.

Berbeda dengan DILD, akumulasi GJTL berlangsung ketika labanya justru sedang membaik.

Semester I/2026, penjualan Gajah Tunggal naik sekitar 5,6% menjadi Rp8,99 triliun. Laba bersih melonjak sekitar 77% menjadi Rp796,37 miliar.

Gross margin meningkat dari 18,7% menjadi 21,1%, antara lain karena kondisi biaya bahan baku yang lebih baik. EBITDA juga naik dari Rp1,13 triliun menjadi sekitar Rp1,46 triliun.

Namun kualitas laba tetap perlu dilihat bersama arus kas operasi dan pergerakan mata uang. Sebagian peningkatan bottom line juga memperoleh dukungan dari keuntungan kurs dan menurunnya beban keuangan.

ABMM dan BMTR: Sama-sama Murah, Fundamentalnya Berbeda

Dua posisi lama lain yang masih berada di atas 5% adalah ABMM dan BMTR.

Di ABMM, Lo memiliki sekitar 155,93 juta saham atau 5,66%. Jumlah tersebut sedikit meningkat dibandingkan laporan Juli yang mencatat sekitar 155,88 juta saham.

Fundamental ABMM pada 2026 tergolong kuat.

Pendapatan semester pertama relatif stagnan di sekitar US$506,2 juta, tetapi laba bersih naik sekitar 42% menjadi sekitar US$39,4 juta. Peningkatan volume batu bara, produksi dari tambang Aceh, serta stabilisasi bisnis jasa kontraktor pertambangan menjadi penopang profitabilitas.

Volume coal getting bahkan meningkat 14,2% menjadi 17,9 juta ton.

Artinya, thesis ABMM bukan sekadar “saham batu bara murah”. Perusahaan mempunyai rantai bisnis dari tambang, jasa kontraktor, logistik hingga jasa pendukung pertambangan.

Tetapi sensitivitas terhadap siklus batu bara tetap besar. Ketika harga komoditas turun, kualitas laba dan kemampuan membayar dividen dapat ikut berubah.

BMTR lebih kontrarian lagi.

Lo masih memiliki sekitar 1,068 miliar saham Global Mediacom atau 6,44%. Dari sisi jumlah saham, ini merupakan posisi terbesar di antara lima emiten tersebut.

Namun kinerja semester I/2026 justru melemah. Pendapatan BMTR turun sekitar 12,9% menjadi Rp4,4 triliun dan laba bersih jatuh sekitar 41,6% menjadi Rp179,35 miliar.

Emiten Pendapatan H1 2026 Laba Bersih H1 2026 Tren Laba
ABMM US$506,2 juta ~US$39,4 juta +~42%
GJTL Rp8,99 T Rp796,37 M +~77%
SIMP Rp9,63 T Rp874 M +16%
DILD Rp1,08 T Rp9,2 M -26,8%
BMTR Rp4,4 T Rp179,35 M -41,6%

Tabel tersebut memperlihatkan hal penting: Lo tidak hanya membeli perusahaan yang labanya sedang tumbuh. Sebagian portofolionya justru berada pada perusahaan yang sedang menghadapi tekanan laba, tetapi mungkin dinilai memiliki aset atau nilai bisnis yang belum tercermin penuh dalam harga saham.

SIMP Melengkapi Pola: Sawit, Aset Besar dan Siklus Komoditas

Saham kelima adalah PT Salim Ivomas Pratama Tbk. atau SIMP, perusahaan agribisnis Grup Salim dengan bisnis dari perkebunan sawit hingga minyak dan lemak nabati.

Per akhir Juli 2026, laporan registrasi mencatat Lo memiliki sekitar 814,95 juta saham SIMP atau 5,26%. Jumlah tersebut meningkat sekitar 1,2 juta saham dibandingkan bulan sebelumnya.

Perjalanan posisi SIMP juga menarik. Pada April, Lo sempat menjual sebagian saham sehingga porsinya turun dari sekitar 5,03% menjadi 4,97% dan keluar sementara dari daftar pemegang saham di atas 5%.

Tetapi pada Mei ia berbalik membeli sekitar 19,9 juta saham pada harga Rp600 per lembar. Posisi kemudian kembali melewati ambang 5% dan terus meningkat.

Fundamental SIMP pada semester pertama turut membaik. Penjualan naik sekitar 2% menjadi Rp9,63 triliun, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 16% menjadi sekitar Rp874 miliar.

Produksi TBS inti memang turun 4%, tetapi produksi CPO meningkat 3% menjadi 338 ribu ton berkat kenaikan tingkat ekstraksi dan tambahan TBS eksternal.

Menempatkan SIMP bersama empat saham lainnya membuat pola pilihan Lo semakin terlihat.

Saham Tema Investasi yang Terlihat Risiko Utama
DILD Diskon besar terhadap aset/nilai buku ROE rendah, marketing sales, monetisasi aset
GJTL Valuasi aset + pemulihan laba Rupiah, bahan baku, siklus otomotif
BMTR Holding/media dengan valuasi tertekan Penurunan revenue dan laba
ABMM Cash-generative commodity business Siklus batu bara dan regulasi
SIMP Aset perkebunan dan siklus CPO Harga CPO, cuaca, biaya dan volume produksi

Yang tampaknya tidak terlalu dominan justru cerita pertumbuhan berharga mahal. Kelima saham tersebut berasal dari bisnis lama dengan aset riil dan sebagian besar bergerak di industri siklikal.

Itulah karakter yang sering diasosiasikan dengan pendekatan Lo: mencari perusahaan yang dinilai pasar kurang menarik, kemudian menunggu katalis fundamental atau perubahan persepsi selama bertahun-tahun.

Strategi semacam ini memiliki konsekuensi. Saham dapat tetap murah jauh lebih lama daripada perkiraan investor. Bahkan perusahaan yang memiliki PBV rendah dapat terus memperoleh valuasi rendah jika return terhadap modalnya juga rendah.

Garis bawah:
Portofolio besar Lo Kheng Hong saat ini menunjukkan campuran yang unik: DILD memberi eksposur properti, GJTL manufaktur ban, BMTR media, ABMM batu bara dan jasa tambang, serta SIMP perkebunan sawit. DILD menjadi posisi persentase terbesar sekitar 7,50%, sementara BMTR menjadi yang terbesar dari jumlah lembar saham. Namun kinerja fundamentalnya berbeda-beda. GJTL, ABMM dan SIMP sedang mencatat pertumbuhan laba, sementara DILD dan BMTR masih menghadapi tekanan. Benang merahnya bukan sektor tertentu, melainkan kecenderungan mencari perusahaan dengan aset atau earning power yang dinilai belum sepenuhnya dihargai pasar. Bagi investor lain, daftar ini lebih berguna sebagai bahan riset daripada daftar saham yang harus ditiru.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Apa saja saham Lo Kheng Hong dengan kepemilikan di atas 5%?
Berdasarkan data publik terbaru yang tersedia, lima saham tersebut adalah DILD, GJTL, BMTR, ABMM, dan SIMP.
Saham apa yang persentasenya paling besar?
DILD merupakan posisi terbesar berdasarkan persentase, sekitar 7,50% per 26 Agustus 2026.
Berapa saham DILD yang dimiliki Lo Kheng Hong?
Data SID publik per 26 Agustus 2026 mencatat Lo memiliki 777.135.700 saham DILD atau sekitar 7,50%.
Apakah Lo masih menambah saham pada 2026?
Ya. Data menunjukkan akumulasi terjadi terutama pada DILD, GJTL, ABMM dan SIMP sepanjang 2026, meskipun besar dan waktu transaksinya berbeda.
Apakah semua saham Lo Kheng Hong sedang mencetak laba tinggi?
Tidak. GJTL, ABMM dan SIMP mencatat pertumbuhan laba pada semester I/2026, sedangkan laba DILD dan BMTR justru turun. Hal ini menunjukkan portofolionya tidak hanya mengejar momentum pertumbuhan laba jangka pendek.
Apakah saham yang dibeli Lo Kheng Hong otomatis murah?
Tidak. Harga rendah atau PBV rendah belum tentu berarti undervalued. Investor tetap perlu menilai kualitas aset, laba, arus kas, utang, return on equity, tata kelola, dan prospek bisnis.
Sumber: Data kepemilikan efek/SID publik per 26 Agustus 2026 yang diberikan kepada Receh.in; laporan registrasi pemegang efek ABMM, SIMP, DILD dan GJTL; keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia; serta laporan keuangan semester I/2026 masing-masing emiten.

Perhitungan Receh.in: Kepemilikan DILD bertambah sekitar 1,10 juta saham antara 24 dan 26 Agustus. Dibandingkan akhir 2025, jumlah saham DILD yang dimiliki meningkat sekitar 82,07 juta lembar. GJTL bertambah sekitar 39,85 juta saham dari awal tahun hingga akhir Juli.

Catatan: Tanggal data kepemilikan GJTL dan SIMP berbeda dari snapshot SID 26 Agustus. File SID yang menjadi basis utama menampilkan posisi ABMM, BMTR dan DILD atas nama Lo Kheng Hong, sedangkan status GJTL dan SIMP di atas 5% menggunakan laporan registrasi/keterbukaan publik terbaru masing-masing emiten. Kepemilikan dapat berubah setelah tanggal tersebut.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham DILD, GJTL, BMTR, ABMM, SIMP maupun saham lainnya. Portofolio investor lain tidak seharusnya ditiru tanpa menilai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.