Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Permintaan semen nasional memasuki semester II/2026 dengan momentum yang cukup kuat. Konsumsi domestik sepanjang Januari–Juli mencapai 36,1 juta ton, tumbuh 9,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan sedikit lebih tinggi daripada pola historis lima tahun.

Namun, pertumbuhan pasar tersebut tidak dinikmati sama rata oleh pemain besar. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) memang masih memimpin pasar, tetapi pangsa domestiknya turun ke 45,1% pada Juli 2026, level terendah setidaknya dalam 60 bulan. Sebaliknya, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) mengangkat market share menjadi 31,3%, tertinggi sejak akuisisi Semen Grobogan.

Artinya, cerita sektor semen saat ini bukan lagi sekadar soal pemulihan volume. Bagi investor, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang mampu mengubah kenaikan konsumsi nasional menjadi pertumbuhan volume, pangsa pasar, harga jual, dan margin tanpa terlalu banyak mengorbankan profitabilitas.

Ringkasan
  • Konsumsi semen domestik Januari–Juli 2026 mencapai 36,1 juta ton, naik 9,5% YoY dan setara 56,6% proyeksi setahun penuh Mirae Asset.
  • Volume grup SMGR naik 5,1% menjadi 21,5 juta ton, tetapi pangsa pasar domestiknya pada Juli turun ke 45,1%.
  • INTP mencatat volume 10,3 juta ton atau naik 6,4%, sementara pangsa pasar Juli melonjak menjadi 31,3%, tertinggi sejak akuisisi Semen Grobogan.

Permintaan Semen Tumbuh 9,5%, Lebih Cepat dari SMGR dan INTP

Konsumsi semen domestik mencapai 6,1 juta ton pada Juli 2026, tumbuh 10,9% dibandingkan Juni dan 5,9% dibandingkan Juli tahun lalu.

Penguatan terjadi pada dua jenis produk utama. Penjualan semen kantong mencapai 4,3 juta ton atau naik 11,4% secara bulanan dan 5,1% secara tahunan. Sementara semen curah mencapai 1,8 juta ton, tumbuh 9,7% secara bulanan dan 8,1% YoY.

Indikator Juli 2026 MoM YoY
Total konsumsi domestik 6,1 juta ton +10,9% +5,9%
Semen kantong 4,3 juta ton +11,4% +5,1%
Semen curah 1,8 juta ton +9,7% +8,1%

Mirae Asset menilai penguatan volume didorong kombinasi cuaca kering, basis rendah pada periode pembanding, serta percepatan proyek infrastruktur. Secara musiman, kuartal III juga biasanya menjadi salah satu periode paling kuat bagi konsumsi semen.

Secara kumulatif Januari–Juli, semen kantong mencapai 25,8 juta ton atau tumbuh 9,2%, sedangkan semen curah mencapai 10,2 juta ton atau meningkat 10,2%.

36,1 Juta Konsumsi semen 7M26
+9,5% Pertumbuhan YoY
71,5% Porsi semen kantong*
28,3% Porsi semen curah*

*Perhitungan Receh.in berdasarkan volume kumulatif yang telah dibulatkan sehingga total persentasenya dapat sedikit berbeda dari 100%.

Realisasi 36,1 juta ton tersebut telah mencapai 56,6% proyeksi Mirae Asset untuk 2026. Dari rasio itu, proyeksi konsumsi setahun penuh sekuritas tersebut secara indikatif berada di sekitar 63,8 juta ton.

Momentum volume juga mendapat dukungan dari sejumlah program pemerintah, termasuk pembangunan dapur SPPG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sekolah Rakyat, rekonstruksi di Sumatra, serta program perumahan.

SMGR Masih Besar, tetapi Pertumbuhannya Tertinggal dari Pasar

SMGR mencatat total volume penjualan grup sekitar 21,5 juta ton sepanjang tujuh bulan pertama 2026, meningkat 5,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Volume domestiknya mencapai sekitar 17 juta ton atau naik 7,8%. Meski tumbuh, angka tersebut masih lebih lambat dibandingkan pertumbuhan konsumsi semen nasional sebesar 9,5%.

Konsekuensinya terlihat pada pangsa pasar. Market share domestik SMGR secara kumulatif berada di sekitar 47%, sementara pada Juli turun menjadi hanya 45,1%.

Indikator SMGR 7M26 / Jul-26 Perubahan
Volume grup 7M26 21,5 juta ton +5,1% YoY
Volume domestik 7M26 17,0 juta ton +7,8% YoY
Market share domestik 7M26 ±47% Turun
Market share Juli 45,1% -0,8 ppt MoM; -3,1 ppt YoY

Ini merupakan sinyal penting. Secara absolut, SMGR tidak sedang kehilangan volume. Penjualan domestiknya justru meningkat. Masalahnya adalah pasar tumbuh lebih cepat daripada SMGR.

Fenomena tersebut serupa dengan yang terjadi di sejumlah industri yang mengalami penambahan pemain dan kapasitas. Market leader masih tumbuh, tetapi pangsa pasar menyusut karena kompetitor tumbuh lebih agresif.

Bagi investor SMGR, tantangannya bukan hanya mengejar kembali market share. Strategi mempertahankan volume dengan pemotongan harga terlalu agresif juga dapat merusak margin. Karena itu, keseimbangan antara volume, harga jual rata-rata, dan profitabilitas menjadi jauh lebih penting daripada mengejar pangsa pasar semata.

INTP Rebut Market Share, tetapi Sahamnya Sudah Naik Lebih Dulu

INTP membukukan volume penjualan sekitar 10,3 juta ton sepanjang Januari–Juli 2026, meningkat 6,4% secara tahunan.

Pertumbuhan itu masih lebih rendah daripada pasar nasional. Namun, kinerja bulan Juli menunjukkan perubahan momentum yang jauh lebih kuat. Volume bulanan INTP mencapai 1,9 juta ton, melonjak 18,6% secara bulanan dan 13,2% secara tahunan.

Market share Juli pun naik menjadi 31,3%, meningkat sekitar 2 poin persentase baik secara bulanan maupun tahunan. Mirae Asset menyebut angka tersebut sebagai pangsa pasar bulanan terbaik INTP sejak akuisisi Semen Grobogan.

Indikator INTP Realisasi Perubahan
Volume 7M26 10,3 juta ton +6,4% YoY
Volume Juli 1,9 juta ton +18,6% MoM
Volume Juli YoY 1,9 juta ton +13,2%
Market share Juli 31,3% +2 ppt MoM & YoY

Pemulihan tersebut antara lain dikaitkan dengan penyesuaian harga semen kantong yang dilakukan lebih awal dibandingkan kompetitor dan tambahan kontribusi dari bisnis joint venture mortar.

Perbaikan pangsa pasar ini juga datang ketika fundamental INTP relatif solid. Pada kuartal II/2026, pendapatan INTP tumbuh 13,6% menjadi sekitar Rp4,6 triliun, sementara laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk naik 31,8% menjadi Rp374 miliar. Gross margin kuartal II mencapai sekitar 30,6%.

Namun, ada satu aspek yang tidak boleh diabaikan: harga saham INTP sudah merespons lebih dulu. Mirae Asset menyebut saham tersebut telah menguat lebih dari 20% sejak laporan akhir Juli, jauh di atas kenaikan IHSG sekitar 6% pada periode yang sama.

Itulah sebabnya Mirae Asset menurunkan rekomendasi INTP menjadi Trading Buy, bukan karena fundamental memburuk, melainkan karena sebagian potensi perbaikan telah tercermin dalam harga saham.

SMGR atau INTP? Investor Perlu Lihat Volume, Market Share dan Margin Bersamaan

Mirae Asset mempertahankan pandangan Neutral untuk sektor semen. Target harga SMGR tetap Rp2.750 dengan rekomendasi Buy, sedangkan INTP memperoleh target Rp6.500 dengan rekomendasi Trading Buy.

Perbedaan dinamika keduanya cukup menarik. SMGR masih mempunyai skala jauh lebih besar dan volume domestik sekitar 17 juta ton dalam tujuh bulan. Namun, perusahaan sedang kehilangan pangsa ketika pasar nasional tumbuh cepat.

INTP mempunyai skala lebih kecil, tetapi menunjukkan pemulihan market share yang lebih agresif pada Juli. Di sisi lain, kenaikan saham yang sudah cukup tinggi mempersempit ruang margin of safety dibandingkan saat reli belum terjadi.

Indikator SMGR INTP
Volume 7M26 21,5 juta ton 10,3 juta ton
Pertumbuhan volume +5,1% +6,4%
Market share Juli 45,1% 31,3%
Arah market share Juli Turun Naik
Rekomendasi Mirae Buy Trading Buy
Target harga Rp2.750 Rp6.500

Risiko sektoral juga belum hilang. Suku bunga yang tinggi dapat menekan permintaan properti dan konstruksi. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya input yang terkait dolar AS, sementara harga batu bara atau energi yang tinggi dapat menekan biaya produksi.

Rasionalisasi belanja pemerintah juga menjadi risiko karena pertumbuhan konsumsi semen curah sangat berkaitan dengan aktivitas konstruksi dan infrastruktur. Sebaliknya, realisasi proyek pemerintah yang lebih cepat, konsumsi yang melampaui perkiraan, pemulihan market share pemain besar, serta kenaikan harga jual dapat menjadi katalis.

Intinya: industri semen sedang memperoleh kembali pertumbuhan volume yang cukup kuat, tetapi kompetisinya tetap ketat. Konsumsi nasional naik 9,5% hingga Juli, lebih cepat daripada pertumbuhan volume SMGR maupun INTP. SMGR masih menjadi market leader tetapi pangsa Juli turun ke 45,1%, sedangkan INTP justru memperbaiki share menjadi 31,3%. Bagi investor, pemenang bukan otomatis perusahaan yang menjual semen paling banyak. Yang lebih penting adalah siapa yang mampu mempertahankan volume sekaligus menjaga harga jual dan margin. Karena itu, tiga angka yang layak dipantau pada bulan-bulan berikutnya adalah volume, market share, dan profitabilitas.

FAQ Prospek Saham Semen SMGR dan INTP

Berapa konsumsi semen Indonesia hingga Juli 2026?
Konsumsi semen domestik mencapai sekitar 36,1 juta ton sepanjang Januari–Juli 2026, tumbuh 9,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa konsumsi semen pada Juli 2026?
Konsumsi domestik mencapai sekitar 6,1 juta ton pada Juli 2026, naik 10,9% secara bulanan dan 5,9% secara tahunan. Semen kantong mencapai sekitar 4,3 juta ton dan semen curah 1,8 juta ton.
Berapa volume penjualan SMGR hingga Juli 2026?
Volume penjualan grup SMGR mencapai sekitar 21,5 juta ton pada tujuh bulan pertama 2026, tumbuh 5,1% secara tahunan. Volume domestiknya mencapai sekitar 17 juta ton.
Mengapa pangsa pasar SMGR turun?
Volume SMGR tetap tumbuh, tetapi pertumbuhan penjualan perusahaan lebih lambat daripada pertumbuhan pasar semen nasional. Akibatnya, pangsa pasar domestik Juli turun menjadi sekitar 45,1%.
Berapa pangsa pasar INTP pada Juli 2026?
Pangsa pasar domestik INTP pada Juli 2026 mencapai sekitar 31,3%, naik sekitar 2 poin persentase secara bulanan maupun tahunan dan menjadi level bulanan tertinggi sejak akuisisi Semen Grobogan.
Berapa target harga SMGR dan INTP menurut Mirae Asset?
Mirae Asset mempertahankan target harga SMGR sebesar Rp2.750 dengan rekomendasi Buy. INTP memiliki target harga Rp6.500 dengan rekomendasi Trading Buy setelah sahamnya menguat lebih dari 20% sejak laporan akhir Juli.
Apa risiko utama saham sektor semen?
Risiko utama meliputi suku bunga yang tinggi, perlambatan belanja pemerintah, pelemahan rupiah, harga energi yang tinggi, tekanan harga jual akibat kompetisi, serta potensi gangguan terhadap aktivitas konstruksi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham SMGR maupun INTP. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, kondisi keuangan, risiko industri, serta perkembangan pasar terkini sebelum mengambil keputusan investasi.