PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) masih menunjukkan kekuatan klasiknya pada Juli 2026: kredit tumbuh, dana murah bertambah lebih cepat, dan kualitas pendanaan tetap sangat kuat. Namun ada satu angka yang membuat kinerjanya tidak sesederhana itu. Laba bersih bank only hanya tumbuh 1,57% menjadi Rp35,25 triliun, jauh lebih lambat daripada pertumbuhan kredit 8,38%.
Penyebabnya terlihat pada pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Pendapatan bunga BCA naik 1,48% menjadi Rp54,59 triliun, tetapi beban bunga tumbuh jauh lebih cepat, yakni 8,85% menjadi Rp7,88 triliun. Akibatnya, NII hanya bertambah 0,33% menjadi Rp46,70 triliun.
Dengan kata lain, BCA masih mampu memperbesar neraca dan menyalurkan kredit, tetapi pertumbuhan volume belum sepenuhnya berubah menjadi pertumbuhan pendapatan bunga yang sebanding.
Di sisi lain, struktur pendanaan justru semakin kuat. Dana pihak ketiga tumbuh 8,23% menjadi Rp1.257,72 triliun, terutama berkat CASA yang melonjak 10,86% menjadi Rp1.074,47 triliun. Porsi dana murah terhadap DPK secara ilustratif meningkat menjadi sekitar 85,4%.
- Laba bersih bank only BCA naik 1,57% menjadi Rp35,25 triliun hingga Juli 2026, sementara kredit tumbuh lebih cepat 8,38% menjadi Rp1.000,88 triliun.
- NII hanya naik 0,33% karena beban bunga meningkat 8,85%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan bunga 1,48%.
- CASA tetap menjadi kekuatan utama BCA. Dana murah tumbuh 10,86% menjadi Rp1.074,47 triliun dan porsinya terhadap DPK naik menjadi sekitar 85,4%.
*Perhitungan Receh.in berdasarkan CASA Rp1.074,47 triliun dan DPK Rp1.257,72 triliun pada basis bank only.
Kredit Naik 8,4%, tetapi Pendapatan Bunga Bersih Nyaris Datar
BCA berhasil mendorong kredit bank only menjadi Rp1.000,88 triliun hingga Juli 2026, naik 8,38% dibandingkan Rp923,51 triliun setahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berarti terdapat tambahan outstanding kredit sekitar Rp77,37 triliun hanya dalam satu tahun.
Namun pertumbuhan aset produktif itu belum menghasilkan kenaikan NII dengan kecepatan serupa.
| Kinerja Bank Only | Jul 2025 | Jul 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan bunga | Rp53,79 T | Rp54,59 T | +1,48% |
| Beban bunga | Rp7,24 T | Rp7,88 T | +8,85% |
| Pendapatan bunga bersih | Rp46,55 T | Rp46,70 T | +0,33% |
| Kredit | Rp923,51 T | Rp1.000,88 T | +8,38% |
| Laba bersih | Rp34,70 T | Rp35,25 T | +1,57% |
Data tersebut memberi sinyal adanya tekanan pada monetisasi pertumbuhan kredit. Kredit naik lebih dari 8%, tetapi NII hanya bertambah sekitar Rp150 miliar.
Namun angka bulanan ini belum cukup untuk menghitung net interest margin secara tepat karena NIM menggunakan rata-rata aset produktif dan metodologi yang berbeda. Karena itu, lebih aman mengatakan pertumbuhan pendapatan bunga bersih tertinggal dari ekspansi kredit, bukan langsung menyimpulkan besarnya kontraksi NIM.
Tekanan juga terlihat dari beban bunga yang tumbuh enam kali lebih cepat dibandingkan pendapatan bunga secara persentase.
Ini menunjukkan bahwa sekalipun BCA mempunyai dana murah sangat besar, bank tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap perubahan biaya dana dan dinamika suku bunga.
Kredit tumbuh 8,38%, tetapi NII hanya naik 0,33%. Jika pola tersebut berlangsung lama, pertumbuhan volume kredit tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan laba yang sama kuat. Investor perlu melihat perkembangan NIM, yield kredit, dan cost of fund pada laporan kuartalan berikutnya.
CASA Tembus Rp1.074 Triliun, Ini Tetap Menjadi Moat BCA
Jika ada satu angka yang tetap menonjol dari BCA, jawabannya adalah dana murah.
CASA atau gabungan giro dan tabungan mencapai Rp1.074,47 triliun pada Juli 2026, tumbuh 10,86% dibandingkan Rp969,18 triliun setahun sebelumnya.
Pertumbuhannya bahkan lebih tinggi daripada total DPK yang naik 8,23% menjadi Rp1.257,72 triliun.
Artinya, hampir seluruh pertumbuhan DPK BCA berasal dari dana murah.
Kenaikan DPK = Rp1.257,72 T − Rp1.162,05 T = Rp95,67 triliun.
Kenaikan CASA = Rp1.074,47 T − Rp969,18 T = Rp105,29 triliun.
Karena kenaikan CASA lebih besar daripada kenaikan total DPK, simpanan di luar CASA secara agregat justru menurun.
DPK di luar giro dan tabungan dapat dihitung secara sederhana sekitar Rp183,25 triliun pada Juli 2026, dibandingkan sekitar Rp192,87 triliun pada Juli tahun sebelumnya.
Dengan demikian, dana non-CASA turun sekitar 5%.
| Struktur DPK | Jul 2025 | Jul 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| CASA | Rp969,18 T | Rp1.074,47 T | +10,86% |
| Non-CASA* | ~Rp192,87 T | ~Rp183,25 T | ~-5,0% |
| Total DPK | Rp1.162,05 T | Rp1.257,72 T | +8,23% |
| CASA Ratio* | ~83,4% | ~85,4% | +~2,0 ppt |
*Perhitungan Receh.in berdasarkan data bank only dalam bahan.
Porsi CASA naik sekitar dua poin persentase dari 83,4% menjadi 85,4%. Ini adalah perkembangan positif karena giro dan tabungan secara umum mempunyai biaya lebih rendah dibandingkan deposito.
Dalam industri perbankan, kemampuan BCA mempertahankan CASA di atas 80% merupakan keunggulan struktural. Dana murah tersebut lahir dari skala transaksi nasabah, jaringan pembayaran, merchant, payroll, mobile banking, dan ekosistem bisnis yang telah dibangun dalam waktu panjang.
Karena itu, meskipun beban bunga periode ini naik, struktur pendanaan BCA tetap relatif defensif.
Laba Dibantu Fee Income dan Efisiensi Operasional
Ketika NII hampir tidak tumbuh, pendapatan nonbunga menjadi lebih penting.
Pendapatan komisi BCA mencapai Rp11,89 triliun, naik 8,37% YoY. Pendapatan lainnya bahkan melonjak 40,67% menjadi Rp757,77 miliar.
Pertumbuhan fee income membantu mengurangi ketergantungan laba terhadap spread bunga.
BCA juga berhasil menekan beban operasional lainnya sebesar 11,29% menjadi Rp3,47 triliun dari Rp3,92 triliun.
Beban impairment relatif stabil, turun tipis 0,23% menjadi Rp1,90 triliun.
| Penopang Laba | Jul 2025 | Jul 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan komisi | ~Rp10,97 T | Rp11,89 T | +8,37% |
| Pendapatan lainnya | ~Rp538,7 M | Rp757,77 M | +40,67% |
| Beban operasional lainnya | Rp3,92 T | Rp3,47 T | -11,29% |
| Impairment | Rp1,91 T | Rp1,90 T | -0,23% |
Hasil akhirnya, laba operasional naik 1,40% menjadi Rp43,22 triliun dan laba bersih meningkat 1,57% menjadi Rp35,25 triliun.
Ini berbeda dengan kasus bank yang mencetak kenaikan laba terutama dari penurunan provisi secara ekstrem. Impairment BCA kali ini relatif datar, sehingga peningkatan laba tidak ditopang pelepasan biaya kredit dalam jumlah besar.
Namun pertumbuhan laba 1,57% tetap tergolong moderat dibandingkan ekspansi kredit dan DPK.
Dengan demikian, fokus berikutnya bukan lagi apakah BCA dapat meningkatkan volume kredit—itu sudah terlihat—melainkan apakah pertumbuhan kredit tersebut dapat kembali menghasilkan pertumbuhan NII yang lebih tinggi.
Kredit dan DPK Tumbuh Hampir Seimbang, Likuiditas Relatif Terjaga
Sisi lain yang menarik adalah keseimbangan antara kredit dan DPK.
Kredit naik 8,38%, sementara DPK naik 8,23%. Laju pertumbuhannya hampir sama.
Rasio sederhana kredit terhadap DPK karena itu praktis tidak banyak berubah.
Juli 2026: Rp1.000,88 T ÷ Rp1.257,72 T = sekitar 79,6%.
Juli 2025: Rp923,51 T ÷ Rp1.162,05 T = sekitar 79,5%.
Angka tersebut bukan LDR regulasi resmi karena perhitungan LDR dapat menggunakan definisi komponen yang berbeda. Namun sebagai ilustrasi sederhana, pertumbuhan kredit BCA tidak terlihat jauh meninggalkan pertumbuhan DPK.
Ini berbeda dengan bank yang memperbesar kredit secara agresif saat sumber dananya justru menyusut.
Selain itu, aset BCA naik 7,44% menjadi Rp1.575,89 triliun.
Basis pendanaan murah yang besar memberikan ruang bagi BCA untuk terus menyalurkan kredit tanpa harus bergantung secara berlebihan pada deposito berbunga tinggi.
Ada pula perbedaan basis data yang perlu diperhatikan. Angka Juli dalam laporan keuangan bulanan ini merupakan data bank only. Sementara laporan semester I resmi BCA menggunakan basis BCA dan entitas anak untuk sejumlah indikator utama.
Secara konsolidasi, BCA membukukan laba Rp29,5 triliun pada semester I/2026. Kredit telah mencapai Rp1.036 triliun, naik 8% YoY, sedangkan CASA mencapai Rp1.082 triliun atau tumbuh 10,2%.
Karena itu, angka bank only Juli tidak sebaiknya dicampurkan langsung dengan angka konsolidasi Juni untuk menghitung pertumbuhan bulanan.
Kinerja BCA Juli 2026 masih menunjukkan fundamental pendanaan yang sangat kuat. Kredit bank only tumbuh 8,38% hingga menembus Rp1.000 triliun dan DPK naik 8,23%, sementara CASA tumbuh lebih tinggi 10,86% sehingga porsinya meningkat menjadi sekitar 85,4%. Namun tantangannya terlihat pada pendapatan inti: NII hanya naik 0,33% karena beban bunga meningkat 8,85%. Fee income dan efisiensi membantu laba tetap tumbuh 1,57% menjadi Rp35,25 triliun. Bagi investor BBCA, pertanyaan kunci berikutnya bukan kemampuan BCA memperoleh dana murah atau menyalurkan kredit, melainkan apakah ekspansi kredit tersebut dapat kembali diterjemahkan menjadi pertumbuhan margin dan laba yang lebih cepat.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa laba bersih BCA hingga Juli 2026?
Berapa total kredit BCA pada Juli 2026?
Berapa CASA BCA pada Juli 2026?
Mengapa laba BCA hanya tumbuh tipis meski kredit naik?
Apakah likuiditas BCA tertekan?
Apa yang perlu diperhatikan investor BBCA selanjutnya?
Perhitungan Receh.in: CASA bank only Juli 2026 sekitar 85,4% dari DPK, naik dari sekitar 83,4% setahun sebelumnya. DPK non-CASA secara ilustratif turun sekitar 5% menjadi Rp183,25 triliun. Rasio sederhana kredit terhadap DPK relatif stabil di sekitar 79,6%; angka tersebut bukan LDR regulasi resmi.
Catatan: Angka laporan bulanan Juli merupakan basis bank only, sedangkan beberapa angka semester I yang dipublikasikan BCA menggunakan basis konsolidasi BCA dan entitas anak. Keduanya tidak digunakan untuk menghitung pertumbuhan bulanan secara langsung.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BBCA. Kinerja bank perlu dinilai bersama kualitas aset, margin bunga, biaya dana, likuiditas, permodalan, valuasi dan kondisi ekonomi.

0 Komentar