Daftar IsiTampilkan


JAKARTA
— Kinerja PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) mulai memperlihatkan manfaat ekonomi pascamerger meski laporan laba rugi masih dibebani biaya integrasi. Sepanjang semester I/2026, perseroan masih mencatat rugi bersih konsolidasian Rp994 miliar, tetapi laba bersih ternormalisasi melonjak menjadi sekitar Rp2,7 triliun.

Perbaikan juga terlihat secara kuartalan. Rugi bersih kuartal II/2026 menyusut menjadi Rp277 miliar dari Rp717 miliar pada kuartal sebelumnya, sementara EBITDA tumbuh 24% secara tahunan menjadi sekitar Rp5,5 triliun. Di tengah perbaikan operasional tersebut, XLSMART justru menaikkan panduan belanja modal 2026 dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun untuk mengakomodasi spektrum baru dan mempercepat investasi jaringan.

3 Poin Penting

  • Laba Normalisasi Melonjak: laba bersih ternormalisasi semester I/2026 mencapai Rp2,7 triliun dari Rp693 miliar, atau naik sekitar 290% secara tahunan.
  • Rugi Kuartalan Makin Kecil: rugi bersih kuartal II turun menjadi Rp277 miliar dari Rp717 miliar pada kuartal I, menunjukkan beban integrasi mulai mereda.
  • Capex Dinaikkan 33%: XLSMART menaikkan panduan belanja modal 2026 menjadi Rp20 triliun dari Rp15 triliun untuk spektrum baru dan percepatan investasi jaringan.
Rp24 T Pendapatan Semester I/2026
Rp11 T EBITDA Semester I/2026
45,7% Margin EBITDA
Rp20 T Guidance Capex 2026

1. EXCL Masih Rugi, tetapi Angkanya Makin Mengecil

XLSMART masih membukukan rugi bersih konsolidasian sebesar Rp994 miliar sepanjang enam bulan pertama 2026.

Angka tersebut membaik dibandingkan rugi sekitar Rp1,2 triliun pada semester I/2025. Secara sederhana, rugi bersih menyusut sekitar 17% secara tahunan.

Perbaikannya terlihat lebih jelas jika dilihat secara kuartalan. Pada kuartal II/2026, rugi bersih turun menjadi Rp277 miliar dibandingkan Rp717 miliar pada kuartal I.

Artinya, rugi bersih kuartalan menyusut sekitar 61% hanya dalam satu kuartal berdasarkan perhitungan Receh.in.

Indikator Periode Sebelumnya Terbaru Perubahan
Rugi Bersih H1 Rp1,2 triliun Rp994 miliar Membaik ~17%
Rugi Bersih QoQ Rp717 miliar Rp277 miliar Membaik ~61%

2. Angka Normalisasi Justru Menunjukkan Laba Rp2,7 Triliun

Perbedaan besar muncul ketika biaya terkait proses merger dikeluarkan dari perhitungan.

Jika mengecualikan biaya integrasi, percepatan depresiasi pascamerger, serta impairment aset, XLSMART membukukan laba bersih ternormalisasi sebesar Rp2,7 triliun sepanjang semester I/2026.

Pada periode yang sama tahun lalu, laba ternormalisasi tercatat Rp693 miliar.

Artinya, pertumbuhannya sekitar 290% yoy, atau secara nominal hampir empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Catatan Receh.in:
Istilah “naik empat kali lipat” sebaiknya dibaca sebagai pembulatan. Rp2,7 triliun dibandingkan Rp693 miliar setara sekitar 3,9 kali atau tumbuh kurang lebih 290%, bukan tepat 300%.

3. Reported Profit dan Normalized Profit Memberi Cerita yang Berbeda

Perbedaan antara rugi bersih laporan dan laba bersih ternormalisasi sangat besar.

Secara akuntansi, perusahaan masih rugi Rp994 miliar. Tetapi setelah berbagai biaya terkait merger dikeluarkan, bisnis dasarnya menghasilkan laba Rp2,7 triliun.

Selisih tersebut menunjukkan bahwa proses integrasi masih memberikan dampak material terhadap laporan keuangan.

Semester I/2026 Nilai Makna
Laba Bersih Dilaporkan -Rp994 miliar Masih rugi setelah seluruh beban
Laba Bersih Ternormalisasi Rp2,7 triliun Mengecualikan sejumlah beban terkait integrasi

Bagi investor, angka ternormalisasi berguna untuk melihat earning power bisnis inti. Namun biaya integrasi tetap merupakan biaya ekonomi nyata sehingga tidak boleh sepenuhnya diabaikan.

4. Beban Integrasi Mulai Mereda

Tren kuartalan memberikan indikasi bahwa tekanan tersebut mulai berkurang.

Rugi kuartal II turun menjadi Rp277 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan kuartal I sebesar Rp717 miliar.

Stockbit Sekuritas menilai berkurangnya biaya integrasi dan percepatan depresiasi menjadi salah satu pendorong utama perbaikan laba ke depan.

Jika tren tersebut berlanjut, gap antara laba bersih dilaporkan dan laba ternormalisasi berpotensi semakin mengecil.

Yang Dicari Investor:
Kualitas pemulihan EXCL akan semakin kuat jika perbaikan tidak hanya terlihat pada adjusted atau normalized profit, tetapi akhirnya juga muncul pada laba bersih GAAP/IFRS yang dilaporkan.

5. Pendapatan Semester I Tembus Rp24 Triliun

Dari sisi bisnis inti, pendapatan XLSMART mencapai sekitar Rp24 triliun sepanjang semester I/2026, tumbuh 26% yoy.

Pada kuartal II saja, pendapatan mencapai Rp12,2 triliun atau tumbuh sekitar 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan pendapatan semester I Rp24 triliun dan kuartal II Rp12,2 triliun, secara sederhana pendapatan kuartal I berada di sekitar Rp11,8 triliun.

Artinya, pendapatan kuartal II meningkat sekitar 3,4% dibandingkan kuartal pertama berdasarkan angka pembulatan yang tersedia.

Rp11,8 T* Estimasi Pendapatan Q1
Rp12,2 T Pendapatan Q2
+16% Pertumbuhan Q2 YoY
+26% Pertumbuhan H1 YoY

*Perhitungan Receh.in dari pendapatan semester I sekitar Rp24 triliun dikurangi pendapatan kuartal II Rp12,2 triliun. Angka dapat berbeda karena pembulatan.

6. EBITDA Sudah Rp11 Triliun

Perbaikan juga terlihat pada EBITDA.

EBITDA kuartal II/2026 mencapai sekitar Rp5,5 triliun atau naik 24% yoy.

Secara kumulatif, EBITDA semester I mencapai sekitar Rp11 triliun, tumbuh 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Margin EBITDA berada di sekitar 45,7%.

Dengan pendapatan Rp24 triliun, angka EBITDA Rp11 triliun secara matematis setara margin sekitar 45,8%, sangat dekat dengan margin 45,7% yang dilaporkan karena pembulatan.

7. Margin 45,7% Menjadi Sinyal Penting Pascamerger

Menjaga margin EBITDA di tengah proses integrasi menjadi salah satu indikator penting.

Merger operator telekomunikasi biasanya membawa dua fase yang berjalan bersamaan.

Pada awal integrasi, perusahaan menghadapi biaya restrukturisasi, duplikasi jaringan, migrasi pelanggan, harmonisasi sistem IT, dan optimalisasi organisasi.

Namun setelah integrasi berjalan, penggabungan skala dapat menghasilkan penghematan dari jaringan, spektrum, procurement, pemasaran, dan operating expenditure.

Karena itu, stabilitas atau peningkatan margin EBITDA menjadi salah satu cara menguji apakah sinergi mulai terealisasi.

8. ARPU Menjadi Salah Satu Kunci

Perbaikan operasional EXCL juga ditopang stabilnya Average Revenue per User atau ARPU.

Dalam industri telekomunikasi, jumlah pelanggan yang besar belum tentu menghasilkan profitabilitas jika monetisasi per pelanggan rendah.

ARPU menunjukkan seberapa besar pendapatan rata-rata yang diperoleh perusahaan dari setiap pengguna.

Stockbit menilai basis pelanggan yang terkonsolidasi dan tren kenaikan ARPU dapat menjadi pendorong laba di periode berikutnya.

Kenapa ARPU Penting?
Setelah merger, cerita pertumbuhan EXCL tidak cukup hanya berupa “pelanggan lebih banyak”. Perusahaan juga perlu memastikan basis pelanggan gabungan menghasilkan revenue per user yang sehat tanpa harus bergantung pada perang harga.

9. Pendapatan Sudah Mencapai 52% Ekspektasi Setahun

Pendapatan semester I sekitar Rp24 triliun disebut sudah memenuhi 52% estimasi konsensus sepanjang 2026.

Dari angka tersebut, secara matematis konsensus pendapatan setahun berada di sekitar Rp46,15 triliun.

Jika estimasi tersebut digunakan, maka pendapatan yang masih dibutuhkan pada semester II sekitar Rp22,15 triliun.

Dengan kata lain, XLSMART hanya membutuhkan rata-rata sekitar Rp11,08 triliun per kuartal selama kuartal III dan IV untuk memenuhi estimasi tersebut.

Estimasi Revenue 2026 Nilai
Realisasi H1 ~Rp24,0 triliun
Pencapaian Konsensus 52%
Implied Konsensus FY* ~Rp46,15 triliun
Kebutuhan Revenue H2* ~Rp22,15 triliun

*Perhitungan Receh.in berdasarkan angka Rp24 triliun yang disebut setara 52% estimasi konsensus. Angka bersifat indikatif karena data sumber dibulatkan.

10. Run Rate Pendapatan Memberi Bantalan

Menariknya, pendapatan kuartal II sudah mencapai Rp12,2 triliun.

Jika angka tersebut sekadar dipertahankan pada kuartal III dan IV, pendapatan semester II akan mencapai sekitar Rp24,4 triliun.

Secara mekanis, pendapatan setahun bisa berada di sekitar Rp48,4 triliun.

Namun perhitungan ini bukan forecast karena bisnis telekomunikasi tetap dapat dipengaruhi seasonality, kompetisi harga, jumlah pelanggan, dan perubahan konsumsi data.

11. Capex Justru Dinaikkan Menjadi Rp20 Triliun

Di tengah peningkatan profitabilitas operasional, manajemen memilih meningkatkan investasi.

Guidance capex 2026 dinaikkan dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun.

Artinya, target belanja modal bertambah Rp5 triliun atau sekitar 33,3%.

Manajemen menyebut revisi tersebut dilakukan untuk mengakomodasi akuisisi spektrum baru sekaligus mempercepat sebagian capex yang semula direncanakan pada tahun berikutnya.

Rp15 T Guidance Capex Lama
Rp20 T Guidance Capex Baru
+Rp5 T Kenaikan Nominal
+33,3% Kenaikan Capex

12. Kenapa XLSMART Berani Memperbesar Capex?

Capex lebih tinggi mencerminkan strategi untuk mempercepat pembangunan jaringan setelah merger.

XLSMART juga baru memperoleh tambahan spektrum frekuensi yang dapat digunakan untuk memperkuat coverage dan kapasitas jaringan.

Spektrum baru membutuhkan investasi lanjutan pada radio equipment, transmission, fiber backhaul, core network, dan upgrade BTS agar benar-benar dapat digunakan untuk menghasilkan layanan.

Dengan kata lain, memenangkan spektrum hanyalah langkah awal. Nilai ekonominya baru muncul setelah perusahaan membangun infrastrukturnya dan memonetisasi kapasitas tersebut.

13. Capex Tinggi Bisa Menekan Free Cash Flow

Dari perspektif laba operasional, ekspansi jaringan merupakan investasi untuk pertumbuhan jangka panjang.

Namun dari perspektif arus kas, kenaikan capex sebesar Rp5 triliun berarti kebutuhan cash outflow yang lebih tinggi.

Karena itu, investor perlu melihat bukan hanya pertumbuhan EBITDA, tetapi juga free cash flow setelah belanja modal.

Trade-off Utamanya:
EBITDA yang naik memperkuat kemampuan pendanaan internal, tetapi capex Rp20 triliun juga sangat besar. Bagi investor, pertanyaan pentingnya adalah apakah tambahan investasi menghasilkan pertumbuhan trafik, ARPU, dan EBITDA yang cukup untuk meningkatkan return on invested capital.

14. Capex Rp20 Triliun Setara Porsi Besar Pendapatan

Jika menggunakan implied konsensus pendapatan 2026 sekitar Rp46,15 triliun, capex Rp20 triliun secara kasar setara sekitar 43% dari pendapatan setahun.

Perbandingan tersebut bukan capital intensity resmi karena basis angka konsensus dan definisi capex perlu diperhatikan.

Namun secara indikatif, angka itu menunjukkan 2026 merupakan tahun investasi yang sangat intensif bagi XLSMART.

Hal tersebut masuk akal mengingat perusahaan berada pada fase integrasi jaringan sekaligus mengimplementasikan spektrum baru.

15. Merger Mulai Beralih dari Biaya ke Sinergi

Fase awal merger biasanya menampilkan headline berupa biaya integrasi.

Namun semester I/2026 memberikan sinyal awal bahwa perhatian mulai dapat bergeser menuju realisasi sinergi.

EBITDA naik 25%, normalized profit melonjak hampir empat kali lipat, sementara kerugian bersih kuartalan semakin kecil.

Jika biaya integrasi terus menurun, earnings bridge dari EBITDA ke laba bersih seharusnya menjadi semakin baik.

Inilah titik yang dapat menjadi katalis rerating jika terealisasi secara konsisten.

16. Tetapi Normalized Profit Tidak Boleh Jadi Satu-Satunya Tolok Ukur

Ada godaan untuk hanya melihat laba ternormalisasi Rp2,7 triliun dan mengabaikan rugi bersih hampir Rp1 triliun.

Pendekatan tersebut terlalu optimistis.

Biaya integrasi, impairment, dan percepatan depresiasi memang dapat bersifat sementara atau noncash, tetapi tetap merupakan konsekuensi ekonomi dari merger.

Karena itu, kualitas recovery terbaik adalah ketika tiga indikator bergerak bersamaan: normalized profit naik, reported net income membaik, dan free cash flow ikut positif.

17. Q2 Memberikan Sinyal Menuju Titik Balik

Rugi kuartal II sebesar Rp277 miliar jauh lebih kecil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Jika tren tersebut berlanjut, peluang EXCL kembali mencetak laba bersih dilaporkan menjadi lebih terbuka.

Namun belum tepat menyatakan perusahaan pasti kembali profitable pada kuartal berikutnya karena besar kecilnya biaya integrasi masih dapat berubah.

Stockbit juga menilai total rugi bersih 2026 berpotensi lebih rendah dibandingkan estimasi konsensus.

Catalyst Berikutnya:
Bagi pasar, milestone yang lebih kuat daripada pertumbuhan normalized profit adalah ketika XLSMART kembali membukukan laba bersih positif secara reported dan mampu mempertahankannya setelah biaya merger semakin normal.

18. Apa yang Perlu Dipantau Investor EXCL?

Indikator Kenapa Penting?
Reported Net Profit Menguji apakah biaya merger benar-benar mereda
Normalized Net Profit Mengukur earning power bisnis inti
ARPU Mengukur kualitas monetisasi pelanggan
EBITDA Margin Menguji realisasi sinergi merger
Capex Mengukur intensitas investasi jaringan
Free Cash Flow Menguji kemampuan EBITDA menjadi kas
Synergy Savings Mengukur manfaat ekonomi merger
Net Debt Mengukur kemampuan membiayai capex besar

19. Prospek EXCL: Earnings Membaik, tetapi 2026 Tetap Tahun Investasi

Secara operasional, arah kinerja semester I relatif konstruktif.

Pendapatan bertumbuh, EBITDA meningkat 25%, margin bertahan sekitar 45,7%, dan normalized net profit naik hampir empat kali lipat.

Di saat bersamaan, kerugian bersih yang dilaporkan juga terus mengecil secara kuartalan.

Namun investor juga perlu menerima bahwa XLSMART belum memasuki fase harvest sepenuhnya.

Guidance capex Rp20 triliun menunjukkan perusahaan masih berada dalam fase agresif mengintegrasikan dan memperkuat jaringan.

Karena itu, cerita investasi 2026 merupakan kombinasi antara earnings recovery dan investment cycle.

Bottom Line:
Semester I/2026 memberikan bukti awal bahwa ekonomi merger XLSMART mulai membaik. Laba bersih ternormalisasi melonjak sekitar 290% menjadi Rp2,7 triliun, EBITDA naik 25% menjadi Rp11 triliun, dan rugi bersih kuartal II menyusut tajam menjadi Rp277 miliar. Namun laporan keuangan masih mencatat rugi hampir Rp1 triliun karena biaya integrasi, depresiasi, dan impairment. Pada saat yang sama, capex justru dinaikkan 33% menjadi Rp20 triliun. Dengan demikian, katalis terpenting EXCL selanjutnya bukan hanya pertumbuhan revenue atau adjusted profit, melainkan apakah sinergi merger mampu membawa perusahaan kembali mencetak laba bersih reported sekaligus menghasilkan free cash flow setelah belanja jaringan yang besar.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa laba EXCL pada semester I/2026?
Secara konsolidasian EXCL masih mencatat rugi bersih Rp994 miliar. Namun laba bersih ternormalisasi, setelah mengecualikan sejumlah biaya integrasi, depresiasi dipercepat, dan impairment, mencapai sekitar Rp2,7 triliun.
Berapa pertumbuhan laba ternormalisasi EXCL?
Laba ternormalisasi naik dari Rp693 miliar menjadi Rp2,7 triliun atau sekitar 290% yoy, setara sekitar 3,9 kali angka tahun sebelumnya.
Berapa pendapatan XLSMART semester I/2026?
Pendapatan semester I/2026 mencapai sekitar Rp24 triliun, tumbuh 26% secara tahunan.
Berapa EBITDA EXCL?
EBITDA semester I/2026 mencapai sekitar Rp11 triliun atau naik 25% yoy dengan margin sekitar 45,7%.
Kenapa EXCL masih rugi meski EBITDA tinggi?
Laba bersih masih dibebani biaya integrasi pascamerger, percepatan depresiasi, serta impairment aset. Karena itu, laba ternormalisasi jauh lebih tinggi dibandingkan laba bersih yang dilaporkan.
Berapa capex XLSMART pada 2026?
Manajemen menaikkan guidance capex dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun atau bertambah sekitar 33,3%.
Kenapa capex EXCL dinaikkan?
Kenaikan dilakukan untuk mengakomodasi akuisisi spektrum frekuensi terbaru sekaligus mempercepat sebagian investasi jaringan yang sebelumnya direncanakan untuk tahun berikutnya.
Apa yang perlu diperhatikan investor EXCL?
Investor dapat memantau reported net profit, normalized profit, ARPU, EBITDA margin, realisasi sinergi merger, capex, free cash flow, serta perkembangan net debt.
Sumber Data: Laporan keuangan dan earnings call PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. semester I/2026; serta ringkasan riset Stockbit Sekuritas mengenai kinerja kuartal II dan semester I/2026.

Perhitungan Receh.in: Pertumbuhan laba bersih ternormalisasi sekitar 290%, penurunan rugi kuartalan sekitar 61%, estimasi pendapatan kuartal I sekitar Rp11,8 triliun, implied konsensus pendapatan 2026 sekitar Rp46,15 triliun, serta kenaikan guidance capex sebesar 33,3% dihitung berdasarkan angka dalam bahan yang tersedia.

Catatan: Normalized net profit bukan laba bersih yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan mengecualikan sejumlah dampak terkait integrasi merger, percepatan depresiasi, dan impairment. Angka estimasi Receh.in menggunakan data yang telah dibulatkan sehingga dapat berbeda dari angka laporan keuangan detail.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi pasar modal. Pembahasan EXCL, prospek laba, capex, dan sinergi merger bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual saham.