- Marketing sales LPCK mencapai Rp902 miliar, naik 14% YoY.
- Realisasi tersebut telah mencapai 53% dari target tahunan Rp1,7 triliun.
- Segmen rumah tapak menjadi kontributor terbesar dengan porsi 69%.
Realisasi tersebut telah memenuhi 53% dari target marketing sales tahun ini yang dipatok sebesar Rp1,7 triliun.
Capaian ini menunjukkan permintaan properti, khususnya rumah tapak, masih cukup kuat meski industri properti menghadapi berbagai tantangan, mulai dari suku bunga hingga daya beli masyarakat.
Presiden Direktur LPCK Agus Arismunandar mengatakan hasil tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan konsumen terhadap proyek-proyek yang dikembangkan perseroan.
"Pencapaian 53% dari target pra-penjualan tahunan pada semester pertama mencerminkan kepercayaan konsumen yang tetap tinggi terhadap produk kami."
Rumah Tapak Masih Jadi Mesin Penjualan
Segmen rumah tapak kembali menjadi tulang punggung bisnis Lippo Cikarang.
Dari total marketing sales semester I 2026, sekitar 69% berasal dari penjualan rumah tapak.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, LPCK berhasil menjual 956 unit yang berasal dari beberapa proyek unggulan, antara lain:
- Cendana Suites The Patio;
- NEO 5enses;
- The Allegra Casa De Lago.
Selain rumah tapak, kontribusi juga datang dari penjualan apartemen dan kawasan komersial.
Untuk menjaga momentum penjualan, perseroan meluncurkan dua proyek baru, yakni:
- QXYZ Phase 6 (Neo North & Patio); dan
- Imagi Collection.
Peluncuran proyek tersebut dilakukan untuk menjangkau kebutuhan konsumen pada berbagai segmen pasar.
Pendapatan Tembus Rp1,62 Triliun
Selain mencatat pertumbuhan pra-penjualan, LPCK juga membukukan pendapatan sebesar Rp1,62 triliun selama semester I 2026.
Kontributor terbesar berasal dari:
| Segmen | Pendapatan |
|---|---|
| Rumah tapak & apartemen | Rp779 miliar |
| Unit komersial | Rp330 miliar |
| Jasa pengelolaan kota | Rp262 miliar |
Ketiga segmen tersebut memberikan kontribusi sekitar 84% terhadap total pendapatan perusahaan.
Hal ini menunjukkan model bisnis LPCK tidak hanya bergantung pada penjualan properti, tetapi juga memperoleh pendapatan berulang dari pengelolaan kawasan.
Margin Laba Meningkat Tajam
Perbaikan kinerja tidak hanya terlihat dari sisi penjualan.
LPCK berhasil meningkatkan margin laba kotor menjadi 31%, naik signifikan dibandingkan 21% pada semester I 2025.
Laba kotor tercatat mencapai Rp511 miliar.
Peningkatan margin tersebut didorong oleh:
- pengendalian biaya yang lebih disiplin;
- strategi pengembangan produk yang lebih tepat sasaran;
- bauran penjualan yang lebih menguntungkan.
EBITDA Tumbuh Berkat Efisiensi
Dari sisi operasional, LPCK membukukan EBITDA sebesar Rp318 miliar.
EBITDA margin meningkat menjadi 20%, dibandingkan 13% pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini mencerminkan efisiensi operasional yang berhasil dipertahankan meski perusahaan tetap aktif mengembangkan proyek-proyek baru.
Optimistis Capai Target 2026
Dengan realisasi marketing sales yang sudah menembus lebih dari separuh target tahunan, manajemen optimistis mampu mencapai target Rp1,7 triliun hingga akhir 2026.
Optimisme tersebut didukung oleh permintaan yang dinilai masih kuat, baik pada segmen rumah terjangkau maupun hunian premium.
Jika tren penjualan tetap terjaga pada semester II, LPCK memiliki peluang cukup besar untuk memenuhi bahkan melampaui target pra-penjualan yang telah ditetapkan.
Apa Arti Marketing Sales bagi Investor?
Marketing sales merupakan salah satu indikator penting dalam industri properti karena mencerminkan nilai penjualan yang berhasil dibukukan sebelum proyek diserahterimakan.
Semakin tinggi marketing sales, semakin besar potensi pendapatan yang akan diakui perusahaan pada periode-periode berikutnya sesuai progres pembangunan.
Karena itu, pertumbuhan marketing sales sering menjadi indikator awal yang diperhatikan investor dalam menilai prospek emiten properti.

0 Komentar