JAKARTA — Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan saham emiten properti PT Intiland Development Tbk. (DILD) di tengah koreksi harga saham yang masih berlangsung sepanjang 2026. Pada transaksi 4 Agustus 2026, Lo membeli sebanyak 644.400 saham DILD sehingga jumlah kepemilikannya bertambah menjadi sekitar 771,28 juta lembar.
Aksi tersebut memperpanjang pola akumulasi yang sudah terlihat sejak beberapa bulan terakhir. Alih-alih mengurangi eksposur ketika harga DILD turun sekitar 15% sejak awal tahun, Lo justru memanfaatkan koreksi untuk menambah posisi. Strategi ini konsisten dengan pendekatan investasinya di DILD sejak 2022, ketika ia mulai tercatat sebagai pemegang saham di atas 5%.
Ringkasan
- Akumulasi Berlanjut: Lo Kheng Hong membeli lagi 644.400 saham DILD pada 4 Agustus 2026.
- Kepemilikan Makin Besar: Jumlah saham yang digenggam naik menjadi sekitar 771,28 juta lembar.
- Melawan Tren Harga: DILD masih terkoreksi sekitar 15% sepanjang 2026, tetapi Lo justru terus melakukan pembelian.
- Thesis Lama Masih Berlaku: Sejak awal masuk DILD, Lo menyoroti valuasi murah dibanding nilai aset dan proyek yang dimiliki Intiland.
1. Harga Turun, Lo Kheng Hong Justru Tambah Posisi
Pergerakan saham DILD sepanjang 2026 masih belum memberikan hasil positif. Memasuki pekan kedua Agustus, harga saham Intiland masih berada sekitar 15% di bawah posisi awal tahun.
Namun kondisi tersebut justru menjadi momentum akumulasi bagi Lo Kheng Hong. Pada 4 Agustus 2026, ia kembali membeli 644.400 saham DILD. Setelah transaksi itu, jumlah saham yang dimiliki bertambah menjadi sekitar 771,28 juta lembar.
Pola yang sama sudah terlihat pada akhir Juli. Pada 29 Juli 2026, Lo membeli sekitar 1,70 juta saham. Sehari sebelumnya, ia menambah sekitar 2,44 juta saham, sedangkan pada 27 Juli membeli lagi sebanyak 365.600 saham.
Artinya, pembelian bukan transaksi satu kali, melainkan bagian dari proses akumulasi bertahap ketika harga saham melemah.
← Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom →
| Tanggal | Pembelian DILD | Posisi Setelah Transaksi | Catatan |
|---|---|---|---|
| 27 Juli 2026 | 365.600 saham | - | Akumulasi menjelang akhir Juli |
| 28 Juli 2026 | 2,44 juta saham | - | Pembelian dalam jumlah lebih besar |
| 29 Juli 2026 | 1,70 juta saham | 769,74 juta saham | Akumulasi berlanjut |
| 4 Agustus 2026 | 644.400 saham | 771,28 juta saham | Pembelian terbaru |
Sumber: Data transaksi kepemilikan saham yang dihimpun hingga Agustus 2026.
Bahan transaksi yang tersedia mencantumkan posisi 769,74 juta saham setara 7,43% pada 29 Juli dan 771,28 juta saham setara 7,41% setelah transaksi 4 Agustus. Karena jumlah saham meningkat sementara persentasenya justru tercatat lebih rendah, angka persentase tersebut perlu dicocokkan kembali dengan data kepemilikan resmi terbaru. Artikel ini menggunakan jumlah lembar saham sebagai acuan utama.
2. Bukan Baru Kali Ini Lo Kheng Hong Membeli DILD Saat Turun
Aksi beli ketika harga melemah bukan strategi baru bagi Lo Kheng Hong di DILD. Pada April 2026, kepemilikannya tercatat sekitar 707,05 juta saham atau 6,82%. Angka itu telah meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sekitar 695,07 juta saham. citeturn440629search0
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Lo menjelaskan bahwa penurunan harga justru memberinya kesempatan membeli saham dengan harga lebih murah. Pendekatan tersebut konsisten dengan gaya investasi nilai atau value investing, yakni membeli ketika harga pasar dinilai berada di bawah nilai fundamental perusahaan.
Jika dibandingkan posisi April sekitar 707,05 juta saham dengan posisi terbaru 771,28 juta saham, kepemilikan Lo secara kasar telah bertambah lebih dari 64 juta saham hanya dalam beberapa bulan. citeturn440629search0
3. Mengapa DILD Menarik bagi Lo Kheng Hong?
Untuk memahami aksi akumulasi tersebut, perlu melihat kembali alasan awal Lo masuk ke Intiland.
Nama Lo Kheng Hong mulai tercatat sebagai pemegang saham DILD di atas 5% sejak Agustus 2022. Ketika itu, ia mengakumulasi sekitar 453,1 juta saham dengan harga rata-rata sekitar Rp147 per saham atau nilai investasi sekitar Rp66,6 miliar.
Dalam penjelasan sebelumnya, Lo menilai daya tarik utama DILD terletak pada ketimpangan antara nilai pasar perusahaan dan nilai aset serta proyek properti yang dimiliki. Ia pernah menyinggung nilai proyek Intiland yang mencapai puluhan triliun rupiah ketika kapitalisasi pasar perseroan hanya sebagian kecil dari angka tersebut. citeturn440629search0
Lo juga pernah menekankan pentingnya kualitas manajemen dan integritas pengurus perusahaan sebagai bagian dari pertimbangannya berinvestasi di Intiland. citeturn440629search0
4. Intiland Bukan Hanya Pengembang Residensial
Secara bisnis, Intiland merupakan salah satu pengembang properti lama di Indonesia dengan portofolio yang cukup terdiversifikasi. Perseroan memiliki bisnis di segmen mixed-use dan high-rise, kawasan perumahan, kawasan industri, serta properti investasi. citeturn608353search0
Portofolionya mencakup sejumlah proyek yang cukup dikenal, antara lain South Quarter dan Serenia Hills di Jakarta, serta berbagai proyek di Surabaya. Intiland juga memiliki eksposur ke kawasan industri melalui pengembangan Ngoro Industrial Park. citeturn608353search0
Model bisnis seperti ini membuat nilai perusahaan tidak hanya bergantung pada penjualan rumah atau apartemen. Ada aset tanah, properti investasi, proyek komersial, hingga kawasan industri yang dapat menciptakan nilai dalam jangka panjang.
| Segmen Intiland | Contoh Aset / Proyek | Karakter Bisnis |
|---|---|---|
| Mixed-Use & High-Rise | South Quarter, Regatta, Spazio | Penjualan unit dan pengembangan properti komersial |
| Perumahan | Serenia Hills, Graha Natura, Talaga Bestari | Penjualan rumah dan pengembangan kawasan |
| Kawasan Industri | Ngoro Industrial Park | Penjualan dan pengelolaan lahan industri |
| Properti Investasi | Gedung perkantoran dan aset komersial | Potensi pendapatan berulang atau recurring income |
Sumber: Profil dan laporan tahunan Intiland Development. citeturn608353search0
5. Thesis Value Investing: Murah Belum Tentu Langsung Naik
Aksi Lo Kheng Hong di DILD menarik karena mencerminkan salah satu prinsip penting dalam investasi nilai: harga saham dan nilai bisnis tidak selalu bergerak bersamaan dalam jangka pendek.
Investor value dapat menilai sebuah perusahaan murah berdasarkan aset, nilai buku, kemampuan menghasilkan arus kas, atau potensi monetisasi proyek. Namun pasar belum tentu langsung memberikan valuasi yang sama.
Kasus DILD memperlihatkan situasi tersebut. Lo telah menjadi pemegang saham besar sejak 2022, tetapi harga saham masih mengalami volatilitas dan bahkan kembali melemah sepanjang 2026.
Artinya, strategi membeli saham murah membutuhkan dua hal sekaligus: keyakinan terhadap nilai fundamental dan kesabaran menunggu katalis yang dapat membuka nilai tersebut.
Mengikuti transaksi investor terkenal tidak sama dengan memiliki thesis investasi yang sama. Lo Kheng Hong dapat memiliki horizon investasi, toleransi risiko, harga rata-rata beli, dan kapasitas modal yang berbeda dengan investor ritel.
6. Apa yang Bisa Menjadi Katalis DILD?
Bagi DILD, kenaikan harga saham dalam jangka panjang pada akhirnya tetap membutuhkan katalis fundamental. Diskon terhadap aset saja tidak selalu cukup jika pasar belum melihat percepatan penjualan, perbaikan arus kas, penurunan utang, atau monetisasi aset.
Karena itu, beberapa indikator menjadi penting untuk dipantau investor, antara lain pertumbuhan marketing sales, kemampuan perseroan mengubah penjualan menjadi pendapatan, perkembangan utang, serta kontribusi pendapatan berulang dari aset investasi.
Monetisasi proyek dan aset juga menjadi faktor penting. Intiland memiliki portofolio properti yang luas, tetapi nilai ekonomi bagi pemegang saham baru benar-benar tercermin apabila aset tersebut mampu menghasilkan penjualan, arus kas, atau keuntungan yang meningkatkan nilai perusahaan.
Di sinilah perbedaan antara asset story dan earnings story. Perusahaan dapat memiliki aset bernilai besar, tetapi pasar biasanya membutuhkan bukti bahwa aset tersebut dapat dikonversi menjadi laba dan arus kas yang berkelanjutan.
7. Apa Artinya bagi Investor Saham DILD?
Aksi akumulasi Lo Kheng Hong dapat menjadi sinyal bahwa salah satu investor nilai paling dikenal di Indonesia masih melihat daya tarik pada valuasi Intiland. Namun transaksi tersebut tidak otomatis berarti harga saham akan segera berbalik naik.
Yang lebih penting adalah memahami thesis di balik pembelian. Lo tidak membeli karena harga sedang naik, melainkan justru ketika harga turun dan valuasi dinilainya semakin menarik.
Strategi tersebut berbeda dengan pendekatan momentum yang biasanya menunggu konfirmasi tren harga. Value investor cenderung menerima risiko harga saham turun lebih dalam selama estimasi nilai fundamental tidak berubah.
Bagi investor ritel, pendekatan yang lebih relevan bukan sekadar meniru pembelian Lo, tetapi menguji apakah valuasi DILD memang murah dibandingkan aset, ekuitas, kemampuan menghasilkan laba, serta prospek bisnisnya.
Akumulasi Lo Kheng Hong di DILD semakin agresif justru ketika sahamnya masih terkoreksi sepanjang 2026. Thesis utamanya tampaknya belum berubah: harga pasar dinilai belum mencerminkan nilai aset Intiland. Namun bagi investor lain, murah secara valuasi belum cukup. Katalis berupa penjualan, arus kas, pengurangan utang, dan monetisasi aset tetap menjadi faktor yang menentukan apakah diskon valuasi tersebut akhirnya bisa tertutup.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa saham DILD yang dimiliki Lo Kheng Hong?
Berapa saham DILD yang dibeli Lo Kheng Hong pada 4 Agustus 2026?
Kapan Lo Kheng Hong mulai menjadi pemegang saham besar DILD?
Mengapa Lo Kheng Hong membeli saham DILD?
Apakah mengikuti pembelian Lo Kheng Hong berarti saham DILD pasti naik?
Catatan Data: Terdapat perbedaan antara angka persentase kepemilikan yang tercantum pada data 29 Juli dan 4 Agustus 2026. Karena jumlah saham bertambah tetapi persentase yang dilaporkan justru menurun, angka tersebut perlu diverifikasi kembali terhadap data kepemilikan resmi terbaru. Artikel ini menggunakan jumlah saham sebagai referensi utama.
Disclaimer: Ulasan ini disusun untuk informasi publik dan edukasi pasar modal. Aktivitas pembelian saham oleh investor tertentu bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor.

0 Komentar