Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk. (OPMS) belum keluar dari zona merah pada semester I/2026. Perseroan membukukan rugi bersih Rp2,91 miliar, membaik sekitar 11,7% dibandingkan rugi Rp3,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, angka rugi yang lebih kecil belum berarti bisnis OPMS sudah sehat. Pendapatan memang naik sekitar 5% menjadi Rp2,56 miliar, tetapi beban pokok penjualan masih lebih besar daripada penjualan sehingga perusahaan tetap membukukan rugi kotor Rp760,14 juta. Arus kas operasi pun berbalik negatif Rp2,08 miliar.

Justru ada perubahan menarik di balik angka tersebut. Pada semester I/2026, sekitar 88% pendapatan OPMS berasal dari perdagangan bahan makanan dan minuman, bisnis yang baru terlihat material setelah perseroan memperluas kegiatan usahanya. Segmen ini sudah menghasilkan laba kotor, sementara bisnis besi scrap masih menjadi sumber tekanan besar.

Ringkasan
  • Pendapatan OPMS naik sekitar 5% menjadi Rp2,56 miliar, sedangkan rugi bersih menyusut 11,7% menjadi Rp2,91 miliar.
  • Bisnis makanan dan minuman menyumbang sekitar 88% pendapatan dan menghasilkan margin kotor positif, sementara segmen besi scrap masih rugi kotor.
  • Kas naik menjadi Rp16,43 miliar, tetapi kenaikannya terutama ditopang penjualan saham treasuri Rp6,15 miliar, bukan arus kas operasi yang justru negatif.

Pendapatan Naik, tetapi OPMS Masih Rugi Kotor

Laporan keuangan interim OPMS untuk enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 menunjukkan penjualan bersih sebesar Rp2,56 miliar, naik sekitar 5% dari Rp2,44 miliar pada semester I/2025.

Perbaikan juga terlihat pada beberapa lapisan laba-rugi. Rugi kotor menyusut dari Rp991,65 juta menjadi Rp760,14 juta, rugi usaha berkurang dari Rp3,68 miliar menjadi Rp3,26 miliar, dan rugi bersih turun dari Rp3,29 miliar menjadi Rp2,91 miliar.

Indikator 1H25 1H26 Perubahan
Penjualan bersih Rp2,44 miliar Rp2,56 miliar +5,0%
Rugi kotor Rp991,65 juta Rp760,14 juta Menyusut 23,3%
Rugi usaha Rp3,68 miliar Rp3,26 miliar Menyusut 11,4%
Rugi bersih Rp3,29 miliar Rp2,91 miliar Menyusut 11,7%

Meski membaik, struktur labanya masih menunjukkan persoalan mendasar. Beban pokok penjualan mencapai Rp3,32 miliar, lebih besar daripada penjualan Rp2,56 miliar. Dengan demikian, margin kotor OPMS masih negatif sekitar 29,7%, meski lebih baik dibandingkan minus 40,6% setahun sebelumnya.

Ini berbeda dari perusahaan yang sudah menghasilkan laba kotor tetapi rugi karena beban administrasi atau biaya pendanaan. Dalam kasus OPMS, penjualan konsolidasi pada semester pertama masih belum cukup untuk menutup biaya langsung barang yang dijual.

Bisnis Makanan Mendominasi, Besi Scrap Masih Menjadi Beban

Perubahan paling besar justru terjadi pada komposisi bisnis. Laporan keuangan menunjukkan OPMS kini menjalankan perdagangan material besi, baja dan stainless steel, sekaligus perdagangan besar bahan makanan dan minuman. 

Pada semester I/2026, penjualan bahan makanan dan minuman mencapai Rp2,26 miliar. Penjualan besi scrap tanpa olahan hanya Rp302,26 juta, sedangkan tidak ada penjualan besi scrap olahan pada periode tersebut. Setahun sebelumnya, hampir seluruh pendapatan masih berasal dari besi scrap. 

Segmen Produk Penjualan 1H26 Beban Pokok Laba/Rugi Kotor
Bahan makanan & minuman Rp2,26 miliar Rp2,05 miliar +Rp212,16 juta
Besi scrap tanpa olahan Rp302,26 juta Rp1,27 miliar -Rp972,30 juta
Besi scrap olahan Rp0 Rp0 Rp0

Perhitungan Receh.in menunjukkan bahan makanan dan minuman menyumbang sekitar 88,2% dari penjualan OPMS semester pertama. Segmen tersebut juga menghasilkan margin kotor positif sekitar 9,4%.

Situasinya berbalik pada besi scrap. Penjualan hanya sekitar Rp302 juta, sementara beban pokok mencapai Rp1,27 miliar. Salah satu komponen besarnya adalah biaya pabrikasi sekitar Rp1,01 miliar yang praktis seluruhnya berasal dari penyusutan aset tetap. 

Artinya, persoalan segmen scrap tidak hanya terletak pada harga jual. Volume aktivitas yang kecil harus menanggung basis biaya tetap—terutama penyusutan—yang masih besar. Selama penjualan scrap belum meningkat secara signifikan atau struktur aset belum lebih produktif, beban tersebut dapat terus menekan profitabilitas konsolidasi.

Perubahan komposisi pemasok juga memperlihatkan pergeseran bisnis. Pada semester I/2026, pembelian yang nilainya melebihi 10% penjualan bersih berasal antara lain dari PT Sekar Laut Tbk sebesar 43% dan PT Emina Cheese Indonesia sebesar 38%. Pada 2025, pemasok besar justru berasal dari bisnis logam. 

Kas Rp16,4 Miliar, tetapi Jangan Salah Membaca Sumbernya

Dari sisi neraca, posisi OPMS terlihat cukup konservatif. Total aset per 30 Juni 2026 mencapai Rp77,23 miliar dan ekuitas Rp75,93 miliar. Total liabilitas hanya sekitar Rp1,30 miliar, tanpa utang bank jangka pendek maupun jangka panjang yang terlihat dalam neraca. Kas dan setara kas mencapai Rp16,43 miliar

Rp16,43 M Kas & setara kas
Rp77,23 M Total aset
Rp75,93 M Total ekuitas
-Rp2,08 M Arus kas operasi 1H26

Kas bahkan naik sekitar Rp4,40 miliar dibandingkan awal tahun. Tetapi investor perlu melihat asal kenaikan tersebut. Arus kas operasi justru negatif Rp2,08 miliar, berbalik dari positif Rp3,13 miliar pada semester I/2025. 

Penopang utama kas datang dari aktivitas pendanaan. Pada 16 April 2026, OPMS menjual 35,22 juta saham treasuri pada harga rata-rata Rp174,53 per saham dan menerima Rp6,15 miliar. Transaksi tersebut juga menghasilkan selisih Rp2,28 miliar yang dicatat sebagai tambahan modal disetor, bukan laba periode berjalan. 

Setelah transaksi itu, OPMS masih memiliki sekitar 162,92 juta saham treasuri atau 16,29% dari modal ditempatkan per 30 Juni 2026. Perseroan juga menyebut masih dalam proses memperoleh perpanjangan periode pelaksanaan penjualan saham treasuri ketika laporan interim diselesaikan. 

Bagi investor, ini merupakan data penting. Saham treasuri yang masih besar dapat menjadi sumber likuiditas bagi perusahaan jika dilepas, tetapi pada saat bersamaan juga berpotensi menambah pasokan saham ke pasar. Dampak aktualnya akan bergantung pada waktu, harga, dan mekanisme transaksi, sehingga tidak tepat menganggapnya otomatis negatif maupun positif.

Saham Rp122 Terlihat Murah Nominal, tetapi Valuasinya Belum Bisa Dibaca dari PER

Berdasarkan data pasar yang diberikan, saham OPMS berada di harga Rp122 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp122 miliar. Angka nominal yang rendah tidak dengan sendirinya membuat saham ini murah.

Rasio PER negatif seperti -41,96 kali juga tidak terlalu berguna untuk menilai murah atau mahal karena perusahaan masih merugi. Bahkan terdapat satu koreksi penting terhadap data aplikasi: laporan keuangan resmi mencatat rugi per saham dasar dan dilusian Rp3,56, bukan Rp2,91 per saham.

Perbedaannya terjadi karena EPS resmi tidak dihitung dengan sekadar membagi rugi bersih Rp2,91 miliar dengan 1 miliar saham nominal. OPMS menggunakan rata-rata tertimbang 816,57 juta saham dalam perhitungan EPS, antara lain karena adanya saham treasuri. Dengan metode tersebut, rugi per saham semester I/2026 adalah Rp3,56, dibandingkan Rp4,11 setahun sebelumnya. 

Indikator Nilai Catatan
Harga saham bahan pengguna Rp122 Data pasar yang diberikan
Market cap indikatif Rp122 miliar Harga × 1 miliar saham diterbitkan
Ekuitas Rp75,93 miliar Per 30 Juni 2026
PBV aplikasi 1,61x Menggunakan basis 1 miliar saham
EPS resmi 1H26 -Rp3,56 Rata-rata tertimbang 816,57 juta saham
Saham treasuri 162,92 juta 16,29% saham diterbitkan

PBV sekitar 1,61 kali juga harus dibaca bersama struktur ekuitas. Sebagian besar aset OPMS terdiri dari aset tetap dan kas, sementara perusahaan masih belum menghasilkan laba operasional. Book value yang besar tidak otomatis berarti perusahaan undervalued jika aset tersebut belum menghasilkan return yang memadai.

Menariknya, sekitar 21% total aset OPMS berupa kas dan setara kas. Sebagian besar kas tersebut ditempatkan pada deposito berjangka, dengan bunga 6,25%–7,25% per tahun. Pendapatan keuangan dari bunga deposito dan bank pada semester pertama mencapai sekitar Rp330,28 juta. 

Jadi, untuk saat ini sebagian laba potensial perusahaan justru datang dari pengelolaan kas, sementara operasi utama masih membakar kas. Itu membuat kualitas pemulihan bisnis menjadi variabel yang jauh lebih penting daripada sekadar melihat rasio PBV.

Intinya: OPMS memang menunjukkan perbaikan karena rugi bersih menyusut dari Rp3,29 miliar menjadi Rp2,91 miliar. Namun, perusahaan belum mencapai titik balik operasional karena masih mencetak rugi kotor dan arus kas operasi negatif. Sinyal yang justru paling menarik adalah perubahan model bisnis: bahan makanan dan minuman kini menyumbang sekitar 88% penjualan dan sudah menghasilkan laba kotor, sementara bisnis besi scrap masih dibebani biaya tetap yang besar. Neraca tanpa utang bank dan kas Rp16,43 miliar memberi bantalan, tetapi kenaikan kas semester pertama terutama berasal dari penjualan saham treasuri. Bagi investor, kunci berikutnya adalah apakah bisnis baru dapat tumbuh cukup besar untuk menutup biaya tetap dan akhirnya membawa OPMS menuju laba operasional positif.

FAQ Kinerja dan Saham OPMS

Berapa rugi bersih OPMS semester I 2026?
OPMS membukukan rugi bersih Rp2,91 miliar pada semester I/2026, membaik sekitar 11,7% dibandingkan rugi Rp3,29 miliar pada semester I/2025.
Berapa pendapatan OPMS semester I 2026?
Penjualan bersih mencapai Rp2,56 miliar, naik sekitar 5% dari Rp2,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Mengapa OPMS masih rugi meski pendapatan naik?
Beban pokok penjualan masih mencapai Rp3,32 miliar atau lebih besar daripada pendapatan Rp2,56 miliar. Segmen besi scrap mencatat rugi kotor besar, antara lain karena biaya pabrikasi dan penyusutan aset tetap masih tinggi dibandingkan volume penjualannya.
Apa bisnis terbesar OPMS sekarang?
Pada semester I/2026, bahan makanan dan minuman menghasilkan penjualan Rp2,26 miliar atau sekitar 88% penjualan konsolidasi. Bisnis besi scrap tanpa olahan menghasilkan sekitar Rp302 juta.
Apakah OPMS memiliki utang?
OPMS tidak mencatat utang bank jangka pendek maupun jangka panjang dalam laporan posisi keuangan 30 Juni 2026. Total liabilitas hanya sekitar Rp1,30 miliar dan terutama terdiri dari utang usaha, beban akrual, utang pajak, serta liabilitas imbalan kerja.
Berapa EPS OPMS semester I 2026?
Laporan keuangan resmi mencatat rugi per saham dasar dan dilusian sebesar Rp3,56. Angka Rp2,91 yang muncul bila rugi bersih dibagi 1 miliar saham tidak menggunakan jumlah rata-rata tertimbang saham sebagaimana metode EPS resmi perusahaan.
Apakah PBV 1,61 kali berarti saham OPMS murah?
Belum tentu. PBV hanya membandingkan harga saham dengan nilai buku. OPMS masih membukukan rugi usaha, rugi kotor, dan arus kas operasi negatif, sehingga kemampuan aset dan ekuitas menghasilkan laba tetap perlu menjadi pertimbangan utama.
Sumber: Laporan Keuangan Interim PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk. per 30 Juni 2026 dan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal tersebut, serta data harga dan rasio pasar yang diberikan pengguna. Laporan interim telah direviu oleh KAP Morhan dan Rekan; laporan reviu menyatakan tidak ada hal yang menjadi perhatian yang menyebabkan laporan diyakini tidak disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. 
Perhitungan Receh.in: Pertumbuhan pendapatan, penyusutan rugi, margin kotor, kontribusi masing-masing segmen, dan sejumlah rasio indikatif dihitung dari angka laporan keuangan. Nilai pasar menggunakan harga Rp122 sebagaimana diberikan dalam bahan.
Catatan: Angka EPS -Rp2,91 pada data aplikasi tidak sama dengan laporan keuangan resmi. OPMS mencatat EPS dasar dan dilusian -Rp3,56 berdasarkan rata-rata tertimbang 816,57 juta saham. Saham treasuri yang tersisa per 30 Juni 2026 berjumlah 162,92 juta saham.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham OPMS. Saham perusahaan berkapitalisasi kecil dapat memiliki risiko likuiditas, volatilitas harga, perubahan bisnis, dan risiko fundamental yang tinggi. Investor perlu menilai laporan keuangan, valuasi, arus kas, struktur kepemilikan, serta perkembangan usaha terbaru sebelum mengambil keputusan.