Receh.in — Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mulai menunjukkan pemulihan jangka pendek setelah tertekan dalam sepanjang 2026. Pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, saham emiten batu bara Grup Bakrie dan Salim tersebut ditutup pada Rp190 per saham, naik 15,15% dalam sebulan tetapi masih terkoreksi 54,76% sejak awal tahun.
Di tengah volatilitas harga saham tersebut, fundamental BUMI menunjukkan kombinasi yang menarik. Pendapatan semester I/2026 tumbuh 27,9% menjadi US$866,8 juta, produksi batu bara meningkat 7,1% menjadi 38,5 juta ton, sementara volume penjualan naik 11,7% menjadi 38,8 juta ton. Harga jual rata-rata atau ASP juga disebut naik 2,6% menjadi US$62,9 per ton.
Katalis berikutnya datang dari diversifikasi non-batu bara. Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp300 per saham, antara lain mempertimbangkan aset emas dan tembaga Australia serta peluang membaiknya bisnis batu bara. Dari harga Rp190, target tersebut secara matematis menawarkan potensi kenaikan sekitar 57,9%, meski realisasinya tentu bergantung pada harga komoditas, produksi, biaya serta keberhasilan eksekusi aset baru.
- Saham BUMI berada di Rp190 pada 28 Agustus 2026, naik 15,15% dalam sebulan tetapi masih turun 54,76% YtD.
- Pendapatan semester I/2026 meningkat 27,9% menjadi US$866,8 juta, dengan laba bersih entitas induk US$58,9 juta dan penjualan batu bara 38,8 juta ton.
- Samuel Sekuritas merekomendasikan Buy dengan target Rp300, didukung prospek batu bara dan diversifikasi BUMI ke aset emas-tembaga Australia.
BUMI Mulai Rebound, tetapi Koreksi YtD Masih Dalam
Pergerakan saham BUMI menunjukkan dua cerita berbeda tergantung horizon yang digunakan. Dalam satu bulan terakhir, saham telah menguat 15,15%. Namun apabila dihitung sejak awal tahun, koreksinya masih mencapai 54,76%.
Berdasarkan perhitungan sederhana Receh.in, harga Rp190 setelah kenaikan 15,15% mengindikasikan harga sekitar Rp165 sebulan sebelumnya. Sementara koreksi 54,76% YtD mengimplikasikan harga awal tahun di kisaran Rp420.
Artinya, kenaikan satu bulan terakhir masih lebih tepat dibaca sebagai pemulihan dari level yang jauh lebih rendah, bukan berarti seluruh koreksi sepanjang tahun telah terhapus.
Target Rp300 dari Samuel Sekuritas berada sekitar 57,9% di atas harga Rp190. Namun harga tersebut tetap sekitar 28,6% di bawah estimasi harga awal tahun sekitar Rp420 yang tersirat dari angka YtD. Dengan kata lain, bahkan jika target analis tercapai, BUMI belum tentu kembali ke posisi awal 2026.
Sentimen lain datang dari besarnya kontribusi BUMI terhadap penerimaan negara. Pada semester I/2026, perseroan membayar royalti US$140,83 juta, naik 7,06% dibandingkan US$131,55 juta setahun sebelumnya.
| Emiten | Royalti 1H25 | Royalti 1H26 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| BUMI | US$131,55 juta | US$140,83 juta | +7,06% |
| BYAN | US$124,22 juta | US$136,52 juta | +9,90% |
| CUAN | US$22,29 juta | US$26,68 juta | +19,70% |
Dari tiga perusahaan tersebut, BUMI membukukan nilai pembayaran royalti terbesar secara nominal, meskipun pertumbuhan tahunannya lebih rendah dibandingkan BYAN maupun CUAN.
Pendapatan Naik 27,9%, Volume dan ASP Sama-sama Membaik
Perbaikan kinerja operasional menjadi fondasi utama cerita BUMI pada 2026. Pendapatan konsolidasi semester I meningkat menjadi US$866,8 juta dari US$677,9 juta pada semester I/2025, setara pertumbuhan 27,9%.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat US$58,9 juta, atau sekitar Rp1,05 triliun menggunakan kurs JISDOR Rp17.899 per dolar AS pada 30 Juni 2026.
Dari angka tersebut, margin laba bersih terhadap pendapatan secara sederhana berada di sekitar 6,8%. Namun bahan yang diterima tidak mencantumkan angka laba bersih semester I/2025 sehingga Receh.in tidak menghitung pertumbuhan laba bersih YoY secara independen.
| Indikator BUMI | 1H25 | 1H26 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | US$677,9 juta | US$866,8 juta | +27,9% |
| Produksi batu bara | 35,9 juta ton | 38,5 juta ton | +7,1% |
| Penjualan batu bara | 34,7 juta ton* | 38,8 juta ton | +11,7% |
| ASP FOB | US$61,3/ton | US$62,9/ton | +2,6% |
| Strip ratio | 8,1x | 7,5x | Membaik |
| Laba bersih entitas induk | Tidak tersedia | US$58,9 juta | — |
*Angka sekitar 34,7 juta ton merupakan hasil perhitungan balik Receh.in berdasarkan penjualan 1H26 sebesar 38,8 juta ton yang disebut tumbuh 11,7% YoY.
Perbaikan strip ratio dari 8,1 kali menjadi 7,5 kali juga penting. Secara sederhana, rasio yang lebih rendah berarti volume lapisan penutup yang harus dipindahkan untuk memperoleh batu bara menjadi lebih sedikit, meskipun dampak akhirnya terhadap biaya tetap dipengaruhi harga BBM, jarak angkut, kontraktor dan kondisi tambang.
Data dalam bahan juga menyebut persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton per akhir Juni 2026 setelah volume penjualan 38,8 juta ton melampaui produksi 38,5 juta ton.
Ada satu perbedaan narasi yang perlu diperhatikan. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi disebut menilai BUMI berhasil meningkatkan produksi dan penjualan “meskipun harga jual rata-rata mengalami penurunan”. Namun bagian data keuangan yang sama menyebut ASP BUMI justru meningkat 2,6% YoY dari US$61,3 menjadi US$62,9 per ton. Dengan data yang tersedia, kedua pernyataan tersebut belum dapat direkonsiliasi dan mungkin menggunakan periode pembanding atau definisi yang berbeda.
Target Penjualan 84 Juta Ton Masih Butuh Akselerasi Semester II
BUMI mempertahankan panduan penjualan batu bara 2026 sebesar 82 juta–84 juta ton. Dengan realisasi 38,8 juta ton pada semester pertama, perseroan telah mencapai sekitar 46,2%–47,3% dari target tahunan.
Artinya, untuk memenuhi panduan tersebut BUMI perlu menjual sekitar 43,2 juta–45,2 juta ton pada semester II/2026.
Dibandingkan 38,8 juta ton pada semester pertama, kebutuhan penjualan semester kedua berarti BUMI perlu meningkatkan volume sekitar 11,3% hingga 16,5% secara semesteran.
Perseroan juga mempertahankan panduan ASP sebesar US$60–US$62 per ton dan biaya produksi sekitar US$42–US$44 per ton. Menariknya, ASP aktual semester I sebesar US$62,9 per ton sedikit berada di atas batas atas panduan tahunan tersebut.
Namun kenaikan harga batu bara tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi pelebaran margin. Equity Research Analyst Panin Sekuritas Cliff Nathaniel memperkirakan komponen BBM dapat menyumbang sekitar 40% dari harga pokok penjualan perusahaan batu bara. Harga minyak yang tinggi karena itu dapat menggerus manfaat dari penguatan harga jual batu bara.
Ketidakpastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB juga tetap menjadi salah satu faktor industri pada semester II/2026. Normalisasi persetujuan RKAB berpotensi membantu produsen mengejar target volume, tetapi tambahan kuota tidak otomatis sama dengan produksi aktual.
Kiwoom Sekuritas memperkirakan Newcastle Coal berada di kisaran US$120–US$145 per ton hingga akhir 2026, sedangkan Panin Sekuritas memperkirakan harga masih bertahan di atas US$120 per ton. Angka tersebut merupakan pandangan analis terhadap benchmark Newcastle dan tidak identik dengan ASP BUMI yang memiliki karakteristik produk, kualitas batu bara dan kontrak penjualan tersendiri.
Aset Emas Australia Bisa Mengubah Cerita BUMI, tetapi Eksekusi Masih Jadi Kunci
Perubahan jangka panjang yang lebih menarik datang dari strategi diversifikasi. BUMI mengumumkan akuisisi 100% saham Wolfram Limited pada November 2025, perusahaan tambang emas dan tembaga berbasis di Australia.
Menurut riset Samuel Sekuritas, Wolfram mempunyai dua aset utama. Crush Creek memiliki cadangan emas sekitar 191.000 ons dan sumber daya 470.000 ons dengan kadar 2,3 gram per ton. Mount Carlton mempunyai cadangan 129.000 ons dan sumber daya sekitar 197.000 ons dengan kadar 1,4 gram per ton.
| Aset Wolfram | Cadangan Emas | Sumber Daya | Kadar |
|---|---|---|---|
| Crush Creek | 191 koz | 470 koz | 2,3 g/t |
| Mount Carlton | 129 koz | 197 koz | 1,4 g/t |
| Total | 320 koz | 667 koz | — |
Samuel Sekuritas sebelumnya memperkirakan segmen emas dapat memberikan tambahan pendapatan sekitar US$221 juta, dengan asumsi penjualan emas Wolfram mencapai 40.000 ons pada fase produksi menggunakan flotation plant pada 2027.
Angka tersebut perlu dibaca hati-hati. Jika US$221 juta seluruhnya dianggap berasal hanya dari penjualan 40.000 ons emas, secara aritmetis hasilnya setara sekitar US$5.525 per ons. Bahan yang diterima tidak menjelaskan apakah estimasi pendapatan US$221 juta juga mencakup produk lain, volume tambahan, harga berbeda, atau asumsi operasional lain sehingga Receh.in tidak menyamakan angka tersebut dengan asumsi harga emas Samuel.
Terdapat pula perbedaan penamaan aset diversifikasi dalam bahan. Pada bagian riset Samuel Sekuritas disebut ekspansi non-batu bara BUMI melalui Wolfram Limited dan Loyal Metals Limited, sedangkan bagian keterangan strategi perusahaan menyebut Wolfram Limited dan Jubilee Metals Limited. Karena tidak ada penjelasan lebih lanjut dalam bahan, artikel ini tidak menyimpulkan bahwa Loyal Metals dan Jubilee Metals adalah entitas yang sama.
Samuel Sekuritas melihat diversifikasi tersebut, ditambah potensi pemulihan batu bara, sebagai dasar rekomendasi Buy dengan target harga Rp300. Analis juga memasukkan potensi fenomena El Nino sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung harga batu bara.
Namun diversifikasi baru akan menjadi katalis fundamental apabila aset Australia benar-benar masuk ke tahap produksi, mencapai volume yang direncanakan dan menghasilkan margin yang memadai. Cadangan mineral atau proyeksi pendapatan belum sama dengan laba dan arus kas yang sudah terealisasi.
FAQ Saham BUMI 2026
Berapa harga saham BUMI pada akhir Agustus 2026?
Berapa target harga saham BUMI menurut Samuel Sekuritas?
Bagaimana kinerja keuangan BUMI semester I 2026?
Berapa produksi dan penjualan batu bara BUMI?
Berapa target penjualan batu bara BUMI 2026?
Apa bisnis baru BUMI selain batu bara?
Apa risiko utama saham BUMI?
Perhitungan Receh.in: Target harga Rp300 dibandingkan harga Rp190 menghasilkan potensi kenaikan sekitar 57,9%. Harga satu bulan sebelumnya secara indikatif sekitar Rp165 berdasarkan kenaikan 15,15%, sedangkan harga awal tahun secara indikatif sekitar Rp420 berdasarkan koreksi YtD 54,76%. Realisasi penjualan 38,8 juta ton setara sekitar 46,2%–47,3% dari target 82 juta–84 juta ton, sehingga kebutuhan penjualan semester II sekitar 43,2 juta–45,2 juta ton. Margin laba bersih sederhana 1H26 sekitar 6,8%.
Catatan: Terdapat dua ketidaksesuaian dalam bahan sumber. Pertama, satu pandangan analis menyebut ASP turun, sementara data operasional menyebut ASP naik 2,6% YoY menjadi US$62,9 per ton. Kedua, aset diversifikasi disebut Loyal Metals Limited pada satu bagian dan Jubilee Metals Limited pada bagian lainnya. Bahan yang tersedia tidak cukup untuk merekonsiliasi perbedaan tersebut. Estimasi pendapatan Wolfram US$221 juta dengan asumsi penjualan emas 40.000 ons juga tidak dijabarkan secara cukup rinci untuk menyimpulkan asumsi harga emas yang digunakan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BUMI. Target harga Rp300 merupakan pandangan Samuel Sekuritas. Proyeksi dapat berubah mengikuti harga batu bara, harga minyak, produksi, biaya, RKAB, kinerja aset Australia dan kondisi pasar.

0 Komentar