Rights issue PT Saranacentral Bajatama Tbk. (BAJA) memasuki tahap penting pada Senin, 24 Agustus 2026, tetapi menawarkan situasi yang tidak lazim bagi investor ritel. Hari ini merupakan cum date HMETD di pasar reguler dan negosiasi, sementara harga saham BAJA sekitar pukul 14.20 WIB justru berada di Rp264.
Masalahnya, harga pelaksanaan rights issue ditetapkan sebesar Rp500 per saham.
Artinya, investor yang menggunakan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) harus membayar Rp500 untuk memperoleh satu saham baru BAJA, sementara saham yang sama pada saat ini dapat dibeli di pasar reguler hanya sekitar Rp264.
Selisihnya mencapai Rp236 per saham. Secara persentase, harga pelaksanaan berada sekitar 89,4% di atas harga pasar.
Dalam rights issue konvensional, saham baru biasanya ditawarkan dengan diskon agar pemegang saham mempunyai insentif menggunakan haknya. BAJA justru berada pada posisi sebaliknya. Bagi investor yang semata-mata membandingkan harga, menggunakan HMETD Rp500 belum ekonomis selama saham induk masih bisa dibeli jauh lebih murah di pasar.
Namun cerita BAJA tidak berhenti pada persoalan harga. Rights issue maksimal Rp450 miliar tersebut terutama dirancang untuk mengubah struktur neraca perusahaan, dengan hampir seluruh dana bersih dialokasikan untuk menyelesaikan kewajiban kepada pihak terafiliasi PT Sarana Steel.
- BAJA menawarkan maksimal 900 juta saham baru di Rp500 per saham dengan rasio 2 saham lama memperoleh 1 HMETD. Dana maksimal yang dapat dihimpun mencapai Rp450 miliar.
- Harga saham sekitar Rp264 membuat harga exercise rights 89,4% lebih mahal daripada pasar. Pada kondisi ini, membeli saham BAJA langsung di pasar jauh lebih murah dibandingkan menggunakan HMETD, jika hanya harga yang menjadi pertimbangan.
- Rights issue tetap penting bagi fundamental BAJA karena 98,96% dana bersih akan digunakan untuk membayar utang kepada PT Sarana Steel. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dapat mengalami dilusi maksimal 33,33% apabila seluruh 900 juta saham diterbitkan.
*Harga saham sekitar pukul 14.20 WIB berdasarkan data perdagangan dalam bahan. Harga dapat berubah hingga penutupan.
Rights Issue Rp500 Saat BAJA Rp264, Apa Artinya bagi Pemegang Saham?
Skema rights issue BAJA menggunakan rasio 2:1. Setiap pemegang dua saham lama yang memenuhi ketentuan memperoleh satu HMETD, dan setiap satu HMETD memberikan hak membeli satu saham baru dengan harga Rp500.
Perseroan akan menerbitkan maksimal 900 juta saham baru. Sebelum aksi korporasi, jumlah saham BAJA sekitar 1,8 miliar lembar. Jika seluruh rights issue terserap, jumlah saham dapat meningkat menjadi sekitar 2,7 miliar saham.
Bagi investor ritel, perbandingan harga menghasilkan situasi yang cukup sederhana.
| Cara Mendapat Saham BAJA | Harga per Saham | Selisih |
|---|---|---|
| Beli di pasar reguler* | Rp264 | — |
| Exercise HMETD | Rp500 | +Rp236 |
| Premium rights issue* | — | +89,4% |
*Menggunakan harga intraday Rp264 pada 24 Agustus 2026.
(Rp500 − Rp264) ÷ Rp264 × 100% = 89,39%. Dengan demikian, harga saham BAJA harus naik sekitar 89,4% dari Rp264 hanya untuk menyamai harga pelaksanaan HMETD Rp500.
Contohnya lebih mudah terlihat jika seorang investor mempunyai 10.000 saham BAJA pada tanggal yang memenuhi syarat.
Dengan rasio 2:1, investor berhak memperoleh 5.000 HMETD. Untuk menggunakan seluruh hak tersebut, dana yang harus disediakan mencapai:
Jika 5.000 saham yang sama dibeli langsung di pasar pada Rp264, biayanya hanya sekitar Rp1,32 juta. Selisihnya mencapai sekitar Rp1,18 juta.
Karena itu, pada harga pasar Rp264, HMETD BAJA secara ekonomi tidak memiliki nilai intrinsik positif. Secara sederhana, sebuah hak menjadi menarik untuk dieksekusi jika nilai saham yang diperoleh lebih tinggi daripada biaya exercise-nya.
Jika saham BAJA tetap berada di bawah Rp500 ketika periode pelaksanaan berlangsung, investor pasar mempunyai alternatif yang lebih murah dengan membeli saham langsung di bursa.
Namun situasinya dapat berubah apabila harga BAJA kemudian naik melewati Rp500 sebelum masa HMETD berakhir. Dalam kondisi tersebut, nilai ekonomis hak dapat berubah.
Karena itu, keputusan tidak perlu dibuat hanya berdasarkan harga pada hari cum date. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD baru berlangsung pada 31 Agustus hingga 4 September 2026.
Ada pula konsep theoretical ex-rights price atau TERP. Dengan rasio dua saham lama untuk satu saham baru, menggunakan harga BAJA Rp264 dan harga exercise Rp500, perhitungan mekanisnya adalah:
TERP mekanis = [(2 × Rp264) + (1 × Rp500)] ÷ 3 = sekitar Rp342,67.
Namun angka tersebut bukan prediksi harga BAJA setelah ex-right. Rumus hanya menggambarkan efek matematis apabila seluruh saham baru benar-benar diterbitkan pada Rp500. Karena harga exercise justru berada di atas harga pasar, mekanismenya berbeda dari rights issue biasa yang menawarkan saham dengan diskon.
Dengan kata lain, investor tidak sebaiknya berharap harga BAJA otomatis melonjak menuju Rp343 pada ex-date hanya karena hasil perhitungan TERP.
Pasar tetap akan menentukan harga berdasarkan permintaan, penawaran, ekspektasi mengenai keberhasilan rights issue, kondisi bisnis dan valuasi perusahaan.
Mengapa BAJA Tetap Memasang Harga Rp500?
Keunikan harga tersebut lebih masuk akal jika rights issue dilihat dari sudut pandang perusahaan, bukan hanya investor ritel.
BAJA tidak terutama menggunakan dana hasil penambahan modal untuk membangun ekspansi baru yang agresif. Berdasarkan prospektus, sekitar 98,96% dana bersih hasil rights issue akan dipakai untuk membayar seluruh utang perseroan kepada PT Sarana Steel.
Sisanya sekitar 1,04% digunakan sebagai modal kerja, terutama pembelian bahan baku.
Dengan demikian, tujuan utama aksi korporasi adalah rekapitalisasi dan penyehatan neraca.
Hal tersebut cukup relevan jika melihat posisi keuangan terbaru BAJA.
Pada semester I/2026, perseroan mempunyai aset sekitar Rp769,45 miliar dan total ekuitas hanya sekitar Rp42,68 miliar. Liabilitas mencapai sekitar Rp726,77 miliar, dengan sekitar Rp718,39 miliar di antaranya merupakan kewajiban jangka pendek.
Perseroan juga masih mempunyai utang kepada pihak berelasi dalam jumlah besar.
Jika rights issue maksimal Rp450 miliar terserap penuh, tambahan modal tersebut secara ukuran jauh lebih besar dibandingkan ekuitas BAJA saat ini.
| Posisi/Skema | Nilai |
|---|---|
| Ekuitas 30 Juni 2026 | Rp42,68 miliar |
| Maksimal dana rights issue | Rp450 miliar |
| Ekuitas ilustratif pasca-injeksi* | ~Rp492,68 miliar |
| Saham beredar setelah rights maksimal | ~2,70 miliar |
| BVPS ilustratif pasca-rights* | ~Rp182/saham |
*Estimasi Receh.in dengan menambahkan dana bruto maksimal Rp450 miliar ke ekuitas semester I/2026. Angka aktual akan lebih rendah setelah memperhitungkan biaya emisi dan dapat berubah sesuai kinerja perseroan sampai transaksi selesai. Penggunaan kas untuk membayar utang mengurangi kas dan liabilitas secara bersamaan, sedangkan kenaikan ekuitas terutama berasal dari penerbitan saham baru.
Secara ilustratif, rights issue berpotensi mengubah profil permodalan BAJA secara sangat signifikan.
Dengan ekuitas Rp42,68 miliar dan 1,8 miliar saham, nilai buku sebelum rights sekitar Rp23,7 per saham. Jika dana maksimal terserap dan mengabaikan biaya penerbitan, nilai buku proforma dapat mendekati Rp182 per saham.
Pada harga pasar Rp264, rasio harga terhadap nilai buku sebelum rights secara sederhana berada di sekitar 11 kali. Dalam skenario proforma penuh, angka tersebut dapat turun mendekati 1,45 kali.
Namun perhitungan itu bukan target harga dan tidak berarti BAJA otomatis menjadi murah. Kualitas laba, kebutuhan modal kerja, siklus harga baja, risiko kurs, serta kemampuan menghasilkan arus kas setelah restrukturisasi tetap harus diperhatikan.
Rights issue juga mempunyai penyangga dari calon pembeli siaga.
Dalam prospektus, PT Sarana Steel dan pemegang saham pengendali Ibnu Susanto bersedia menyerap saham yang tidak diambil pemegang HMETD hingga maksimal sekitar 743,94 juta saham dengan nilai sekitar Rp371,97 miliar.
Jumlah tersebut setara sekitar 82,7% dari maksimal 900 juta saham baru yang ditawarkan.
743,94 juta ÷ 900 juta = sekitar 82,66%. Komitmen pembeli siaga memperbesar peluang sebagian besar penerbitan tetap terserap meskipun pemegang saham publik tidak tertarik exercise pada Rp500. Namun hal ini tidak sama dengan jaminan bahwa seluruh rights issue pasti terserap.
Inilah alasan mengapa perbandingan Rp264 versus Rp500 tidak menjelaskan seluruh cerita.
Bagi investor minoritas, exercise Rp500 memang tampak tidak ekonomis selama harga pasar jauh lebih rendah. Tetapi bagi pihak strategis atau pembeli siaga, keputusan mengambil saham dapat berkaitan dengan struktur kepemilikan, penyehatan neraca dan hubungan kreditur-pemegang saham, bukan sekadar arbitrase harga beberapa hari.
Fundamental BAJA Sedang Pulih, tetapi Rights Issue Belum Bebas Risiko
Rights issue berlangsung ketika kinerja operasional BAJA justru sedang mengalami perbaikan cukup tajam.
Pada semester I/2026, penjualan bersih meningkat sekitar 85,7% menjadi Rp634,54 miliar, dibandingkan Rp341,63 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Laba kotor melonjak dari Rp8,98 miliar menjadi Rp50,47 miliar. Margin laba kotor naik dari hanya sekitar 2,6% menjadi hampir 8%.
Yang paling mencolok, BAJA berbalik membukukan laba bersih Rp21,33 miliar setelah pada semester I/2025 mengalami rugi Rp16,53 miliar.
| Kinerja BAJA | H1 2025 | H1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penjualan | Rp341,63 M | Rp634,54 M | +85,7% |
| Laba kotor | Rp8,98 M | Rp50,47 M | +462% |
| Margin kotor | ~2,6% | ~8,0% | Membaik |
| Laba/rugi bersih | -Rp16,53 M | +Rp21,33 M | Berbalik laba |
Manajemen mengaitkan peningkatan tersebut antara lain dengan implementasi revisi Standar Nasional Indonesia pada produk galvalum dan pre-painted galvalum, yang untuk sementara mengurangi volume produk impor di pasar.
Namun investor perlu memisahkan dua hal.
Pertama, operasi BAJA memang membaik. Penjualan, margin dan laba memperlihatkan pemulihan nyata.
Kedua, neracanya masih membutuhkan perbaikan besar. Ekuitas Rp42,68 miliar masih relatif tipis terhadap total aset dan kewajiban, sementara sebagian besar liabilitas berada di jangka pendek.
Rights issue mencoba menyelesaikan bagian kedua tersebut.
Jika utang kepada PT Sarana Steel dapat dilunasi, perusahaan berpotensi mengurangi beban pendanaan dan risiko yang melekat pada kewajiban tersebut. Tetapi manfaat terhadap laba di masa depan tetap harus dibuktikan setelah transaksi selesai.
Ada pula risiko dilusi.
Pemegang saham yang tidak menggunakan HMETD sementara seluruh 900 juta saham baru diterbitkan akan mengalami penurunan persentase kepemilikan maksimal sekitar 33,33%.
Contohnya, investor yang sebelumnya mempunyai 1% perusahaan dan tidak menambah saham akan tinggal mempunyai sekitar 0,67% apabila jumlah saham meningkat dari 1,8 miliar menjadi 2,7 miliar.
Kepemilikan lama 1% × (1,8 miliar ÷ 2,7 miliar) = sekitar 0,67%. Investor masih memiliki jumlah saham yang sama, tetapi porsinya terhadap total perusahaan mengecil.
Biasanya investor menghindari dilusi dengan menggunakan HMETD. Masalah BAJA adalah biaya mempertahankan persentase tersebut saat ini jauh lebih mahal daripada harga saham di pasar.
Inilah dilema utama pemegang saham publik: exercise hak di Rp500 untuk mempertahankan porsi kepemilikan, atau tidak exercise dan menerima potensi dilusi ketika saham induk diperdagangkan di Rp264.
Rights issue BAJA adalah aksi korporasi yang sangat tidak biasa dari sudut pandang investor ritel. Harga pelaksanaan Rp500 berada 89,4% di atas harga pasar sekitar Rp264 pada hari cum date. Selama kondisi itu bertahan, membeli saham langsung di pasar secara nominal jauh lebih murah daripada menggunakan HMETD. Namun dari sisi perusahaan, rights issue mempunyai logika berbeda: maksimal Rp450 miliar dana baru berpotensi mengubah neraca BAJA secara drastis, terutama karena 98,96% dana bersih diarahkan untuk melunasi utang kepada PT Sarana Steel. Kinerja semester I/2026 juga sedang membaik dengan penjualan Rp634,54 miliar dan laba bersih Rp21,33 miliar. Karena itu, investor perlu memisahkan dua pertanyaan. Apakah restrukturisasi modal ini positif untuk fundamental BAJA? Potensinya ada. Apakah HMETD Rp500 menarik dieksekusi ketika saham induknya Rp264? Dengan harga saat ini, jawabannya secara ekonomi jauh lebih sulit.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa harga rights issue BAJA?
Berapa rasio rights issue BAJA?
Apakah menarik exercise rights BAJA jika harga saham Rp264?
Kapan perdagangan HMETD BAJA?
Untuk apa dana rights issue BAJA?
Berapa risiko dilusi jika tidak exercise?
Perhitungan Receh.in: Harga pelaksanaan Rp500 berada sekitar 89,39% di atas harga pasar Rp264. TERP mekanis dengan rasio 2:1 sekitar Rp342,67, tetapi bukan prediksi harga ex-right. Komitmen pembeli siaga 743,94 juta saham setara sekitar 82,66% dari maksimal penerbitan. Dalam skenario bruto seluruh Rp450 miliar masuk, ekuitas ilustratif dapat meningkat dari Rp42,68 miliar menjadi sekitar Rp492,68 miliar sebelum biaya emisi dan perubahan kinerja lainnya.
Catatan: Harga BAJA Rp264 merupakan posisi intraday pada 24 Agustus 2026 dan dapat berubah. Harga teoretis ex-right tidak menjamin harga pasar setelah ex-date. Perhitungan ekuitas proforma bersifat ilustratif dan bukan proyeksi laporan keuangan resmi perseroan.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli, menjual, menahan, atau melaksanakan HMETD BAJA. Investor perlu membaca prospektus final dan mempertimbangkan harga saham, risiko dilusi, likuiditas HMETD, fundamental serta toleransi risiko masing-masing.
0 Komentar