Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Pergantian pemegang saham pengendali di sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia mulai memasuki tahap berikutnya: mencari modal baru untuk membiayai ekspansi, akuisisi, hingga transformasi bisnis. Setelah proses perubahan kendali atau backdoor listing selesai, rights issue menjadi salah satu instrumen yang paling banyak dipilih.

Polanya terlihat pada PT Folago Global Nusantara Tbk. (IRSX), PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA), PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. (DPUM), dan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV). Besaran rencana pendanaan berbeda-beda, tetapi logikanya relatif serupa: memperkuat ekuitas tanpa menambah kewajiban bunga seperti utang bank atau obligasi.

Di antara nama-nama tersebut, IRSX membawa rencana paling besar dalam bahan yang diterima. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 12,39 miliar saham baru dan menargetkan dana sekitar Rp3,7 triliun. MEJA membidik Rp1 triliun–Rp2 triliun untuk mendukung akuisisi perusahaan batu bara, sedangkan DPUM menyiapkan rights issue untuk membiayai capex Rp100 miliar dan MGLV akan menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru untuk ekspansi data center.

Ringkasan
  • IRSX berencana rights issue maksimal 12,39 miliar saham dengan target dana Rp3,7 triliun untuk entertainment, talent management, media commerce dan AI.
  • MEJA menargetkan dana Rp1 triliun–Rp2 triliun, terutama untuk akuisisi PT Trimata Coal Perkasa dan modal kerja.
  • DPUM dan MGLV juga menyiapkan penambahan modal untuk ekspansi produksi perikanan dan data center, tetapi struktur final masing-masing aksi belum seluruhnya tersedia.

Rights Issue Jadi Babak Kedua Setelah Ganti Pengendali

Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan pemegang saham pengendali bukan akhir dari transformasi sebuah emiten. Justru setelah kendali berpindah, pekerjaan yang lebih berat biasanya dimulai: memasukkan aset atau bisnis baru, membiayai ekspansi, memperkuat modal kerja dan membangun skala usaha yang sesuai dengan narasi baru perusahaan.

Berbeda dengan perusahaan yang baru masuk bursa lewat IPO dan memperoleh dana segar pada saat pencatatan saham, emiten yang melakukan perubahan kendali melalui transaksi saham lama belum tentu menerima modal baru secara langsung ke kas perusahaan.

Karena itu, rights issue atau private placement dapat menjadi tahap lanjutan untuk memasukkan dana segar ke emiten.

Poin penting bagi investor: pergantian pengendali dan rights issue adalah dua peristiwa yang berbeda. Ganti pemilik dapat mengubah arah bisnis, tetapi baru penambahan modal yang benar-benar menambah ekuitas perusahaan apabila dana masuk ke perseroan.

Rights issue juga membawa konsekuensi yang harus diperhitungkan. Jika pemegang saham lama tidak mengeksekusi haknya, porsi kepemilikan mereka dapat terdilusi. Sebaliknya, jika dana baru benar-benar dipakai untuk aset atau bisnis produktif, peningkatan jumlah saham dapat diimbangi oleh kenaikan laba dan ekuitas di masa depan.

Emiten Rencana Aksi Target / Ukuran Tujuan Utama
IRSX Rights issue Maks. 12,39 miliar saham / target Rp3,7 T Entertainment, talent management, AI, media commerce
MEJA Rights issue Target Rp1 T–Rp2 T Akuisisi PT Trimata Coal Perkasa dan modal kerja
DPUM Rights issue, opsi obligasi Capex Rp100 miliar Modernisasi produksi, cold storage, ekspansi kapasitas
MGLV Rights issue Maks. 285,73 juta saham Memperkuat modal dan ekspansi data center

IRSX Bidik Rp3,7 Triliun, Dilusi Potensial Besar

PT Folago Global Nusantara Tbk. menjadi contoh paling agresif. IRSX berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,39 miliar saham baru. Jumlah tersebut disebut mewakili maksimal 66,67% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue.

Jika angka 66,67% tersebut terealisasi pada batas maksimal, artinya saham baru secara teoritis akan mewakili sekitar dua pertiga dari jumlah saham pascaaksi. Dengan demikian, pemegang saham lama yang tidak mengeksekusi HMETD berpotensi mengalami dilusi yang sangat besar.

IRSX sebelumnya bernama PT Aviana Sinar Abadi Tbk. dan dikuasai PT Mitra Digital Investindo. Kini PT Matra Tri Abadi menjadi pemegang saham pengendali baru dengan kepemilikan 63,94%.

12,39 M Maksimal saham baru IRSX
66,67% Porsi maksimal saham baru pasca-rights issue
Rp3,7 T Target dana IRSX
63,94% Kepemilikan PT Matra Tri Abadi

Direktur Utama Folago Global Subioto Jingga menjelaskan rights issue dipilih karena dinilai lebih efisien dibandingkan pendanaan berbasis utang, terutama ketika biaya pendanaan meningkat akibat kenaikan imbal hasil acuan.

PT Matra Tri Abadi juga disebut akan menjadi pembeli siaga. Namun bahan yang diterima belum memuat harga pelaksanaan final, rasio HMETD, jumlah dana pasti yang disetor pembeli siaga, maupun struktur kepemilikan setelah rights issue.

Dana hingga Rp3,7 triliun akan difokuskan untuk pengembangan bisnis perseroan dan anak usaha di bidang entertainment dan talent management, termasuk optimalisasi AI untuk pembuatan konten, media commerce dan entertainment.

Manajemen memproyeksikan tambahan modal tersebut mulai berdampak pada kinerja keuangan 2027. Namun proyeksi tersebut masih merupakan ekspektasi manajemen, bukan kinerja yang sudah terealisasi.

RUPSLB untuk meminta persetujuan atas aksi tersebut dijadwalkan pada 24 September 2026.

Yang paling penting pada IRSX bukan hanya besarnya dana. Investor perlu melihat harga rights issue, rasio HMETD, penggunaan dana secara rinci, berapa bagian yang benar-benar masuk ke bisnis produktif, dan apakah pertumbuhan laba 2027 cukup besar untuk mengimbangi kenaikan jumlah saham.

MEJA Masuk Batu Bara, DPUM dan MGLV Biayai Ekspansi

PT Harta Djaya Karya Tbk. membawa cerita berbeda. Perseroan menargetkan rights issue pada kuartal IV/2026 sebagai bagian dari transaksi akuisisi PT Trimata Coal Perkasa.

Pada RUPSLB 21 Agustus 2026, pemegang saham telah menyetujui peningkatan modal dasar MEJA dari Rp100 miliar menjadi Rp208,65 miliar. Persetujuan tersebut menjadi salah satu fondasi transformasi perusahaan, termasuk rencana mengubah kegiatan usaha menjadi perusahaan induk atau holding company.

MEJA menargetkan dana rights issue sebesar Rp1 triliun hingga Rp2 triliun. Dana akan digunakan untuk kebutuhan akuisisi TCP dan modal kerja.

Manajemen berharap konsolidasi TCP sebagai entitas anak dapat meningkatkan skala usaha, pendapatan, profitabilitas dan basis aset. Namun bahan yang diterima belum mencantumkan valuasi akuisisi TCP, jumlah saham baru, harga pelaksanaan, maupun proyeksi kontribusi laba TCP sehingga belum dapat dihitung apakah transaksi akan bersifat akretif terhadap EPS.

Untuk MEJA, pertanyaan kuncinya adalah valuasi. Besarnya aset dan pendapatan setelah akuisisi belum otomatis meningkatkan nilai pemegang saham apabila harga akuisisi terlalu tinggi atau pertambahan saham lebih cepat daripada pertumbuhan laba.

Sementara itu, DPUM memilih rights issue untuk mendukung capex sekitar Rp100 miliar pada 2026. Dana akan diarahkan pada modernisasi fasilitas produksi, peningkatan kapasitas pengolahan dan cold storage, efisiensi operasional serta penguatan rantai pasok.

Perseroan menargetkan volume produksi olahan perikanan sekitar 3.100 ton pada 2026. Selain rights issue, DPUM masih membuka kemungkinan menerbitkan obligasi.

Artinya, struktur pendanaan akhirnya masih dapat berupa kombinasi ekuitas dan utang. Komposisi finalnya penting karena akan menentukan besarnya potensi dilusi bagi pemegang saham sekaligus tambahan beban bunga perusahaan.

MGLV juga berencana menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru dengan nilai nominal Rp20 per saham. Dana akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi bisnis data center.

Harga pelaksanaan belum ditetapkan dan akan diumumkan dalam prospektus setelah mendapat persetujuan regulator. Perseroan dijadwalkan meminta persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB pada 3 September 2026.

Investor Jangan Hanya Terpaku pada Besarnya Dana Rights Issue

Rights issue sering terlihat menarik karena membawa angka dana triliunan dan narasi ekspansi baru. Namun dari sudut pandang pemegang saham, ukuran aksi saja tidak cukup.

Ada dua pertanyaan yang jauh lebih penting: berapa besar dilusi yang terjadi dan berapa besar laba baru yang dapat dihasilkan dari dana tersebut.

Yang Perlu Dicek Mengapa Penting
Harga pelaksanaan Menentukan diskon terhadap harga pasar dan besarnya dana yang diperoleh.
Rasio HMETD Menentukan kebutuhan dana pemegang saham lama untuk mempertahankan kepemilikan.
Potensi dilusi Menunjukkan penurunan porsi kepemilikan jika hak tidak ditebus.
Pembeli siaga Menentukan siapa yang menyerap sisa saham dan berpotensi mengubah struktur kontrol.
Penggunaan dana Membedakan ekspansi produktif, akuisisi, modal kerja, pembayaran utang atau tujuan lain.
Profitabilitas aset baru Menentukan apakah penambahan modal akhirnya meningkatkan laba per saham.
Valuasi transaksi Sangat penting jika dana rights issue dipakai untuk akuisisi.

Secara sederhana, rights issue yang besar dapat menghasilkan dua skenario yang sama-sama mungkin. Pertama, jumlah saham bertambah besar tetapi bisnis baru menghasilkan laba yang lebih besar lagi sehingga EPS dapat tumbuh. Kedua, jumlah saham melonjak sementara keuntungan bisnis baru tidak sesuai ekspektasi sehingga terjadi dilusi ekonomi.

Karena itu, narasi “tidak menambah utang” memang positif dari sisi leverage, tetapi belum otomatis berarti aksi tersebut menguntungkan pemegang saham. Pendanaan ekuitas tidak mempunyai beban bunga, tetapi mempunyai biaya berupa dilusi kepemilikan dan pembagian laba ke jumlah saham yang lebih banyak.

Pola ini terutama penting pada emiten yang baru mengalami pergantian pengendali. Pasar biasanya lebih dahulu memberikan valuasi terhadap ekspektasi bisnis baru, sedangkan kinerja fundamental riil baru terlihat setelah aset, modal dan kegiatan usaha benar-benar masuk dan terkonsolidasi.

Intinya: gelombang rights issue setelah pergantian pemegang saham pengendali menunjukkan bahwa backdoor listing hanyalah awal dari transformasi. IRSX membutuhkan modal untuk membangun bisnis entertainment dan AI, MEJA untuk akuisisi batu bara, DPUM untuk ekspansi produksi, dan MGLV untuk data center. Bagi investor, penentu akhirnya bukan siapa pemegang saham baru atau sebesar apa dana yang dihimpun, melainkan apakah modal baru mampu menghasilkan laba yang cukup untuk mengompensasi dilusi saham.

FAQ Rights Issue IRSX, MEJA, DPUM dan MGLV

Berapa target rights issue IRSX?
IRSX berencana menerbitkan maksimal 12,39 miliar saham baru yang mewakili sebanyak-banyaknya 66,67% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Perseroan menargetkan dana hingga sekitar Rp3,7 triliun.
Untuk apa dana rights issue IRSX digunakan?
Dana ditujukan untuk pengembangan bisnis perseroan dan anak usaha di bidang entertainment, talent management, pembuatan konten berbasis AI, media commerce dan entertainment.
Berapa target rights issue MEJA?
MEJA menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp1 triliun hingga Rp2 triliun. Dana terutama akan digunakan untuk mendukung akuisisi PT Trimata Coal Perkasa dan modal kerja.
Apa tujuan rights issue DPUM?
DPUM memprioritaskan rights issue untuk membiayai capex Rp100 miliar pada 2026 yang diarahkan pada modernisasi fasilitas produksi, peningkatan kapasitas pengolahan, cold storage, efisiensi operasional dan rantai pasok. Perseroan juga membuka opsi penerbitan obligasi.
Berapa saham baru yang akan diterbitkan MGLV?
MGLV merencanakan penerbitan maksimal 285,73 juta saham baru dengan nilai nominal Rp20 per saham. Harga pelaksanaan rights issue belum ditetapkan dalam bahan yang diterima.
Apakah rights issue selalu bagus untuk pemegang saham?
Tidak otomatis. Rights issue dapat memperkuat modal dan membiayai ekspansi, tetapi juga meningkatkan jumlah saham beredar. Dampak akhirnya tergantung pada harga pelaksanaan, besarnya dilusi, penggunaan dana dan kemampuan bisnis baru menghasilkan laba.
Mengapa emiten memilih rights issue dibandingkan utang?
Pendanaan melalui ekuitas tidak menimbulkan kewajiban pembayaran bunga dan pokok seperti utang. Namun konsekuensinya adalah potensi dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengikuti aksi tersebut.
Sumber: Informasi mengenai rencana aksi korporasi IRSX, MEJA, DPUM dan MGLV sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in, termasuk keterangan manajemen masing-masing perusahaan dan keterbukaan informasi yang dirujuk dalam bahan.

Perhitungan Receh.in: Untuk IRSX, porsi maksimal saham baru sebesar 66,67% pasca-rights issue menunjukkan potensi dilusi yang material apabila pemegang saham lama tidak mengeksekusi haknya. Artikel tidak menghitung harga teoritis ex-rights maupun EPS pascaaksi karena harga pelaksanaan, rasio HMETD dan rincian laba proforma belum tersedia dalam bahan.

Catatan: Rencana rights issue, jumlah dana, harga pelaksanaan, rasio HMETD, jadwal dan penggunaan dana masih dapat berubah mengikuti persetujuan pemegang saham, regulator dan prospektus final. Proyeksi peningkatan pendapatan atau laba yang disampaikan manajemen bukan kinerja yang sudah terealisasi.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham IRSX, MEJA, DPUM maupun MGLV. Investor perlu memeriksa prospektus final, potensi dilusi, penggunaan dana, valuasi transaksi dan kemampuan bisnis baru menghasilkan laba sebelum mengambil keputusan.