Nama Sugiman Halim mungkin tidak sepopuler Lo Kheng Hong di kalangan investor ritel, tetapi ukuran portofolio saham terbukanya sulit disebut kecil. Data kepemilikan efek di atas 5% per 26 Agustus 2026 menunjukkan pengusaha yang lama berkecimpung di bisnis infrastruktur telekomunikasi itu menjadi pemegang saham besar di tiga emiten Bursa Efek Indonesia: PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Global Sukses Digital Tbk. (DOSS), dan PT Newport Marine Services Tbk. (BOAT).
Posisi terbesarnya berada di BRMS. Sugiman menggenggam 10.568.888.888 saham atau 7,45% emiten tambang emas tersebut. Ia juga memiliki 172.083.800 saham DOSS atau 9,98% serta 369.910.200 saham BOAT atau 10,56%.
Jika ketiga posisi tersebut sekadar dihitung menggunakan harga saham 27 Agustus 2026, nilai pasarnya berada di kisaran Rp8 triliun. Hampir seluruhnya berasal dari BRMS. Namun angka tersebut hanya menggambarkan nilai pasar posisi yang diketahui publik, bukan modal yang dikeluarkan Sugiman ataupun keuntungan investasinya.
Jejaknya juga menarik karena berbeda dari tipikal investor yang sekadar muncul setelah saham naik. Sugiman sudah menjadi pemegang saham besar BRMS selama bertahun-tahun, kemudian pada 2024 masuk sebagai pemegang lebih dari 5% di DOSS dan BOAT ketika kedua perusahaan baru menjadi emiten publik.
- Sugiman Halim tercatat memiliki tiga saham di atas 5%: BRMS 7,45%, DOSS 9,98%, dan BOAT 10,56% berdasarkan data terbaru yang digunakan Receh.in.
- Nilai pasar indikatif ketiga posisi sekitar Rp8,01 triliun menggunakan harga 27 Agustus 2026, dan sekitar 99% nilainya berasal dari BRMS.
- Latar belakang Sugiman berada di industri telekomunikasi. Ia pernah menjadi Komisaris Centratama Telekomunikasi Indonesia dan lama menjabat Komisaris Utama PT MAC Sarana Djaya.
*Menggunakan jumlah saham berdasarkan data kepemilikan terbaru dan harga pasar 27 Agustus 2026. Bukan nilai modal investasi maupun keuntungan Sugiman Halim.
Siapa Sugiman Halim?
Dibandingkan investor besar lainnya, profil publik Sugiman Halim relatif tidak banyak diekspos. Jejak korporasinya justru lebih banyak ditemukan di industri infrastruktur telekomunikasi.
Laporan keuangan dan laporan tahunan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk. menunjukkan Sugiman pernah menjabat sebagai komisaris perusahaan tersebut. Ia masuk ke jajaran komisaris Centratama pada 2017 dan setidaknya masih tercatat sebagai komisaris pada 2020.
Riwayat yang dipublikasikan Centratama menyebut Sugiman sebelumnya menjadi Direktur PT Indoland Jaya Mandiri pada 2001–2002 dan kemudian menjabat sebagai Komisaris Utama PT MAC Sarana Djaya sejak 2002.
MAC Sarana Djaya bergerak di infrastruktur telekomunikasi, khususnya solusi jaringan di dalam gedung. Dengan demikian, sebelum namanya banyak dibicarakan sebagai investor saham, Sugiman telah memiliki pengalaman panjang di sektor telekomunikasi.
Ada satu bagian penting lain dalam sejarah bisnisnya. Pada 2016, Centratama menyepakati akuisisi PT Network Quality Indonesia atau NQI. Dokumen transaksi menyebut Sugiman Halim dan Muhammad Fitno sebagai pemegang saham penjual NQI.
Pada Januari 2017, Centratama kemudian menyelesaikan pembelian 614.999 saham NQI dari Sugiman dan Muhammad Fitno.
Jejak korporasinya menunjukkan latar sebagai pengusaha telekomunikasi dan pemegang saham perusahaan sebelum kemudian menjadi salah satu investor individu dengan kepemilikan cukup besar di sejumlah emiten BEI.
Karakter tersebut berbeda dengan figur stock influencer. Sugiman tidak dikenal luas karena aktif memberikan rekomendasi saham kepada publik. Namanya justru biasanya muncul ketika laporan KSEI atau keterbukaan emiten menunjukkan ia telah memiliki porsi saham yang cukup besar.
Tiga Saham Sugiman Halim: BRMS, DOSS, dan BOAT
Dalam data kepemilikan efek di atas 5% per 26 Agustus 2026, nama Sugiman hanya muncul pada tiga emiten. Seluruh posisi tersebut juga tidak berubah dibandingkan posisi 24 Agustus.
| Saham | Bisnis | Jumlah Saham | Kepemilikan | Perubahan 24–26 Agustus |
|---|---|---|---|---|
| BRMS | Tambang emas/mineral | 10.568.888.888 | 7,45% | 0 |
| DOSS | Ritel kamera & produk digital | 172.083.800 | 9,98% | 0 |
| BOAT | Jasa kapal offshore | 369.910.200 | 10,56% | 0 |
Menariknya, secara persentase BOAT justru menjadi posisi terbesar Sugiman dengan 10,56%. Akan tetapi, jika dihitung berdasarkan nilai pasar, BRMS jauh mendominasi.
Pada 27 Agustus 2026, BRMS diperdagangkan sekitar Rp750, DOSS sekitar Rp176, dan BOAT sekitar Rp145 per saham.
| Saham | Jumlah Saham | Harga 27 Agustus* | Nilai Pasar Indikatif |
|---|---|---|---|
| BRMS | 10,569 miliar | Rp750 | ~Rp7,93 triliun |
| DOSS | 172,08 juta | Rp176 | ~Rp30,29 miliar |
| BOAT | 369,91 juta | Rp145 | ~Rp53,64 miliar |
| Total | - | - | ~Rp8,01 triliun |
*Harga digunakan hanya untuk membuat ilustrasi nilai pasar pada satu titik waktu.
Nilai indikatif BRMS ≈ 10,5689 miliar × Rp750 = Rp7,93 triliun.
DOSS ≈ Rp30,29 miliar dan BOAT ≈ Rp53,64 miliar.
Total sekitar Rp8,01 triliun. BRMS menyumbang hampir 99% dari nilai tersebut.
Perhitungan ini tidak boleh dibaca sebagai kekayaan bersih Sugiman. Kita tidak mengetahui harga rata-rata pembelian saham, utang atau kewajiban terkait investasi, aset lain yang dimiliki, maupun apakah sebagian saham mempunyai pembatasan atau tujuan tertentu.
BRMS Jadi Taruhan Terbesar, DOSS dan BOAT Dibeli Sejak Awal
BRMS merupakan posisi yang paling lama dan paling material.
Pada akhir 2021, Sugiman sudah tercatat memiliki sekitar 8,38 miliar saham BRMS atau 6,49%. Kepemilikannya kemudian meningkat. Pada 2022 jumlahnya sempat mencapai sekitar 11,56 miliar saham atau 8,15%.
Per Desember 2023, kepemilikannya berada di sekitar 10,42 miliar saham atau 7,35%. Posisi terbaru kemudian menjadi 10,5689 miliar saham atau 7,45%.
Angka tersebut tidak berubah sepanjang beberapa laporan bulanan 2026, termasuk Maret dan Mei. Dengan kata lain, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir Sugiman terlihat lebih banyak mempertahankan posisi BRMS daripada melakukan transaksi besar.
Namun fundamental BRMS pada semester I/2026 justru sedang menghadapi tekanan. Pendapatan turun sekitar 20,7% menjadi US$95,79 juta, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk merosot 43,75% menjadi US$12,92 juta.
Harga emas yang tinggi belum otomatis diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba karena produksi dan kadar bijih masih menjadi kendala. Perseroan juga menghadapi peningkatan beban keuangan sejalan dengan ekspansi kapasitas.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas pabrik carbon-in-leach di Citra Palu Minerals dari 500 ton menjadi 2.000 ton per hari menjadi salah satu katalis yang diharapkan dapat memperbaiki volume produksi.
kepemilikan Sugiman yang besar tidak membuat kinerja perusahaan selalu tumbuh. Pada H1/2026, pendapatan dan laba BRMS justru turun meskipun harga emas global berada pada level tinggi.
DOSS dan BOAT mempunyai cerita yang berbeda. Sugiman muncul sebagai pemegang saham besar tak lama setelah keduanya melantai di bursa pada November 2024.
Per 15 November 2024, Sugiman tercatat memiliki sekitar 169,83 juta saham DOSS atau 9,85%. Posisi itu kemudian bertambah menjadi 172,08 juta saham atau 9,98%.
Artinya, jumlah saham DOSS yang diketahui dimiliki Sugiman naik sekitar 2,25 juta lembar sejak posisi tersebut pertama kali menarik perhatian publik.
Di BOAT, perubahannya jauh lebih besar. Pada pertengahan November 2024, kepemilikannya baru sekitar 213,40 juta saham atau 6,09%. Kini jumlahnya menjadi 369,91 juta saham atau 10,56%.
BOAT: 369,91 juta − 213,40 juta = sekitar 156,51 juta saham tambahan.
Porsi kepemilikan naik dari 6,09% menjadi 10,56%, atau bertambah sekitar 4,47 poin persentase.
Pola tersebut menunjukkan Sugiman bukan sekadar muncul sesaat sebagai investor IPO. Khusus BOAT, kepemilikannya justru meningkat cukup material setelah perusahaan menjadi emiten publik.
DOSS Tumbuh Kencang, BOAT Mulai Pulih, BRMS Menanti Produksi
Menariknya, tiga emiten dalam portofolio Sugiman mempunyai profil fundamental yang sangat berbeda.
DOSS sedang mencatat pertumbuhan paling kuat. Semester I/2026, pendapatan Global Sukses Digital melonjak sekitar 50,9% menjadi Rp579,7 miliar. Laba bersih naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp26,2 miliar dari Rp12,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA juga meningkat 109% menjadi Rp37 miliar. Neracanya relatif ringan dari sisi utang berbunga, dengan total utang jangka pendek dan panjang hanya sekitar Rp4,2 miliar pada akhir Juni menurut data laporan keuangan yang dirangkum Indo Premier.
DOSS mengoperasikan bisnis ritel produk fotografi, videografi, elektronik, dan perangkat digital. Pertumbuhannya menarik, tetapi marginnya tetap tergolong tipis. Net profit margin semester I berada sekitar 4,5%.
BOAT memperlihatkan pemulihan setelah kuartal pertama yang lemah. Pendapatan semester I/2026 mencapai Rp125,1 miliar, hanya naik 1,8% YoY. Laba bersih naik 19,2% menjadi Rp6,2 miliar.
Angka setengah tahun tersebut menutupi perbedaan besar antar-kuartal. Pada kuartal I, laba BOAT hanya sekitar Rp180 juta, kemudian bisnis membaik cukup tajam pada kuartal II.
BOAT bergerak di jasa kapal penunjang lepas pantai. Bisnis ini mempunyai barrier to entry berupa kapal dan hubungan dengan pelanggan, tetapi juga membutuhkan modal besar dan membawa risiko utilisasi armada serta leverage.
| Emiten | Pendapatan H1 2026 | Perubahan | Laba Bersih | Perubahan |
|---|---|---|---|---|
| DOSS | Rp579,7 M | +50,9% | Rp26,2 M | +111,3% |
| BOAT | Rp125,1 M | +1,8% | Rp6,2 M | +19,2% |
| BRMS | US$95,79 Juta | -20,7% | US$12,92 Juta | -43,75% |
Dengan demikian, sulit menemukan satu formula fundamental yang sama di balik ketiga saham Sugiman.
BRMS merupakan tambang emas yang membutuhkan investasi besar sebelum kapasitas produksi baru menghasilkan. DOSS merupakan retailer dengan pertumbuhan tinggi dan neraca relatif ringan. BOAT adalah perusahaan jasa maritim yang lebih padat modal.
Benang merah yang lebih terlihat justru pada besarnya keyakinan untuk memiliki porsi material. Sugiman tidak sekadar memegang beberapa juta saham sebagai posisi trading. Di ketiga perusahaan, kepemilikannya cukup besar hingga masuk dalam daftar pemegang saham di atas 5%.
Namun besarnya porsi tersebut tetap tidak memberi informasi tentang target harga ataupun horizon investasinya.
Sugiman Halim adalah pengusaha berlatar belakang telekomunikasi yang kini menjadi salah satu investor individu dengan portofolio saham terbuka cukup besar di BEI. Per 26 Agustus 2026, ia memiliki 7,45% BRMS, 9,98% DOSS, dan 10,56% BOAT. Menggunakan harga pasar 27 Agustus, nilai indikatif ketiga posisi mencapai sekitar Rp8,01 triliun dan hampir seluruhnya berasal dari BRMS. Namun ketiga bisnis mempunyai fundamental yang berbeda: DOSS sedang tumbuh pesat, BOAT mulai mencatat pemulihan, sedangkan BRMS masih menghadapi tekanan produksi dan laba. Kepemilikan investor besar dapat menjadi petunjuk untuk memulai riset, tetapi bukan pengganti analisis terhadap valuasi, laba, arus kas, utang, dan risiko bisnis masing-masing emiten.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Siapa Sugiman Halim?
Apa saja saham yang dimiliki Sugiman Halim di atas 5%?
Berapa saham BRMS yang dimiliki Sugiman Halim?
Berapa nilai portofolio saham Sugiman Halim?
Apakah Sugiman menambah saham DOSS dan BOAT setelah IPO?
Apakah saham milik Sugiman otomatis layak dibeli?
Perhitungan Receh.in: Dengan harga BRMS Rp750, DOSS Rp176 dan BOAT Rp145 pada 27 Agustus 2026, nilai pasar indikatif posisi Sugiman masing-masing sekitar Rp7,93 triliun, Rp30,29 miliar, dan Rp53,64 miliar, atau total sekitar Rp8,01 triliun.
Catatan: Nilai pasar bukan harga perolehan, keuntungan investasi, ataupun estimasi kekayaan bersih Sugiman Halim. Data kepemilikan dapat berubah setelah tanggal pencatatan.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual BRMS, DOSS, BOAT, maupun saham lainnya.

0 Komentar