JAKARTA — Prospek tiga emiten menara telekomunikasi terbesar, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL), PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG), dinilai masih positif hingga akhir 2026 seiring pertumbuhan trafik data, ekspansi jaringan operator, dan implementasi spektrum 700 MHz.
Namun peluang ketiganya tidak sepenuhnya sama. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menempatkan MTEL sebagai pilihan paling menarik untuk paruh kedua 2026, disusul TOWR yang semakin agresif di fiber dan infrastruktur digital. Sementara TBIG dinilai tetap memiliki fundamental kuat dan margin EBITDA tinggi, tetapi ruang pertumbuhannya relatif lebih moderat.
Ringkasan Eksekutif
- MTEL Jadi Pilihan Utama: Kedekatan dengan Telkomsel membuat Mitratel dinilai paling berpotensi menikmati ekspansi jaringan dan implementasi spektrum 700 MHz.
- TOWR Unggul di Diversifikasi: Pertumbuhan bisnis fiber dan infrastruktur digital memberi sumber pendapatan tambahan di luar penyewaan menara konvensional.
- TBIG Punya Margin Kuat: Fundamental dan profitabilitas TBIG tetap solid, tetapi peluang pertumbuhan dinilai lebih moderat dibanding MTEL dan TOWR.
- XLSmart Dua Sisi: Merger operator dapat menghasilkan investasi jaringan baru, tetapi dalam jangka pendek juga berpotensi memicu rasionalisasi dan penghentian sebagian tenancy yang tumpang tindih.
1. Mengapa Bisnis Menara Masih Bisa Tumbuh?
Pertumbuhan bisnis tower company pada dasarnya mengikuti kebutuhan operator telekomunikasi memperluas cakupan dan meningkatkan kapasitas jaringan.
Ketika konsumsi data naik, operator tidak selalu harus membangun menara baru. Salah satu pilihan yang lebih efisien adalah menambahkan perangkat pada menara yang sudah tersedia melalui skema kolokasi.
Menurut Sukarno, kondisi tersebut masih menjadi salah satu pendorong kinerja MTEL, TBIG, dan TOWR pada 2026. Trafik data yang terus meningkat mendorong operator seluler menambah kapasitas jaringan, sementara perusahaan menara memperoleh peluang dari pembangunan site baru maupun tambahan tenant.
Pertumbuhan tidak harus selalu datang dari pembangunan ribuan menara baru. Menambahkan tenant kedua atau ketiga ke menara yang sudah berdiri dapat memberikan economics yang menarik karena tambahan pendapatan dapat diperoleh tanpa tambahan biaya sebesar pembangunan site baru.
2. Tenancy Ratio Bisa Mengangkat Margin
Salah satu indikator terpenting dalam membaca perusahaan menara adalah tenancy ratio atau rata-rata jumlah penyewa pada setiap menara.
Semakin tinggi rasio tersebut, semakin banyak operator yang menggunakan aset menara yang sama.
Model ini memberikan operating leverage. Setelah menara dibangun dan biaya dasar seperti lahan, pemeliharaan, serta infrastruktur tersedia, penambahan satu tenant baru biasanya membutuhkan investasi tambahan yang lebih kecil dibandingkan membangun menara dari awal.
Karena itu, kenaikan tenancy ratio dapat mendorong pendapatan dan EBITDA dengan biaya incremental yang relatif lebih rendah.
| Pendorong | Dampak ke Bisnis Menara | Implikasi Finansial |
|---|---|---|
| Tenant Baru | Menara digunakan lebih banyak operator | Pendapatan recurring bertambah |
| Tenancy Ratio Naik | Utilisasi aset meningkat | Potensi margin membaik |
| Site Baru | Jaringan diperluas | Revenue tumbuh tetapi membutuhkan capex |
| Fiberisasi | Menara terhubung backhaul fiber | Sumber pendapatan tambahan |
3. Kenapa Spektrum 700 MHz Penting?
Salah satu katalis yang menjadi perhatian analis hingga akhir 2026 adalah implementasi spektrum 700 MHz.
Ketika operator memperoleh atau mengoptimalkan spektrum baru, jaringan perlu disiapkan agar dapat memanfaatkan frekuensi tersebut. Prosesnya dapat mencakup penambahan atau modernisasi perangkat radio, antena, transmisi, hingga kapasitas backhaul.
Bagi perusahaan menara, aktivitas tersebut dapat membuka peluang tambahan tenancy, amendment terhadap kontrak eksisting, kebutuhan fiber, maupun pembangunan infrastruktur pendukung.
Namun dampaknya tidak harus langsung muncul dalam satu kuartal. Monetisasi akan bergantung pada kecepatan operator melakukan rollout jaringan dan besarnya belanja modal yang dialokasikan.
4. MTEL Dinilai Paling Menarik
Untuk semester kedua 2026, Kiwoom Sekuritas menempatkan MTEL sebagai emiten menara dengan prospek paling menarik.
Alasan utamanya adalah posisi strategis Mitratel sebagai salah satu mitra utama Telkomsel. Hubungan tersebut membuat MTEL berpotensi memperoleh manfaat besar ketika Telkomsel memperluas dan memodernisasi jaringan.
Eksposur MTEL juga tidak lagi terbatas pada penyewaan menara. Perseroan telah mengembangkan jaringan fiber dan berbagai layanan infrastruktur digital, sehingga pertumbuhan dapat berasal dari lebih banyak sumber.
Pada 2025, bisnis fiber Mitratel bahkan mencatat pertumbuhan yang lebih cepat dibanding bisnis tower utama. Strategi perusahaan kini diarahkan menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi, bukan hanya pemilik menara.
Kombinasi skala menara besar, hubungan strategis dengan Telkomsel, fiberisasi, dan kebutuhan ekspansi 700 MHz menjadi alasan MTEL ditempatkan sebagai pilihan utama. Namun investor tetap perlu melihat apakah tambahan tenancy dan fiber mampu menghasilkan pertumbuhan yang cukup cepat dibandingkan kebutuhan capex.
5. TOWR Mengandalkan Fiber dan Infrastruktur Digital
TOWR berada di posisi berikutnya dalam preferensi Sukarno karena bisnisnya semakin terdiversifikasi.
Selain menara telekomunikasi konvensional, grup TOWR memperbesar eksposur terhadap jaringan fiber dan berbagai infrastruktur digital.
Strategi tersebut penting karena kebutuhan operator tidak berhenti pada lokasi untuk memasang BTS. Pertumbuhan trafik data juga membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi dari menara menuju jaringan inti.
Fiber karena itu dapat menjadi bisnis komplementer terhadap menara.
Ketika satu pelanggan menggunakan menara sekaligus jaringan fiber milik penyedia yang sama, peluang monetisasi per pelanggan dapat meningkat.
6. TBIG Punya Keunggulan pada Profitabilitas
TBIG tetap dinilai memiliki fundamental solid dan margin EBITDA yang sangat kuat.
Karakter tersebut memberikan TBIG kemampuan menghasilkan arus kas dari aset menara yang sudah matang. Semakin tinggi utilisasi dan tenancy, semakin menarik ekonomi unit aset yang dimiliki.
Namun Kiwoom melihat ruang pertumbuhan TBIG relatif lebih moderat dibandingkan MTEL dan TOWR.
Di sisi lain, fundamental yang matang tidak selalu merupakan kelemahan. Untuk investor yang lebih memprioritaskan kualitas recurring revenue dan margin dibanding pertumbuhan agresif, profil TBIG tetap relevan.
| Emiten | Kekuatan Utama | Katalis | Hal yang Perlu Dicermati |
|---|---|---|---|
| MTEL | Skala besar & posisi dengan Telkomsel | 700 MHz, tenancy, fiber | Monetisasi capex & pertumbuhan tenancy |
| TOWR | Diversifikasi fiber & digital infra | Fiberisasi dan kebutuhan data | Capex dan return investasi fiber |
| TBIG | Margin EBITDA tinggi & aset matang | Kolokasi & modernisasi BTS | Pertumbuhan lebih moderat & rasionalisasi tenancy |
7. Merger XLSmart Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua
Konsolidasi XL Axiata dan Smartfren menjadi PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) menambah satu variabel penting dalam industri tower.
Menurut Sukarno, operator yang lebih besar dan memiliki kapasitas finansial lebih kuat dapat meningkatkan investasi jaringan, sehingga membuka peluang kolokasi maupun modernisasi BTS.
Argumen tersebut masuk akal untuk jangka menengah. XLSmart memiliki kebutuhan memperkuat jaringan setelah menggabungkan basis pelanggan dan aset jaringan dua operator.
Namun investor perlu memahami bahwa efek merger tidak selalu positif sejak hari pertama.
Ketika dua operator bergabung, sebagian lokasi BTS dapat memiliki cakupan yang tumpang tindih. Operator baru dapat memilih mempertahankan site tertentu sekaligus menghentikan site lain yang dianggap tidak lagi efisien.
TBIG, misalnya, sebelumnya menyampaikan bahwa penambahan tenancy bersih pada kuartal I/2026 terdampak oleh tidak diperpanjangnya sebagian tenancy dari XLSmart. Pada saat yang sama, perusahaan tetap melihat permintaan underlying terhadap site baru dan kolokasi masih positif.
Keduanya bisa terjadi. Dalam jangka pendek terdapat risiko decommissioning atau non-renewal akibat jaringan yang tumpang tindih. Dalam jangka menengah, operator hasil merger yang lebih besar dapat kembali meningkatkan belanja jaringan untuk memperluas cakupan, meningkatkan kapasitas, dan mengintegrasikan jaringan.
8. Pertumbuhan Berikutnya Tidak Hanya dari Menara
Model bisnis tower company Indonesia mulai berubah. Pertumbuhan tidak lagi hanya dihitung dari jumlah menara dan tenant.
Fiber optic, distributed antenna system atau DAS, small cell, dan berbagai solusi infrastruktur jaringan mulai menjadi sumber revenue tambahan.
Perubahan ini mengikuti arsitektur jaringan telekomunikasi yang semakin kompleks. Kebutuhan data berkecepatan tinggi di gedung, pusat perbelanjaan, kawasan industri, transportasi publik, dan kawasan padat membutuhkan solusi yang tidak selalu dapat dipenuhi hanya dengan menara makro.
Karena itu, perusahaan yang memiliki kombinasi tower dan fiber memiliki peluang melakukan cross-selling kepada operator.
| Bisnis | Fungsi | Peluang Monetisasi |
|---|---|---|
| Macro Tower | Cakupan jaringan luas | Sewa site & kolokasi |
| Fiber Optic | Backhaul kapasitas tinggi | Sewa jaringan & konektivitas |
| DAS | Coverage di dalam gedung | Indoor connectivity |
| Small Cell | Menambah kapasitas area padat | Network densification |
| Managed Services | Pengelolaan infrastruktur | Recurring service revenue |
9. Apa Risiko Saham Menara?
Meski memiliki model pendapatan berulang, bisnis menara bukan tanpa risiko.
Pertama adalah konsolidasi pelanggan. Jumlah operator yang semakin sedikit dapat memperbesar daya tawar penyewa terhadap tower company.
Kedua, rasionalisasi jaringan dapat menyebabkan kontrak tertentu tidak diperpanjang.
Ketiga adalah kebutuhan modal. Ekspansi fiber, pembangunan site, dan akuisisi aset membutuhkan capex yang besar. Jika dibiayai utang, investor perlu mencermati leverage dan biaya bunga.
Keempat, pertumbuhan trafik data tidak otomatis menghasilkan penambahan jumlah menara dengan kecepatan yang sama. Operator dapat meningkatkan kapasitas melalui teknologi, spektrum tambahan, atau modernisasi peralatan pada site yang sudah ada.
Karena itu, faktor yang paling relevan adalah kemampuan masing-masing perusahaan mengubah pertumbuhan data menjadi tambahan tenancy dan pendapatan.
10. MTEL vs TOWR vs TBIG, Mana yang Lebih Menarik?
Berdasarkan pandangan Kiwoom Sekuritas, urutan prospek untuk paruh kedua 2026 adalah MTEL, kemudian TOWR, dan TBIG.
Namun pemeringkatan tersebut lebih mencerminkan potensi pertumbuhan bisnis dan katalis daripada penilaian murah atau mahalnya harga saham.
MTEL menawarkan exposure kuat terhadap ekspansi Telkomsel dan 700 MHz. TOWR menawarkan diversifikasi melalui fiber. TBIG menawarkan karakter aset yang matang dan profitabilitas tinggi.
Untuk menentukan saham mana yang paling menarik sebagai investasi, investor masih perlu menggabungkan prospek operasional tersebut dengan valuasi saham, leverage, yield, pertumbuhan laba, serta kebutuhan capex.
Perusahaan dengan pertumbuhan paling cepat belum tentu menjadi investasi paling menarik apabila valuasinya sudah terlalu mahal. Sebaliknya, perusahaan dengan pertumbuhan lebih lambat dapat menarik apabila harga saham memberikan margin of safety yang lebih besar.
11. Indikator yang Perlu Dipantau sampai Akhir 2026
Investor saham menara setidaknya perlu mengikuti lima indikator selama semester II.
Pertama, perkembangan tenancy ratio. Kenaikan rasio ini menunjukkan utilisasi aset yang semakin baik.
Kedua, penambahan tenancy bersih setelah efek rasionalisasi XLSmart.
Ketiga, perkembangan rollout spektrum 700 MHz dan belanja modal operator seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.
Keempat, pertumbuhan bisnis fiber dan infrastruktur digital non-tower.
Kelima, leverage dan biaya pendanaan. Bisnis menara memiliki aset jangka panjang dan umumnya menggunakan utang, sehingga perubahan bunga dapat berpengaruh terhadap laba bersih.
| Indikator | Sinyal Positif | Sinyal yang Perlu Diwaspadai |
|---|---|---|
| Tenancy Ratio | Terus meningkat | Stagnan atau turun |
| Net Tenancy Addition | Order baru melebihi non-renewal | Decommissioning tinggi |
| 700 MHz Rollout | Operator mempercepat capex | Implementasi tertunda |
| Fiber | Revenue tumbuh dan utilisasi naik | Capex naik tanpa monetisasi |
| Leverage | Utang terjaga dan EBITDA naik | Biaya bunga meningkat cepat |
Fundamental sektor menara masih ditopang pertumbuhan trafik data, kebutuhan kolokasi, rollout spektrum 700 MHz, dan ekspansi fiber. Kiwoom menempatkan MTEL sebagai pilihan utama untuk semester II/2026 karena posisi strategisnya terhadap Telkomsel, disusul TOWR dengan diversifikasi fiber, sementara TBIG tetap unggul dari sisi margin tetapi memiliki profil pertumbuhan lebih moderat. Yang perlu dicermati adalah dampak konsolidasi XLSmart: rasionalisasi jaringan dapat menekan tenancy dalam jangka pendek, sebelum investasi jaringan baru berpotensi menjadi katalis pada fase berikutnya.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Saham menara apa yang paling menarik menurut Kiwoom Sekuritas?
Mengapa MTEL dinilai menarik?
Apa keunggulan TOWR?
Apa keunggulan TBIG?
Apakah merger XLSmart positif bagi saham menara?
Mengapa spektrum 700 MHz positif bagi emiten menara?
Apa indikator terpenting untuk menilai emiten menara?
Catatan: Pemeringkatan MTEL, TOWR, dan TBIG dalam artikel ini mengikuti pandangan analis Kiwoom Sekuritas yang menjadi sumber utama. Artikel juga membedakan potensi positif investasi jaringan pascamerger XLSmart dengan risiko jangka pendek berupa rasionalisasi tenancy. Data rinci kinerja semester I/2026 untuk seluruh perusahaan tidak tersedia dalam bahan utama sehingga tidak dibuat perbandingan angka yang tidak didukung sumber.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi pasar modal. Pandangan mengenai prospek MTEL, TOWR, dan TBIG bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual saham. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, risiko, dan kondisi keuangan masing-masing perusahaan sebelum mengambil keputusan.

0 Komentar