Daftar IsiTampilkan


JAKARTA 
— Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2026 menjadi 6.800 seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, suku bunga yang tetap tinggi, serta meningkatnya kebutuhan investor untuk lebih selektif memilih saham.

Target tersebut menarik jika disandingkan dengan posisi pasar terbaru. IHSG pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, ditutup di 6.482,57. Artinya, jika indeks benar-benar mencapai 6.800 pada akhir tahun, ruang kenaikannya dari level penutupan tersebut tinggal sekitar 4,9%. Angka ini berbeda dengan potensi kenaikan 11,3% yang disebut dalam proyeksi Mirae karena tampaknya menggunakan titik acuan IHSG yang lebih rendah.

3 Poin Penting

  • Mirae memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 6.800 dengan asumsi valuasi P/E 10,1 kali, sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
  • Skenario makronya cukup konservatif: pertumbuhan ekonomi 4,8%, BI Rate 6%, rupiah Rp18.000 per dolar AS, dan yield SBN 10 tahun 7,50% pada akhir 2026.
  • Pasar dinilai memasuki fase lebih selektif. Mirae memilih BBCA, BRIS, TLKM, EXCL, CMRY, ADRO, JPFA, dan INKP dengan fokus pada pricing power, ketahanan margin, neraca sehat, dan visibilitas laba.
6.800 Target IHSG Akhir 2026
4,8% Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
6,0% Proyeksi BI Rate
Rp18.000 Proyeksi Rupiah/US$

1. Mirae Turunkan Target IHSG ke 6.800

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan penyesuaian target IHSG mencerminkan perubahan asumsi makroekonomi dan meningkatnya risiko yang dihadapi pasar saham Indonesia.

Dalam skenario dasar, Mirae memproyeksikan IHSG mencapai 6.800 pada akhir 2026. Target tersebut dibangun menggunakan asumsi price to earnings ratio (P/E) 10,1 kali, yang disebut sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Penggunaan multiple yang berada jauh di bawah rata-rata historis menunjukkan Mirae belum memasukkan asumsi rerating agresif ke dalam target tersebut. Dengan kata lain, pasar masih diberi diskon untuk mencerminkan risiko makro, fiskal, dan ketidakpastian laba emiten.

2. Dari IHSG 6.482, Upside ke 6.800 Tinggal 4,9%

Ada satu angka yang perlu dibaca hati-hati. Mirae menyebut target 6.800 memberikan potensi kenaikan sekitar 11,3%.

Namun IHSG pada 18 Agustus 2026 sudah ditutup di 6.482,57. Jika level penutupan tersebut digunakan sebagai basis, potensi kenaikan menuju 6.800 hanya sekitar 4,90%.

Perhitungan Level IHSG Potensi ke 6.800
Posisi 18 Agustus 2026 6.482,57 ~4,90%
Basis implisit untuk upside 11,3%* ~6.110 ~11,3%

*Perhitungan Receh.in. Level sekitar 6.110 merupakan angka implisit jika target 6.800 benar-benar merepresentasikan upside 11,3%. Bahan sumber tidak menjelaskan tanggal atau level IHSG yang digunakan Mirae sebagai basis perhitungan tersebut.

Kenapa ini penting?
Target indeks harus selalu dibaca bersama tanggal acuannya. Target 6.800 bisa terlihat menawarkan upside dua digit ketika IHSG berada dekat 6.100, tetapi setelah indeks naik ke 6.482, ruang kenaikan matematisnya mengecil menjadi sekitar 4,9%.

3. Mirae Proyeksikan Ekonomi Tumbuh Hanya 4,8%

Salah satu dasar sikap lebih hati-hati tersebut adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8% pada akhir 2026.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dapat memengaruhi pasar melalui berbagai jalur: permintaan domestik, pertumbuhan kredit, konsumsi masyarakat, hingga kemampuan perusahaan menaikkan pendapatan dan laba.

Dalam lingkungan seperti ini, pertumbuhan laba tidak akan tersebar merata. Emiten yang masih memiliki kemampuan menaikkan harga, mempertahankan margin, atau mengembangkan volume tanpa menambah beban keuangan terlalu besar berpotensi lebih menarik.

4. BI Rate Diperkirakan Bertahan Tinggi di 6%

Mirae memperkirakan BI Rate berada di 6% pada akhir 2026. Bank Indonesia dinilai sudah mendekati terminal rate, meskipun masih terdapat risiko kenaikan tambahan 25 basis poin.

Yang berubah adalah orientasi kebijakannya. Setelah sebelumnya perhatian besar diarahkan pada stabilitas nilai tukar, bauran kebijakan mulai dinilai bergerak menuju dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Perubahan tersebut penting bagi pasar saham karena tingkat suku bunga memengaruhi biaya pendanaan perusahaan, pertumbuhan kredit, valuasi saham, serta daya tarik relatif saham dibandingkan obligasi dan deposito.

Namun proyeksi BI Rate 6% juga menunjukkan Mirae belum mengasumsikan lingkungan uang murah dalam waktu dekat.

5. Rupiah Diproyeksikan Rp18.000 per Dolar AS

Mirae memproyeksikan nilai tukar rupiah berada sekitar Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026.

Asumsi tersebut menunjukkan tekanan eksternal belum dianggap sepenuhnya hilang. Meski demikian, Mirae melihat sensitivitas rupiah terhadap yield nominal mulai berkurang.

Risiko dari Federal Reserve juga dinilai lebih terkendali. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September disebut telah menurun, sementara indeks dolar AS atau DXY yang berada di bawah 100 membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Tetapi stabilisasi rupiah tetap penting. Pelemahan yang tajam dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi, menahan ruang kebijakan BI, dan memengaruhi perusahaan dengan beban biaya atau utang dalam dolar AS.

6. Yield SBN 10 Tahun Diperkirakan 7,50%

Untuk pasar obligasi, Mirae memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada di 7,50% pada akhir tahun.

Asumsi ini cukup menarik karena yield SBN 10 tahun sebelumnya sempat turun ke kisaran 7,15%. Artinya, Mirae tidak mengasumsikan reli obligasi akan terus berlangsung tanpa hambatan.

Permintaan perbankan memang menjadi salah satu faktor yang menopang pasar SBN. Namun peningkatan penyaluran kredit serta kebutuhan penerbitan bersih obligasi pemerintah dapat membatasi ruang penurunan yield lebih jauh.

Asumsi Mirae Akhir 2026 Proyeksi
IHSG 6.800
Pertumbuhan Ekonomi 4,8%
BI Rate 6,0%
USD/IDR Rp18.000
Yield SBN 10 Tahun 7,50%
P/E Target IHSG 10,1x

7. Setelah Makro, Pasar Akan Lebih Banyak Melihat Fiskal

Menurut Mirae, faktor domestik akan semakin menentukan arah pasar pada sisa 2026. Salah satu yang paling penting adalah eksekusi fiskal.

Investor perlu memantau realisasi defisit pada semester II dan besarnya penerbitan bersih SBN. Keduanya berkaitan karena pelebaran kebutuhan pembiayaan pemerintah dapat meningkatkan pasokan surat utang di pasar.

Di satu sisi, fiskal yang lebih ekspansif dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan yang terlalu besar dapat menciptakan tekanan pada yield obligasi dan persepsi risiko.

Karena itu, bukan hanya besar belanja pemerintah yang penting, tetapi juga kualitas belanja, kemampuan pendapatan negara mengejar target, dan kredibilitas pembiayaannya.

8. Era “Semua Saham Naik” Makin Sulit

Pesan utama dalam outlook Mirae justru terletak pada perubahan karakter pasar.

Ketika tekanan makro mulai mereda, investor tidak lagi cukup membeli saham hanya karena rupiah stabil atau risiko eksternal menurun. Fokus bergeser ke kemampuan masing-masing perusahaan menghasilkan laba.

Mirae menilai investor perlu memprioritaskan perusahaan yang mempunyai pricing power, ketahanan margin, neraca sehat, dan visibilitas pertumbuhan laba pada semester II/2026.

Dengan kata lain, peluang tetap ada, tetapi distribusinya kemungkinan tidak merata.

Dari Macro Trade ke Earnings Trade:
Ketika seluruh pasar sedang tertekan oleh satu faktor makro, perbaikan faktor tersebut dapat mengangkat banyak saham sekaligus. Setelah fase itu berlalu, perbedaan kualitas laba, neraca, dan valuasi antarperusahaan biasanya kembali menjadi penentu utama.

9. Risiko MSCI Mereda Menurut Mirae, November Tetap Penting

Mirae juga menilai risiko terkait MSCI menjadi lebih terkendali. Dalam pandangan mereka, risiko reklasifikasi Indonesia dari kelompok emerging market telah mereda, meskipun belum sepenuhnya hilang.

Pernyataan tersebut perlu ditempatkan sebagai pandangan Mirae, bukan keputusan MSCI bahwa risiko tersebut telah selesai.

November 2026 tetap menjadi titik pemantauan penting. Investor masih perlu melihat perkembangan isu aksesibilitas pasar, free float, investability, dan langkah lanjutan MSCI terhadap pasar Indonesia.

Karena itu, skenario perubahan klasifikasi tidak tepat diperlakukan sebagai keputusan yang sudah terjadi. Untuk saat ini, yang lebih relevan adalah bagaimana proses evaluasi berikutnya berkembang.

10. Delapan Saham Pilihan Mirae Asset

Dalam pasar yang semakin selektif, Mirae memilih delapan saham dari sektor perbankan, telekomunikasi, consumer, energi, peternakan, hingga pulp and paper.

Ticker Emiten Sektor/Exposure
BBCA Bank Central Asia Perbankan
BRIS Bank Syariah Indonesia Perbankan Syariah
TLKM Telkom Indonesia Telekomunikasi
EXCL XLSmart Telecom Sejahtera Telekomunikasi
CMRY Cisarua Mountain Dairy Consumer
ADRO Alamtri Resources Indonesia Energi
JPFA Japfa Comfeed Indonesia Poultry & Consumer
INKP Indah Kiat Pulp & Paper Pulp & Paper

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa Mirae tidak bertumpu pada satu tema tunggal. Ada bank dengan basis dana murah, telekomunikasi, consumer staples, komoditas, hingga perusahaan yang memiliki eksposur pada permintaan global.

Namun masuknya suatu saham dalam daftar pilihan sekuritas bukan berarti harga saham tersebut pasti meningkat. Harga masuk, valuasi, kinerja laba berikutnya dan perubahan kondisi makro tetap menentukan hasil investasi.

11. Mengapa BBCA, BRIS, TLKM dan EXCL Menarik Dicermati?

Dua bank masuk dalam pilihan Mirae, yakni BBCA dan BRIS. Secara umum, sektor perbankan akan sensitif terhadap arah suku bunga, likuiditas, pertumbuhan kredit, kualitas aset dan biaya dana.

Di sektor telekomunikasi, Mirae memasukkan TLKM dan EXCL. Keduanya menawarkan eksposur berbeda terhadap perubahan struktur industri telekomunikasi Indonesia.

EXCL sedang berada dalam fase pascamerger XLSMART. Semester I/2026 menunjukkan pendapatan dan EBITDA tumbuh kuat, sementara perusahaan meningkatkan belanja modal untuk mempercepat integrasi serta pemanfaatan spektrum.

Sementara TLKM memiliki karakter berbeda dengan basis bisnis telekomunikasi besar, infrastruktur digital, serta profil dividen yang selama ini menjadi salah satu perhatian investor.

Meski demikian, alasan detail pemilihan masing-masing saham tidak dijabarkan dalam bahan sumber ini sehingga tidak tepat mengasumsikan target harga atau katalis spesifik yang tidak disampaikan Mirae.

12. Target 6.800 Bukan Berarti IHSG Akan Bergerak Lurus ke Sana

Target indeks merupakan hasil model berdasarkan asumsi mengenai laba emiten, valuasi, ekonomi, suku bunga dan sejumlah variabel lain. Ia bukan angka yang harus dicapai pasar.

Yang menarik justru jarak target terhadap posisi saat ini. Dengan IHSG sudah berada di 6.482,57, level 6.800 hanya sekitar 317 poin lebih tinggi.

Ruang kenaikan indeks yang lebih terbatas membuat pemilihan saham menjadi semakin penting. Investor bisa saja menghadapi kondisi IHSG hanya naik beberapa persen hingga akhir tahun, tetapi perbedaan return antar-saham sangat lebar.

Hal itu sejalan dengan pesan utama Mirae: fase berikutnya akan lebih bergantung pada kualitas laba dan fundamental individual perusahaan dibandingkan sekadar perbaikan makro secara luas.

Bottom Line:
Mirae Asset memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 6.800 dengan asumsi yang relatif konservatif: ekonomi tumbuh 4,8%, BI Rate 6%, rupiah Rp18.000 per dolar AS, yield SBN 10 tahun 7,50%, dan valuasi indeks 10,1 kali P/E. Dari posisi IHSG 6.482,57 pada 18 Agustus, target tersebut hanya menyisakan upside sekitar 4,9%, bukan 11,3%. Ini memperkuat pesan bahwa peluang sampai akhir tahun kemungkinan lebih bergantung pada stock picking daripada sekadar mengejar kenaikan indeks. BBCA, BRIS, TLKM, EXCL, CMRY, ADRO, JPFA, dan INKP menjadi delapan saham pilihan Mirae dalam skenario tersebut.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa target IHSG Mirae Asset untuk akhir 2026?
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menargetkan IHSG berada di level 6.800 pada akhir 2026 dalam skenario dasar.
Berapa potensi kenaikan IHSG ke 6.800?
Mirae menyebut potensi sekitar 11,3% berdasarkan titik acuan yang digunakan dalam risetnya. Namun dari posisi penutupan IHSG 18 Agustus 2026 di 6.482,57, potensi kenaikan menuju 6.800 hanya sekitar 4,9%.
Berapa prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menurut Mirae?
Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8% pada akhir 2026.
Berapa proyeksi BI Rate akhir 2026?
Mirae memperkirakan BI Rate berada di level 6% pada akhir 2026, meskipun masih melihat kemungkinan kenaikan tambahan 25 basis poin.
Berapa prediksi rupiah akhir 2026?
Mirae memproyeksikan nilai tukar rupiah sekitar Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026.
Apa saja saham pilihan Mirae Asset?
Saham pilihan utama Mirae terdiri dari BBCA, BRIS, TLKM, EXCL, CMRY, ADRO, JPFA, dan INKP.
Apa yang menjadi faktor penting IHSG hingga akhir tahun?
Mirae menyoroti eksekusi fiskal, likuiditas perbankan, penerbitan bersih SBN, stabilitas rupiah, serta kualitas laba emiten. Untuk pemilihan saham, perusahaan menekankan pricing power, ketahanan margin, kesehatan neraca dan visibilitas pertumbuhan.
Sumber: Outlook pasar PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang disampaikan Head of Research & Chief Economist Rully Arya Wisnubroto pada 18 Agustus 2026.

Perhitungan Receh.in: Target IHSG 6.800 dibandingkan penutupan 18 Agustus 2026 di 6.482,57 memberikan potensi kenaikan sekitar 4,90%. Klaim upside 11,3% dalam bahan mengimplikasikan basis IHSG sekitar 6.110; sumber tidak menjelaskan tanggal acuan perhitungan tersebut.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Target indeks dan pilihan saham dari sekuritas merupakan proyeksi yang dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi, pasar dan kinerja emiten.