Receh.in — Empat bank jumbo penghuni Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti atau KBMI IV sama-sama membukukan kinerja positif pada semester I/2026, tetapi kekuatan masing-masing berbeda. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) masih menjadi pencetak laba terbesar dengan Rp31,18 triliun, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat pertumbuhan laba paling tinggi sebesar 24,4% secara tahunan.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menyusul dengan laba bersih Rp29,5 triliun dan mempertahankan keunggulan dana murah dengan porsi CASA sekitar 84,3% dari DPK. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menjadi bank dengan ekspansi kredit paling agresif, tumbuh 24,38% YoY menjadi Rp968,53 triliun.
Perbandingan ini menunjukkan tidak ada satu bank yang unggul di semua indikator. BRI memimpin laba absolut, Mandiri unggul dalam momentum pertumbuhan dan kualitas aset, BCA kuat di struktur pendanaan, sedangkan BNI mencatat ekspansi neraca paling agresif. Bagi investor, pertanyaannya bukan hanya siapa paling besar, tetapi bank mana yang mampu mengubah pertumbuhan menjadi laba berkualitas tanpa mengorbankan margin, likuiditas, dan kualitas kredit.
- BRI mencetak laba terbesar Rp31,18 triliun, tetapi Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba paling tinggi sebesar 24,4% YoY.
- BNI mencatat pertumbuhan kredit tertinggi 24,38%, tetapi ekspansi tersebut dibarengi penurunan NIM dan kenaikan impairment.
- BCA mempertahankan CASA sekitar 84,3%, sementara Bank Mandiri menjaga NPL hanya 0,98%, terendah di antara rasio yang disebut dalam bahan.
Siapa Paling Unggul di Antara BRI, Mandiri, BCA, dan BNI?
Jika diurutkan berdasarkan laba bersih, BRI masih berada di posisi pertama dengan Rp31,18 triliun. Bank Mandiri menyusul sangat dekat dengan laba Rp30,4 triliun, lalu BCA Rp29,5 triliun dan BNI Rp10,80 triliun.
Selisih laba BRI dan Bank Mandiri hanya sekitar Rp780 miliar. Sementara selisih Bank Mandiri dan BCA sekitar Rp900 miliar. Dengan demikian, tiga bank teratas berada dalam jarak laba yang relatif sempit dibandingkan skala keuntungan mereka.
Namun, dari sisi momentum, Bank Mandiri justru paling menonjol. Laba tumbuh 24,4% YoY, lebih tinggi dibandingkan BRI 17,5% dan BNI 6,33%. Bahan yang tersedia tidak menyebutkan persentase pertumbuhan laba BCA sehingga tidak tepat jika Receh.in membuat perbandingan pertumbuhan penuh untuk keempat bank.
| Bank | Laba Bersih 1H26 | Pertumbuhan Laba | Kekuatan Utama |
|---|---|---|---|
| BRI | Rp31,18 T | +17,5% | Laba absolut terbesar |
| Bank Mandiri | Rp30,4 T | +24,4% | Pertumbuhan laba tertinggi |
| BCA | Rp29,5 T | Tidak disebut | CASA sangat tinggi |
| BNI | Rp10,80 T | +6,33% | Pertumbuhan kredit tertinggi |
BRI dan Mandiri: Laba Besar, tapi Mesin Pertumbuhannya Berbeda
BRI membukukan laba bersih Rp31,18 triliun, naik 17,5% dari Rp26,53 triliun pada semester I/2025.
Pendapatan bunga bersih konsolidasian mencapai Rp80,53 triliun, meningkat 9,9% dari Rp73,27 triliun. Pertumbuhan NII tersebut didukung kombinasi pendapatan bunga yang naik 5,4% menjadi Rp107,92 triliun dan beban bunga yang justru turun 5,9% menjadi Rp27,39 triliun.
| BRI | 1H2025 | 1H2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Laba bersih | Rp26,53 T | Rp31,18 T | +17,5% |
| Pendapatan bunga bersih | Rp73,27 T | Rp80,53 T | +9,9% |
| Pendapatan bunga | Rp102,37 T | Rp107,92 T | +5,4% |
| Beban bunga | Rp29,10 T | Rp27,39 T | -5,9% |
| Impairment | Rp23,27 T | Rp25,51 T | +9,5% |
Perbaikan beban bunga menjadi salah satu aspek positif karena kenaikan NII lebih cepat daripada pendapatan bunga bruto. Artinya, efisiensi biaya dana membantu memperlebar pendapatan bunga bersih.
Namun, tekanan belum sepenuhnya hilang. Impairment naik 9,5% menjadi Rp25,51 triliun, sementara beban lainnya melonjak 46% menjadi Rp65,60 triliun.
Meski demikian, laba operasional masih tumbuh 14,8% menjadi Rp40,17 triliun. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan inti masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan sebagian beban.
Bank Mandiri mempunyai komposisi pertumbuhan yang berbeda. Laba bersih naik 24,4% menjadi Rp30,4 triliun, ditopang DPK yang tumbuh 17,1% dan kredit yang meningkat 19,9% YoY.
NII Bank Mandiri juga disebut tetap tumbuh sekitar 8%, sementara pendapatan berbasis komisi mendapatkan dukungan kuat dari kanal digital dan treasury.
| Indikator Bank Mandiri | Kinerja |
|---|---|
| Laba bersih | Rp30,4 T |
| Pertumbuhan laba | +24,4% YoY |
| Pertumbuhan kredit | +19,9% YoY |
| Pertumbuhan DPK | +17,1% YoY |
| NII | +8% |
| NPL | 0,98% |
| Coverage ratio | 242% |
| Cost of credit | 0,52% |
Fee dari Livin' by Mandiri tumbuh 46%, Kopra by Mandiri 22,8%, sedangkan fee transaksi treasury naik 23%.
Kombinasi pertumbuhan volume bisnis, NII, fee income, serta NPL di bawah 1% membuat kualitas pertumbuhan Bank Mandiri terlihat relatif seimbang dari data yang tersedia.
BNI Paling Agresif Ekspansi, BCA Paling Kuat di Dana Murah
BNI menjadi bank dengan pertumbuhan kredit paling agresif. Total kredit melonjak 24,38% YoY menjadi Rp968,53 triliun dari Rp778,68 triliun.
DPK juga tumbuh 22,26% menjadi Rp1.100,18 triliun. Akan tetapi, komposisinya perlu dicermati karena deposito meningkat sangat cepat, yakni 50,70% menjadi Rp380,22 triliun.
Sementara itu, giro tumbuh 12,32% menjadi Rp428,64 triliun dan tabungan meningkat 9,56% menjadi Rp291,32 triliun.
| Indikator BNI | Kinerja 1H26 | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Kredit | Rp968,53 T | +24,38% |
| DPK | Rp1.100,18 T | +22,26% |
| Deposito | Rp380,22 T | +50,70% |
| Giro | Rp428,64 T | +12,32% |
| Tabungan | Rp291,32 T | +9,56% |
| NII | Rp22,28 T | +14,19% |
| Impairment | Rp5,05 T | +36,17% |
Kecepatan ekspansi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba setinggi pertumbuhan kredit. Laba hanya naik 6,33% menjadi Rp10,80 triliun.
Salah satu penyebabnya terlihat dari biaya. Beban operasional selain bunga bersih meningkat 26,77%, sedangkan impairment melonjak 36,17%.
NIM juga turun dari 3,83% menjadi 3,55%, sementara rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional naik menjadi 73,11% dari 71,36%.
Di sisi lain, kualitas aset membaik. Loan at risk turun cukup tajam dari 11% menjadi 8,1%, sementara NPL berada di level 1,9%.
BCA justru memainkan kekuatan yang berbeda: struktur pendanaan murah.
CASA mencapai Rp1.082 triliun dari total DPK Rp1.284 triliun. Perhitungan Receh.in menunjukkan porsinya sekitar 84,27%, sejalan dengan angka sekitar 84,3% dalam bahan.
| Indikator BCA | Kinerja 1H26 | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Laba bersih | Rp29,5 T | Tidak disebut |
| Kredit | Rp1.036 T | +8% |
| Kredit korporasi | Rp513,4 T | +13,6% |
| Komersial & UKM | Rp288,5 T | +6,6% |
| CASA | Rp1.082 T | +10,2% |
| Total DPK | Rp1.284 T | +7,9% |
| Pendapatan nonbunga | Rp13,2 T | +11% |
CASA yang sangat tinggi memberi BCA keunggulan biaya dana. Ketika kompetisi deposito meningkat, bank dengan dana murah besar biasanya memiliki ruang lebih luas untuk menjaga margin.
Namun pertumbuhan kredit BCA sebesar 8% juga jauh lebih konservatif dibandingkan BNI 24,38% dan Bank Mandiri 19,9%. Dengan kata lain, BCA lebih menonjolkan kualitas pendanaan dan konsistensi dibandingkan agresivitas ekspansi.
Bank Mana yang Paling Menarik untuk Dicermati?
Dari data semester I/2026, masing-masing bank menawarkan tesis investasi yang berbeda.
BRI tetap menjadi mesin laba terbesar. Kekuatan utamanya adalah skala, NII yang tumbuh, serta beban bunga yang menurun. Namun investor perlu memantau impairment yang masih naik dan lonjakan sejumlah pos beban.
Bank Mandiri menunjukkan kombinasi paling kuat antara pertumbuhan laba, ekspansi kredit, fee income, dan kualitas aset. NPL 0,98% dan CoC 0,52% menjadi indikator yang penting karena pertumbuhan kredit hampir 20% tetap diikuti kualitas kredit yang relatif terjaga.
BNI menawarkan potensi dari ekspansi paling agresif. Namun pertumbuhan kredit 24,38% belum menghasilkan pertumbuhan laba yang sama cepat karena tekanan margin, impairment, dan beban operasional. Jika biaya kredit dan pencadangan melandai, operating leverage berpotensi menjadi lebih baik.
BCA tetap unggul dari sisi funding franchise. CASA sekitar 84,3% memberikan sumber dana murah yang sulit ditandingi. Pertumbuhan kredit memang lebih rendah, tetapi kualitas pendanaan dan diversifikasi pendapatan nonbunga memberikan karakter yang lebih defensif.
| Bank | Kekuatan | Risiko yang Perlu Dipantau |
|---|---|---|
| BRI | Laba terbesar, NII tumbuh, beban bunga turun | Impairment dan beban lain meningkat |
| Bank Mandiri | Laba +24,4%, NPL 0,98%, fee income kuat | Menjaga kualitas aset saat kredit tumbuh cepat |
| BNI | Kredit +24,38%, LAR membaik | NIM turun, impairment +36,17%, deposito tumbuh cepat |
| BCA | CASA 84,3%, pendanaan murah, kredit tembus Rp1.000 T | Pertumbuhan kredit lebih moderat |
Untuk investor saham bank, laba absolut sebaiknya tidak digunakan sendirian. Yang lebih relevan adalah arah NIM, pertumbuhan kredit, cost of credit, kualitas aset, CASA, fee income, serta valuasi saham masing-masing.
Misalnya, pertumbuhan kredit yang sangat tinggi belum tentu lebih baik jika diperoleh melalui kenaikan deposito mahal atau diikuti impairment yang meningkat. Sebaliknya, pertumbuhan laba yang lebih moderat dapat memiliki kualitas lebih tinggi bila ditopang dana murah dan kualitas kredit yang stabil.
FAQ Kinerja Bank KBMI IV Semester I/2026
Bank mana yang mencetak laba terbesar pada semester I/2026?
Bank mana yang pertumbuhan labanya paling tinggi?
Bank mana yang pertumbuhan kreditnya paling agresif?
Kenapa CASA BCA penting?
Bagaimana kualitas aset Bank Mandiri?
Apa tantangan utama BNI?
Bank mana yang paling menarik untuk investasi?
Perhitungan Receh.in: Selisih laba BRI dengan Bank Mandiri sekitar Rp780 miliar, sedangkan Bank Mandiri dengan BCA sekitar Rp900 miliar. CASA BCA Rp1.082 triliun dibandingkan DPK Rp1.284 triliun menghasilkan porsi sekitar 84,27%.
Catatan: Bahan tidak mencantumkan persentase pertumbuhan laba BCA dan tidak memuat seluruh rasio yang sama untuk keempat bank. Karena itu, perbandingan dilakukan hanya pada indikator yang tersedia dan tidak mengisi data yang tidak disebutkan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BBRI, BMRI, BBCA, atau BBNI. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, kualitas aset, profitabilitas, kondisi likuiditas, dan risiko makro sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar