Receh.in — Industri bank digital Indonesia mulai memasuki fase yang lebih matang. Setelah beberapa tahun berlomba mengejar pengguna, transaksi, dan ekosistem, fokus regulator kini bergeser ke pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah pertumbuhan tersebut menghasilkan laba yang sehat dan bisa dipertahankan?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai perkembangan bank digital Indonesia bergerak ke arah positif karena semakin banyak pemain mulai mencetak laba. Namun regulator mengingatkan bahwa profit jangka pendek saja belum cukup untuk menyimpulkan model bisnis bank digital sudah terbukti.
Salah satu bank yang menonjol adalah SeaBank Indonesia. Bank yang terafiliasi dengan Sea Group tersebut mencatat laba sekitar Rp749,25 miliar pada semester I/2026, tumbuh lebih dari 200% dibandingkan Rp213,80 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu dibarengi lonjakan kredit 53,11%, DPK 47,59%, dan CASA yang tetap tinggi di 69,62%.
- OJK menilai bank digital mulai menunjukkan profitabilitas yang semakin baik, tetapi kualitas pertumbuhan tetap menjadi fokus utama.
- SeaBank membukukan laba Rp749,25 miliar pada H1/2026, tumbuh lebih dari 200% YoY.
- Kredit SeaBank naik 53,11% menjadi Rp39,80 triliun, sementara CASA tetap kuat di 69,62%.
OJK: Bank Digital Jangan Hanya Mengejar Pengguna dan Laba
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan perkembangan bank digital di Indonesia patut diapresiasi. Namun fase berikutnya adalah memastikan model bisnis digital tumbuh secara berkelanjutan, inklusif, dan memiliki ketahanan yang kuat.
Menurut OJK, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pengguna atau laba jangka pendek.
Kualitas pertumbuhan harus tercermin dari sejumlah indikator, antara lain:
- struktur pendanaan yang sehat;
- kualitas aset yang terjaga;
- efisiensi operasional yang meningkat;
- permodalan yang kuat; dan
- profitabilitas yang berkelanjutan.
OJK juga membandingkan kondisi Indonesia dengan perkembangan bank digital di sejumlah negara lain.
Di Singapura, bank digital telah beroperasi hampir lima tahun, tetapi pada 2025 baru satu dari lima bank digital yang berhasil mencatatkan profit.
Sementara di kawasan Arab dan Hong Kong, hanya tiga dari delapan bank digital yang disebut telah mencapai titik impas meskipun sudah beroperasi lebih dari lima tahun.
| Wilayah | Kondisi Profitabilitas Bank Digital |
|---|---|
| Singapura | 1 dari 5 bank digital mencetak profit pada 2025 |
| Arab & Hong Kong | 3 dari 8 bank digital mencapai titik impas |
| Indonesia | Semakin banyak pemain mulai mencetak laba, menurut OJK |
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa mencapai skala dan profitabilitas di bank digital memang membutuhkan waktu. Biaya teknologi, akuisisi pengguna, promosi, pengembangan produk, keamanan siber, dan kebutuhan modal dapat menekan profitabilitas pada tahap awal.
SeaBank Jadi Salah Satu Pemain Paling Konsisten Cetak Laba
Di antara bank digital yang disebut dalam bahan, SeaBank menjadi salah satu pemain dengan perkembangan profit paling konsisten.
SeaBank mulai mencetak laba sejak 2022 dan terus membukukan profit hingga mencapai sekitar Rp678,43 miliar pada 2025.
Pada semester I/2026, laba bank tersebut sudah mencapai sekitar Rp749,25 miliar, melampaui laba sepanjang 2025 hanya dalam enam bulan pertama.
*Perhitungan Receh.in dari Rp749,25 miliar dibandingkan Rp213,80 miliar.
Secara matematis, laba semester I/2026 tumbuh sekitar 250,4% secara tahunan.
Dalam bahan terdapat satu kekeliruan penulisan yang menyebut Rp749,25 miliar sebagai laba semester I/2025. Namun kalimat berikutnya menyatakan angka itu merupakan laba semester I/2026 dan dibandingkan dengan Rp213,80 miliar pada semester I/2025. Artikel ini menggunakan konstruksi tersebut karena konsisten secara periode.
Jika dibandingkan dengan laba sepanjang 2025 sebesar Rp678,43 miliar, pencapaian enam bulan pertama 2026 sudah sekitar 110,4% dari laba setahun penuh sebelumnya.
Kredit Naik 53%, DPK 48%, CASA Tetap Tinggi
Pertumbuhan laba SeaBank didukung ekspansi intermediasi yang cukup agresif.
Penyaluran kredit mencapai sekitar Rp39,80 triliun pada semester I/2026, tumbuh 53,11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total aset meningkat menjadi Rp52,97 triliun dan disebut menempatkan SeaBank sebagai bank digital dengan aset terbesar di Indonesia dalam bahan.
Dana pihak ketiga juga tumbuh tinggi sebesar 47,59% menjadi sekitar Rp41,80 triliun.
| Indikator SeaBank | H1/2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Kredit | Rp39,80 triliun | +53,11% |
| DPK | Rp41,80 triliun | +47,59% |
| Total aset | Rp52,97 triliun | — |
| CASA | 69,62% | Relatif stabil |
CASA hampir 70% menjadi salah satu angka penting. Semakin besar porsi giro dan tabungan, semakin besar peluang bank menjaga biaya dana lebih rendah dibandingkan apabila terlalu bergantung pada deposito berbunga tinggi.
Dengan kredit Rp39,80 triliun dan DPK Rp41,80 triliun, rasio kredit terhadap DPK secara sederhana berada di sekitar 95,2%.
Rasio tersebut menunjukkan sebagian besar dana yang dihimpun sudah disalurkan kembali menjadi kredit. Namun penilaian likuiditas bank tidak bisa hanya menggunakan perhitungan sederhana tersebut karena regulator menggunakan metrik dan komponen yang lebih lengkap.
Pendapatan Bunga dan Fee Income Melonjak
Ekspansi kredit ikut mendorong pendapatan bunga bersih SeaBank.
Pendapatan bunga bersih naik menjadi sekitar Rp5,47 triliun pada semester I/2026 dari Rp3,62 triliun pada semester I/2025.
Artinya, pertumbuhan pendapatan bunga bersih mencapai sekitar 51,1%.
Pertumbuhan yang lebih eksplosif terjadi pada pendapatan berbasis komisi. Fee income mencapai Rp410,69 miliar dari hanya Rp128,88 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Sumber Pendapatan | H1/2025 | H1/2026 | Pertumbuhan* |
|---|---|---|---|
| Pendapatan bunga bersih | Rp3,62 triliun | Rp5,47 triliun | +51,1% |
| Pendapatan berbasis komisi | Rp128,88 miliar | Rp410,69 miliar | +218,7% |
*Perhitungan Receh.in.
Pertumbuhan fee income penting karena bank digital yang semakin matang idealnya tidak hanya bergantung pada spread bunga.
Semakin banyak transaksi yang dilakukan nasabah, semakin besar peluang memperoleh pendapatan komisi dari pembayaran, transfer, transaksi merchant, atau layanan lainnya.
Generasi Muda Masih Jadi Mesin Utama Bank Digital
Perkembangan bank digital juga mendapat dukungan dari demografi pengguna.
Survei Litbang Kompas pada 6-10 Maret 2026 terhadap 415 responden di sejumlah kota besar menunjukkan pengguna bank digital masih didominasi kelompok usia produktif muda.
| Kelompok | Porsi Pengguna Bank Digital |
|---|---|
| Milenial muda | 38,5% |
| Generasi Z | 25,8% |
| Milenial madya | 19,6% |
| Generasi X | 14,3% |
| Baby boomer | 1,9% |
Jika kelompok milenial muda dan Gen Z digabungkan, porsinya mencapai sekitar 64,3% dari responden pengguna bank digital dalam survei tersebut.
SeaBank juga disebut menjadi salah satu bank digital yang paling banyak digunakan di kelompok tersebut. Sekitar 43,2% pengguna milenial muda dalam survei memilih SeaBank, sedangkan pada Gen Z angkanya sekitar 29,5%.
Posisi tersebut memberi keuntungan distribusi karena SeaBank terhubung dengan ekosistem digital Sea Group dan Shopee.
Namun dominasi pengguna muda juga berarti ruang ekspansi terbesar berikutnya justru berada pada segmen usia yang lebih tua, yang penetrasinya masih relatif rendah.
FAQ Bank Digital dan SeaBank 2026
Apakah bank digital di Indonesia sudah mulai mencetak laba?
Berapa laba SeaBank semester I/2026?
Berapa kredit SeaBank pada semester I/2026?
Berapa CASA SeaBank?
Siapa pengguna utama bank digital di Indonesia?
Apa yang perlu dinilai dari bank digital selain laba?
Perhitungan Receh.in: Laba Rp749,25 miliar dibandingkan Rp213,80 miliar menghasilkan pertumbuhan sekitar 250,4%. Laba H1/2026 juga setara sekitar 110,4% dari laba sepanjang 2025 sebesar Rp678,43 miliar. Kredit Rp39,80 triliun dibandingkan DPK Rp41,80 triliun menghasilkan rasio sederhana sekitar 95,2%. Pendapatan bunga bersih tumbuh sekitar 51,1% dan fee income sekitar 218,7%. Gabungan pengguna milenial muda dan Gen Z dalam survei mencapai sekitar 64,3%.
Catatan: Dalam bahan terdapat salah penulisan periode yang menyebut laba Rp749,25 miliar sebagai semester I/2025, sementara perbandingan berikutnya jelas menyatakan angka tersebut merupakan semester I/2026 dan laba H1/2025 sebesar Rp213,80 miliar. Artikel menggunakan struktur periode yang konsisten tersebut. Survei Litbang Kompas menggunakan 415 responden di sejumlah kota besar sehingga tidak otomatis mewakili seluruh populasi Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi memilih bank digital atau membeli saham emiten tertentu. Penilaian kesehatan bank perlu mempertimbangkan modal, kualitas aset, likuiditas, biaya dana, kredit bermasalah, profitabilitas, keamanan siber, dan tata kelola.

0 Komentar