Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Aktivitas merger dan akuisisi emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap ramai sepanjang 2026. Hingga 9 September, sedikitnya 35 aksi akuisisi melibatkan 29 emiten, mulai dari transaksi bernilai puluhan juta rupiah hingga rencana pengambilalihan aset senilai sekitar Rp9 triliun.

Motifnya beragam. Ada perusahaan yang memperkuat bisnis inti, menambah kepemilikan pada entitas strategis, masuk ke sektor baru, hingga memperluas jejak usaha ke luar Indonesia.

Dari transaksi yang disebut dalam bahan, PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) memiliki salah satu rencana terbesar dengan nilai sekitar Rp9 triliun untuk mengakuisisi 14 entitas pemilik fasilitas rumah sakit. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menyelesaikan akuisisi sekitar Rp4 triliun, sedangkan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menyiapkan sekitar US$207 juta atau Rp3,68 triliun untuk masuk ke bisnis otomotif Singapura dan Malaysia.

Ringkasan
  • Sedikitnya 35 aksi akuisisi melibatkan 29 emiten BEI hingga 9 September 2026.
  • Transaksi menyebar dari energi, tambang, properti, infrastruktur, keuangan, kesehatan hingga otomotif.
  • Nilai jumbo tidak otomatis menciptakan nilai pemegang saham; investor tetap perlu melihat harga akuisisi, sumber pendanaan, utang, sinergi, dan return on invested capital.

Daftar Akuisisi Emiten 2026: dari Jutaan hingga Triliunan Rupiah

Rekap transaksi menunjukkan perusahaan publik Indonesia cukup agresif mencari aset baru sepanjang 2026.

Dengan 35 transaksi dari 29 emiten, secara sederhana terdapat rata-rata sekitar 1,21 aksi akuisisi per emiten yang masuk dalam rekap. Namun angka tersebut tidak menunjukkan distribusi yang merata karena beberapa emiten melakukan lebih dari satu transaksi.

Berikut sejumlah transaksi yang menonjol berdasarkan bahan yang dihimpun.

Emiten Target / Aset Porsi Nilai Status
SILO 14 entitas pemilik fasilitas rumah sakit ~Rp9 triliun Proses
DSSA PT Bali Media Telekomunikasi 100% ~Rp4 triliun Selesai
TPIA Bisnis Cycle & Carriage Singapura dan Malaysia US$207 juta / ~Rp3,68 triliun Rencana
SINI KMS 99,99% ~Rp1,73 triliun Selesai
MEJA PT Trimitra Coal Perkasa 45% ~Rp1,6 triliun Proses
CDIA PT Armada Maritim Persada 40% US$90 juta / ~Rp1,5-1,6 triliun Proses
BUMI Loyal Metals Ltd. 100% AU$79,07 juta / ~Rp1,004 triliun Selesai
BNII PT Maybank Sekuritas Indonesia 51% Rp583,74 miliar Selesai
TOWR Tambahan saham BACH 25,52% Rp460,7 miliar Selesai
NISP PT OCBC Sekuritas Indonesia 98,99% ~Rp453,45 miliar Proses
VISI PT Hasna Medika Bakti Cirebon 72,91% ~Rp286 miliar Proses
UANG PT Daria Mulia Properti 63,03% Rp156 miliar Selesai
UANG PT Vasanta Daria Development 99,99% Rp45 miliar Selesai
BNII PT Maybank Asset Management 51% Rp5,35 miliar Selesai
PTRO PT Nusantara Arung Samudera 55% ~Rp550 juta Selesai
PTRO PT Vista Maritim Asia 55% ~Rp550 juta Selesai
BIPI PT Indoplas Energi Hijau Rp20 juta Selesai

Rentang nilai yang sangat lebar menunjukkan istilah “akuisisi” sendiri tidak selalu berarti transaksi jumbo. Ada akuisisi yang benar-benar mengubah struktur grup, tetapi ada pula transaksi kecil yang sifatnya lebih taktis.

Jangan hanya melihat nominal. Akuisisi Rp5 triliun belum tentu lebih baik daripada transaksi Rp500 miliar. Nilainya baru menarik jika aset yang dibeli mampu menghasilkan arus kas, laba, atau sinergi yang sepadan dengan harga dan modal yang dikeluarkan.

DSSA, SINI, dan BUMI: Akuisisi untuk Memperbesar Skala

DSSA akuisisi BMT sekitar Rp4 triliun

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. mengambil alih 100% saham PT Bali Media Telekomunikasi dengan nilai sekitar Rp4 triliun.

Setelah BMT menjadi entitas anak, DSSA juga melakukan penambahan modal sekitar Rp8,54 triliun.

Artinya, jika sekadar menjumlahkan nilai akuisisi dan tambahan modal, komitmen dana yang disebut dalam rangkaian tersebut mencapai sekitar Rp12,54 triliun. Namun angka ini bukan “harga akuisisi”, karena Rp8,54 triliun merupakan penambahan modal setelah transaksi.

Manajemen DSSA menyebut langkah tersebut dilakukan agar BMT memiliki keleluasaan dalam menjalankan kegiatan usahanya.

SINI mengubah profil bisnis melalui KMS

PT Singaraja Putra Tbk. menyelesaikan pengambilalihan sekitar 99,99% saham KMS dengan nilai sekitar Rp1,73 triliun.

Transaksi tersebut menjadi bagian dari transformasi SINI menuju bisnis pertambangan yang jauh lebih besar dibandingkan profil perusahaan sebelumnya.

Akuisisi seperti ini layak diperhatikan karena dampaknya bukan hanya menambah aset, tetapi dapat mengubah sumber pendapatan, risiko usaha, struktur modal, hingga cara pasar melakukan valuasi terhadap perusahaan.

BUMI membeli Loyal Metals di Australia

PT Bumi Resources Tbk. juga memperluas portofolio di luar batu bara melalui akuisisi 100% Loyal Metals Ltd. oleh Bumi Resources Australia Pty Ltd.

Transaksi mencakup sekitar 175,71 juta saham dengan nilai AU$79,07 juta atau sekitar Rp1,004 triliun.

Loyal Metals merupakan perusahaan pertambangan tembaga dan emas di Australia.

Dengan transaksi tersebut, BUMI memperoleh eksposur ke mineral selain batu bara, sekaligus memperluas jejak geografisnya ke Australia.

Untuk investor BUMI, pertanyaannya bukan sekadar “punya tambang emas”. Yang perlu dilihat adalah tahap proyek, sumber daya dan cadangan, kebutuhan capex, timeline produksi, biaya pengembangan, serta kapan aset tersebut mulai berkontribusi terhadap cash flow.

TPIA hingga CDIA Perluas Bisnis ke Luar Core Lama

TPIA masuk otomotif Singapura dan Malaysia

Salah satu transaksi paling menarik dari sisi diversifikasi adalah rencana PT Chandra Asri Pacific Tbk. mengambil bisnis Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia.

Nilai transaksi diperkirakan sekitar US$207 juta atau Rp3,68 triliun.

Portofolio Cycle & Carriage mencakup berbagai merek otomotif internasional. Di Singapura terdapat antara lain Mercedes-Benz, Mitsubishi Motors, Kia, Citroën, DS Automobiles, Maxus, ORA, Smart, Peugeot dan Leapmotor. Sementara bisnis Malaysia memiliki eksposur antara lain terhadap Mercedes-Benz, Leapmotor, Peugeot dan Kia.

Transaksi tersebut menunjukkan TPIA tidak lagi hanya mengandalkan ekspansi organik pada petrokimia dan infrastruktur industri.

Namun diversifikasi lintas sektor juga membawa pertanyaan baru: bagaimana bisnis otomotif ini akan terintegrasi dengan portofolio grup, berapa return yang ditargetkan, dan apakah arus kas aset tersebut cukup menarik dibandingkan biaya modal.

CDIA bidik 40% Armada Maritim Persada

PT Chandra Daya Investasi Tbk. memproses rencana akuisisi 40% PT Armada Maritim Persada dengan nilai sekitar US$90 juta atau Rp1,5 triliun-Rp1,6 triliun.

Jika terealisasi, transaksi tersebut memperbesar eksposur CDIA terhadap infrastruktur dan layanan maritim.

Sementara TOWR menambah kepemilikannya di PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) sebesar 25,52% atau sekitar 1,04 miliar saham dengan nilai Rp460,7 miliar.

Setelah transaksi, kepemilikan TOWR di BACH meningkat menjadi 51%, sehingga perseroan memperoleh posisi mayoritas.

PTRO tambah aset maritim

PT Petrosea Tbk. menyelesaikan dua transaksi berupa pengambilalihan masing-masing 55% saham PT Nusantara Arung Samudera dan PT Vista Maritim Asia.

Nilai masing-masing transaksi sekitar Rp550 juta.

Secara nominal nilainya kecil dibandingkan skala PTRO, tetapi transaksi seperti ini dapat menjadi penting apabila entitas tersebut memiliki fungsi strategis dalam rantai operasional, logistik, atau ekspansi grup.

Properti, Bank, dan Rumah Sakit Ikut Ramai Akuisisi

Properti: UANG dan TRIN ekspansi

PT Pakuan Tbk. (UANG) tercatat melakukan setidaknya dua transaksi.

Perseroan mengambil alih 99,99% PT Vasanta Daria Development senilai Rp45 miliar serta 63,03% PT Daria Mulia Properti senilai Rp156 miliar.

Secara gabungan, dua transaksi tersebut bernilai sekitar Rp201 miliar.

Sementara PT Perintis Triniti Properti Tbk. (TRIN) memproses rencana akuisisi mayoritas PT Prima Pembangunan Propertindo. Nilai transaksinya belum disebut dalam bahan.

Bank membeli sekuritas dan manajer investasi

Di sektor jasa keuangan, konsolidasi juga terlihat cukup jelas.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) mengambil 51% PT Maybank Sekuritas Indonesia senilai Rp583,74 miliar serta 51% PT Maybank Asset Management senilai Rp5,35 miliar.

Total nilai dua transaksi tersebut sekitar Rp589,09 miliar.

PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) juga memproses pengambilalihan 98,99% saham PT OCBC Sekuritas Indonesia dengan nilai sekitar Rp453,45 miliar.

Secara strategis, langkah bank mengonsolidasikan perusahaan sekuritas dan manajer investasi dapat memperkuat ekosistem jasa keuangan, tetapi manfaatnya tetap bergantung pada kemampuan cross-selling, pertumbuhan fee income, dan integrasi operasional.

SILO rencanakan akuisisi sekitar Rp9 triliun

Di sektor kesehatan, PT Siloam International Hospitals Tbk. memproses pengambilalihan terhadap 14 entitas pemilik fasilitas rumah sakit.

Nilai transaksi yang dihitung mencapai sekitar Rp9 triliun, menjadikannya salah satu rencana terbesar dalam rekap akuisisi 2026.

PT Satu Visi Putra Tbk. (VISI) juga memproses pengambilalihan 72,91% PT Hasna Medika Bakti Cirebon senilai sekitar Rp286 miliar.

Akuisisi rumah sakit biasanya membawa dua sisi. Skala dan jaringan bisa membesar lebih cepat, tetapi investor juga perlu melihat tingkat okupansi, pendapatan per pasien, margin, capex medis, struktur sewa atau kepemilikan aset, serta utang yang ikut terbawa dalam transaksi.

Di antara seluruh transaksi yang disebut, terlihat pola yang cukup jelas: emiten Indonesia semakin aktif menggunakan akuisisi sebagai jalan pintas untuk memperbesar skala dan memasuki bisnis baru.

Tetapi investor sebaiknya tidak berhenti pada headline nilai transaksi.

Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan setiap kali emiten mengumumkan akuisisi:

  • Berapa harga yang dibayar dibandingkan nilai wajar aset?
  • Apakah transaksi dibiayai kas, utang, penerbitan saham, atau kombinasi?
  • Apakah target sudah menghasilkan laba dan arus kas?
  • Berapa tambahan capex setelah akuisisi?
  • Apakah ada goodwill atau bargain purchase dalam jumlah besar?
  • Seberapa cepat transaksi menambah EPS dan free cash flow?
  • Apakah return on invested capital mampu melampaui cost of capital?
Intinya: 2026 menunjukkan bahwa akuisisi menjadi salah satu mesin ekspansi penting emiten BEI. Dari SILO dengan rencana sekitar Rp9 triliun, DSSA Rp4 triliun, TPIA Rp3,68 triliun, hingga BUMI yang membeli perusahaan tambang Australia, perusahaan publik semakin berani memperbesar portofolio melalui transaksi anorganik. Namun akuisisi bukan prestasi hanya karena nilainya besar. Ujian sebenarnya datang setelah transaksi selesai: apakah aset baru menghasilkan laba, arus kas, dan return yang lebih tinggi daripada modal yang dikeluarkan.

FAQ Akuisisi Emiten 2026

Berapa jumlah aksi akuisisi emiten sepanjang 2026?
Berdasarkan rekap dalam bahan hingga 9 September 2026, terdapat 35 aksi akuisisi yang melibatkan 29 emiten Bursa Efek Indonesia.
Apa rencana akuisisi terbesar dalam daftar?
Rencana SILO terhadap 14 entitas pemilik fasilitas rumah sakit memiliki nilai sekitar Rp9 triliun dan menjadi salah satu yang terbesar dalam rekap yang tersedia.
Berapa nilai akuisisi DSSA?
DSSA mengambil alih 100% PT Bali Media Telekomunikasi dengan nilai sekitar Rp4 triliun, lalu menambah modal sekitar Rp8,54 triliun kepada entitas tersebut.
Apa yang diakuisisi BUMI pada 2026?
BUMI melalui Bumi Resources Australia Pty Ltd mengakuisisi 100% Loyal Metals Ltd., perusahaan tambang tembaga dan emas di Australia, senilai sekitar AU$79,07 juta atau Rp1,004 triliun.
Apa bisnis yang akan dibeli TPIA?
TPIA merencanakan akuisisi bisnis Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia dengan nilai sekitar US$207 juta atau Rp3,68 triliun.
Apa yang perlu diperhatikan investor ketika emiten melakukan akuisisi?
Investor perlu menilai harga akuisisi, sumber pendanaan, utang, kontribusi laba dan arus kas, kebutuhan capex lanjutan, sinergi, serta return on invested capital setelah transaksi.
Sumber: Rekap aksi akuisisi emiten Bursa Efek Indonesia hingga 9 September 2026 sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in, keterbukaan informasi masing-masing emiten, dan pemberitaan Bisnis.com yang dirangkum dalam bahan.

Perhitungan Receh.in: 35 transaksi dari 29 emiten setara rata-rata sekitar 1,21 aksi per emiten dalam rekap. Akuisisi DSSA sekitar Rp4 triliun ditambah penambahan modal Rp8,54 triliun menghasilkan total komitmen dana yang disebut sekitar Rp12,54 triliun, tetapi angka tersebut bukan harga akuisisi. Dua transaksi UANG bernilai total sekitar Rp201 miliar. Dua transaksi BNII sekitar Rp589,09 miliar.

Catatan: Daftar di atas memuat transaksi yang telah selesai maupun yang masih berupa proses atau rencana. Nilai transaksi dalam mata uang asing menggunakan angka rupiah sebagaimana tercantum dalam bahan. Nama lengkap entitas KMS pada sumber yang diterima tidak direkonsiliasi dengan sumber lain dalam artikel ini, sehingga digunakan singkatannya untuk menghindari salah identifikasi. Nilai akuisisi tidak sama dengan kontribusi pendapatan atau laba dan tidak otomatis menunjukkan penciptaan nilai bagi pemegang saham.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Investor perlu menilai harga transaksi, struktur pendanaan, utang, potensi dilusi, goodwill, arus kas, capex, integrasi pasca-akuisisi, dan valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.