Receh.in — IHSG mulai menunjukkan tanda pemulihan pada semester II/2026 setelah tekanan tajam sepanjang paruh pertama tahun ini. Pada Kamis, 3 September 2026, IHSG ditutup naik 1,09% ke level 6.667,89 dan telah menguat 8,82% dalam tiga bulan terakhir.
Meski demikian, indeks masih berada 22,89% di bawah posisi awal tahun. Jurang antara fundamental emiten yang relatif solid dan harga saham yang telah terkoreksi inilah yang membuka peluang valuation re-rating pada sejumlah kelompok saham.
Mandiri Sekuritas menilai koreksi IHSG sepanjang semester I lebih banyak disebabkan oleh foreign outflow, tekanan rupiah, dan kenaikan equity risk premium, bukan karena keruntuhan laba perusahaan. Artinya, jika tekanan makro dan arus dana asing membaik, saham-saham berfundamental kuat yang telah terdiskon mempunyai ruang untuk dinilai kembali oleh pasar.
- IHSG berada di 6.667,89, naik 8,82% dalam tiga bulan tetapi masih turun 22,89% sepanjang 2026.
- Mandiri Sekuritas melihat peluang re-rating terutama pada blue chip, saham berdividen tinggi, emiten penerima manfaat harga komoditas, dan perusahaan yang diuntungkan reformasi struktural.
- Target dasar IHSG akhir 2026 berada di 6.810, dengan skenario bullish 7.470 dan bearish 5.920.
IHSG Pulih 8,82% dalam 3 Bulan, tapi Masih Jauh di Bawah Awal Tahun
Pergerakan IHSG sejak Juni mulai menunjukkan perubahan arah. Dalam tiga bulan terakhir, indeks menguat 8,82% hingga mencapai 6.667,89.
Namun rebound tersebut belum menghapus koreksi besar sepanjang tahun. IHSG masih turun 22,89% secara year-to-date.
Secara aritmetika, penurunan 22,89% hingga level 6.667,89 mengindikasikan IHSG berada di sekitar 8.647 pada awal tahun.
Sementara kenaikan 8,82% dalam tiga bulan menunjukkan indeks berada di kisaran 6.127 sebelum rebound terakhir dimulai.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan sudah terjadi, tetapi belum membawa IHSG kembali mendekati level awal tahun.
Koreksi Bukan karena Earnings Collapse
Kepala Divisi Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas Kresna Partogi Hutabarat menilai penurunan IHSG pada semester I/2026 tidak terutama disebabkan oleh memburuknya laba perusahaan tercatat.
Tekanan justru datang dari arus dana asing keluar, pelemahan nilai tukar, dan kenaikan premi risiko ekuitas.
Data BEI yang disampaikan dalam bahan mendukung pandangan tersebut.
Pada kuartal I/2026, emiten-emiten LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9%. Sementara itu, sekitar 80% dari seluruh perusahaan tercatat masih membukukan laba bersih.
| Indikator Fundamental | Kinerja | Pembacaan |
|---|---|---|
| Rata-rata pertumbuhan laba LQ45 Q1/2026 | +29,9% | Pertumbuhan masih kuat |
| Emiten BEI yang mencetak laba | 80% | Tertinggi dalam 5 tahun |
| 2020 | 63% | Basis pandemi |
| 2021–2025 | 73%–76% | Lebih rendah dari 2026 |
Angka 80% menjadi penting karena menunjukkan tekanan pasar pada semester pertama tidak terjadi bersamaan dengan penurunan laba secara luas.
Dengan kata lain, harga saham turun lebih dalam daripada kondisi fundamental agregat.
Namun investor juga perlu berhati-hati membaca rata-rata pertumbuhan laba 29,9%. Angka rata-rata dapat terdorong oleh sejumlah emiten dengan pertumbuhan sangat tinggi, sehingga tidak otomatis berarti seluruh saham LQ45 mengalami pertumbuhan laba yang sama kuat.
Selain itu, saham yang telah turun belum tentu otomatis murah. Valuasi tetap perlu dibandingkan dengan laba berkelanjutan, arus kas, return on equity, dan prospek masing-masing sektor.
Blue Chip, Dividen, dan Komoditas Berpeluang Re-rating
Mandiri Sekuritas melihat re-rating valuasi kemungkinan tidak terjadi secara merata di seluruh pasar.
Saham blue chip dinilai mempunyai peluang lebih besar menjadi tujuan pertama ketika investor asing kembali meningkatkan eksposur terhadap Indonesia.
Alasannya relatif sederhana: saham berkapitalisasi besar biasanya memiliki likuiditas lebih tinggi, fundamental lebih mudah dianalisis, dan dapat menampung transaksi institusi dalam nominal besar.
| Kelompok Saham | Katalis | Risiko yang Perlu Dipantau |
|---|---|---|
| Blue chip | Potensi foreign inflow dan valuasi yang telah terkoreksi | Rupiah dan yield global |
| High dividend yield | Menarik menjelang kuartal IV dan musim pembagian laba | Laba harus cukup untuk menopang dividen |
| Komoditas | Kenaikan harga komoditas global | Siklus harga dapat berbalik cepat |
| Penerima manfaat reformasi | Perubahan struktural industri dan kebijakan | Eksekusi reformasi |
Kelompok kedua adalah saham dengan imbal hasil dividen tinggi.
Menjelang kuartal IV, saham yang mempunyai kemampuan menghasilkan kas dan membagikan dividen dapat menjadi relatif menarik, terutama ketika investor mencari kombinasi antara potensi kenaikan harga dan pendapatan tunai.
Tetapi dividend yield tinggi tidak otomatis berarti murah. Yield dapat terlihat tinggi karena harga saham jatuh, sementara laba dan kemampuan membayar dividen justru menurun.
Kelompok ketiga adalah emiten yang mendapat manfaat dari kenaikan harga komoditas global. Jika harga jual meningkat dan biaya tidak naik sebanding, margin dan laba emiten dapat membaik.
Namun sektor komoditas bersifat siklikal. Re-rating yang didorong kenaikan harga komoditas perlu dibedakan dari re-rating struktural yang berasal dari peningkatan kualitas bisnis jangka panjang.
Target IHSG 6.810, Upside Dasarnya Tinggal Sekitar 2%
Mandiri Sekuritas memperkirakan IHSG mengakhiri 2026 di level 6.810 dalam skenario dasar.
Dibandingkan posisi 6.667,89 pada 3 September, target tersebut menyisakan potensi kenaikan sekitar 2,13%.
Namun rentang skenario Mandiri Sekuritas cukup lebar.
| Skenario IHSG Akhir 2026 | Target | Potensi dari 6.667,89 |
|---|---|---|
| Bullish | 7.470 | +12,03% |
| Base case | 6.810 | +2,13% |
| Bearish | 5.920 | -11,22% |
Rentang antara skenario bullish dan bearish mencapai 1.550 poin. Ini menunjukkan ketidakpastian menuju akhir tahun masih besar.
Base case 6.810 juga memberikan pesan menarik: setelah rebound 8,82% dalam tiga bulan, sebagian pemulihan indeks kemungkinan sudah terjadi.
Dengan demikian, peluang investasi tidak harus datang dari kenaikan indeks yang sangat tinggi. Bahkan jika IHSG hanya bergerak ke 6.810, sejumlah saham tertentu tetap bisa naik jauh lebih kuat apabila mengalami re-rating individual.
Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah dapat tertinggal sekalipun indeks terus naik.
Kresna melihat perbaikan rupiah sebagai salah satu faktor yang mulai membantu rebound sejak Juni. Ke depan, arus dana asing akan tetap menjadi variabel penting.
Apabila rupiah stabil, equity risk premium turun, dan investor global kembali meningkatkan alokasi ke emerging markets, saham berkapitalisasi besar kemungkinan menjadi penerima manfaat pertama.
FAQ Prospek IHSG Akhir 2026
Berapa posisi IHSG pada 3 September 2026?
Berapa kinerja IHSG sepanjang 2026?
Berapa target IHSG akhir 2026 dari Mandiri Sekuritas?
Kenapa IHSG turun tajam meski laba emiten masih tumbuh?
Sektor atau saham apa yang berpeluang mengalami re-rating?
Apakah seluruh saham yang turun otomatis murah?
Berapa potensi kenaikan IHSG ke target 6.810?
Perhitungan Receh.in: IHSG 6.667,89 yang turun 22,89% YTD mengimplikasikan posisi awal tahun sekitar 8.647. Kenaikan 8,82% dalam tiga bulan mengimplikasikan posisi sekitar 6.127 tiga bulan sebelumnya. Target 6.810 memberikan upside sekitar 2,13%, target bullish 7.470 sekitar 12,03%, sedangkan skenario bearish 5.920 berarti downside sekitar 11,22%.
Catatan: Rata-rata pertumbuhan laba LQ45 29,9% tidak berarti seluruh anggota LQ45 mencatat pertumbuhan pada tingkat yang sama. Target IHSG merupakan proyeksi Mandiri Sekuritas berdasarkan asumsi tertentu dan dapat berubah mengikuti rupiah, arus asing, earnings, yield global, serta risiko geopolitik.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Valuasi murah secara historis tidak menjamin harga akan naik apabila fundamental atau sentimen memburuk.

0 Komentar