Receh.in — Peta pengendalian PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) berpotensi kembali berubah. Grup PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) milik Prajogo Pangestu sedang bernegosiasi dengan pemegang saham pengendali SINI untuk mengambil alih kendali perusahaan, setelah kepemilikannya terlebih dahulu naik menjadi 27,78% melalui PT Petrosea Tbk. (PTRO) dan PT Kreasi Jasa Persada (KJP).
Jika negosiasi berujung pada pengambilalihan pengendalian, calon pengendali baru pada prinsipnya harus melaksanakan mandatory tender offer atau MTO sesuai ketentuan pengambilalihan perusahaan terbuka. Bagi investor, aksi ini menarik bukan hanya karena nama Prajogo Pangestu, tetapi juga karena SINI praktis sedang berubah wajah dari bisnis akomodasi dan perkayuan menjadi perusahaan pertambangan batu bara terintegrasi.
Transformasinya sudah terlihat di neraca. Setelah mengakuisisi PT Karya Mineral Sentosa (KMS), total aset SINI melonjak 318% menjadi Rp6,55 triliun per 31 Juli 2026. Namun lonjakan laba bersih menjadi Rp674,2 miliar perlu dibaca hati-hati karena sebagian besar perubahan tersebut dipengaruhi keuntungan akuntansi dari pembelian dengan diskon, bukan semata-mata lonjakan laba operasi berulang.
- Grup Petrindo sudah memiliki 27,78% saham SINI dan sedang bernegosiasi untuk mengambil alih pengendalian perseroan.
- SINI kini memiliki eksposur terhadap 5 IUP batu bara, 21.119 hektare konsesi, dan estimasi cadangan 231 juta ton.
- Total aset melonjak menjadi Rp6,55 triliun, tetapi laba Rp674,2 miliar ikut terdorong bargain purchase gain, sehingga kualitas laba perlu dipisahkan dari kinerja operasional.
CUAN Sudah Punya 27,78% Saham SINI, Kini Bidik Kendali
Direktur Utama SINI Amir Antolis mengonfirmasi bahwa pemegang saham pengendali perseroan sedang bernegosiasi dengan Grup PJK atau Petrindo terkait perubahan pengendalian.
Masuknya Petrindo bukan cerita baru. Setelah pelaksanaan rights issue pada Juli 2026, kepemilikan grup tersebut di SINI meningkat dari 19,99% menjadi 27,78%.
| Pemegang Saham | Kepemilikan |
|---|---|
| PT Petrosea Tbk. (PTRO) | 19,88% |
| PT Kreasi Jasa Persada (KJP) | 7,90% |
| Total Grup Petrindo | 27,78% |
| Pengendali lama | 37,05% |
| Masyarakat | 35,17% |
Porsi pemegang saham pengendali lama sendiri telah terdilusi dari 54,49% menjadi 37,05%, sementara saham masyarakat berada di 35,17%.
Dengan struktur tersebut, tambahan saham yang diperoleh Petrindo dari pengendali lama dapat menjadikan grup tersebut pemegang saham terbesar sekaligus pihak yang mengendalikan arah kebijakan dan manajemen SINI.
Kalau Jadi Pengendali, Petrindo Harus MTO
Manajemen SINI menyatakan Grup Petrindo sebagai calon pengendali baru akan melaksanakan mandatory tender offer apabila rencana pengambilalihan terealisasi.
MTO adalah mekanisme perlindungan bagi pemegang saham publik setelah terjadi perubahan pengendalian. Pengendali baru menawarkan untuk membeli saham dari pemegang saham yang memenuhi ketentuan pada harga minimum yang ditentukan regulasi.
Untuk saham perusahaan terbuka yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa, ketentuan POJK No. 9/POJK.04/2018 pada prinsipnya menggunakan harga yang paling tinggi antara harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian selama 90 hari kalender sebelum pengumuman yang relevan dan harga pengambilalihan yang telah dilakukan.
Karena itu, harga MTO SINI belum bisa ditentukan hanya dari harga pasar sekarang. Investor membutuhkan dua informasi penting: harga final pengambilalihan serta perhitungan rata-rata harga tertinggi harian pada periode acuan.
| Tahap | Status |
|---|---|
| Grup Petrindo masuk sebagai pemegang saham SINI | Selesai |
| Kepemilikan grup naik menjadi 27,78% | Selesai setelah rights issue |
| Negosiasi pengambilalihan kendali | Sedang berlangsung |
| Harga final pengambilalihan | Belum diumumkan |
| Perubahan pengendali | Belum selesai |
| Mandatory Tender Offer | Setelah pengambilalihan jika kewajiban MTO timbul |
Ini penting karena harga MTO sering menjadi fokus spekulasi pasar. Padahal sebelum harga transaksi pengambilalihan diketahui, menghitung satu angka MTO secara pasti akan terlalu dini.
SINI Berubah Jadi Pemilik 5 IUP Batu Bara
Perubahan pengendali potensial terjadi bersamaan dengan transformasi fundamental SINI.
Dana rights issue digunakan antara lain untuk menuntaskan akuisisi 99,995% saham PT Karya Mineral Sentosa dari PTRO.
Melalui transaksi tersebut, SINI memperkuat penguasaan terhadap PT Cristian Eka Pratama (CEP) di Kalimantan Timur dan portofolio pertambangan lain di bawah KMS serta PT Dwi Daya Swakarsa.
Secara keseluruhan, SINI kini menguasai lima izin usaha pertambangan batu bara termal dengan total area konsesi sekitar 21.119 hektare dan estimasi cadangan 231 juta metrik ton.
Tiga tambang yang telah masuk fase produksi adalah:
- PT Cristian Eka Pratama di Kalimantan Timur;
- PT Persada Kapuas Prima di Kalimantan Tengah; dan
- PT Pasir Bara Prima di Kalimantan Tengah.
Artinya, sekitar 60% dari jumlah konsesi yang disebut dalam bahan sudah berada pada tahap produksi, meskipun angka tersebut tidak berarti 60% cadangan atau kapasitas produksi telah aktif karena skala masing-masing IUP dapat berbeda.
Jika cadangan 231 juta ton dibagi secara sederhana dengan luas 21.119 hektare, diperoleh sekitar 10.938 ton cadangan per hektare. Perhitungan ini hanya menunjukkan rasio matematis dan bukan ukuran keekonomian tambang, karena kualitas batu bara, stripping ratio, infrastruktur, biaya pengangkutan, dan izin produksi jauh lebih menentukan.
Aset Naik 318%, tapi Laba Rp674 Miliar Perlu Dibedah
Konsolidasi KMS membuat skala neraca SINI berubah drastis.
Total aset mencapai Rp6,55 triliun per 31 Juli 2026, meningkat 318%. Secara indikatif, jika kenaikan 318% berarti nilai akhir menjadi 4,18 kali posisi sebelumnya, total aset sebelum lonjakan berada di sekitar Rp1,57 triliun.
Kas dan deposito perseroan juga mencapai sekitar Rp1,57 triliun, setara hampir 24% dari total aset.
| Indikator SINI | Posisi |
|---|---|
| Total aset Juli 2026 | Rp6,55 triliun |
| Pertumbuhan aset | +318% |
| Estimasi aset sebelum lonjakan* | ~Rp1,57 triliun |
| Kas dan deposito | Rp1,57 triliun |
| Kas terhadap aset* | ~24,0% |
| Laba bersih per Juli 2026 | Rp674,2 miliar |
| Periode sama tahun sebelumnya | Rugi Rp26,1 miliar |
*Perhitungan Receh.in.
Secara headline, perubahan dari rugi Rp26,1 miliar menjadi laba Rp674,2 miliar memang terlihat luar biasa. Namun bahan menjelaskan bahwa akuisisi KMS menghasilkan keuntungan dari pembelian dengan diskon atau bargain purchase gain.
Keuntungan seperti ini pada dasarnya merupakan item akuntansi yang muncul ketika nilai wajar aset bersih yang diperoleh melebihi harga akuisisi sesuai pengukuran akuntansi. Karena bersifat terkait transaksi akuisisi, manfaat tersebut tidak boleh langsung diasumsikan akan berulang setiap tahun.
Manajemen sendiri menyebut pengembangan aset akan dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan operasi, infrastruktur, kondisi pasar, serta perizinan.
Artinya, cadangan 231 juta ton merupakan aset potensial, bukan pendapatan yang sudah pasti. Nilai ekonominya baru muncul seiring produksi, penjualan, margin, dan arus kas yang benar-benar terealisasi.
FAQ Pengambilalihan SINI oleh Grup Petrindo
Berapa saham SINI yang dimiliki Grup Petrindo?
Apakah CUAN sudah resmi menjadi pengendali SINI?
Apakah akan ada mandatory tender offer saham SINI?
Bagaimana harga MTO SINI ditentukan?
Berapa cadangan batu bara SINI?
Kenapa laba SINI melonjak menjadi Rp674,2 miliar?
Perhitungan Receh.in: Estimasi aset sebelum kenaikan 318% sekitar Rp1,57 triliun dari aset akhir Rp6,55 triliun. Kas dan deposito Rp1,57 triliun setara sekitar 24% dari total aset. Tiga dari lima IUP yang telah berproduksi setara 60% berdasarkan jumlah konsesi. Cadangan 231 juta ton dibandingkan luas 21.119 hektare menghasilkan rasio matematis sekitar 10.938 ton per hektare.
Catatan: Negosiasi perubahan pengendalian belum sama dengan penyelesaian pengambilalihan. Harga MTO belum dapat ditentukan sebelum parameter transaksi dan periode acuan tersedia. Keuntungan dari pembelian dengan diskon merupakan dampak akuntansi transaksi akuisisi dan tidak otomatis menjadi laba berulang. Cadangan batu bara juga bukan pendapatan sampai ditambang dan dijual secara ekonomis.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham SINI, CUAN, maupun PTRO. Investor perlu mempertimbangkan harga pengambilalihan, ketentuan MTO, valuasi, struktur kepemilikan, kualitas laba, produksi tambang, biaya, capex, harga batu bara, arus kas, dan risiko regulasi sebelum mengambil keputusan investasi.
0 Komentar