Receh.in — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mulai menunjukkan titik balik pada kualitas aset kredit mikro setelah beberapa tahun menghadapi tekanan di segmen Kupedes. Perbaikan bukan sekadar datang dari kondisi ekonomi, tetapi dari perubahan proses bisnis yang dilakukan sejak 2023-2024.
Riset IPS tertanggal 11 September 2026 menilai kualitas kredit Kupedes membaik cukup konsisten. Rasio pinjaman baru yang turun status menjadi special mention loan atau SML pada enam bulan pertama setelah pencairan turun menjadi rata-rata 3,4% untuk vintage 2025, dibandingkan 5% untuk vintage 2024 dan 6,3% untuk vintage 2023.
Perbaikan tersebut ikut menekan pembentukan kredit bermasalah baru. Net micro downgrade ke NPL turun menjadi sekitar Rp1,7 triliun per bulan pada kuartal II/2026, dari Rp1,9 triliun pada kuartal I/2026 dan puncaknya Rp3,5 triliun pada kuartal I/2025.
- Kualitas kredit Kupedes membaik dengan rasio vintage 6 bulan ke SML turun menjadi 3,4% pada pencairan 2025.
- BRI memperkirakan cost of credit 2026 berada di bawah 3% dan kembali turun 15-25 basis poin pada 2027 jika makro tidak memburuk.
- Dengan kualitas aset yang stabil, Kupedes diperkirakan kembali tumbuh mid-single digit pada 2027 setelah mengalami kontraksi selama tiga tahun.
Perbaikan Kredit Mikro BBRI Bukan Sekadar Efek Ekonomi
Salah satu pertanyaan utama investor terhadap BRI adalah apakah perbaikan kualitas Kupedes hanya terjadi karena kondisi ekonomi yang membaik, atau memang berasal dari pembenahan internal.
Menurut riset IPS setelah pertemuan dengan Direktur Manajemen Risiko BRI, faktor yang lebih dominan adalah perubahan proses bisnis.
Sejak 2023, setidaknya terdapat empat perubahan besar.
- Fungsi risiko mikro dipisahkan dari direktorat mikro. Sebelumnya pengawasan risiko berada di bawah direktur mikro. Struktur tersebut diubah pada 2024 sehingga fungsi risiko menjadi lebih independen.
- Satu nasabah hanya diperbolehkan memiliki satu rekening kredit. Sebelumnya, penurunan kualitas kredit dapat tertutupi dengan pelunasan kredit lama lalu nasabah mengajukan kredit baru.
- KPI petugas kredit mikro diubah. Sebelum 2024, bonus sangat bergantung pada target volume. Kini kualitas pinjaman setelah enam bulan menjadi penentu utama, termasuk ambang SML lebih dari 1%.
- BRI menambah sekitar 4.400 petugas penagihan lapangan. Sebelumnya fungsi penagihan juga dilakukan mantri. Tambahan ini setara sekitar 16% dibandingkan basis 26.000-27.000 mantri.
Vintage Kupedes dan Pembentukan NPL Mulai Membaik
Dampak perubahan proses bisnis mulai terlihat dari data vintage Kupedes.
Untuk pinjaman yang dicairkan pada 2023, rata-rata rasio yang memburuk menjadi SML dalam enam bulan mencapai 6,3%. Angkanya turun menjadi 5% untuk vintage 2024 dan kembali turun menjadi 3,4% untuk vintage 2025.
| Vintage Kupedes | 6MoB Downgrade ke SML | Perubahan |
|---|---|---|
| Pencairan 2023 | 6,3% | Basis pembanding |
| Pencairan 2024 | 5,0% | -1,3 ppt |
| Pencairan 2025 | 3,4% | -2,9 ppt vs 2023 |
Dari vintage 2023 ke 2025, penurunan rasio downgrade mencapai sekitar 46% secara relatif.
Tren serupa terlihat pada pembentukan NPL baru di kredit mikro. Net micro downgrade ke NPL turun dari puncak Rp3,5 triliun per bulan pada kuartal I/2025 menjadi Rp1,9 triliun pada kuartal I/2026 dan Rp1,7 triliun pada kuartal II/2026.
Dari puncaknya Rp3,5 triliun menjadi Rp1,7 triliun, pembentukan NPL bersih per bulan turun sekitar 51%.
Manajemen juga memperkirakan angka tersebut dapat turun lagi menjadi sekitar Rp1,5 triliun pada kuartal III/2026.
Perbaikan tidak hanya terjadi di Kupedes. Cost of credit PNM disebut turun menjadi 3,6% pada semester I/2026 dibandingkan sekitar 6%-7% pada 2024-2025.
Cost of Credit BBRI Diproyeksi Turun Lagi
BRI membukukan cost of credit sekitar 3,1% pada semester I/2026. Manajemen memperkirakan angka setahun penuh berada di sisi bawah panduan atau di bawah 3%.
Untuk 2027, jika kondisi ekonomi tidak memburuk, cost of credit diproyeksikan kembali turun sekitar 15-25 basis poin dibandingkan 2026.
| Cost of Credit | Angka |
|---|---|
| BBRI H1/2026 | 3,1% |
| BBRI FY2026E | <3% |
| BBRI FY2027E | Turun 15-25 bps YoY |
| PNM H1/2026 | 3,6% |
| PNM FY2024-2025 | ~6%-7% |
Bagi bank dengan basis kredit mikro yang besar seperti BRI, penurunan cost of credit memiliki dampak yang material terhadap laba. Semakin sedikit kredit yang bermasalah dan membutuhkan pencadangan, semakin besar bagian pendapatan operasional yang dapat mengalir menjadi laba.
Namun investor tetap perlu memperhatikan syarat penting dalam proyeksi tersebut: tidak terjadi pemburukan kondisi makroekonomi.
Segmen mikro sensitif terhadap daya beli, kondisi usaha kecil, harga pangan, serta siklus ekonomi. Perbaikan proses internal dapat mengurangi risiko, tetapi tidak menghilangkan sensitivitas terhadap lingkungan ekonomi.
Kupedes Diproyeksi Tumbuh Lagi pada 2027
Setelah tiga tahun kontraksi, IPS memperkirakan Kupedes dapat kembali tumbuh pada 2027 dengan kecepatan mid-single digit.
Sepanjang periode 2023 hingga semester I/2026, portofolio Kupedes mencatat compound annual growth rate sekitar minus 12%.
Sebaliknya, kredit korporasi tumbuh sangat cepat dengan CAGR sekitar 34% pada periode yang sama.
| Segmen Kredit BRI | CAGR FY2023-H1/2026 | Arah ke Depan |
|---|---|---|
| Kupedes | -12% | Diperkirakan kembali tumbuh mid-single digit pada 2027 |
| Korporasi | +34% | Ekspansi cepat, mayoritas disebut berjangka pendek |
Perubahan komposisi tersebut penting karena salah satu kekhawatiran pasar terhadap BRI adalah tekanan NIM dan ROE apabila pertumbuhan terlalu banyak datang dari kredit korporasi yang umumnya memiliki yield lebih rendah dibandingkan mikro.
Jika Kupedes kembali tumbuh dengan kualitas aset yang lebih baik, BRI berpotensi memperoleh kombinasi yang lebih sehat: volume kembali naik tanpa harus mengorbankan kualitas kredit seperti pada periode sebelumnya.
Dari sisi valuasi, IPS menilai saham BBRI masih menarik. Dalam bahan, saham diperdagangkan sekitar 1,5 kali price-to-book value dan 8,4 kali price-to-earnings ratio.
Angka tersebut berada di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sekitar 2,3 kali PBV dan 14,1 kali PER.
| Valuasi BBRI | Saat Ini | Rata-rata 10 Tahun | Diskon* |
|---|---|---|---|
| PBV | 1,5x | 2,3x | ~34,8% |
| PER | 8,4x | 14,1x | ~40,4% |
Valuasi yang berada di bawah historis memang dapat terlihat menarik, tetapi murah secara historis belum otomatis berarti undervalued. Investor tetap perlu mempertimbangkan apakah ROE, NIM, kualitas aset, dan pertumbuhan laba BRI nantinya kembali mendekati kondisi historis yang membenarkan multiple lebih tinggi.
Selain itu, kepemilikan investor asing disebut turun menjadi sekitar 13% pada Agustus 2026 dari kisaran 18%-19% pada 2021-2023.
Penurunan tersebut menunjukkan positioning asing terhadap BBRI masih jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Jika fundamental mikro benar-benar pulih, ruang untuk masuknya kembali foreign flow dapat menjadi katalis tambahan—tetapi bukan sesuatu yang otomatis terjadi.
FAQ Prospek Saham BBRI dan Kupedes
Kenapa kualitas kredit mikro BBRI membaik?
Berapa cost of credit BBRI pada 2026?
Apakah kredit Kupedes akan kembali tumbuh?
Berapa valuasi saham BBRI dalam riset?
Berapa kepemilikan asing di BBRI?
Apa risiko utama terhadap pemulihan BBRI?
Perhitungan Receh.in: Rasio vintage downgrade Kupedes turun sekitar 46% secara relatif dari 6,3% pada pencairan 2023 menjadi 3,4% pada 2025. Net micro downgrade turun sekitar 51% dari Rp3,5 triliun per bulan pada Q1/2025 menjadi Rp1,7 triliun pada Q2/2026. Valuasi PBV 1,5x berada sekitar 34,8% di bawah rata-rata 10 tahun 2,3x, sedangkan PER 8,4x sekitar 40,4% di bawah rata-rata 14,1x.
Catatan: Ekspektasi pertumbuhan Kupedes, cost of credit, dan valuasi merupakan asumsi serta pandangan dalam riset. Posisi “top pick” merupakan rekomendasi analis, bukan jaminan kinerja harga saham. Multiple historis yang lebih tinggi juga tidak otomatis berarti saham akan kembali diperdagangkan pada level tersebut.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BBRI. Investor perlu mempertimbangkan pertumbuhan kredit, NIM, cost of credit, kualitas aset, ROE, kondisi makro, foreign flow, dan valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar