Receh.in — Saham di bawah Rp50 masih memiliki kantong perdagangan yang ramai. Pada Jumat, 4 September 2026, PT Graha Mitra Asia Tbk. (RELF) memimpin kelompok ini berdasarkan frekuensi, dengan 3.878 transaksi dan harga penutupan Rp38.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menempatkan WIDI dan ELTY di urutan berikutnya. Namun, ada perbedaan penting di balik peringkat tersebut: RELF paling sering ditransaksikan, ELTY mencatat nilai perdagangan terbesar, sedangkan BTEK memimpin jumlah lembar saham yang berpindah tangan.
Perbedaan itu makin relevan ketika BEI tengah menyiapkan perluasan batas minimum harga saham menjadi Rp1. Bagi pembaca yang memburu saham berharga rendah, persoalannya bukan sekadar berapa murah harga masuk, melainkan seberapa besar aktivitas perdagangan yang menopangnya.
- RELF memimpin dengan 3.878 transaksi, diikuti WIDI sebanyak 2.232 dan ELTY sebanyak 1.951 transaksi.
- ELTY unggul dalam nilai perdagangan, BTEK dalam volume. Frekuensi tinggi tidak selalu berarti dana yang diperdagangkan juga besar.
- Rencana harga minimum Rp1 masih menunggu implementasi. Sementara itu, keramaian transaksi belum membuktikan perbaikan fundamental, sebagaimana terlihat dari perbandingan aktivitas WIDI dengan kinerja keuangannya.
Daftar 10 Saham di Bawah Rp50 Paling Aktif
Peringkat ini menggunakan frekuensi transaksi sebagai ukuran utama. Penyaringan mencakup saham dengan harga penutupan lebih dari Rp0 dan kurang dari Rp50, serta volume dan frekuensi perdagangan positif. Transaksi nonreguler tidak digabungkan dalam peringkat.
Sebanyak 36 saham memenuhi kriteria tersebut pada 4 September 2026, dengan total 19.519 transaksi senilai Rp16,63 miliar. Sepuluh saham teratas menyumbang 14.394 transaksi atau 73,74% dari frekuensi kelompok ini.
| No. | Saham | Penutupan (Rp) | Harian | Frekuensi (kali) | Volume (juta saham) | Nilai (Rp juta) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | RELF | 38 | +8,57% | 3.878 | 27,94 | 1.045,60 |
| 2 | WIDI | 27 | +3,85% | 2.232 | 36,49 | 949,03 |
| 3 | ELTY | 37 | -2,63% | 1.951 | 60,57 | 2.241,01 |
| 4 | HADE | 19 | +5,56% | 1.186 | 4,41 | 81,53 |
| 5 | BTEK | 10 | 0,00% | 1.130 | 116,41 | 1.164,09 |
| 6 | MANG | 41 | +7,89% | 1.059 | 37,36 | 1.500,65 |
| 7 | WMPP | 32 | -3,03% | 890 | 46,93 | 1.544,24 |
| 8 | AEGS | 46 | -2,13% | 841 | 22,48 | 1.092,91 |
| 9 | VIVA | 47 | -6,00% | 645 | 22,13 | 1.032,18 |
| 10 | ISAP | 24 | 0,00% | 582 | 37,36 | 861,47 |
Sumber: BEI, diolah Receh.in. Volume dan nilai dibulatkan. Geser tabel ke samping pada layar kecil.
Nama emiten lainnya dalam daftar adalah PT Widiant Jaya Krenindo Tbk. (WIDI), PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), PT Himalaya Energi Perkasa Tbk. (HADE), PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk. (BTEK), PT Manggung Polahraya Tbk. (MANG), PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP), PT Anugerah Spareparts Sejahtera Tbk. (AEGS), PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA), dan PT Isra Presisi Indonesia Tbk. (ISAP).
RELF Paling Ramai, tetapi ELTY Menampung Nilai Transaksi Lebih Besar
RELF ditutup naik 8,57% dari Rp35 menjadi Rp38. Dengan 3.878 transaksi, saham ini menjadi pemimpin frekuensi. Akan tetapi, nilai perdagangannya sebesar Rp1,05 miliar masih jauh di bawah ELTY yang mencapai Rp2,24 miliar.
Jika nilai dibagi frekuensi, rata-rata transaksi RELF sekitar Rp270 ribu, sedangkan ELTY sekitar Rp1,15 juta. Artinya, ELTY memiliki ukuran transaksi rata-rata lebih besar, meskipun jumlah transaksinya lebih sedikit. Rata-rata ini tidak mengungkap identitas pelaku ataupun ukuran setiap transaksi.
HADE memperlihatkan perbedaan yang lebih mencolok. Saham tersebut masuk urutan keempat dengan 1.186 transaksi, tetapi nilai perdagangannya hanya Rp81,53 juta. Rata-ratanya sekitar Rp68,7 ribu per transaksi. Ramai bunyi kasirnya belum tentu besar omzetnya.
Sementara itu, BTEK memimpin volume dengan 116,41 juta saham. Jumlah lembarnya terlihat besar, tetapi nilai transaksi Rp1,16 miliar masih di bawah ELTY, WMPP, MANG, dan WINR. Harga per lembar yang rendah membuat volume mudah terlihat mengesankan.
WINR bahkan tidak masuk sepuluh besar frekuensi karena hanya mencatat 461 transaksi. Namun, nilai perdagangannya mencapai Rp1,42 miliar, lebih besar daripada RELF. Jadi, pembaca yang mencari aktivitas berdasarkan nilai rupiah akan mendapatkan urutan berbeda.
Likuiditas juga menyangkut kemampuan membeli atau menjual dalam jumlah tertentu tanpa menggeser harga terlalu jauh. Data perdagangan sehari belum cukup untuk mengukur kemampuan itu secara menyeluruh, terlebih untuk memastikan keramaian akan bertahan pada sesi berikutnya.
WIDI Ramai, tetapi Kinerja Bisnis Masih Perlu Dicermati
WIDI menguat 3,85% menjadi Rp27 dan menempati peringkat kedua frekuensi. Namun, aktivitas pasar tersebut perlu dipisahkan dari kondisi usahanya.
Dalam ringkasan laporan keuangan WIDI yang dipublikasikan IPOT News pada 4 Agustus 2026, pendapatan semester I-2026 tercatat sekitar Rp6 miliar, turun 3,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi bersihnya sekitar Rp2,3 miliar, membesar dari sekitar Rp1,9 miliar.
Perbandingan ini tidak membuktikan saham WIDI akan turun. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga dan keramaian transaksi belum dapat disebut sebagai bukti pemulihan laba. Untuk menyatakan bisnis mulai membaik, diperlukan perkembangan pendapatan, margin, dan arus kas yang mendukung.
Pola harga pada sepuluh saham teratas juga tidak bergerak seragam: empat naik, empat turun, dan dua stagnan. ELTY melemah 2,63% meskipun memimpin nilai perdagangan. VIVA turun 6% dengan nilai transaksi tetap di atas Rp1 miliar. BTEK tidak berubah walaupun volumenya melampaui 116 juta saham.
Karena itu, label “ramai diborong” terlalu jauh jika hanya didasarkan pada frekuensi atau volume. Setiap transaksi memiliki pihak pembeli dan penjual; besarnya aktivitas saja tidak menjelaskan siapa yang sedang menambah kepemilikan bersih.
Harga rendah juga memperbesar dampak persentase dari perubahan kecil. Secara aritmetika, selisih Rp1 pada harga Rp10 setara 10%. Nominalnya receh, tetapi persentase kerugiannya tetap serius.
Rencana Harga Minimum Rp1 Membuat Konteks Perdagangan Makin Penting
Daftar ini muncul ketika BEI sedang menyiapkan perubahan batas minimum harga saham. Berdasarkan laporan Suara Surabaya pada 1 September 2026, implementasi penurunan batas minimum di pasar reguler dan tunai dari Rp50 menjadi Rp1 ditunda dari target 7 September ke pekan ketiga atau keempat September, sambil menunggu kesiapan anggota bursa.
Dengan demikian, rencana tersebut belum boleh diperlakukan sebagai kebijakan yang sudah berlaku pada tanggal data artikel ini, 4 September 2026. Jadwal target juga berbeda dari kepastian tanggal efektif.
BEI mengharapkan perubahan itu memperbaiki likuiditas dan pembentukan harga. Tujuan tersebut disampaikan dalam pemberitaan IDXChannel pada 1 September 2026. Namun, ruang harga yang lebih luas tidak otomatis menciptakan permintaan baru atau memperbaiki laba emiten.
Untuk mekanisme yang sudah dijelaskan BEI, saham di Papan Pemantauan Khusus menggunakan periodic call auction: pesanan dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dipertemukan pada fase pencocokan. BEI juga menjelaskan harga minimum Rp1 dan notasi X untuk saham pada papan tersebut.
Implikasinya, khusus pada saham yang diperdagangkan melalui mekanisme itu, angka frekuensi harian tidak berarti transaksi tersedia setiap saat sepanjang sesi. Waktu pencocokan pesanan merupakan bagian penting dari cara perdagangan berlangsung. Status papan masing-masing saham perlu dilihat tersendiri; harga di bawah Rp50 saja bukan penjelasan lengkap mengenai statusnya.
Bagi pembaca, temuan terpenting tetap konkret: RELF unggul dalam frekuensi, ELTY dalam nilai, dan BTEK dalam volume. Pilihan ukuran akan mengubah kesan tentang saham mana yang “paling ramai”. Sementara kualitas bisnis dan kemudahan keluar dari posisi membutuhkan pemeriksaan yang berbeda dari sekadar melihat harga murah.
FAQ Saham di Bawah Rp50 Paling Aktif
Saham di bawah Rp50 apa yang paling aktif pada 4 September 2026?
Saham mana yang terbesar berdasarkan nilai dan volume transaksi?
Apakah saham yang ramai diperdagangkan berarti fundamentalnya membaik?
Apakah harga minimum Rp1 sudah berlaku menyeluruh pada 4 September 2026?
Bagaimana peringkat saham paling aktif ini disusun?
Sumber utama: Bursa Efek Indonesia (BEI), Ringkasan Saham 4 September 2026. Perhitungan dan analisis oleh Receh.in.
Referensi tambahan: Penjelasan resmi BEI mengenai Papan Pemantauan Khusus dan periodic call auction; ringkasan laporan keuangan WIDI semester I-2026 di IPOT News, 4 Agustus 2026; serta pemberitaan Suara Surabaya dan IDXChannel, 1 September 2026, mengenai rencana batas minimum harga Rp1. Tautan tersedia pada pembahasan terkait.
Metodologi: Peringkat memakai harga penutupan di bawah Rp50 dan aktivitas perdagangan positif. Saham tepat Rp50 tidak termasuk. Volume, nilai, dan frekuensi nonreguler tidak digabungkan; saham yang hanya memiliki transaksi nonreguler berada di luar cakupan. Perubahan harian dihitung terhadap harga sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi merupakan nilai dibagi frekuensi, bukan median atau jumlah investasi per orang. Perhitungan menggunakan angka sebelum pembulatan.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Aktivitas perdagangan satu hari tidak menjamin likuiditas berkelanjutan, kenaikan harga, atau perbaikan fundamental. Rencana kebijakan dapat berubah sebelum ditetapkan dan diberlakukan.

0 Komentar