Receh.in — Prospek emiten perkebunan sawit masih terlihat menarik untuk semester II/2026, terutama karena harga crude palm oil (CPO) diperkirakan menguat dan operasional perusahaan relatif resilien. Namun memasuki 2027, ceritanya bisa berubah: risiko penurunan yield berpotensi menggerus laba bahkan ketika harga CPO naik.
Riset Indo Premier Sekuritas (IPS) menilai laba emiten perkebunan pada semester II/2026 berpeluang melampaui konsensus. Pendorong utamanya adalah harga CPO yang lebih tinggi, yield yang masih relatif kuat, dan risiko kenaikan pungutan yang dinilai terbatas dalam jangka dekat.
Meski demikian, IPS melihat risiko utama mulai bergeser ke 2027. Jika kekeringan akibat El Niño bertahan hingga Oktober 2026, yield kelapa sawit tahun depan diperkirakan bisa turun 15%–17% secara tahunan, jauh lebih buruk dibandingkan estimasi dasar penurunan 1%–5%.
Masalahnya, kenaikan harga CPO tidak otomatis cukup untuk menutup penurunan volume produksi. Dalam sensitivitas IPS, setiap penurunan yield 10% membutuhkan kenaikan harga CPO sekitar 20% agar laba dapat bertahan.
- IPS memperkirakan laba sektor perkebunan 2H26F bisa melampaui konsensus karena harga CPO lebih tinggi dan operasi masih resilien.
- Risiko utama bergeser ke FY27F, dengan yield berpotensi turun 15%–17% jika dampak kekeringan berlanjut.
- IPS mempertahankan pandangan tactical overweight untuk sektor dengan DSNG dan TAPG sebagai pilihan utama dalam riset tersebut.
Semester II 2026 Jadi Katalis Jangka Pendek
Menurut IPS, outlook jangka pendek sektor perkebunan masih relatif mendukung.
Laba semester II/2026 diperkirakan berpeluang melampaui konsensus karena beberapa faktor sekaligus: harga CPO yang lebih tinggi, operasi yang relatif stabil, dan tekanan pungutan yang masih terbatas.
Kenaikan harga CPO diproyeksikan mendapat dukungan dari implementasi biodiesel B50 dan meningkatnya permintaan dari India menjelang periode festival.
Harga minyak mentah yang masih tinggi juga berpotensi memberikan tambahan dukungan terhadap harga minyak nabati.
IPS mencatat bahwa sepanjang tahun berjalan, pergerakan harga CPO sekitar setengah dari magnitude perubahan harga minyak mentah, dengan jeda sekitar 4–7 hari.
Dari sisi operasional, dampak El Niño dan kebakaran terhadap produksi sejauh ini dinilai masih terbatas.
Risiko pungutan juga dianggap cukup terkendali. IPS mencatat penerimaan pungutan pada semester I/2026 sekitar Rp21 triliun, lebih tinggi daripada pembayaran subsidi sekitar Rp17 triliun.
Selisih tersebut membuat pendanaan BPDP masih positif dan mengurangi risiko kenaikan pungutan dalam waktu dekat.
2027 Bisa Lebih Sulit karena Yield Turun
Risiko terbesar justru muncul pada 2027.
IPS memperkirakan apabila kekeringan akibat El Niño bertahan hingga Oktober 2026, yield sawit pada FY27F bisa turun 15%–17% YoY.
Penurunan tersebut jauh lebih dalam dibandingkan estimasi dasar yang saat ini masih berada di kisaran minus 1% hingga minus 5%.
Polanya dianggap berpotensi mirip dengan kondisi pada 2016 setelah periode El Niño.
| Skenario Yield FY27F | Implikasi |
|---|---|
| Base case | -1% hingga -5% YoY |
| Skenario kekeringan berkepanjangan | -15% hingga -17% YoY |
| Sensitivitas IPS | Setiap yield -10% membutuhkan CPO +20% |
Di sinilah tantangan sektor menjadi lebih kompleks.
Harga jual yang lebih tinggi memang dapat membantu, tetapi penurunan produksi dalam skala besar bisa menggerus kenaikan pendapatan maupun laba.
IPS menghitung setiap penurunan yield sekitar 10% secara tahunan membutuhkan kenaikan rata-rata harga CPO sekitar 20% untuk mengimbangi dampaknya.
Dalam estimasi tersebut, harga CPO perlu mencapai sekitar MYR5.400 per ton agar penurunan yield 10% dapat terkompensasi.
Harga CPO Bisa ke MYR5.500–5.900, Tapi Mungkin Belum Cukup
IPS juga melihat pola historis bahwa pada tahun setelah El Niño, diskon harga CPO terhadap soybean oil cenderung menyempit menjadi sekitar 4%–11%.
Dengan asumsi harga soybean oil naik sekitar 6% YoY pada FY27F, sejalan dengan konsensus, harga CPO diperkirakan secara teoritis bisa mencapai sekitar MYR5.500–MYR5.900 per ton.
Rentang tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 22%–32% YoY.
Namun kenaikan tersebut tetap mungkin belum cukup jika yield benar-benar turun 15%–17%.
| Variabel FY27F | Estimasi IPS |
|---|---|
| Kenaikan soybean oil | ~6% YoY |
| Potensi harga CPO | MYR5.500–5.900/ton |
| Kenaikan CPO | +22% hingga +32% YoY |
| Potensi penurunan yield | -15% hingga -17% YoY |
Secara sederhana, IPS menilai harga CPO perlu naik kira-kira dua kali lipat dari magnitude penurunan yield agar laba tidak turun secara tahunan.
Jadi bila yield jatuh 15%, harga secara kasar harus naik sekitar 30% agar dampaknya bisa tertutup.
Jika yield turun 17%, maka kebutuhan kenaikan harga bisa mendekati 34%.
B60 Bisa Jadi Katalis Tambahan pada Semester II 2027
Pemerintah juga berencana menerapkan B60 pada 2027.
Menurut IPS, apabila implementasi dilakukan pada semester II/2027, program tersebut berpotensi mengurangi pasokan CPO ke pasar ekspor sekitar 10%–13%.
Pengurangan seaborne supply dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga CPO dan bahkan berpotensi membawa CPO diperdagangkan pada premium terhadap soybean oil, seperti yang pernah terlihat pada semester II/2024.
Secara historis, IPS mencatat harga CPO pernah meningkat sekitar 11%–29% YoY dalam periode ketika peningkatan mandatori biodiesel berlangsung bersamaan dengan dampak El Niño.
Namun B60 belum dimasukkan ke dalam base case.
Hambatannya meliputi kapasitas HVO yang terbatas, biaya implementasi yang tinggi, dan ketersediaan feedstock.
IPS mempertahankan pandangan tactical overweight terhadap sektor perkebunan berdasarkan ekspektasi pemulihan laba semester II/2026.
Dalam riset tersebut, DSNG menjadi pilihan utama karena prospek operasional yang dinilai kuat dan valuasi yang dianggap menarik. TAPG juga masuk dalam daftar top picks.
Namun pandangan tersebut merupakan rekomendasi IPS, bukan rekomendasi Receh.in.
Menjelang 2027, investor perlu memperhatikan apakah penurunan yield mulai tercermin dalam proyeksi laba konsensus.
Selain faktor produksi, risiko lain yang disebut adalah geopolitik dan perubahan regulasi.
FAQ Prospek Saham Sawit dan Harga CPO
Kenapa IPS positif terhadap sektor sawit pada semester II 2026?
Berapa potensi penurunan yield sawit pada 2027?
Berapa kenaikan harga CPO yang diperlukan untuk menutup penurunan yield?
Berapa proyeksi harga CPO pada 2027?
Apa dampak B60 terhadap harga CPO?
Apa saham sawit pilihan IPS?
Perhitungan Receh.in: Berdasarkan sensitivitas IPS bahwa penurunan yield 10% membutuhkan kenaikan harga CPO 20%, maka secara sederhana penurunan yield 15% memerlukan kenaikan harga sekitar 30%, sedangkan penurunan yield 17% memerlukan kenaikan sekitar 34%. Perhitungan ini hanya ilustrasi linear, bukan proyeksi resmi tambahan dari IPS.
Catatan: Istilah overweight, tactical overweight, top pick, dan target dalam artikel merupakan pandangan riset Indo Premier Sekuritas, bukan rekomendasi Receh.in. Estimasi FY26F dan FY27F bersifat forward-looking dan dapat berubah mengikuti harga CPO, produksi, cuaca, kebijakan biodiesel, levy, dan faktor geopolitik.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual DSNG, TAPG, atau saham perkebunan lainnya. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, yield tanaman, usia tanaman, cost structure, leverage, free cash flow, harga CPO, dan risiko regulasi sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar