Receh.in — PT Victoria Investama Tbk. (VICO) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp121,73 miliar atau Rp8 per saham untuk tahun buku 2025, meskipun kinerja laba perseroan pada semester I/2026 sedang mengalami tekanan cukup dalam.
Pembagian dividen telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 September 2026. Dana dividen berasal dari sebagian laba ditahan perseroan per 31 Desember 2025.
Total dividen tersebut setara dengan sekitar 8,27% dari saldo laba ditahan. Artinya, perseroan tidak menghabiskan sebagian besar akumulasi laba untuk pembagian dividen dan masih mempertahankan mayoritas saldo laba di neraca.
Namun investor tetap perlu mencermati tren kinerja terbaru. Pada semester I/2026, pendapatan VICO turun tipis 0,83%, sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 76,44% menjadi Rp100,35 miliar.
- VICO membagikan dividen tunai Rp121,73 miliar atau Rp8 per saham dari laba ditahan tahun buku 2025.
- Dividen tersebut setara sekitar 8,27% dari saldo laba ditahan perseroan.
- Semester I/2026, laba bersih VICO turun 76,44% menjadi Rp100,35 miliar di tengah kenaikan beban usaha.
Dividen VICO Rp8 per Saham
Direktur VICO Ruly Dwi Rahayu menyampaikan bahwa setiap saham berhak memperoleh dividen tunai sebesar Rp8, sepanjang pemegang saham tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada recording date dividen.
*Dihitung dari total dividen Rp121.736.605.264 dibagi Rp8 per saham.
Berdasarkan besaran dividen per saham, jumlah saham yang menjadi basis pembagian dividen secara matematis sekitar 15,22 miliar lembar.
Jika dividen Rp121,73 miliar setara 8,27% dari laba ditahan, maka saldo laba ditahan sebelum pembagian secara indikatif berada di kisaran Rp1,47 triliun.
Laba Semester I 2026 Turun 76,44%
Dari sisi operasional, kinerja VICO pada enam bulan pertama 2026 menunjukkan tekanan cukup besar pada laba.
Pendapatan usaha turun tipis 0,83% menjadi Rp615,13 miliar dari Rp620,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun beban usaha justru naik 14,63% menjadi Rp323,69 miliar dari Rp282,38 miliar.
| Pos Keuangan | Semester I/2025 | Semester I/2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan usaha | Rp620,30 miliar | Rp615,13 miliar | -0,83% |
| Beban usaha | Rp282,38 miliar | Rp323,69 miliar | +14,63% |
| Laba usaha | Rp337,93 miliar | Rp291,44 miliar | -13,75% |
| Laba bersih atribusi | Rp425,87 miliar | Rp100,35 miliar | -76,44% |
Kenaikan beban usaha jauh lebih cepat daripada pergerakan pendapatan membuat laba usaha turun 13,75% menjadi Rp291,44 miliar.
Penurunan laba bersih bahkan jauh lebih tajam. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun dari Rp425,87 miliar menjadi Rp100,35 miliar.
Dengan pendapatan Rp615,13 miliar, margin laba bersih terhadap pendapatan secara sederhana berada di kisaran 16,3% pada semester I/2026. Setahun sebelumnya, rasionya sekitar 68,7%.
Perbedaan sebesar itu menunjukkan bahwa investor perlu melihat lebih dalam komponen di bawah laba usaha, bukan hanya penjualan dan beban operasional.
Apakah Dividen Rp121,73 Miliar Terlalu Besar?
Belum tentu.
Ukuran dividen yang tepat sebaiknya tidak hanya dibandingkan dengan laba semester I/2026, karena dividen berasal dari laba ditahan tahun buku 2025.
Yang lebih relevan adalah melihat beberapa indikator:
- saldo laba ditahan setelah pembagian dividen;
- arus kas dan likuiditas;
- kebutuhan modal anak usaha;
- utang dan kewajiban keuangan;
- serta tren laba konsolidasi ke depan.
Dengan dividen hanya sekitar 8,27% dari saldo laba ditahan, secara nominal perusahaan masih mempertahankan lebih dari 90% saldo laba tersebut setelah pembagian, jika tidak ada perubahan lain pada akun yang sama.
Namun dividend yield belum bisa dihitung dari bahan yang tersedia karena harga saham VICO pada saat cum date atau harga acuan lain tidak disebutkan.
Begitu pula payout ratio terhadap laba tahun buku 2025 tidak dapat dihitung secara akurat tanpa angka laba bersih penuh tahun tersebut.
Yang Perlu Dipantau Investor VICO
Di balik dividen, tantangan VICO justru terletak pada kemampuan memulihkan pertumbuhan laba.
Pendapatan yang relatif stagnan sementara beban usaha meningkat menunjukkan bahwa pengendalian biaya menjadi salah satu isu penting.
Investor juga perlu memahami sumber penurunan laba bersih yang jauh lebih dalam daripada penurunan laba usaha.
| Yang Dipantau | Kenapa Penting? |
|---|---|
| Pendapatan | Menilai apakah bisnis kembali tumbuh |
| Beban usaha | Menentukan pemulihan margin operasional |
| Pos non-operasional | Menjelaskan penurunan laba bersih yang tajam |
| Arus kas | Menilai kemampuan membayar dividen secara berkelanjutan |
| Laba ditahan | Menentukan ruang distribusi dividen di masa depan |
Besarnya laba semester sebelumnya juga membuat basis perbandingan laba 2026 terlihat tinggi. Karena itu, investor perlu memeriksa apakah laba semester I/2025 mengandung pendapatan atau keuntungan tertentu yang tidak berulang sebelum menilai kualitas penurunan tahun ini.
FAQ Dividen VICO 2026
Berapa dividen VICO?
Dari mana sumber dividen VICO?
Berapa persen dividen terhadap laba ditahan VICO?
Berapa laba VICO semester I/2026?
Kenapa laba VICO turun?
Kapan jadwal cum date dan pembayaran dividen VICO?
Perhitungan Receh.in: Total dividen Rp121.736.605.264 dibagi Rp8 per saham mengimplikasikan sekitar 15,22 miliar saham. Jika Rp121,73 miliar setara 8,27% saldo laba ditahan, maka saldo laba ditahan secara indikatif sekitar Rp1,47 triliun. Margin laba bersih sederhana semester I/2026 sekitar 16,3% dari laba Rp100,35 miliar terhadap pendapatan Rp615,13 miliar.
Catatan: Bahan tidak memuat jadwal cum date, ex date, recording date, dan tanggal pembayaran dividen secara lengkap. Payout ratio terhadap laba tahun buku 2025 dan dividend yield juga tidak dihitung karena laba bersih FY2025 serta harga saham acuan tidak tersedia dalam bahan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham VICO. Investor perlu mempertimbangkan laba, arus kas, saldo laba, struktur modal, keberlanjutan dividen, dan valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar