Daftar IsiTampilkan

Receh.in — Investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,2 triliun hingga penutupan sesi I perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026.

Berdasarkan data IPOT X, nilai beli asing mencapai sekitar Rp1,7 triliun, sedangkan nilai jual mencapai sekitar Rp2,9 triliun. Tekanan terbesar datang dari saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatat net sell asing sebesar Rp851,9 miliar.

Nilai tersebut sangat dominan. Secara aritmetika, net sell GOTO setara sekitar 71% dari total net sell asing Rp1,2 triliun hingga sesi pertama.

Di sisi lain, asing masih melakukan pembelian selektif pada ASII, EMAS, PTBA, SMGR, dan GGRM. Data “Smart Money” IPOT juga menunjukkan pola yang tidak selalu sama dengan foreign flow karena indikator tersebut merupakan hasil algoritma aplikasi, bukan identitas investor asing.

Ringkasan
  • Asing mencatat net sell Rp1,2 triliun hingga sesi I, dengan nilai beli Rp1,7 triliun dan nilai jual Rp2,9 triliun.
  • GOTO menyumbang net sell Rp851,9 miliar, jauh di atas saham lain.
  • ASII dan PTBA masuk daftar pembelian asing dan akumulasi Smart Money, sedangkan GOTO dan BBRI sama-sama muncul di sisi jual.
Rp1,2 T Net sell asing sesi I
Rp851,9 M Net sell GOTO
Rp1,7 T Nilai beli asing
Rp2,9 T Nilai jual asing

GOTO Dominasi Net Sell Asing

Tekanan jual asing pada sesi I sangat terkonsentrasi di GOTO.

Top Jual Asing Net Sell
GOTO Rp851,9 miliar
BBRI Rp93,3 miliar
BBCA Rp55,8 miliar
BMRI Rp47,2 miliar
TLKM Rp38,6 miliar

Total net sell lima saham tersebut mencapai sekitar Rp1,087 triliun. Angka itu setara sekitar 90,6% dari net sell asing Rp1,2 triliun.

GOTO sendiri menyumbang sekitar 71% dari total tekanan jual bersih asing. Ini menunjukkan foreign outflow pada sesi I cukup terkonsentrasi, bukan tersebar merata di seluruh saham.

Konsentrasi net sell tidak sama dengan penyebab tunggal IHSG. Arus asing besar di satu saham memang penting, tetapi pergerakan indeks tetap dipengaruhi bobot saham dan pergerakan emiten lain.

ASII dan PTBA Masuk Top Beli Asing

Di tengah net sell agregat yang besar, investor asing masih melakukan pembelian selektif.

Top Beli Asing Net Buy
ASII Rp19,6 miliar
EMAS Rp16,6 miliar
PTBA Rp10,4 miliar
SMGR Rp6,2 miliar
GGRM Rp6,0 miliar

Total pembelian bersih lima saham tersebut sekitar Rp58,8 miliar, jauh lebih kecil dibanding tekanan jual yang terjadi pada GOTO seorang diri.

Pola ini menunjukkan foreign flow masih bersifat selektif. Asing tidak menjual seluruh pasar secara seragam, tetapi melakukan rotasi antar saham dan sektor.

Smart Money Berbeda dengan Foreign Flow

Data IPOT juga menampilkan indikator Smart Money. Pada sisi akumulasi, BBCA berada di posisi teratas dengan nilai Rp111,7 miliar.

Smart Money Akumulasi Nilai
BBCA Rp111,7 miliar
PTRO Rp74,8 miliar
PTBA Rp19,1 miliar
ASII Rp14,2 miliar
CUAN Rp12,7 miliar

Sementara pada sisi distribusi, GOTO kembali berada di posisi teratas.

Smart Money Distribusi Nilai
GOTO Rp55,8 miliar
SINI Rp43,5 miliar
BBRI Rp34,7 miliar
AMMN Rp28,4 miliar
DOOH Rp25,9 miliar

ASII dan PTBA menarik karena sama-sama muncul pada daftar net buy asing dan akumulasi Smart Money. Sebaliknya, GOTO dan BBRI muncul pada sisi jual di kedua indikator.

Namun investor perlu hati-hati membaca persamaan tersebut. Foreign flow berasal dari klasifikasi investor asing, sedangkan Smart Money merupakan indikator algoritmik aplikasi. Keduanya bukan hal yang sama dan tidak boleh disamakan dengan “bandar”.

Smart Money bukan identitas investor. Indikator tersebut membantu membaca pola transaksi menurut model aplikasi, tetapi bukan bukti bahwa institusi tertentu sedang membeli atau menjual.

Apa yang Perlu Dipantau hingga Penutupan?

Data ini baru mencerminkan sesi I. Foreign flow dapat berubah cukup besar pada sesi II, terutama jika terjadi transaksi bernilai besar menjelang penutupan.

Beberapa hal yang perlu dicermati antara lain:

  • apakah net sell asing tetap di atas Rp1 triliun hingga penutupan;
  • apakah tekanan jual GOTO berlanjut atau mulai terserap;
  • apakah saham bank besar seperti BBRI, BBCA, dan BMRI tetap menjadi sasaran jual;
  • apakah ASII dan PTBA mempertahankan posisi net buy;
  • serta apakah pola Smart Money tetap konsisten hingga akhir perdagangan.

Karena foreign flow sesi I bersifat snapshot, kesimpulan mengenai perubahan tren kepemilikan asing sebaiknya tidak dibuat dari satu setengah hari perdagangan saja.

Garis bawah: net sell asing sesi I mencapai Rp1,2 triliun dan sangat terkonsentrasi di GOTO, yang sendiri mencatat penjualan bersih Rp851,9 miliar. ASII dan PTBA mendapat pembelian selektif, sementara indikator Smart Money menunjukkan pola yang sebagian beririsan tetapi tidak identik dengan foreign flow.

FAQ Foreign Flow Sesi I 2 Oktober 2026

Berapa net sell asing hingga sesi I?
Investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,2 triliun hingga akhir sesi I 2 Oktober 2026.
Berapa nilai beli dan jual asing?
Nilai beli asing sekitar Rp1,7 triliun, sedangkan nilai jual sekitar Rp2,9 triliun.
Saham apa yang paling banyak dijual asing?
GOTO menjadi saham dengan net sell asing terbesar sekitar Rp851,9 miliar.
Saham apa yang paling banyak dibeli asing?
ASII mencatat net buy asing terbesar sekitar Rp19,6 miliar, disusul EMAS dan PTBA.
Apakah Smart Money sama dengan investor asing?
Tidak. Foreign flow mengacu pada klasifikasi transaksi investor asing, sedangkan Smart Money merupakan indikator algoritmik dari aplikasi perdagangan.
Saham apa yang muncul di dua sisi indikator sekaligus?
ASII dan PTBA masuk daftar net buy asing sekaligus akumulasi Smart Money, sedangkan GOTO dan BBRI masuk daftar net sell asing sekaligus distribusi Smart Money.
Sumber: Data IPOT X sebagaimana dikutip Ipotnews untuk perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia pada 2 Oktober 2026.

Perhitungan Receh.in: Net sell GOTO Rp851,9 miliar setara sekitar 71% dari net sell asing Rp1,2 triliun. Total lima saham net sell terbesar sekitar Rp1,087 triliun atau sekitar 90,6% dari net sell agregat sesi I.

Catatan: Data masih merupakan posisi sesi I dan dapat berubah hingga penutupan. Indikator Smart Money adalah metrik algoritmik aplikasi dan tidak digunakan sebagai bukti identitas investor atau aktivitas “bandar”.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Foreign flow dan indikator Smart Money perlu dibaca bersama fundamental, valuasi, likuiditas, dan kondisi pasar secara keseluruhan.