Receh.in — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) telah membayarkan atau menetapkan dividen dengan nilai agregat sekitar Rp50,63 triliun sepanjang kalender 2026. Namun angka jumbo tersebut perlu dibaca dengan benar: jumlah itu berasal dari pembagian laba dua tahun buku berbeda.
Sebesar Rp44,47 triliun merupakan dividen dari laba tahun buku 2025, sedangkan Rp6,16 triliun lainnya adalah dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp66 per saham yang dibayarkan pada 2 Oktober 2026.
Karena itu, payout ratio sekitar 79% tidak boleh dihitung menggunakan total Rp50,63 triliun. Rasio tersebut hanya berlaku pada dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun dibanding laba bersih konsolidasi 2025 sebesar Rp56,3 triliun.
Yang membuat pembagian interim terbaru menarik adalah Bank Mandiri masih mencatat pertumbuhan bisnis cukup tinggi. Hingga Agustus 2026, kredit dan dana pihak ketiga secara bank only sama-sama tumbuh 17,6% secara tahunan, sementara laba bersih naik 22,3% menjadi Rp37,5 triliun.
- Total dividen yang dibayarkan atau ditetapkan Bank Mandiri sepanjang kalender 2026 mencapai sekitar Rp50,63 triliun.
- Dari jumlah itu, Rp44,47 triliun berasal dari laba tahun buku 2025 dan Rp6,16 triliun merupakan dividen interim tahun buku 2026.
- Payout ratio 79% berlaku untuk dividen tahun buku 2025, sementara laba bank only hingga Agustus 2026 tumbuh 22,3% menjadi Rp37,5 triliun.
Rp50,63 Triliun Bukan Dividen dari Satu Tahun Buku
Angka Rp50,63 triliun terlihat sangat besar bila dibaca sebagai satu kali pembagian laba. Padahal struktur sebenarnya lebih berlapis.
Dalam RUPST April 2026, Bank Mandiri menyepakati dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun, setara sekitar 79% dari laba bersih konsolidasi 2025 sebesar Rp56,3 triliun.
Dari Rp44,47 triliun tersebut, sekitar Rp9,3 triliun sebenarnya sudah dibayarkan lebih dahulu sebagai dividen interim tahun buku 2025 pada 14 Januari 2026.
Sisanya kemudian dibayarkan setelah RUPST.
Pada 2 Oktober 2026, Bank Mandiri kembali membagikan dividen interim, kali ini untuk tahun buku 2026, sebesar Rp66 per saham atau sekitar Rp6,16 triliun.
| Komponen Dividen | Nilai | Tahun Buku |
|---|---|---|
| Dividen tahun buku 2025 | Rp44,47 triliun | 2025 |
| Di antaranya interim yang dibayar Januari 2026 | Rp9,3 triliun | 2025 |
| Interim Oktober 2026 | Rp6,16 triliun | 2026 |
| Total kalender 2026 | Rp50,63 triliun | Gabungan dua tahun buku |
Payout Ratio 79%, Seberapa Agresif?
Untuk tahun buku 2025, Bank Mandiri membagikan sekitar 79% laba bersih konsolidasinya sebagai dividen.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Laba bersih konsolidasi 2025 | Rp56,3 triliun |
| Dividen tahun buku 2025 | Rp44,47 triliun |
| Payout ratio | ±79% |
| Laba ditahan secara sederhana | ±Rp11,83 triliun |
Rasio itu memang menunjukkan distribusi laba yang besar kepada pemegang saham. Tetapi dividen tinggi bukan hanya soal kemurahan hati manajemen.
Bank tetap harus menjaga kecukupan modal untuk mendukung pertumbuhan kredit, memenuhi kebutuhan likuiditas, menyerap risiko kredit, serta mematuhi rasio permodalan minimum.
Karena itu, keberlanjutan dividen lebih penting daripada besarnya satu kali pembayaran. Investor perlu melihat apakah pertumbuhan laba, kualitas aset dan modal Bank Mandiri tetap cukup kuat setelah sebagian besar keuntungan dibagikan.
Pembagian interim Rp6,16 triliun untuk tahun buku 2026 juga belum dapat digunakan untuk menentukan payout ratio akhir 2026 karena tahun buku belum selesai dan laba setahun penuh belum tersedia.
Laba Naik 22,3%, Kredit dan DPK Sama-sama Tumbuh 17,6%
Sejauh ini, bisnis Bank Mandiri masih tumbuh setelah pembagian dividen besar dari laba 2025.
Secara bank only, kredit hingga Agustus 2026 mencapai Rp1.592 triliun, tumbuh 17,6% secara tahunan.
Dana pihak ketiga juga meningkat 17,6% menjadi Rp1.687 triliun.
Pada periode yang sama, laba bersih bank only tercatat Rp37,5 triliun, tumbuh 22,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
| Indikator Agustus 2026 | Nilai | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Kredit bank only | Rp1.592 triliun | +17,6% |
| DPK bank only | Rp1.687 triliun | +17,6% |
| Laba bersih bank only | Rp37,5 triliun | +22,3% |
| Total aset bank only | Rp2.358 triliun | +20,7% |
| NPL gross | 1,00% | — |
Kualitas aset juga tetap menjadi bagian penting dalam membaca kemampuan bank membayar dividen. Rasio NPL gross tercatat 1,00%, sementara coverage terhadap NPL mencapai 240,6%.
Dengan kata lain, pembagian dividen besar sejauh ini berjalan bersamaan dengan ekspansi kredit dan pertumbuhan laba. Tetapi korelasi tersebut tidak berarti dividen tinggi otomatis meningkatkan nilai saham.
Apakah Dividen Besar Membuat BMRI Otomatis Murah?
Belum tentu.
Dividend yield tergantung pada dividen per saham dibanding harga saham. Karena harga BMRI bergerak setiap hari, yield juga berubah dan tidak tepat disebut selalu berada di level dua digit tanpa menggunakan harga saham pada tanggal tertentu.
Demikian pula payout ratio tinggi tidak otomatis berarti saham murah atau mahal.
Bagi investor BMRI, setidaknya ada empat hal yang lebih relevan untuk dipantau setelah dividen besar ini:
- pertumbuhan laba setelah pembayaran interim;
- kemampuan modal menopang pertumbuhan kredit;
- kualitas aset dan biaya kredit;
- serta berapa payout ratio final untuk laba tahun buku 2026.
Dividen interim Rp66 per saham juga sebaiknya tidak diekstrapolasi begitu saja menjadi dividen akhir. Besarnya pembayaran berikutnya tetap bergantung pada laba setahun penuh dan keputusan pemegang saham.
FAQ Dividen Bank Mandiri 2026
Berapa total dividen Bank Mandiri sepanjang 2026?
Berapa dividen interim BMRI terbaru?
Berapa payout ratio Bank Mandiri tahun buku 2025?
Apakah Rp50,63 triliun berasal seluruhnya dari laba 2026?
Berapa laba Bank Mandiri hingga Agustus 2026?
Apakah dividen besar otomatis membuat saham BMRI menarik?
Perhitungan Receh.in: Total dividen kalender 2026 dihitung dari Rp44,47 triliun dividen tahun buku 2025 ditambah Rp6,16 triliun interim tahun buku 2026 = Rp50,63 triliun. Sisa laba tahun buku 2025 setelah dividen secara sederhana sekitar Rp11,83 triliun.
Catatan: Total Rp50,63 triliun merupakan agregasi pembayaran dari dua tahun buku dan tidak dapat digunakan sebagai pembilang payout ratio tahun buku 2025 maupun 2026. Dividend yield juga berubah mengikuti harga saham dan tidak diasumsikan berada pada level tertentu tanpa titik harga yang jelas.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BMRI. Dividen masa lalu maupun interim tidak menjamin besaran dividen berikutnya.

0 Komentar