Daftar IsiTampilkan


Receh.in
— Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan 80 saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menandai babak baru penataan pasar modal domestik. Sejumlah saham terafiliasi konglomerasi besar seperti Sinar Mas, Djarum, Salim, Barito, Lippo, CT Corp, hingga Mayapada kini tak lagi memengaruhi nilai pergerakan indeks acuan bursa.

Analis Tim Riset Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa pengeluaran saham-saham HSC ini berpotensi positif bagi kinerja IHSG ke depan. Pasalnya, beberapa saham HSC berbobot raksasa justru mencatatkan koreksi harga tajam sepanjang tahun 2026, sehingga memberikan beban yang tidak proporsional terhadap pergerakan indeks utama.

Dengan menyingkirkan emiten-emiten yang kepemilikannya terkonsentrasi pada satu pihak ini, BEI berupaya melepaskan IHSG dari potensi volatilitas ekstrem akibat transaksi terbatas pada saham-saham ber-free float tipis.

Ringkasan Utama

  • IHSG Lepas Beban 12,33%: Enam saham utama berbobot besar yang dikeluarkan (seperti BYAN, BREN, DSSA, MORA, DCII, dan SRAJ) secara kolektif menyumbang bobot 12,33% terhadap IHSG.
  • Saham Raksasa Anjlok Puluhan Persen: Sebagian besar saham berbobot besar dalam daftar HSC mengalami kejatuhan harga parah sepanjang 2026, dengan BREN (-81,1%) dan DSSA (-81,9%) mencatatkan penurunan tertajam.
  • Penyesuaian Divisor Indeks: BEI akan menyesuaikan pembagi (divisor) indeks untuk memastikan bahwa penyingkiran konstituen ini tidak menimbulkan lonjakan atau penurunan nilai IHSG secara artifisial.
80 Total Saham HSC Dikeluarkan
12,33% Bobot Gabungan 6 Saham Utama
3,82% Bobot HSC Tertinggi (DCII)
-81,9% Koreksi YTD Tertajam (DSSA)

Daftar Saham Utama HSC, Bobot Indeks, & Kinerja 2026

Berdasarkan analisis Mirae Asset Sekuritas per Selasa (20/10/2026), berikut adalah perincian saham-saham HSC utama yang memberikan kontribusi bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG beserta rekam kinerjanya sejak awal tahun (YTD) hingga 19 Oktober:

← Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom →

Kode Nama Emiten Konglomerasi / Pengendali Bobot di IHSG Kinerja Harga YTD 2026
DCII DCI Indonesia Tbk Grup Anthoni Salim & Otto Toto Sugiri 3,82% -6,6%
BYAN Bayan Resources Tbk Low Tuck Kwong 3,40% -33,9%
DSSA Dian Swastatika Sentosa Tbk Grup Sinar Mas (Franky Oesman Widjaja) 1,39% -81,9%
MORA Ekamas Mora Republik Tbk Grup Sinar Mas (Franky Oesman Widjaja) 1,27% -69,8%
SRAJ Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk Grup Mayapada (Jonathan Tahir) 1,02% -35,2%
BREN Barito Renewables Energy Tbk Grup Barito (Prajogo Pangestu) Signifikan -81,1%

Sumber: Laporan Riset Mirae Asset Sekuritas & Pengumuman Bursa Efek Indonesia, Selasa (20/10/2026).

Daftar Emiten Konglomerasi dalam Daftar HSC

Pembersihan bursa ini berdampak pada sejumlah portofolio saham milik konglomerat ternama di Indonesia:

  • Grup Sinar Mas (Keluarga Widjaja): Menjadi penyumbang terbanyak dengan 5 emiten, yaitu DUTI, SMAR, DSSA, GEMS, dan MORA.
  • Grup Mayapada (Dato’ Sri Tahir): Menyumbang 3 emiten utama, yaitu MAYA, MPRO, dan SRAJ.
  • Grup CT Corp (Chairul Tanjung): Terdiri dari PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI).
  • Grup Lippo: Meliputi PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).
  • Grup Barito (Prajogo Pangestu): PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
  • Grup Djarum: PT Global Digital Niaga Tbk (BELI / Blibli).
  • Grup Salim: PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) dan keterkaitan di DCII.
  • Grup Harita: PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA).
Penyesuaian Divisor & Strategi Investor:
Pengeluaran saham HSC tidak otomatis mendongkrak nilai IHSG secara langsung karena BEI melakukan kalkulasi ulang pada divisor indeks. Namun, secara mekanis, bobot relatif dari saham-saham yang tetap bertahan di IHSG akan mengalami kenaikan. Pemegang saham HSC perlu mengantisipasi risiko aksi jual dari pengelola dana indeks (ETF/reksa dana indeks), sedangkan investor ritel disarankan memantau rotasi aliran dana pada konstituen yang tersisa.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Mengapa pengeluaran saham HSC dianggap berdampak positif bagi IHSG?
Karena sebagian besar saham HSC yang berbobot besar (seperti BREN, DSSA, dan BYAN) telah mengalami penurunan harga yang sangat dalam sepanjang tahun 2026. Dengan mengeluarkannya dari kalkulasi, beban indeks menjadi lebih longgar.
Apakah pengeluaran saham HSC ini langsung membuat IHSG melonjak?
Tidak otomatis. BEI akan menyesuaikan pembagi (divisor) indeks agar perubahan komposisi ini tidak menimbulkan lonjakan atau penurunan harga secara artifisial.
Apa risiko bagi investor yang memegang saham berstatus HSC?
Investor perlu mewaspadai potensi tekanan jual jika pengelola dana investasi berbasis indeks melakukan rebalancing atau penyesuaian portofolio atas pelepasan saham HSC tersebut.
Sumber Data: Laporan Riset Tim Mirae Asset Sekuritas & Pengumuman Bursa Efek Indonesia per Selasa, 20 Oktober 2026.

Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk edukasi dan penyampaian informasi pasar modal. Bukan merupakan rekomendasi atau ajakan jual/beli saham tertentu.