Receh.in — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) kembali masuk pasar untuk membeli sahamnya sendiri. Bank pelat merah tersebut menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun untuk program pembelian kembali saham atau buyback tahap II yang berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.
Ini menjadi program buyback kedua BRI dalam hitungan beberapa bulan. Menariknya, pada program sebelumnya perseroan sebenarnya tidak menggunakan seluruh dana yang telah disiapkan.
Buyback periode 12 Juni–11 September 2026 mempunyai plafon Rp500 miliar. Hingga program berakhir, BRI membeli 31 juta saham senilai sekitar Rp90,37 miliar, atau hanya sekitar 18% dari batas maksimal tersebut.
Karena itu, rencana Rp1 triliun kali ini juga perlu dibaca dengan cara yang sama: angka tersebut merupakan kapasitas maksimal pembelian, bukan nilai yang harus direalisasikan seluruhnya.
Dari Rp500 Miliar Menjadi Rp1 Triliun
BRI mengumumkan buyback tahap II melalui keterbukaan informasi pada Kamis, 22 Oktober 2026. Program ini dijalankan ketika Otoritas Jasa Keuangan menetapkan kondisi pasar modal sedang berfluktuasi secara signifikan.
Pelaksanaannya mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2023 serta Surat OJK Nomor S-112/D.04/2026 tanggal 9 September 2026 mengenai kebijakan pembelian kembali saham oleh perusahaan terbuka dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.
| Program Buyback BBRI | Tahap Sebelumnya | Tahap II |
|---|---|---|
| Periode | 12 Juni–11 September 2026 | 22 Oktober 2026–21 Januari 2027 |
| Nilai maksimum | Rp500 miliar | Rp1 triliun |
| Realisasi | Rp90,37 miliar | Belum diketahui |
| Saham dibeli | 31 juta saham | Belum diketahui |
| Realisasi terhadap plafon | sekitar 18,1% | - |
| Rencana penggunaan saham | Program kepemilikan saham pekerja/direksi/komisaris | Program kepemilikan saham pekerja/direksi/komisaris |
Pada program pertama, rata-rata harga pembelian berdasarkan total nilai transaksi dan jumlah saham yang dibeli berada di kisaran Rp2.915 per saham.
BRI tidak menetapkan harga tertentu untuk tahap II. Perseroan hanya menyatakan pembelian akan dilakukan pada harga yang dinilai baik dan wajar.
Hal ini memberi fleksibilitas bagi manajemen. Jika harga saham tidak dianggap menarik, BRI tidak berkewajiban menghabiskan seluruh Rp1 triliun tersebut—seperti yang terjadi pada program sebelumnya.
Kenapa BRI Buyback Lagi?
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan langkah tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Dari perspektif pemegang saham, buyback dapat memberikan beberapa dampak.
Pertama, pembelian oleh emiten menciptakan tambahan permintaan terhadap saham di pasar selama periode pelaksanaan.
Kedua, saham yang dibeli kembali menjadi saham tresuri sehingga tidak diperhitungkan sebagai saham beredar untuk sejumlah kepentingan sampai dialihkan kembali. Dalam struktur buyback konvensional, pengurangan jumlah saham beredar dapat membantu meningkatkan laba per saham apabila laba perusahaan tidak berubah.
Namun dalam kasus BRI, ada detail yang penting: saham hasil buyback tersebut tidak direncanakan untuk dimusnahkan.
BRI berencana menggunakannya untuk program kepemilikan saham bagi pekerja dan/atau anggota Direksi serta Dewan Komisaris. Pengalihan saham tresuri baru dilakukan setelah memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham sesuai ketentuan yang berlaku.
Artinya, dampak jangka panjang terhadap jumlah saham beredar akan berbeda dibandingkan skenario ketika saham buyback dibatalkan secara permanen.
Rp1 Triliun Tidak Mengganggu Modal BRI?
Untuk bank, pertanyaan mengenai buyback tidak berhenti pada harga saham. Penggunaan modal juga harus dibandingkan dengan kebutuhan ekspansi kredit dan kewajiban menjaga rasio kecukupan modal.
BRI menyatakan telah memperhitungkan dampak program tersebut terhadap posisi permodalannya.
Berdasarkan perhitungan pro forma setelah memperhitungkan buyback tahap II, Capital Adequacy Ratio atau CAR konsolidasian per 30 Juni 2026 berada di 21,42%.
Sementara tingkat pengembalian ekuitas atau ROE tercatat sebesar 18,80%.
| Indikator | Pro Forma setelah Buyback |
|---|---|
| Nilai maksimum buyback | Rp1 triliun |
| CAR konsolidasian | 21,42% |
| ROE | 18,80% |
| Periode pelaksanaan | 22 Oktober 2026–21 Januari 2027 |
Menurut manajemen, posisi tersebut masih memberikan ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi, ekspansi bisnis, dan mengantisipasi risiko.
Dari sisi nominal pun Rp1 triliun relatif kecil dibandingkan skala ekuitas BRI. Karena itu, isu utama bagi investor barangkali bukan apakah BRI mampu mendanai buyback, melainkan seberapa agresif perseroan akan benar-benar menggunakan alokasi tersebut.
Pelajaran dari Buyback Pertama: Jangan Terpaku pada Angka Maksimum
Program sebelumnya memberi contoh yang cukup jelas.
BRI memiliki ruang membeli saham hingga Rp500 miliar, tetapi pada akhirnya hanya menghabiskan Rp90,37 miliar. Dengan kata lain, lebih dari 80% plafon tidak digunakan.
Ini penting karena pengumuman buyback sering kali dibaca pasar seolah-olah seluruh nilai yang diumumkan otomatis menjadi tambahan permintaan saham.
Padahal tidak demikian.
Buyback dengan nilai “sebanyak-banyaknya Rp1 triliun” berarti BRI mempunyai hak untuk membeli hingga batas tersebut selama periode yang ditentukan. Realisasi akhirnya dapat Rp1 triliun, dapat ratusan miliar, bahkan dapat jauh lebih kecil tergantung harga saham dan keputusan manajemen.
Karena itu, indikator selanjutnya yang patut diamati bukan hanya pergerakan harga BBRI, tetapi juga laporan realisasi pembelian: berapa lembar yang benar-benar dibeli dan berapa uang yang benar-benar digunakan.
Buyback tahap II: Nilai maksimal Rp1 triliun dengan periode pelaksanaan 22 Oktober 2026 sampai 21 Januari 2027. CAR pro forma konsolidasian per 30 Juni 2026 sebesar 21,42% dan ROE 18,80%.
Buyback sebelumnya: Program 12 Juni–11 September 2026 mempunyai plafon Rp500 miliar. BRI merealisasikan pembelian 31 juta saham senilai Rp90,37 miliar atau sekitar 18,1% dari plafon.
Catatan: Nilai maksimal buyback bukan nilai yang pasti direalisasikan. Jumlah pembelian aktual bergantung pada keputusan perseroan selama periode program.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham BBRI.

0 Komentar