Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Pasar sedang merah, tapi valuasi bercerita lebih rumit daripada sekadar naik dan turun harga.

Pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, sejumlah saham anggota LQ45 mengalami koreksi tajam di tengah volatilitas tinggi. Namun di antara saham-saham yang paling murah berdasarkan price earning ratio (PER), masih ada beberapa nama yang justru mampu menguat.

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), misalnya, naik 4,83% ke Rp8.675 meskipun IHSG berada di bawah tekanan. Sebaliknya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), yang berada di ujung atas daftar PER, ambles 14,94% ke Rp655.

Perdagangan hari itu mencatat nilai transaksi bursa sekitar Rp13,7 triliun dengan volume mencapai 62,18 miliar saham. Investor asing masih membukukan pembelian bersih sekitar Rp142,8 miliar menurut data yang dikutip Kontan.

3,03x PER terendah: BBTN
109,17x PER tertinggi: CUAN
0,37x PBV terendah: INKP
-14,94% Penurunan terdalam: CUAN

PER Rendah Tidak Selalu Berarti Harganya Sedang Naik

PER menggambarkan berapa kali harga saham dibandingkan laba bersih per saham. Secara umum, angka lebih rendah sering dibaca sebagai valuasi yang lebih murah. Tapi murah di atas kertas tidak otomatis berarti pasar akan langsung membeli.

Daftar 10 saham LQ45 dengan PER terendah pada 12 Oktober memperlihatkan hal itu dengan cukup jelas.

Kode Harga Penutupan PER PBV Perubahan
BBTN Rp1.035 3,03x 0,39x -1,90%
INKP Rp8.675 3,57x 0,37x +4,83%
MEDC Rp1.455 3,72x 0,88x +1,75%
NCKL Rp830 4,51x 1,19x -3,49%
JPFA Rp2.080 4,93x 1,23x +1,96%
AADI Rp11.700 5,38x 1,42x -0,85%
PGAS Rp1.420 5,59x 0,72x 0,00%
ANTM Rp3.050 5,73x 1,97x -4,09%
BBNI Rp3.380 5,86x 0,77x -1,46%
BMRI Rp4.010 6,15x 1,32x -0,74%

BBTN berada di posisi paling rendah dengan PER 3,03 kali. Tetapi saham bank tersebut tetap turun 1,90% ke Rp1.035.

Sementara INKP menjadi salah satu pengecualian paling mencolok. Dengan PER 3,57 kali dan PBV hanya 0,37 kali, saham ini justru melesat 4,83%.

INKP sekaligus memiliki PBV terendah dari seluruh 20 saham yang dibandingkan dalam daftar tersebut.

MEDC dan JPFA juga bertahan di zona hijau masing-masing +1,75% dan +1,96%. Sebaliknya, ANTM turun paling dalam di kelompok PER rendah dengan koreksi 4,09%.

Valuasi murah bukan sinyal beli otomatis
PER rendah bisa muncul karena laba sedang tinggi, harga saham sedang tertekan, atau pasar sedang memberi diskon karena memperkirakan laba akan turun di masa depan. Karena itu, PER perlu dibaca bersama tren laba, kualitas bisnis, utang, arus kas, dan prospek sektornya.

Di Ujung Lain, CUAN Diperdagangkan pada PER 109 Kali

Kontrasnya terlihat pada kelompok saham dengan PER tertinggi.

CUAN berada jauh di atas saham lain dengan PER 109,17 kali dan PBV 11,91 kali. Pada hari yang sama, harga sahamnya jatuh 14,94%.

Kode Harga Penutupan PER PBV Perubahan
CUAN Rp655 109,17x 11,91x -14,94%
UNTR Rp24.350 47,47x 0,94x -1,81%
INDY Rp2.610 37,29x 0,63x -6,45%
BUMI Rp165 27,50x 2,06x -8,33%
GOTO Rp27 27,00x 0,96x -10,00%
MBMA Rp460 25,56x 1,70x -2,95%
DEWA Rp332 19,53x 1,67x -9,29%
MDKA Rp2.870 19,39x 4,46x -2,38%
BRPT Rp1.345 18,42x 2,90x -4,27%
AMMN Rp4.300 17,48x 3,02x -2,49%

Tidak ada satu pun saham dalam kelompok PER tinggi tersebut yang ditutup menguat.

CUAN menjadi penurun terdalam, disusul GOTO yang anjlok 10%, DEWA turun 9,29%, dan BUMI melemah 8,33%.

Pergerakan ini memperlihatkan bagaimana saham dengan valuasi tinggi bisa lebih rentan ketika investor mulai mengurangi risiko. Ketika harga sebelumnya mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang besar, pasar biasanya membutuhkan alasan yang kuat untuk mempertahankan valuasi tersebut.

Namun sekali lagi, PER tinggi tidak otomatis berarti saham pasti terlalu mahal. Rasio itu dapat tinggi karena laba saat ini masih kecil sementara pasar memperkirakan pertumbuhan laba besar di masa depan. Masalah muncul jika pertumbuhan yang diharapkan tidak terwujud.

Selisih Valuasi BBTN dan CUAN Sangat Lebar

Rentang PER dalam daftar ini mencolok.

BBTN diperdagangkan pada sekitar 3,03 kali laba, sementara CUAN berada di 109,17 kali. Artinya, secara nominal rasio PER CUAN sekitar 36 kali lebih tinggi dibandingkan BBTN.

Tetapi perbandingan semacam ini tidak boleh berhenti di angka. BBTN adalah bank, sementara CUAN bergerak di bisnis yang berbeda dengan struktur aset, prospek pertumbuhan, dan siklus laba yang tidak sama.

PER lebih berguna ketika dipakai membandingkan perusahaan sejenis, sejarah valuasi saham itu sendiri, serta pertumbuhan laba yang mendasarinya.

PBV Membuat Cerita INKP Lebih Menarik

Jika PER melihat harga terhadap laba, PBV membandingkan harga pasar dengan nilai buku perusahaan.

INKP mencatat PBV hanya 0,37 kali. Secara sederhana, pasar menilai saham tersebut kurang dari nilai buku yang tercatat per saham.

BBTN tidak jauh berbeda dengan PBV 0,39 kali. INDY juga berada di bawah satu kali, yakni 0,63 kali, sedangkan PGAS 0,72 kali dan BBNI 0,77 kali.

Namun PBV di bawah satu juga bukan jaminan suatu saham murah dalam arti ekonomis. Pasar bisa memberi valuasi rendah karena khawatir terhadap kualitas aset, kemampuan menghasilkan return, siklus bisnis, atau penurunan laba.

Itulah alasan angka valuasi sebaiknya dipakai sebagai pintu masuk analisis, bukan kesimpulan akhirnya.

Apa yang Bisa Dibaca dari Koreksi 12 Oktober?

Daftar ini menarik karena memperlihatkan dua karakter saham dalam satu hari perdagangan yang penuh tekanan.

Sebagian saham ber-PER rendah seperti INKP, JPFA, dan MEDC masih mampu naik. Tetapi banyak saham lain tetap turun meski valuasinya relatif rendah.

Di kelompok PER tinggi, tekanan jauh lebih merata. Seluruh sepuluh saham yang tercantum berakhir di zona merah, dengan empat di antaranya turun lebih dari 8%.

Itu tidak berarti pasar sedang secara sederhana menjual saham mahal dan membeli saham murah. Arus dana, sentimen sektoral, bobot indeks, likuiditas, dan isu spesifik emiten tetap berpengaruh.

Tetapi ketika volatilitas meningkat, valuasi biasanya kembali mendapat perhatian karena investor mulai mempertanyakan berapa banyak optimisme yang sudah tercermin dalam harga.

Catatan Recehin
Perdagangan 12 Oktober memperlihatkan bahwa label “murah” dan “mahal” tidak cukup hanya ditentukan PER. INKP dengan PER 3,57 kali justru naik hampir 5%, sementara CUAN dengan PER 109,17 kali jatuh hampir 15%. Tetapi investor tetap perlu mencari alasan di balik rasionya: apakah laba sedang berada di puncak siklus, apakah pertumbuhan masih berlanjut, dan apakah harga saat ini sudah mencerminkan terlalu banyak harapan.

FAQ PER dan PBV Saham LQ45

Saham LQ45 mana yang memiliki PER terendah pada 12 Oktober 2026?
Dalam daftar Kontan dan RTI, BBTN memiliki PER terendah sebesar 3,03 kali, disusul INKP 3,57 kali dan MEDC 3,72 kali.
Saham mana yang memiliki PER tertinggi?
CUAN mencatat PER tertinggi sebesar 109,17 kali, jauh di atas UNTR 47,47 kali dan INDY 37,29 kali.
Saham mana yang memiliki PBV terendah?
INKP mencatat PBV terendah dalam 20 saham yang dibandingkan, yakni 0,37 kali.
Saham mana yang turun paling dalam?
CUAN menjadi saham dengan penurunan terdalam dalam daftar, turun 14,94% ke Rp655 pada perdagangan 12 Oktober 2026.
Apakah PER rendah selalu berarti saham murah?
Tidak. PER rendah dapat mencerminkan valuasi murah, tetapi juga bisa terjadi karena pasar memperkirakan laba akan turun. Investor perlu melihat pertumbuhan laba, kondisi bisnis, utang, arus kas, dan prospek perusahaan.
Apa perbedaan PER dan PBV?
PER membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham, sedangkan PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham.
Sumber: Kontan, Pusat Data Kontan, dan RTI untuk data harga, PER, PBV, serta perubahan saham LQ45 pada perdagangan 12 Oktober 2026.

Data pasar: Nilai transaksi bursa sekitar Rp13,7 triliun, volume 62,18 miliar saham, dan net buy investor asing sekitar Rp142,8 miliar sebagaimana diberitakan Kontan.

Catatan: PER dan PBV merupakan rasio valuasi yang dapat berubah mengikuti harga saham, laba, dan nilai buku perusahaan. Rasio rendah atau tinggi tidak dengan sendirinya menunjukkan suatu saham layak dibeli atau dijual.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.