Receh.in — Pergantian pengendali di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026 tidak selalu datang dalam bentuk akuisisi lebih dari 50% saham. Dari 14 emiten yang ditelusuri hingga September, ada perusahaan yang berpindah kendali setelah 98% sahamnya dibeli, tetapi ada pula yang cukup dengan kepemilikan 29%–35%.
Ada juga perubahan pengendali yang tidak melibatkan pembelian langsung saham emiten. MORA berganti pengendali melalui merger, sementara TCID mengalami perubahan kendali secara tidak langsung setelah pemegang saham induknya di Jepang diambil alih.
Variasi itu membuat daftar pergantian pengendali tahun ini menarik dibaca bukan hanya sebagai rangkaian transaksi saham. Pada sejumlah emiten, pemilik baru juga membawa perubahan nama, arah bisnis, ekspansi, belanja modal, hingga rencana memasukkan aset baru.
MGLV misalnya bergeser dari perdagangan furnitur menuju pusat data dan infrastruktur digital. BIKE memperluas usahanya ke teknologi, kelautan, pangan, infrastruktur dan data. Sementara PNGO berganti nama menjadi PT AEP Pinago Plantations Tbk. setelah AEP Nusantara Holdings menguasai 98,26% saham.
- Sedikitnya 14 emiten mengalami perubahan pengendali sepanjang Januari–September 2026 berdasarkan bahan keterbukaan informasi yang ditelusuri.
- Perubahan pengendali tidak selalu membutuhkan kepemilikan lebih dari 50%; NAYZ, EPAC, dan KETR menjadi contoh kendali berpindah pada kepemilikan 29,41%–35%.
- Pergantian pemilik pada sejumlah emiten diikuti transformasi bisnis, perubahan nama, ekspansi, maupun restrukturisasi.
Daftar 14 Emiten yang Berganti Pengendali pada 2026
Perubahan pengendali terjadi di berbagai sektor, mulai perdagangan, konstruksi, telekomunikasi, transportasi laut, perkebunan, makanan dan minuman hingga infrastruktur digital.
| Emiten | Pengendali Baru | Porsi | Mekanisme / Dampak Utama |
|---|---|---|---|
| MAPI | Pacific Universal Investments Pte. Ltd. | 51% | Akuisisi Rp11,81 triliun; dilanjutkan tender wajib |
| ASLI | PT Wahana Konstruksi Mandiri | 62,72% | Akuisisi dari Sudjatmiko |
| MGLV | PT Nextier Datamate Center | 78,74% | Bertransformasi ke data center dan infrastruktur digital |
| DPUM | PT Rama Indonesia | 59,24% | Menyiapkan capex Rp100 miliar |
| VISI | PT Harmoni Semesta Investama | 61,85% | Akuisisi Rp178,75 miliar; rencana tender wajib |
| MORA | PT Innovate Mas Utama | 48,37% | Perubahan pengendali melalui merger |
| TCID | Kalon Holdings Co. Ltd. secara tidak langsung | — | Perubahan di tingkat induk Mandom Corporation |
| PNGO | AEP Nusantara Holdings Limited | 98,26% | Berganti nama menjadi PT AEP Pinago Plantations Tbk. |
| MBSS | PT Wibowo Group Capital | 82,5% | Akuisisi Rp4,20 triliun |
| NAYZ | Saiko Consultancy Pte. Ltd. | 29,41% | Kendali berpindah meski kepemilikan di bawah 50% |
| DOOH | PT Sinergi Internasional Investama | 51% | Akuisisi Rp197,34 miliar |
| EPAC | PT Triple Berkah Bersama | 34,56% | Menjadi pengendali meski porsi di bawah 50% |
| BIKE | PT Penajam Makmur Jaya | 74,90% | Ganti nama dan perluas bidang usaha |
| KETR | PT Inti Mas Bangun Sejahtera | 35% | Pengendalian beralih melalui tender sukarela |
Dari daftar tersebut terlihat bahwa transaksi mayoritas memang mendominasi, tetapi bukan satu-satunya jalur menuju pengendalian.
Tak Harus Punya 51% untuk Menjadi Pengendali
Tiga transaksi pada 2026 memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa pengendalian perusahaan terbuka tidak selalu identik dengan kepemilikan mayoritas absolut.
Saiko Consultancy menjadi pengendali baru NAYZ setelah membeli hanya 29,41% saham. Triple Berkah Bersama menjadi pengendali EPAC dengan porsi 34,56%, sedangkan Inti Mas Bangun Sejahtera mengambil kendali KETR setelah menguasai 35%.
| Emiten | Pengendali Baru | Kepemilikan |
|---|---|---|
| NAYZ | Saiko Consultancy | 29,41% |
| EPAC | Triple Berkah Bersama | 34,56% |
| KETR | Inti Mas Bangun Sejahtera | 35% |
Ketiga contoh tersebut penting karena investor sering menyederhanakan perubahan pengendali dengan melihat apakah satu pihak telah memiliki lebih dari separuh saham.
Padahal yang relevan adalah apakah pihak tersebut memiliki kemampuan menentukan, baik secara langsung maupun tidak langsung, pengelolaan dan/atau kebijakan perusahaan sesuai struktur serta ketentuan pasar modal yang berlaku.
Merger dan Transaksi di Induk Juga Bisa Mengganti Pengendali
MORA dan TCID menunjukkan dua pola yang berbeda dari transaksi jual-beli saham biasa.
Perubahan pengendali MORA terjadi ketika perusahaan melakukan merger dengan PT Eka Mas Republik atau MyRepublic Indonesia. Setelah merger efektif pada 22 April 2026, PT Innovate Mas Utama menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 48,37% dan perseroan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.
TCID bahkan tidak mengalami perubahan pada kepemilikan langsung Mandom Corporation terhadap saham perseroan.
Perubahannya terjadi satu tingkat lebih tinggi ketika Kalon Holdings Co. Ltd. mengambil alih Mandom Corporation di Jepang. Dengan berubahnya pengendali Mandom Corporation, pengendalian TCID ikut berubah secara tidak langsung.
Kasus ini memperlihatkan mengapa investor terkadang perlu membaca struktur pemegang saham hingga ke tingkat perusahaan induk dan pemilik manfaat akhir, bukan berhenti pada daftar pemegang saham langsung emiten.
Ketika Ganti Pengendali Juga Mengubah Arah Perusahaan
Pergantian pemilik menjadi lebih relevan bagi investor ketika diikuti perubahan yang memengaruhi profil bisnis perusahaan.
MGLV menjadi salah satu contoh paling ekstrem. Setelah PT Nextier Datamate Center mengambil 78,74% saham, perseroan yang sebelumnya bergerak di perdagangan furnitur beralih menuju bisnis pusat data dan infrastruktur digital.
Pada Juli 2026, MGLV juga mengganti nama menjadi PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. Pengendali barunya berencana memasukkan aset bisnis pusat data melalui PT Nextier Askara Center dan PT Nextier GenAI Center.
BIKE mengalami transformasi yang tak kalah besar. Masuknya PT Penajam Makmur Jaya sebagai pengendali dengan kepemilikan 74,90% kemudian diikuti perubahan nama menjadi PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk.
Bidang usaha perseroan juga diperluas ke investasi ketahanan di bidang teknologi, kelautan, pangan, infrastruktur dan data.
PNGO bergerak dengan pola berbeda. Setelah AEP Nusantara Holdings Limited menguasai 98,26% saham, perseroan berganti nama menjadi PT AEP Pinago Plantations Tbk., sementara kode saham PNGO tetap dipertahankan.
DPUM juga menjadi contoh perubahan pengendali yang segera diikuti agenda investasi. Setelah PT Rama Indonesia mengambil alih 59,24% saham, perseroan menyiapkan capex Rp100 miliar pada 2026 dan menargetkan pertumbuhan EBITDA rata-rata 7,75% per tahun sepanjang 2027–2030.
FAQ Emiten Ganti Pengendali 2026
Berapa emiten yang berganti pengendali sepanjang 2026 dalam daftar ini?
Apakah pengendali harus memiliki lebih dari 50% saham?
Emiten mana yang berubah pengendali melalui merger?
Emiten mana yang berubah pengendali secara tidak langsung?
Emiten mana yang berubah arah bisnis setelah ganti pengendali?
Siapa pengendali baru MAPI?
Catatan: Daftar mencakup transaksi yang dalam bahan sumber disebut telah menyebabkan perubahan pengendali. Persentase kepemilikan di bawah 50% tidak otomatis berarti suatu pihak menjadi pengendali pada setiap emiten; status pengendalian bergantung pada struktur dan fakta masing-masing perusahaan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Pergantian pengendali tidak otomatis meningkatkan nilai perusahaan. Investor perlu menilai harga transaksi, sumber pendanaan, aksi korporasi lanjutan, dilusi, perubahan bisnis, kualitas manajemen, dan kinerja keuangan setelah transaksi.

0 Komentar