Receh.in — Antrean penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum panjang menjelang kuartal terakhir 2026. Hingga 2 Oktober, hanya ada tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham, dan lebih dari separuhnya berasal dari sektor kesehatan.
Komposisinya cukup timpang. Empat dari tujuh calon emiten berasal dari sektor healthcare, dua dari energi, dan satu dari industrials. Dengan demikian, healthcare menguasai sekitar 57,1% pipeline IPO BEI saat ini.
Sementara itu, pasar surat utang terlihat jauh lebih ramai. BEI mencatat 24 emisi obligasi dan sukuk dari 17 penerbit masih berada dalam pipeline, dengan sektor keuangan menjadi penyumbang terbesar.
Satu hal perlu dibedakan: angka Rp2,16 triliun bukan dana yang akan dihimpun tujuh perusahaan dalam pipeline IPO. Angka tersebut merupakan dana yang telah dihimpun oleh tujuh perusahaan yang sudah mencatatkan sahamnya di BEI sepanjang 2026 hingga 2 Oktober.
- BEI mencatat 7 perusahaan masih berada dalam pipeline pencatatan saham per 2 Oktober 2026.
- Sektor healthcare mendominasi dengan 4 calon emiten atau 57,1% dari total pipeline.
- Pipeline EBUS berisi 24 emisi dari 17 penerbit, sementara 15 perusahaan telah menghimpun Rp16,23 triliun melalui rights issue sepanjang 2026.
Healthcare Kuasai Lebih dari Separuh Pipeline IPO
Dari tujuh perusahaan yang masih mengantre untuk mencatatkan saham di BEI, sebanyak empat berasal dari sektor healthcare.
Dua perusahaan lainnya bergerak di sektor energi, sedangkan satu perusahaan berasal dari sektor industrials.
| Sektor | Jumlah Calon Emiten | Porsi Pipeline |
|---|---|---|
| Healthcare | 4 | 57,1% |
| Energy | 2 | 28,6% |
| Industrials | 1 | 14,3% |
| Total | 7 | 100% |
Komposisi tersebut menunjukkan pipeline IPO saat ini terkonsentrasi pada hanya tiga sektor. Basic Materials, Consumer Cyclicals, Consumer Non-Cyclicals, Financials, Infrastructures, Properties & Real Estate, Technology, serta Transportation & Logistic belum memiliki calon emiten dalam pipeline terbaru tersebut.
Namun dominasi healthcare belum dapat langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa investor lebih menyukai saham kesehatan atau bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan memperoleh valuasi maupun likuiditas lebih tinggi saat IPO.
Data pipeline hanya menunjukkan sektor perusahaan yang sedang memproses pencatatan saham. Minat investor, valuasi IPO, besarnya dana yang ditawarkan, dan performa setelah listing baru dapat dinilai setelah rincian masing-masing penawaran tersedia.
Dua Calon Emiten Beraset Besar, Tiga Skala Menengah
Jika dilihat berdasarkan nilai aset, pipeline IPO tersebut tidak hanya diisi perusahaan berukuran kecil.
BEI mencatat dua perusahaan memiliki aset di bawah Rp50 miliar, tiga perusahaan berada pada kelompok aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan dua perusahaan memiliki aset lebih dari Rp250 miliar.
| Skala Aset | Nilai Aset | Jumlah Perusahaan |
|---|---|---|
| Kecil | Di bawah Rp50 miliar | 2 |
| Menengah | Rp50 miliar–Rp250 miliar | 3 |
| Besar | Di atas Rp250 miliar | 2 |
Klasifikasi tersebut merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017.
Sepanjang 2026 hingga 2 Oktober, tujuh perusahaan telah lebih dahulu mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang dihimpun Rp2,16 triliun.
Angka itu perlu dipisahkan dari tujuh perusahaan yang masih berada dalam pipeline. Dengan kata lain, ada tujuh perusahaan yang sudah listing dan ada tujuh lainnya yang masih berada dalam antrean proses pencatatan.
Pasar Obligasi Lebih Ramai: 24 Emisi Masih Antre
Jika pipeline IPO hanya terdiri dari tujuh perusahaan, jalur pendanaan melalui efek bersifat utang dan sukuk terlihat jauh lebih aktif.
BEI mencatat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS masih berada dalam pipeline per 2 Oktober 2026.
Sektor financials menjadi kelompok terbesar dengan enam penerbit, disusul energy empat penerbit dan infrastructures tiga penerbit.
| Sektor | Jumlah Penerbit | Porsi Emisi dalam Pipeline |
|---|---|---|
| Financials | 6 | 37,5% |
| Energy | 4 | 25,0% |
| Infrastructures | 3 | 16,7% |
| Basic Materials | 2 | 12,5% |
| Industrials | 1 | 4,2% |
| Properties & Real Estate | 1 | 4,2% |
Sepanjang tahun berjalan, sudah terdapat 135 emisi dari 62 penerbit EBUS dengan dana yang dihimpun mencapai Rp132,98 triliun.
Pipeline 24 emisi tersebut karena itu menunjukkan bahwa aktivitas penerbitan surat utang korporasi belum berhenti memasuki kuartal IV.
Namun besarnya antrean tidak otomatis berarti biaya dana perusahaan akan turun. Kupon atau imbal hasil setiap penerbit tetap bergantung pada peringkat kredit, tenor, kondisi suku bunga, struktur obligasi, permintaan investor, serta risiko perusahaan masing-masing.
Rights Issue Sudah Himpun Rp16,23 Triliun
Jalur pendanaan lain yang cukup besar sepanjang 2026 adalah penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.
Hingga 2 Oktober, sebanyak 15 perusahaan tercatat telah melakukan rights issue dengan total nilai Rp16,23 triliun.
Sementara itu, masih terdapat satu perusahaan sektor Properties & Real Estate dalam pipeline rights issue.
Rights issue memang memungkinkan perusahaan memperoleh tambahan ekuitas tanpa menerbitkan utang baru. Tetapi dampaknya terhadap struktur keuangan tidak selalu sama.
Penggunaan dana menentukan hasil akhirnya. Jika dipakai melunasi utang, leverage berpotensi turun. Jika digunakan untuk ekspansi, modal kerja, akuisisi, atau investasi baru, efek terhadap neraca dan laba akan berbeda.
Bagi pemegang saham lama, rights issue juga membawa konsekuensi dilusi apabila haknya tidak dieksekusi.
FAQ Pipeline IPO BEI Oktober 2026
Berapa perusahaan yang masih antre IPO di BEI?
Sektor apa yang mendominasi pipeline IPO?
Apakah Rp2,16 triliun merupakan target dana tujuh calon IPO?
Berapa emisi obligasi yang masih berada dalam pipeline?
Berapa dana obligasi yang sudah dihimpun sepanjang 2026?
Berapa nilai rights issue sepanjang 2026?
Perhitungan Receh.in: Porsi healthcare dihitung dari 4 perusahaan dibanding total 7 perusahaan dalam pipeline, setara sekitar 57,1%. Energy mencakup 2 dari 7 perusahaan atau 28,6%, sedangkan industrials 1 dari 7 atau 14,3%.
Catatan: Dana Rp2,16 triliun merupakan hasil penghimpunan tujuh perusahaan yang telah mencatatkan saham sepanjang 2026 hingga 2 Oktober, bukan target dana dari tujuh perusahaan yang saat ini masih berada dalam pipeline IPO. Persentase sektor pada pipeline EBUS mengacu pada jumlah emisi, sedangkan rincian jumlah perusahaan mengacu pada penerbitnya.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Keberadaan suatu perusahaan dalam pipeline BEI tidak menjamin IPO, penerbitan obligasi, atau rights issue akan terealisasi sesuai jadwal maupun struktur yang direncanakan.

0 Komentar