Receh.in — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,32% atau 17,45 poin ke level 5.355 pada akhir perdagangan sesi pertama, Selasa, 27 Oktober 2026. Investor asing membukukan net sell Rp578,3 miliar, dengan tekanan jual terbesar mengarah ke BMRI, BRIS, dan BBCA.
Tiga saham bank tersebut mencatatkan net sell gabungan sekitar Rp290,45 miliar. Nilainya setara 50,2% dari net sell asing di pasar hingga siang hari.
Namun, foreign flow tidak otomatis dapat disebut sebagai penyebab tunggal penurunan IHSG. Data perdagangan menunjukkan tekanan pasar juga cukup lebar: 366 saham melemah, dibandingkan 259 saham menguat dan 163 saham stagnan. Tujuh dari sebelas indeks sektoral juga berada di zona merah.
| Data Sesi I | 27 Oktober 2026 |
|---|---|
| IHSG | 5.355 |
| Perubahan | -0,32% / -17,45 poin |
| Net sell asing | Rp578,3 miliar |
| Nilai transaksi | Rp5,68 triliun |
| Volume transaksi | 15,92 miliar saham |
| Kapitalisasi pasar | Rp9.427 triliun |
| Saham naik | 259 |
| Saham turun | 366 |
| Saham stagnan | 163 |
BMRI Sendiri Menyumbang Rp153 Miliar Net Sell Asing
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi saham dengan penjualan bersih asing terbesar pada sesi pertama, mencapai Rp153,43 miliar.
Nilai itu sendiri setara sekitar 26,5% dari keseluruhan net sell asing Rp578,3 miliar.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dengan net sell Rp71,62 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp65,40 miliar.
| Saham | Net Sell Asing | Setara terhadap Net Sell Pasar* |
|---|---|---|
| BMRI | Rp153,43 miliar | 26,5% |
| BRIS | Rp71,62 miliar | 12,4% |
| BBCA | Rp65,40 miliar | 11,3% |
| Total | Rp290,45 miliar | 50,2% |
*Perhitungan Receh.in dengan membandingkan net sell masing-masing saham terhadap net sell asing pasar Rp578,3 miliar. Persentase ini merupakan perbandingan nilai, bukan kontribusi saham terhadap penurunan poin IHSG.
Konsentrasi penjualan asing pada tiga saham bank cukup menonjol. Namun, tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa ketiganya menyebabkan IHSG kehilangan 17,45 poin. Untuk mengukur kontribusi terhadap indeks dibutuhkan data perubahan harga, bobot masing-masing saham, serta index point contribution.
366 Saham Turun, Infrastruktur Melemah 1,24%
Tekanan tidak hanya terlihat dari foreign flow. Market breadth juga condong negatif dengan 366 saham melemah berbanding 259 saham menguat. Dengan kata lain, terdapat sekitar 1,4 saham turun untuk setiap satu saham yang naik.
Tujuh dari sebelas sektor Bursa berada di zona merah. Salah satunya sektor infrastruktur yang turun 1,24%.
Di dalam sektor tersebut, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 4,31% ke Rp2.220. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melemah 2,22% ke Rp2.200, sedangkan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) terkoreksi 2,17% menjadi Rp180.
Meski demikian, pasar tidak seluruhnya bergerak turun. Sebanyak 259 saham tetap berakhir di zona hijau pada sesi pertama.
BBCA Jadi Saham Paling Ramai, TPIA dan BBRI Menyusul
Dari sisi nilai perdagangan, BBCA menjadi saham dengan transaksi terbesar mencapai Rp553,67 miliar. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menyusul dengan Rp360,19 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp254,69 miliar.
Total transaksi tiga saham itu mencapai sekitar Rp1,17 triliun, setara 20,6% dari keseluruhan nilai perdagangan Bursa sebesar Rp5,68 triliun hingga akhir sesi pertama.
| Saham | Nilai Transaksi |
|---|---|
| BBCA | Rp553,67 miliar |
| TPIA | Rp360,19 miliar |
| BBRI | Rp254,69 miliar |
| Total | Rp1,17 triliun |
Besarnya nilai transaksi BBCA juga berlangsung bersamaan dengan net sell asing Rp65,40 miliar pada saham tersebut. Namun, tingginya turnover tidak dengan sendirinya berarti likuiditas saham atau pasar sedang membaik. Untuk menarik kesimpulan itu diperlukan pembanding terhadap rata-rata transaksi, spread, depth, serta periode perdagangan sebelumnya.
TPIA, JSMR, ASII Menguat; MORA dan WIFI Tertekan
Di tengah pelemahan IHSG, TPIA naik 3,81% menjadi Rp1.500. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) menguat 3,70% ke Rp2.800 dan PT Astra International Tbk. (ASII) naik 3,51% ke Rp4.720.
| Saham | Perubahan | Harga Sesi I |
|---|---|---|
| TPIA | +3,81% | Rp1.500 |
| JSMR | +3,70% | Rp2.800 |
| ASII | +3,51% | Rp4.720 |
| MORA | -6,95% | Rp2.810 |
| WIFI | -5,77% | Rp980 |
| BNBR | -5,66% | Rp50 |
Sementara itu, PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) terkoreksi 6,95% menjadi Rp2.810, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) turun 5,77% ke Rp980, dan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) melemah 5,66% menjadi Rp50.
Pergerakan Bursa Indonesia juga tidak sepenuhnya mengikuti pasar Asia. Nikkei Jepang naik 1,79% ke 63.304 dan Kospi Korea melonjak 3,56% ke 5.664. Sebaliknya, Shanghai Composite turun 0,13% ke 3.692 dan Hang Seng melemah 0,24% ke 23.155.
Catatan tanggal: Sumber berita terbit pada Selasa, 27 Oktober 2026 pukul 12.42 WIB. Penulisan “Selasa (27/9)” pada badan berita dikoreksi menjadi 27 Oktober 2026 karena tidak sesuai dengan tanggal publikasi dan konteks perdagangan.
Catatan foreign flow: Persentase 50,2% diperoleh dari penjumlahan net sell BMRI Rp153,43 miliar, BRIS Rp71,62 miliar, dan BBCA Rp65,40 miliar atau Rp290,45 miliar, dibandingkan dengan total net sell asing Rp578,3 miliar.
Catatan transaksi: BBCA, TPIA, dan BBRI mencatatkan nilai transaksi gabungan sekitar Rp1,17 triliun atau 20,6% dari nilai transaksi pasar Rp5,68 triliun.
Catatan data frekuensi: Bahan sumber mencantumkan frekuensi transaksi 947,83 juta kali. Angka tersebut tidak digunakan dalam analisis artikel ini karena tampak anomali terhadap skala perdagangan Bursa dan belum dapat diverifikasi dengan data resmi BEI yang dapat diakses saat penyusunan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

0 Komentar