Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Penghapusan batas bawah harga saham Rp50 mulai memperlihatkan konsekuensi yang sangat nyata di Bursa Efek Indonesia. Sepanjang September 2026, sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level gocap kembali bergerak—dan sebagian justru jatuh jauh lebih dalam.

PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) menjadi saham dengan penurunan terdalam sepanjang bulan. Harga sahamnya turun 45,65%, dari Rp92 pada awal September menjadi Rp50 pada akhir bulan.

Di posisi berikutnya, PT Kian Santang Muliatama Tbk. (RGAS) terkoreksi 44,24%, dari Rp165 menjadi Rp92 per saham.

Yang paling mencolok justru datang dari kelompok saham murah. Tujuh emiten—MAXI, BABP, GOTO, DADA, BCAP, WMUU, dan ATLA—sama-sama membuka perdagangan September di Rp50 lalu menutup bulan di Rp32.

Gocap Kini Bukan Lagi Lantai Harga

Selama bertahun-tahun, Rp50 identik dengan batas bawah harga saham di BEI. Ketika saham menyentuh level tersebut, pergerakan turun praktis berhenti.

Setelah batas bawah itu dihapus, saham-saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 kembali memiliki ruang untuk diperdagangkan di bawah level tersebut.

September menjadi salah satu gambaran paling jelas dari perubahan mekanisme itu. Saham yang sebelumnya tampak “tidak bisa turun lagi” ternyata masih bisa kehilangan nilai cukup besar ketika lantai harga dihilangkan.

Rp50 bukan lagi batas kerugian harga
Penghapusan batas bawah harga membuat saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 dapat kembali bergerak turun. Karena itu, istilah “sudah gocap, tidak bisa turun lagi” tidak lagi relevan dalam mekanisme perdagangan saat ini.

Tujuh Saham Turun dari Rp50 ke Rp32

Pergerakan dari Rp50 ke Rp32 berarti penurunan sebesar 36% dalam satu bulan. Besarnya penurunan ini cukup signifikan karena terjadi pada saham yang sebelumnya berada di batas harga terendah lama.

Saham Awal September Akhir September Perubahan
MAXI Rp50 Rp32 -36%
BABP Rp50 Rp32 -36%
GOTO Rp50 Rp32 -36%
DADA Rp50 Rp32 -36%
BCAP Rp50 Rp32 -36%
WMUU Rp50 Rp32 -36%
ATLA Rp50 Rp32 -36%

Fenomena ini menegaskan bahwa harga nominal yang rendah tidak identik dengan risiko penurunan yang kecil. Saham Rp50 tetap dapat kehilangan lebih dari sepertiga nilainya ketika mekanisme perdagangan memungkinkan penurunan lebih lanjut.

JGLE dan RGAS Lebih Dalam Lagi

JGLE mengalami koreksi 45,65% dalam satu bulan. Harga dari Rp92 ke Rp50 berarti hampir separuh nilai pasar per saham hilang sepanjang September.

RGAS juga mencatat pelemahan tajam. Dari Rp165 pada awal bulan, saham tersebut ditutup di Rp92, atau turun 44,24%.

Kedua saham itu menunjukkan bahwa tekanan September tidak hanya terjadi pada saham yang sejak awal sudah berada di level Rp50, tetapi juga pada emiten yang memulai bulan di harga lebih tinggi.

IHSG Sendiri Juga Sedang Lemah

Koreksi pada saham-saham top loser berlangsung ketika pasar secara keseluruhan juga berada dalam tekanan.

IHSG menutup September 2026 di posisi 6.071, turun 6,96% dibandingkan posisi akhir Agustus. Sejak awal tahun, indeks telah melemah 24,69%.

Kapitalisasi pasar juga turun menjadi sekitar Rp10.695 triliun, atau berkurang 6,38% dari bulan sebelumnya dan 28,17% dibandingkan posisi awal tahun.

Indikator Pasar September 2026 Nilai
Penutupan IHSG 6.071
Perubahan bulanan IHSG -6,96%
Perubahan YTD IHSG -24,69%
Kapitalisasi pasar Rp10.695 triliun
Perubahan kapitalisasi bulanan -6,38%
Perubahan kapitalisasi YTD -28,17%
Nilai perdagangan Rp328 triliun
Volume saham 763 miliar saham
Hari perdagangan 22 hari

Dengan pasar sedang bearish, saham berharga rendah cenderung menghadapi tekanan yang lebih besar ketika likuiditas menipis dan minat beli berkurang.

Murah Secara Harga Belum Tentu Murah Secara Valuasi

Fenomena September juga kembali menegaskan perbedaan antara harga nominal dan valuasi.

Saham seharga Rp32 atau Rp50 memang terlihat murah secara nominal, tetapi itu tidak memberi informasi apakah emiten tersebut undervalued atau tidak.

Valuasi tetap bergantung pada laba, arus kas, aset, utang, prospek bisnis, struktur kepemilikan, dan jumlah saham beredar. Saham berharga puluhan rupiah pun masih dapat tergolong mahal jika fundamentalnya lemah atau valuasinya tidak ditopang kinerja.

Karena itu, setelah batas bawah Rp50 dihapus, risiko pada saham murah menjadi lebih mudah terlihat secara matematis: penurunan tidak berhenti hanya karena harga sudah berada di level gocap.

Catatan Recehin
September 2026 menjadi semacam ujian pertama bagi anggapan lama bahwa saham Rp50 sudah berada di “lantai”. Faktanya, tujuh saham yang membuka bulan di Rp50 masih bisa turun ke Rp32 atau kehilangan 36% nilai. JGLE bahkan terkoreksi 45,65%. Ketika batas bawah harga dihapus, investor harus kembali pada prinsip dasar: harga nominal rendah bukan perlindungan terhadap kerugian.

FAQ Top Loser September 2026

Saham apa yang menjadi top loser September 2026?
PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) memimpin penurunan dengan koreksi 45,65%, dari Rp92 menjadi Rp50.
Berapa penurunan saham RGAS sepanjang September?
RGAS turun 44,24%, dari Rp165 pada awal bulan menjadi Rp92 pada akhir September.
Saham apa saja yang turun dari Rp50 ke Rp32?
MAXI, BABP, GOTO, DADA, BCAP, WMUU, dan ATLA sama-sama turun dari Rp50 menjadi Rp32 sepanjang September 2026.
Berapa persentase penurunan dari Rp50 ke Rp32?
Penurunan dari Rp50 menjadi Rp32 setara dengan sekitar 36%.
Bagaimana kinerja IHSG sepanjang September 2026?
IHSG ditutup di 6.071, melemah 6,96% dibandingkan Agustus dan turun 24,69% secara year-to-date.
Sumber: Data Bursa Efek Indonesia sebagaimana dirangkum dalam materi sumber mengenai top loser perdagangan September 2026.

Catatan: Materi sumber menyebut terdapat 20 saham top loser September 2026 dan 10 saham top loser di indeks LQ45, tetapi tidak menyertakan daftar lengkap keduanya. Artikel ini hanya menampilkan saham yang disebut secara eksplisit dalam materi.

Perhitungan Receh.in: Penurunan dari Rp50 ke Rp32 setara sekitar 36%, dihitung dari selisih Rp18 terhadap harga awal Rp50.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham.