Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Pagi di pasar Asia dibuka dengan kombinasi yang tidak nyaman: harga minyak melonjak, dolar AS menguat, saham teknologi berguguran, dan investor masih menunggu data inflasi Amerika Serikat.

Pada Selasa, 13 Oktober 2026, tekanan paling dalam terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi yang sudah dibuka turun 3,29% melanjutkan koreksi hingga sekitar 4,40% ke 6.103,50. Kosdaq ikut jatuh 2,49%.

Di Jepang, Nikkei 225 turun 2,36% ke 67.402,06 pada sekitar pukul 08.10 WIB. Saham-saham teknologi dan semikonduktor menjadi pemberat utama: SoftBank Group jatuh 6,7%, Tokyo Electron turun lebih dari 5%, Advantest merosot 6,1%, dan Kioxia anjlok 8,8%.

Korea Selatan memperlihatkan pola serupa. SK Hynix jatuh 6,5%, Samsung Electronics turun 5,6%, sedangkan Seoul Semiconductor terkoreksi 3,1%.

-4,40% Kospi sekitar pukul 08.10 WIB
-2,36% Nikkei 225
US$106,65 Harga Brent per barel
5.846 Target teknikal terdekat IHSG menurut Indo Premier

Tekanan Datang dari Minyak, Teknologi, dan Inflasi AS

Koreksi di Asia tidak berdiri sendiri. Bursa Wall Street sebelumnya ditutup bervariasi dengan tekanan pada sektor teknologi dan semikonduktor. Nasdaq Composite turun 0,44%, sementara Philadelphia Semiconductor Index merosot 2,7%.

Investor saat ini menghadapi dua kekhawatiran sekaligus.

Pertama, risiko geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi. Brent naik 1,8% ke US$106,65 per barel, sementara WTI melompat 2% ke US$93,74.

Kedua, harga energi yang tinggi kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi akan lebih sulit turun. Itu penting karena pasar masih menunggu CPI Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis Rabu, disusul PPI dan penjualan ritel.

Jika inflasi kembali lebih tinggi dari perkiraan, investor akan semakin sulit berharap The Fed segera melonggarkan kebijakan moneter.

Dalam bahan sumber, pasar bahkan disebut memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 87,7%.

Minyak mahal kembali menjadi masalah makro
Kenaikan minyak tidak hanya menguntungkan saham energi. Jika berlangsung lama, harga energi yang tinggi bisa menekan margin perusahaan, meningkatkan biaya transportasi, menjaga inflasi tetap tinggi, dan mendorong suku bunga bertahan ketat lebih lama.

Dolar Menguat, Rupiah Ikut Tertekan

Tekanan global juga terlihat di pasar valuta asing.

Indeks Dolar AS atau DXY naik 0,37% ke 102,58, sementara rupiah berada di sekitar Rp17.913 per dolar AS.

Penguatan dolar biasanya menjadi tekanan tambahan bagi pasar negara berkembang. Ketika dolar menguat dan imbal hasil aset dolar menjadi lebih menarik, sebagian dana global cenderung bergerak ke aset yang dianggap lebih aman.

Euro, poundsterling, dan yen juga melemah terhadap dolar dalam perdagangan New York.

Kondisi ini membuat pasar Asia pagi ini menghadapi tekanan dari dua sisi: valuasi saham teknologi yang sedang dikurangi, serta kondisi makro global yang kembali kurang ramah terhadap aset berisiko.

IHSG Datang ke Perdagangan Hari Ini dengan Luka dari Sesi Sebelumnya

IHSG mengakhiri perdagangan Senin di sekitar 5.936 setelah terkoreksi tajam.

Materi yang tersedia menyebut penurunan sebesar 2,56%, sementara laporan lain pada perdagangan yang sama menggunakan angka 2,59%. Perbedaan kecil itu kemungkinan berasal dari pembulatan atau sumber data yang berbeda, sehingga angka level indeks lebih aman digunakan sebagai rujukan utama.

Tekanan kemarin disebut berkaitan dengan spekulasi pasar dan isu evaluasi MSCI. Indo Premier menilai IHSG mencatat penurunan terdalam sejak 30 Juni sekaligus menyentuh level terendah tiga bulan.

Secara teknikal, indeks disebut telah menembus support Fibonacci 50%, sementara pola rising wedge membuka target penurunan terdekat ke 5.846.

Indikator MACD juga menunjukkan pelebaran histogram negatif, sedangkan Stochastic RSI membentuk pola death cross. Keduanya memberi sinyal bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda.

Indikator Posisi Makna Singkat
IHSG terakhir ±5.936 Di bawah level psikologis 6.000
Target teknikal terdekat 5.846 Area penurunan berikutnya menurut Indo Premier
Level psikologis 6.000 Perlu direbut kembali untuk meredakan tekanan
Net buy asing Rp81,1 miliar Ada pembelian, tetapi belum cukup membalik sentimen

Asing Masih Net Buy, Tapi Itu Belum Berarti Pasar Aman

Satu data yang agak berlawanan dengan suasana pasar adalah aliran dana asing.

Di tengah jatuhnya IHSG, investor asing justru mencatat net buy Rp81,1 miliar.

Itu bisa dibaca sebagai tanda bahwa sebagian investor asing mulai memanfaatkan penurunan harga untuk masuk. Tetapi nilainya belum cukup besar untuk menyimpulkan bahwa tren sudah berbalik.

Apalagi sentimen global masih berat, sementara pasar domestik juga menghadapi ketidakpastian seputar evaluasi MSCI yang belum sepenuhnya reda.

Harga ETF saham Indonesia, iShares MSCI Indonesia ETF atau EIDO, di New York juga turun 1,97% ke US$11,67.

Bursa AS Tak Kompak, Eropa Justru Menguat

Wall Street semalam tidak jatuh serempak.

Dow Jones Industrial Average justru naik 0,38% ke 51.850,55. S&P 500 turun tipis 0,06% ke 7.807,24, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,44% ke 27.245,90.

Energi menjadi sektor terkuat di S&P 500 dengan kenaikan sekitar 1,5%, sementara saham teknologi justru turun 0,9%.

Di Eropa, pasar bergerak lebih baik. STOXX 600 naik 0,65%, DAX Jerman menguat 0,76%, FTSE 100 Inggris naik 0,99%, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,38%.

Perbankan menjadi salah satu penopang utama bursa Eropa, sementara kenaikan harga minyak membantu saham-saham energi.

Emas Justru Turun Meski Risiko Geopolitik Naik

Biasanya ketegangan geopolitik membantu harga emas. Kali ini ceritanya sedikit berbeda.

Harga emas spot justru turun 0,6% ke US$4.169,10 per ounce, sedangkan emas berjangka AS melemah 0,6% ke US$4.190,60.

Penyebab utamanya adalah penguatan dolar AS.

Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa inflasi tinggi akan membuat suku bunga bertahan lebih lama juga menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Perak turut turun 1% ke US$60,22 per ounce, platinum melemah 0,2%, dan paladium turun 0,5%.

Catatan Recehin
Pasar Asia pagi ini menghadapi kombinasi yang sulit: harga minyak di atas US$106, dolar menguat, saham teknologi global sedang dikurangi, dan data inflasi AS belum keluar. Bagi IHSG, level 6.000 kini menjadi garis psikologis yang penting. Selama indeks belum mampu kembali ke atas area tersebut, perhatian pasar akan lebih banyak tertuju pada risiko penurunan berikutnya ketimbang peluang reli yang agresif.

FAQ Bursa Asia dan IHSG 13 Oktober 2026

Kenapa bursa Asia turun pagi ini?
Tekanan berasal dari kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan saham teknologi, penguatan dolar AS, serta kehati-hatian investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.
Berapa penurunan Kospi pagi ini?
Kospi sempat turun sekitar 4,40% ke level 6.103,50 setelah dibuka melemah 3,29%.
Berapa harga minyak Brent?
Harga Brent berjangka disebut naik 1,8% ke sekitar US$106,65 per barel.
Bagaimana outlook IHSG hari ini?
Menurut analisis Indo Premier dalam materi sumber, tekanan jual masih berlanjut. Area 5.846 menjadi target teknikal terdekat, sedangkan level psikologis 6.000 perlu direbut kembali untuk meredakan tekanan.
Apakah investor asing masih membeli saham Indonesia?
Ya. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing disebut mencatat net buy sekitar Rp81,1 miliar, meski IHSG tetap terkoreksi tajam.
Kenapa harga emas turun saat risiko geopolitik meningkat?
Penguatan dolar AS dan kekhawatiran suku bunga tinggi lebih lama menekan emas, meskipun risiko geopolitik biasanya mendukung permintaan aset safe haven.
Sumber: IndoPremier/IPOTNews, CNBC, dan Bloomberg untuk perkembangan bursa Asia, Wall Street, Eropa, valuta asing, minyak, dan emas pada 12–13 Oktober 2026.

Catatan data: Bahan sumber memuat dua angka korban tewas dalam serangan terhadap bandara Arab Saudi, yakni 12 orang pada bagian awal dan 13 orang pada bagian komoditas. Karena terdapat perbedaan tersebut, artikel ini tidak menggunakan angka korban sebagai fakta utama tanpa verifikasi tambahan.

Catatan IHSG: Materi sumber menyebut koreksi IHSG 2,56%, sementara laporan pasar lain pada perdagangan yang sama menggunakan 2,59%. Perbedaan kecil ini kemungkinan berasal dari pembulatan atau penyedia data berbeda.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham, ETF, valuta asing, emas, atau komoditas.