Daftar IsiTampilkan

Receh.in — PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI) mungkin merupakan salah satu eksperimen tata kelola perusahaan publik paling menarik di Bursa Efek Indonesia saat ini. Perseroan menyatakan tidak lagi mempunyai pemegang saham pengendali sejak Mei 2019. Per September 2026, bahkan tidak ada satu pun investor yang memiliki 5% saham.

Pemegang terbesar adalah Lauw Susanto dengan sekitar 4,27%, disusul Robert 3,96% dan Po Susanto 3,03%. Sementara free float berada di sekitar 93,9%.

Di sisi lain, harga saham TAXI hanya Rp12 pada penutupan 23 Oktober 2026. Dengan sekitar 10,22 miliar saham beredar, kapitalisasi pasarnya hanya sekitar Rp122,7 miliar.

Kombinasi itu sekilas terlihat seperti textbook takeover target: tidak ada pengendali, kepemilikan sangat tersebar, free float sangat besar, dan kapitalisasi pasar relatif kecil.

Tetapi TAXI juga menunjukkan mengapa hostile takeover tidak bisa dibaca hanya dari harga saham. Perusahaan ini memang relatif mudah dimasuki dari sisi struktur kepemilikan, namun belum tentu menarik secara ekonomi untuk diambil alih.

Tidak Ada Pemegang Saham di Atas 5%

Struktur pemegang saham TAXI berubah cukup cepat sepanjang 2026.

Pada akhir Juni, Po Susanto masih memiliki sekitar 587 juta saham atau 5,74%, menjadikannya satu-satunya pemegang saham di atas 5%.

Namun per 30 September 2026, posisi tersebut turun menjadi sekitar 310 juta saham atau 3,03%. Pada saat yang sama Lauw Susanto menjadi pemegang saham terbesar dengan 4,27%, sementara Robert memiliki 3,96%.

Pemegang Saham TAXI Porsi September 2026
Lauw Susanto 4,27%
Robert 3,96%
Po Susanto 3,03%
PT Jakarta Sinar Intertrade 2,37%
Siauw Yunus Subandi 1,56%
Adi Indarto Hartono 1,23%
Verawaty Ling 1,05%
PT Valbury Asia Futures 1,03%
Free float sekitar 93,9%

Ini berbeda bahkan dengan WIRG yang kita bahas sebelumnya.

WIRG masih mempunyai pihak yang secara resmi disebut sebagai pengendali meskipun kepemilikannya hanya sekitar 4%. TAXI justru secara eksplisit menyatakan bahwa perusahaan tidak lagi mempunyai pemegang saham utama dan pemegang saham pengendali.

Status tersebut sudah berlangsung sejak 22 Mei 2019.

Dalam laporan tahunannya, TAXI juga menyebut sejak Januari 2023 tidak lagi terdapat pemegang saham utama. Artinya, secara formal memang tidak ada satu pemegang saham yang mempunyai posisi dominan seperti lazimnya perusahaan publik Indonesia.

Kalau Begitu, Siapa yang Mengendalikan TAXI?

Ini pertanyaan yang justru membuat TAXI menarik.

Tidak adanya controlling shareholder bukan berarti perusahaan berjalan tanpa kendali.

Operasional sehari-hari tetap dijalankan direksi. Komisaris melakukan fungsi pengawasan. RUPS menjadi forum pemegang saham untuk mengambil keputusan yang berada di luar kewenangan direksi.

Bedanya, tidak ada satu pemegang saham yang sendirian mempunyai blok suara cukup besar untuk menentukan hasil RUPS.

Kekuasaan akhirnya bergantung pada siapa yang mampu mengumpulkan suara paling besar dari pemegang saham yang hadir.

Dalam perusahaan dengan pemegang saham pengendali 70%, persoalan ini nyaris tidak relevan. Controller cukup menggunakan sahamnya sendiri.

Pada TAXI, situasinya berbeda.

Pemegang terbesar hanya 4,27%. Jika muncul investor baru dengan kepemilikan 10%, investor tersebut sudah mempunyai lebih dari dua kali suara pemegang saham terbesar saat ini.

Berapa Mahal Menjadi Pemegang Saham Terbesar TAXI?

Pada harga Rp12, kapitalisasi pasar TAXI sekitar Rp122,7 miliar.

Secara matematis, nilai berbagai porsi kepemilikan menjadi sangat kecil dibandingkan banyak perusahaan publik lainnya.

Porsi TAXI Jumlah Saham Nilai Teoritis di Rp12
4,27% ±436,5 juta ±Rp5,2 miliar
5% ±511,2 juta ±Rp6,1 miliar
10% ±1,02 miliar ±Rp12,3 miliar
15% ±1,53 miliar ±Rp18,4 miliar
20% ±2,04 miliar ±Rp24,5 miliar
30% ±3,07 miliar ±Rp36,8 miliar
50% ±5,11 miliar ±Rp61,3 miliar

Tentu seseorang tidak mungkin membeli 20% atau 30% TAXI seluruhnya pada harga Rp12.

Begitu muncul permintaan besar, antrean jual akan terserap dan harga bergerak naik. Pembelian besar juga mulai memunculkan kewajiban keterbukaan.

Tetapi tabel tersebut menunjukkan rendahnya entry barrier awal untuk menjadi pemegang saham terbesar.

Secara matematis, investasi sekitar Rp6 miliar pada harga sekarang saja sudah setara 5% perusahaan.

Dan Sahamnya Ternyata Cukup Aktif Diperdagangkan

Hambatan lain dalam melakukan akumulasi saham biasanya adalah likuiditas.

Namun TAXI belakangan justru mempunyai volume transaksi yang relatif besar.

Pada 19 Oktober 2026, ketika saham jatuh ke Rp9, volume perdagangan mencapai sekitar 385 juta saham. Sehari kemudian hampir 183 juta saham berpindah tangan. Pada 22 Oktober volumenya kembali mencapai sekitar 188 juta saham.

Tanggal Harga Penutupan Volume
19 Oktober Rp9 ±384,7 juta
20 Oktober Rp10 ±182,9 juta
21 Oktober Rp11 ±117,3 juta
22 Oktober Rp12 ±187,7 juta
23 Oktober Rp12 ±55,3 juta

Artinya, secara teknis terdapat likuiditas yang memungkinkan investor membangun posisi cukup besar.

Tetapi volume perdagangan tidak identik dengan jumlah saham yang dapat diakumulasi tanpa mengubah harga. Saham yang sama dapat berpindah tangan berkali-kali dalam satu hari.

Namun Ada Masalah Besar: Apa yang Sebenarnya Dibeli?

Di sinilah cerita takeover TAXI berbeda dari perusahaan yang mempunyai tanah, pabrik, kas besar, atau anak perusahaan bernilai tinggi.

Per Juni 2026, total aset TAXI hanya sekitar Rp40,6 miliar, dengan ekuitas sekitar Rp36,9 miliar.

Sementara kapitalisasi pasarnya pada harga Rp12 mencapai sekitar Rp122,7 miliar.

Posisi TAXI Nilai
Kapitalisasi pasar ±Rp122,7 miliar
Total aset Juni 2026 ±Rp40,6 miliar
Total ekuitas Juni 2026 ±Rp36,9 miliar
Price to book kasar ±3,3 kali

Jadi berbeda dengan skenario takeover klasik ketika seorang pembeli bisa memperoleh aset senilai Rp1 triliun dengan membeli perusahaan seharga Rp500 miliar.

Pada TAXI justru sebaliknya.

Pasar saat ini menghargai perusahaan lebih dari tiga kali nilai buku bersihnya.

Artinya, kalau ada investor yang ingin mengambil alih TAXI, alasan ekonominya kemungkinan bukan karena ingin mendapatkan aset perusahaan dengan diskon besar.

Ia harus melihat nilai lain: status perusahaan tercatat di Bursa, izin dan platform bisnis transportasi, basis pemegang saham, potensi ekspansi, jaringan, atau kemungkinan menggunakan entitas tersebut sebagai kendaraan untuk bisnis baru.

Bisnis TAXI Sendiri Masih Sangat Kecil

Ini faktor kedua yang membedakan TAXI dari target takeover ideal.

Pada 2025, pendapatan Express Transindo hanya sekitar Rp3,50 miliar. Perseroan membukukan rugi bersih sekitar Rp19,58 miliar.

Total asetnya juga terus menyusut dari Rp91 miliar pada 2021 menjadi sekitar Rp39 miliar pada akhir 2025.

Perusahaan praktis telah melewati proses penyusutan besar sejak bisnis taksi konvensionalnya terpukul keras.

TAXI bahkan mencatat akumulasi defisit sekitar Rp1,31 triliun pada akhir 2025.

Namun ada upaya menghidupkan kembali bisnisnya.

TAXI mulai kembali mengoperasikan taksi melalui model angkutan sewa khusus dan bekerja sama dengan PT Rekan Anak Bangsa dalam ekosistem GoCar. Jumlah armada taksi online meningkat dari hanya 5 unit pada 2024 menjadi sekitar 257 unit pada 2025.

Pada kuartal I 2026, pendapatan naik menjadi Rp2,3 miliar dari sekitar Rp700 juta pada periode sama tahun sebelumnya. Rugi bersih juga membaik menjadi Rp323 juta dari rugi Rp1,9 miliar.

Artinya, cerita TAXI sekarang bukan hanya sisa bisnis taksi lama. Ada upaya membangun model bisnis baru berbasis kemitraan platform digital.

Justru “Shell Value” yang Bisa Menarik

Di sinilah muncul hipotesis yang lebih menarik.

Dalam beberapa kasus, perusahaan publik yang bisnis lamanya sangat kecil tetapi tetap mempunyai status tercatat di Bursa dapat mempunyai nilai strategis tersendiri.

Investor baru tidak semata-mata melihat armada taksi atau nilai buku perusahaan.

Yang dilihat dapat berupa keberadaan badan hukum publik, akses ke pasar modal, kemungkinan melakukan rights issue, private placement, merger, akuisisi, atau memasukkan bisnis baru.

Secara sederhana, yang dibeli bukan hanya aset TAXI hari ini, tetapi platform korporasinya.

Namun hal ini tidak berarti TAXI pasti akan menjadi objek backdoor listing atau reverse takeover. Tidak ada keterbukaan informasi yang menunjukkan adanya transaksi semacam itu saat ini.

Ini hanya menjelaskan mengapa perusahaan dengan bisnis dan aset kecil masih bisa dihargai jauh di atas nilai bukunya.

TAXI Bahkan Lebih Terbuka daripada WIRG

Jika dibandingkan dengan WIRG, perbedaannya menjadi jelas.

WIRG TAXI
Pengendali formal Ada Tidak ada
Porsi pengendali/pemegang terbesar ±4% 4,27%
Free float >90% ±93,9%
Market cap ±Rp585 miliar ±Rp123 miliar
Valuasi terhadap book value Di bawah book value Jauh di atas book value

Dari sisi corporate control, TAXI sebenarnya lebih terbuka.

Tidak ada controller yang secara formal harus dikalahkan.

Namun dari sisi valuasi aset, WIRG justru terlihat lebih menyerupai takeover target klasik karena kapitalisasi pasarnya berada di bawah nilai bukunya.

TAXI menunjukkan bahwa mudah mengambil kendali belum tentu berarti menarik mengambil kendali.

Bagaimana Skenario Pengambilalihannya?

Investor baru tidak perlu langsung membeli 51%.

Skenario yang jauh lebih mungkin adalah membangun kepemilikan 10%–20% terlebih dahulu.

Bayangkan investor A menguasai 15% TAXI.

Ia langsung mempunyai kepemilikan sekitar 3,5 kali lebih besar dibandingkan Lauw Susanto sebagai pemegang terbesar saat ini.

Karena sisanya tersebar pada lebih dari 15.000 pemegang saham, kemampuan investor A mengumpulkan dukungan dalam RUPS bisa menjadi sangat signifikan.

Jika investor tersebut kemudian dapat menentukan pengelolaan atau kebijakan perusahaan, persoalannya tidak lagi sekadar menjadi pemegang saham besar.

Ia dapat dianggap sebagai pengendali baru.

Dan ketika terjadi perubahan pengendali perusahaan terbuka, POJK 9/2018 mengatur konsekuensi termasuk kewajiban melakukan Penawaran Tender Wajib terhadap saham yang dimiliki pemegang saham lainnya.

Jadi tidak adanya pengendali sekarang bukan berarti TAXI bisa diambil alih tanpa aturan. Justru ketika pengendali baru muncul, aturan pengambilalihan mulai bekerja.

Ada Satu Hal yang Tetap Perlu Diperiksa

Kepemilikan yang tersebar secara formal tidak selalu berarti seluruh pemegang saham benar-benar bertindak independen satu sama lain.

Lauw Susanto, Po Susanto, Robert dan pemegang saham lain yang namanya muncul dalam daftar perlu dibaca bersama informasi afiliasi dan hubungan pengendalian yang tersedia.

Receh.in tidak menemukan dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemegang saham tersebut bertindak sebagai satu kelompok pengendali.

Perseroan sendiri secara resmi tetap menyatakan tidak mempunyai pemegang saham pengendali.

Karena itu, analisis ini menggunakan struktur kepemilikan sebagaimana dilaporkan, bukan mengasumsikan adanya concert party yang tidak diungkapkan.

Catatan Recehin
TAXI mungkin menjadi kasus yang lebih ekstrem daripada WIRG. Bukan hanya pemegang saham terbesarnya cuma 4,27%, perseroan bahkan secara resmi menyatakan tidak mempunyai pengendali sejak 2019. Pada harga Rp12, kepemilikan 10% secara matematis hanya bernilai sekitar Rp12 miliar. Itu membuat barrier untuk menjadi pemegang saham dominan sangat rendah. Tetapi ada paradoksnya: TAXI bukan perusahaan dengan aset Rp1 triliun yang dihargai Rp100 miliar. Ekuitasnya hanya sekitar Rp37 miliar sementara market cap mencapai Rp123 miliar. Jadi jika suatu hari ada pihak yang ingin mengambil alih TAXI, kemungkinan cerita utamanya bukan membeli aset murah. Yang lebih mungkin bernilai adalah kendali atas perusahaan publik itu sendiri, bisnis transportasi yang sedang dibangun kembali, serta kemampuan menggunakan platform korporasi TAXI untuk strategi yang lebih besar. Inilah perbedaan penting antara saham murah dan perusahaan murah.
Sumber: PT Express Transindo Utama Tbk.; laporan tahunan 2025; laporan keuangan semester I 2026; laporan registrasi pemegang saham/KSEI dan BEI; data perdagangan saham TAXI; POJK No. 9/POJK.04/2018; serta olahan Receh.in.

Koreksi data free float: Free float TAXI berada sekitar 93,9%, bukan 99,99%. Angka 100% yang muncul dalam laporan keuangan merujuk pada seluruh pemegang saham masing-masing memiliki kurang dari 5%, bukan berarti seluruh saham memenuhi definisi free float Bursa.

Catatan pengendali: TAXI menyatakan tidak memiliki pemegang saham utama dan pemegang saham pengendali sejak 22 Mei 2019. Tidak adanya pemegang saham di atas 50% bukan satu-satunya tes pengendalian; kemampuan menentukan pengelolaan atau kebijakan perusahaan juga relevan berdasarkan aturan pengambilalihan perusahaan terbuka.

Catatan simulasi: Nilai 5%, 10%, 20%, dan seterusnya dihitung menggunakan harga Rp12 dan hanya merupakan ilustrasi matematis. Akuisisi saham dalam jumlah besar hampir pasti menggerakkan harga sehingga biaya sebenarnya dapat jauh lebih tinggi.

Catatan takeover: Tidak ada informasi publik yang menunjukkan saat ini terdapat pihak yang sedang melakukan hostile takeover, reverse takeover, ataupun backdoor listing melalui TAXI.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, mengakumulasi, ataupun melakukan pengambilalihan saham TAXI.