Receh.in — Investor pada 2026 tidak lagi hanya bertanya seberapa cepat perusahaan bisa tumbuh. Mereka juga ingin tahu seberapa tahan bisnis menghadapi konflik geopolitik, apakah investasi kecerdasan buatan benar-benar menghasilkan uang, dan apakah manajemen cukup disiplin dalam menggunakan modal.
Survei terbaru McKinsey & Company menunjukkan geopolitik menjadi kekhawatiran terbesar investor. Sebanyak 69% responden menempatkan geopolitik dalam tiga tema makro yang paling memengaruhi keputusan investasi mereka pada 2026.
Di saat yang sama, AI naik menjadi salah satu tema paling penting dalam menilai perusahaan. Namun ekspektasinya sudah bergeser: investor tidak lagi puas dengan sekadar cerita “kami memakai AI”. Mereka ingin melihat hubungan yang jelas antara investasi AI dan margin, produktivitas, ekonomi akuisisi pelanggan, atau keunggulan teknis yang sulit ditiru.
Dan di belakang semua itu ada satu tema yang tidak pernah benar-benar hilang dari radar investor: disiplin alokasi modal. McKinsey menemukan investor tetap sangat memperhatikan return on invested capital atau ROIC ketika menilai kualitas manajemen.
- Sebanyak 69% investor menempatkan geopolitik sebagai salah satu dari tiga tema makro terpenting pada 2026.
- Sebanyak 77% responden menilai AI dan arah teknologi yang jelas sangat penting, tetapi investor kini menuntut dampak finansial yang terukur.
- Dalam alokasi modal, 52% responden menempatkan reinvestasi organik sebagai prioritas utama, sementara 63% menilai disiplin ROIC sebagai ciri pengalokasi modal berkualitas.
Geopolitik Jadi Kekhawatiran Nomor Satu Investor
Temuan paling menonjol dalam survei McKinsey adalah naiknya geopolitik ke urutan teratas kekhawatiran investor.
Sebanyak 69% responden menempatkan geopolitik sebagai salah satu dari tiga tema makro yang paling memengaruhi keputusan investasi pada 2026.
Lebih dari sepertiga bahkan menempatkannya sebagai kekhawatiran nomor satu—hampir dua kali lipat dibanding tema tunggal lainnya.
Tiga tema berikutnya yang berada di lapisan kedua adalah teknologi dan produktivitas, inflasi, serta suku bunga.
| Tema yang Memengaruhi Keputusan Investasi | Porsi Responden |
|---|---|
| Geopolitik | 69% |
| Teknologi dan produktivitas | 45% |
| Inflasi | 44% |
| Suku bunga | 43% |
| Volatilitas | 26% |
| Kebijakan fiskal | 25% |
McKinsey juga menemukan 69% responden menyatakan tingkat kekhawatiran tinggi terhadap instabilitas geopolitik, termasuk 18% yang menyebut dirinya sangat khawatir.
Ketika diminta memilih risiko geopolitik yang paling mengkhawatirkan, investor paling banyak menunjuk pembatasan perdagangan dan tarif, disusul konflik kekuatan besar dan fragmentasi sistem global.
| Risiko Geopolitik | Porsi Responden |
|---|---|
| Pembatasan perdagangan & tarif | 74% |
| Konflik kekuatan besar | 67% |
| Sanksi / fragmentasi sistem global | Sekitar 50% |
| Instabilitas politik pasar berkembang | Sekitar 25% |
| Keamanan energi | Di bawah 25% |
AI Penting, tetapi Investor Mulai Menagih Hasil
Jika geopolitik adalah risiko makro utama, maka AI menjadi salah satu tema perusahaan yang paling banyak dibicarakan investor.
Sebanyak 77% responden memberi nilai tinggi terhadap pentingnya AI dan arah teknologi yang jelas dalam menilai sebuah perusahaan. Sebanyak 31% bahkan memberi skor 9 atau 10 dari skala 10.
Dalam pertanyaan terbuka mengenai karakter perusahaan yang dianggap berpotensi menjadi “winner” pada 2026, AI paling sering disebut, yakni 34 kali. Tema berikutnya adalah ketahanan operasional, arus kas yang kuat, dan keunggulan kompetitif yang tahan lama.
| Karakter Perusahaan yang Dinilai Unggul | Jumlah Sebutan |
|---|---|
| Adopsi AI | 34 |
| Ketahanan operasional | 32 |
| Arus kas kuat | 28 |
| Keunggulan kompetitif tahan lama | 22 |
| Fundamental keuangan kuat | 20 |
| Strategi jangka panjang dan agility | 18 |
| Tailwind pertumbuhan | 17 |
| Valuasi menarik | 10 |
Namun investor juga semakin khawatir terhadap AI bubble risk dan konsentrasi pasar pada sejumlah kecil saham teknologi.
Karena itu, perusahaan yang mengusung narasi AI kini dituntut menjawab pertanyaan yang jauh lebih konkret: apakah AI benar-benar menurunkan biaya, menaikkan margin, mempercepat produktivitas, menekan biaya akuisisi pelanggan, atau menciptakan moat teknologi?
Menurut McKinsey, investor mulai membedakan perusahaan yang bisa menghubungkan investasi AI dengan hasil operasi dan perusahaan yang hanya membawa cerita teknologi tanpa dampak laba-rugi yang jelas.
Investor Tetap Lebih Suka Reinvestasi daripada Dividen
Di tengah perhatian terhadap geopolitik dan AI, disiplin modal tetap menjadi tema yang konsisten dari tahun ke tahun.
Ketika ditanya bagaimana modal sebaiknya digunakan dalam horizon beberapa tahun, 52% responden menempatkan reinvestasi organik sebagai pilihan utama.
Pengurangan utang berada di urutan berikutnya, sementara M&A, dividen, dan buyback berada di bawahnya dalam prioritas keseluruhan.
| Penggunaan Modal | Dipilih sebagai Prioritas Utama |
|---|---|
| Reinvestasi organik | 52% |
| Pengurangan utang | 16% |
| M&A | 15% |
| Dividen | 12% |
| Buyback | 5% |
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa investor jangka panjang tidak otomatis lebih menyukai pembagian dividen besar.
Jika perusahaan punya peluang reinvestasi dengan return tinggi, investor justru cenderung ingin modal kembali diputar ke bisnis.
Sebanyak 63% responden menyebut disiplin ROIC sebagai ciri utama pengalokasi modal yang berkualitas. Sebanyak 54% juga mencari kerangka alokasi modal yang jelas, dan 51% menilai disiplin M&A sebagai faktor penting.
| Ciri Capital Allocator Berkualitas | Porsi Responden |
|---|---|
| Disiplin ROIC | 63% |
| Kerangka alokasi modal yang jelas | 54% |
| M&A disiplin | 51% |
| Kesediaan mengembalikan modal | 43% |
| Alignment insentif | 38% |
| Investasi counter-cyclical | 24% |
Artinya, besarnya capex, akuisisi, AI spending, atau buyback tidak cukup dibaca dari nominalnya saja. Investor ingin melihat apakah setiap rupiah modal diarahkan ke proyek yang bisa menghasilkan return di atas biaya modal.
Tiga Filter Investor: Resilience, AI Credibility, Cash Discipline
McKinsey merangkum cara investor menilai perusahaan dalam tiga filter utama.
Pertama, resilience: seberapa mampu perusahaan tetap membuat keputusan strategis di tengah ketidakpastian.
Kedua, AI credibility: apakah cerita AI perusahaan benar-benar terhubung ke ekonomi operasi, margin, produktivitas, atau keunggulan teknis.
Ketiga, cash and capital discipline: apakah perusahaan mampu menghasilkan kas dan mengalokasikannya secara disiplin bahkan ketika kondisi berubah.
Ketiganya harus berjalan bersama. Cerita AI tanpa ketahanan geopolitik membuat investor khawatir terhadap konsentrasi risiko. Disiplin kas tanpa narasi pertumbuhan membuat investor bertanya dari mana compounding akan datang.
Untuk emiten Indonesia, temuan ini relevan terutama bagi perusahaan yang sedang agresif menawarkan cerita ekspansi, AI, data center, akuisisi, atau transformasi bisnis.
Investor tampaknya akan semakin mempertanyakan bukan hanya “apa rencananya?”, tetapi juga “berapa return-nya, dari mana kasnya, dan apa yang terjadi jika skenario makro berubah?”.
FAQ Survei Investor McKinsey 2026
Apa kekhawatiran terbesar investor pada 2026?
Seberapa penting AI bagi investor?
Apa yang ingin dilihat investor dari investasi AI?
Penggunaan modal apa yang paling disukai investor?
Apa ciri utama pengalokasi modal berkualitas?
Siapa responden survei McKinsey ini?
Catatan: Survei dilakukan pada 20 Januari–9 Februari 2026 terhadap 112 responden yang mayoritas merupakan intrinsic, long-only investors dari Amerika Serikat/Kanada dan Eropa. Karena itu, hasilnya tidak otomatis mewakili seluruh populasi investor global maupun investor ritel Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Preferensi investor dalam survei tidak berarti setiap saham dengan karakteristik tertentu otomatis memiliki prospek harga yang lebih baik.
0 Komentar