Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Lautan Luas Tbk. (LTLS) memperluas bisnis manufaktur bahan baku makanan dan minuman melalui pembangunan pabrik liquid ingredients berkapasitas 40 juta liter per tahun. Fasilitas yang dikembangkan anak usahanya, PT Lautan Natural Krimerindo (LNK), ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Ekspansi tersebut menjadi langkah baru bagi LNK, yang sejak 2010 berfokus pada produksi bahan baku berbentuk bubuk melalui teknologi spray drying. Dengan masuk ke bahan baku cair, perusahaan memperluas pasar potensialnya ke produsen minuman siap konsumsi, jaringan kedai kopi, dan industri makanan.

Chief Commercial Officer LNK Juwono Hartanto mengatakan pembangunan fasilitas tersebut telah memasuki tahap finalisasi. Produk yang akan dihasilkan mencakup susu nabati (plant-based milk), krimer cair, serta berbagai bahan baku minuman lainnya.

Untuk mendukung ekspansi manufaktur, Lautan Luas menyiapkan belanja modal sekitar Rp200 miliar. Pengembangan ini berlangsung ketika kinerja keuangan LTLS menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Pabrik Baru LTLS Berkapasitas 40 Juta Liter per Tahun

Fasilitas baru LNK akan menjadi pabrik pertama perusahaan yang secara khusus memproduksi bahan baku makanan dan minuman dalam bentuk cair.

Selama lebih dari satu dekade, LNK telah mengembangkan kompetensi produksi bahan baku berbentuk bubuk, termasuk krimer dan produk berbasis bahan nabati.

Ekspansi ke produk cair memungkinkan perusahaan melayani kebutuhan pelanggan yang menghendaki bahan baku siap digunakan tanpa proses pencampuran atau pelarutan tambahan.

Bagi produsen makanan dan minuman, penggunaan bahan baku cair dapat membantu menyederhanakan proses produksi. Namun, produk tersebut juga memerlukan pengendalian mutu, kemasan, serta sistem penyimpanan dan distribusi yang berbeda dari bahan baku kering.

Rencana Ekspansi LNKKeterangan
Induk usahaPT Lautan Luas Tbk. (LTLS)
Pelaksana proyekPT Lautan Natural Krimerindo
Kapasitas pabrik40 juta liter per tahun
Target operasi2027
Produk utamaSusu nabati, krimer cair, dan liquid ingredients
Capex manufakturSekitar Rp200 miliar
Status proyekTahap finalisasi

Sumber: Keterangan manajemen LNK, 4 November 2026. Anggaran Rp200 miliar merupakan alokasi untuk mendukung ekspansi manufaktur secara keseluruhan, bukan nilai investasi khusus pabrik cair yang telah dipastikan.

Jika kapasitas 40 juta liter dimanfaatkan penuh, secara matematis fasilitas tersebut mampu menghasilkan rata-rata sekitar 3,33 juta liter per bulan.

Namun kapasitas terpasang tidak sama dengan volume penjualan. Produksi aktual akan bergantung pada permintaan pelanggan, utilisasi pabrik, dan kemampuan distribusi setelah fasilitas beroperasi.

LTLS Bidik Tren Susu Nabati dan Minuman Rendah Gula

Pengembangan pabrik baru sejalan dengan meningkatnya minat industri makanan dan minuman terhadap formulasi berbasis nabati dan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Juwono melihat peluang pada minuman rendah gula, alternatif susu sapi, dan bahan baku yang dapat digunakan untuk menciptakan variasi menu.

Segmen ini mencakup kebutuhan kedai kopi, restoran, produsen minuman, hingga usaha makanan dan minuman skala kecil.

LNK telah memiliki portofolio produk seperti FiberCreme dan Ellenka Barista Series Coconut Milk. Produk-produk tersebut mendukung pengembangan minuman dengan berbagai pilihan bahan campuran, termasuk alternatif bagi konsumen yang menghindari susu sapi.

Namun kandungan gula dan kesesuaian produk bagi konsumen dengan intoleransi laktosa tetap perlu dilihat dari formulasi serta informasi gizi masing-masing produk.

Dari sisi pelanggan, segmen business to business (B2B) masih mendominasi penjualan LNK dengan kontribusi lebih dari 50%. Sementara itu, penjualan melalui kanal food service dan business to consumer (B2C) relatif berimbang.

Unit Ellenka Professional, yang melayani pelanggan food service, mencatat pertumbuhan penjualan dua digit. Manajemen tidak merinci persentase maupun nilai penjualannya.

Untuk memperluas pasar, LNK juga menawarkan kerja sama original equipment manufacturing (OEM) dan co-manufacturing. Melalui model tersebut, perusahaan dapat memproduksi bahan baku atau produk berdasarkan kebutuhan dan merek pelanggan.

LNK turut menyediakan dukungan pengembangan resep serta formulasi melalui fasilitas riset di Jakarta dan Surabaya. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan terlibat lebih awal dalam pengembangan produk pelanggan, bukan sekadar menjadi pemasok bahan baku.

Kinerja LTLS 9M26: Pendapatan Tumbuh 27,64%

Rencana ekspansi LNK berlangsung ketika kinerja konsolidasian Lautan Luas menunjukkan perbaikan.

Sepanjang Januari–September 2026, LTLS membukukan pendapatan Rp8,20 triliun, meningkat 27,64% dibandingkan Rp6,42 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba kotor meningkat 50,20% menjadi Rp1,52 triliun, sedangkan laba usaha tumbuh 81,61% menjadi Rp558,76 miliar.

Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp195,56 miliar, naik 63,14% secara tahunan.

Indikator LTLS9M269M25Pertumbuhan
PendapatanRp8,20 triliunRp6,42 triliun27,64%
Laba kotorRp1,52 triliunRp1,01 triliun50,20%
Laba usahaRp558,76 miliarRp307,69 miliar81,61%
Laba bersih pemilik indukRp195,56 miliarRp119,87 miliar63,14%

Sumber: Laporan keuangan dan publikasi kinerja PT Lautan Luas Tbk. per September 2026.

Pertumbuhan laba yang lebih tinggi daripada pendapatan mengindikasikan perbaikan profitabilitas operasional LTLS. Margin laba kotor meningkat dari sekitar 15,7% menjadi 18,5%.

Namun, kontribusi khusus LNK terhadap pendapatan dan laba konsolidasian belum dapat dipastikan dari informasi ekspansi yang disampaikan manajemen.

Prospek LTLS 2027 Bergantung pada Utilisasi Pabrik

Pabrik baru berpotensi memperluas sumber pendapatan LNK, tetapi dampaknya terhadap kinerja LTLS pada 2027 masih bergantung pada kecepatan komersialisasi.

Setelah fasilitas beroperasi, perusahaan perlu memastikan kapasitas produksi dapat terserap oleh pelanggan industri maupun jaringan food service.

Di sisi lain, bisnis bahan baku makanan dan minuman menghadapi persaingan dari produsen domestik dan internasional. Fluktuasi harga bahan baku, biaya energi, dan distribusi juga dapat memengaruhi margin.

Bagi LTLS, pengembangan liquid ingredients melengkapi strategi perusahaan yang memprioritaskan empat industri, yakni makanan dan minuman, pengolahan air, perawatan rumah dan pribadi, serta bahan kimia.

Ekspansi ini sekaligus memperbesar porsi bisnis manufaktur bernilai tambah dalam portofolio perusahaan yang juga memiliki kegiatan distribusi bahan kimia.

Meski demikian, manajemen belum mengungkap proyeksi pendapatan dari fasilitas 40 juta liter tersebut. Tanpa informasi harga jual rata-rata, tingkat utilisasi, dan margin produk, kontribusi laba pabrik baru belum dapat dihitung secara andal.

Catatan Recehin

Pabrik baru LNK membuka peluang pertumbuhan LTLS di luar bisnis bahan baku konvensional. Kapasitas 40 juta liter per tahun cukup berarti, tetapi keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mendapatkan pelanggan dan menjaga utilisasi.

Yang perlu dipantau pada 2027 adalah realisasi operasi pabrik, volume penjualan liquid ingredients, serta kontribusinya terhadap margin dan laba LTLS.

Sumber: Keterangan Chief Commercial Officer Lautan Natural Krimerindo Juwono Hartanto, 4 November 2026; laporan keuangan PT Lautan Luas Tbk. per September 2026; publikasi dan paparan publik Lautan Luas 2026; serta perhitungan Receh.in.

Catatan: Kapasitas 40 juta liter merupakan kapasitas produksi yang direncanakan, bukan volume penjualan. Alokasi capex Rp200 miliar mencakup dukungan ekspansi manufaktur secara keseluruhan. Artikel ini bukan rekomendasi transaksi saham LTLS.