Fenomena jurnalisme di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan sungguh mencengangkan. Bukan saja begitu banyaknya media online yang berkembang, banyak pula perubahan kultur yang telah terjadi. Sayangnya, kebanyakan mengarah pada suatu yang buruk. Lihat saja bagaimana media sebesar Tribun (Kompas Group) berubah menjadi media yang menyajikan informasi demi klik dan tidak terlalu peduli pada kenyamanan mental pembaca. Berita paling receh atau paling sampah pun akan naik jika menghasilkan klik. "Keberhasilan" Tribunnews menjadi contoh dan ditiru banyak media kecil lain demi mencapai jumlah kliker.

Kita juga menjumpai media-media 'besar' (punya nama) lain dengan malu-malu juga mengikuti langkah itu. Tribunnews adalah media besar yang tidak pernah malu-malu dalam melakukannya, sedangkan banyak media lain masih terkesan curi-curi saja. Maklum, di dalam media itu pasti ada pertarungan antara idealisme jurnalistik dengan keinginan menjadi media yang mendapat banyak kunjungan atau traffic pembaca.

Disrupsi yang dibawa teknologi digital terhadap jurnalisme ini berlangsung melalui tiga rute: (1) perubahan lanskap media yang mengubah karakter persaingan dalam bisnis media, (2) perubahan model bisnis media pemberitaan yang menyempitkan keleluasaan finansial para pengelola bisnis media dalam membiayai produksi berita, dan (3) perubahan norma-norma serta cara kerja wartawan dalam melakukan peliputan. Ketiga perubahan ini pada gilirannya mengubah wajah jurnalisme di tingkat global dan lokal termasuk Indonesia. (Kualitas Jurnalisme Publik di Media Online, Kasus Indonesia – Kuskridho Ambardi dkk.)
Dari ketiga perubahan yang disebut di atas, soal model bisnis menjadi masalah krusial, karena menjadi akar dari persoalan perubahan cara kerja media massa di Indonesia. Berkurangnya opsi pendapatan hanya dari iklan membuat media harus mati-matian mengubah segalanya demi bertahan hidup. Sementara di luar negeri berkembang model media berbayar, di Indonesia mayoritas media menggartiskan kontennya dan lebih suka mencari uang dari iklan, terutama Adsense. 

Konsekuensinya, klik adalah hal terpenting dalam hidup mayoritas media online hari ini. Tanpa klik, mereka akan mati, karena dari situlah tetesan dolar mengalir. Dari sanalah kerecehan media mainstream dimulai. Banyak tema-tema tulisan yang awalnya hanya digarap oleh para blogger, kini diambil juga oleh media mainstream. Hampir semuanya. Jika Anda mencari lirik lagu pop, maka linknya akan lari ke Tribunnews juga. Diskon harga Indomaret atau Alfamart juga bisa Anda temukan di media kelompok Kompas, seperti Kontan.co.id. Tak heran, para blogger pun sering sebal sama media-media besar karena semuanya diambil.

Namun, ada sejumlah platform yang tampaknya bisa membuat media receh menjadi besar dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya Youtube. Memang ini adalah media milik Google yang jelas adalah raja Internet. Namun, dalam konteks media massa, di dalamnya juga bertarung antara vlogger dan media mainstream. Dan pemenangnya adalah vlogger. Youtube, mungkin juga Instagram, menjadi ladang pertempuran yang sementara ini dimenangi oleh vlogger. Anda bisa cek untuk membandingkan berapa jumlah subscirber vlogger dengan media mainstream yang juga bermain Youtube. Padahal, pendapatan di Youtube jauh lebih sedikit opsi, terbesar tetap Adsense.

Kelincahan, kecepatan, dan variatifnya ide yang dimiliki vlogger membuat mereka yang awalanya bukan siapa-siapa kini bisa menjadi selebritas. Bahkan personal brand mereka bisa jauh lebih mahal daripada nama media mainstream. 

Lalu, apakah blogger kelak juga bisa memenangi kompetisi di ranah tulisan receh? Kita berharap iya...walaupun banyak blogger kini mendapat panggung sebagai vlogger atau influencer. 

..... Christensen mengatakan bahwa ada pola yang berulang terus menerus, di mana seorang pemain baru dalam suatu industri memulai langkahnya dengan cara yang mudah, murah, sehingga ia dilihat sebelah mata oleh para pemain lama dalam industri tersebut. Tetapi seiring berjalannya waktu, pemain baru tersebut perlahan-lahan terus memperbaiki dirinya dan berhasil menjadi pemain utama dalam bisnis tersebut. - "Ignatius Haryanto : Kolaborasi, Solusi Menghadapi Disrupsi Industri Media " Katadata.co.id


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama